Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 37 ~ Melawan Preman


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Lepaskan gadis itu!!!"


Zein yang menatap tajam para preman itu pun berjalan mendekati mereka. Sementara preman berkepala botak yang tadinya mencekam kuat tangan Aliyya memberikan tangan putih itu ke temannya lalu ia sendiri berjalan mendekati Zein.


Kini Zein dan preman berkepala botak pun saling berhadapan seraya melempar tatapan tajam yang membunuh. Sekilas Zein melirik ke Aliyya yang tangannya masih di dalam cengkraman preman berambut gondrong seperti genderuwo, sedangkan preman berjaket dan preman singlet tampak mengawasi Aliyya. Lalu Zein kembali menatap tajam sang kepala preman yang ada di hadapannya saat ini.


"Cepat berikan ponselmu!" seru Zein.


"Untuk apa kau meminta ponselku?" tanya preman berkepala botak yang heran.


"Untuk menghubungi ambulance agar mereka segera menjemput kalian!" jawab Zein dingin.


Preman berkepala botak pun tertawa lepas lalu menoleh ke arah teman-temannya yang ikut tertawa mendengar perkataan Zein. Sementara Aliyya tampak mengeryitkan dahi karena heran melihat tingkah suaminya itu. Bukannya cepat menolong Aliyya malah berbicara hal-hal aneh.


"Apakah kau baru saja selesai menonton film action Amitabh Bachchan? Apakah kau ingin aku kirim ke rumah sakit sekarang juga?" ujar preman berkepala pelontos itu yang tertawa.


Zein pun geram mendengar perkataan preman berkepala pelontos itu yang sepertinya enggan untuk menghiraukan perkataannya. Keduanya pun saling menatap tajam dan membunuh lagi. Perlahan Zein pun melangkah dan mendekati preman botak itu. Zein mendekat, terus mendekat dan semakin mendekati preman itu seraya menatapnya dengan tajam. Sementara preman berkepala botak itu juga tak kalah tak tajam menatap Zein.


Depp!


Saat wajah keduanya semakin dekat dengan tatapan membunuh dari mata mereka. Zein langsung memeluk preman berkepala pelontos itu lalu mengusap kepalanya yang botak licin. Melihat hal itu, Aliyya dan ketiga preman yang tersisa di sana tampak tercengang, melongo heran dengan tingkah konyol Zein.


"Bukan kau yang akan mengantarku ke rumah sakit, tapi aku yang akan mengantarmu ke sana." ujar Zein yang memeluk preman itu dan berbisik.


"Apa yang kau katakan, hah!?" tandas preman itu seraya melerai pelukannya dari Zein.


Dengan cepat, Zein pun merangkul bahu preman itu dan membawanya menjauhi semuanya yang masih memperhatikan gerak-gerik Zein. Mata Aliyya pun tak luput memperhatikan suaminya. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Zein πŸ€¦πŸ»β€β™‚οΈ


"Kau ini bodoh sekali sih! Kau tau siapa gadis yang sedang kau ganggu itu? Jangan lihat dia dari penampilan saja karena penampilan itu terkadang tidak sesuai dengan yang aslinya. Apakah kau ingin tau dari mana dia berasal?" ujar Zein yang masih merangkul bahu preman itu.


"Memang ada apa dengan gadis itu? Dia terlihat normal dan tidak aneh." jawab preman berkepala pelontos yang sepertinya sudah mulai termakan dengan perkataan Zein.


"Kau ini selalu memikirkan wanita dan berpikir mesum. Gadis itu adalah salah satu pasien di rumah sakit jiwa yang sempat melarikan diri. Jika kau mendekatinya, maka sakitnya akan kumat dan dia akan mencincang tubuhmu. Dia itu pasien yang mengerikan dan sudah banyak memakan korban jiwa. Jadi kau dan semua temanmu itu harus hati-hati dengan gadis itu." tutur Zein yang masih setia merangkul preman itu.


"Benarkah seperti itu? Tapi sepertinya dia tidak terlihat gila." jawab preman itu yang menoleh ke belakang dan melihat Aliyya.


"Wajahnya memang tak terlihat seperti orang gila yang berdosa, Kawan." ujar Zein seraya menepuk bahu preman itu seraya melihat ke belakang.


Ketika Zein menoleh ke arah Aliyya, ia melihat sang istri yang sepertinya tengah berdo'a dan meminta bantuan pada Allah. Seringai jahil di wajah Zein pun terbit seakan mempunyai ide baru untuk mempengaruhi preman bodoh itu.


"Coba kau lihat gadis itu! Dia tengah berbicara sendiri dan menatap ke arah langit. Kau ingin mengetahui apa yang sedang dia lakukan?" ujar Zein seraya menepuk bahu preman itu.


"Apa yang sedang dia ucapkan?" tanya preman berkepala pelontos seraya menoleh ke Aliyya.


"Dia sedang meminta bantuan pada para hantu yang sedang gentayangan di malam hari seperti ini. Jika kau terus mengganggunya, maka kau akan menjadi santapan dari hantu-hantu itu!!!" jawab Zein yang berusaha menahan tawanya.


"Menakutkan sekali gadis itu." ujar preman itu yang sudah termakan perkataan palsu Zein.


"Dia gila 'kan? Di hari valentine ini dia kabur dari rumah sakit jiwa lalu memakai gaun cantik. Kau tau dari mana dia mendapatkan gaun itu? Gaun itu milik dokter yang menanganinya. Gadis itu sudah mencincang habis tangan dokter malang itu dan mengambil gaunnya." tutur Zein seraya melambatkan nada bicaranya agar menambah kesan horor untuk si preman berkepala pelontos.


"Lalu kau ini siapa? Apakah kau suaminya?" tanya preman bodoh itu yang penasaran juga.


"Kau ini gila ya! Masa pria tampan sepertiku ini bisa menjadi suami gadis gila itu. Aku ini salah satu petugas di rumah sakit yang datang untuk menjemput gadis itu, sebelum semakin banyak korban berjatuhan karena ulahnya. Kau juga harus tau satu hal lagi yang paling penting di dalam diri gadis itu. Kuku gadis gila itu sangat berbahaya karena di dalamnya ada virus yang mematikan. Jika kau terkena cakaran kukunya, maka kau akan berubah menjadi monster." ujar Zein yang semakin memprovokasi preman itu.


"Ternyata gadis itu tidak hanya menakutkan tapi juga sangat berbahaya. Terima kasih karena kau sudah memberitahu aku, Kawan." jawab preman berkepala pelontos seraya menepuk bahu Zein.


"Tidak masalah, Kawan. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku ingin membawa gadis itu dari sini." ujar Zein yang tersenyum puas seraya menepuk bahu preman bodoh tingkat professor itu.


Preman berkepala pelontos itu pun hanya mengangguk seraya mengangkat tangannya. Sementara Zein langsung bergegas mendekati Aliyya dan menarik tangannya menuju ke mobil.

__ADS_1


"Hei, kau mau membawa gadis itu ke mana?" tanya preman berjaket yang tampak heran.


Zein pun tetap berjalan seraya menarik tangan Aliyya menuju ke mobil. Sementara Aliyya pun tampak tak menghiraukan apa rencana Zein sebenarnya karena yang paling penting baginya saat ini adalah bisa terlepas dari preman itu.


"Biarkan saja mereka pergi! Gadis itu pasien rumah sakit jiwa yang melarikan diri." timpal preman berkepala pelontos yang sangat bodoh.


Langkah Aliyya pun terhenti saat mendengar perkataan preman itu dan membuat Zein ikut berhenti. Lalu Aliyya menggiring matanya dan menoleh ke belakang, melihat preman botak yang sedang menertawakan dirinya. Setelah puas memahami maksud preman itu, kini mata Aliyya tertuju pada Zein yang tampak diam dan menoleh ke arah sang istri dengan raut wajah tercengang, melongo seperti kambing congek.


"Jika kau tetap memegangi tangannya, maka kau akan terkena virus dan ikut menjadi gila seperti gadis itu. Kita sudah diselamatkan. Sudahlah, biarkan saja gadis itu." timpal preman berkepala pelontos yang sukses masuk ke dalam perangkap konyol Zein.


Kini Aliyya mengerti dengan rencana suaminya. Zein sengaja mengatakan pada preman botak itu, kalau dirinya adalah pasien gila yang kabur. Sungguh menyebalkan!!! Raut wajah Aliyya kini tampak masam menatapi Zein. Rasanya seperti ingin marah pada pria itu saat ini juga. Namun Zein yang menyadari perubahan wajah Aliyya pun langsung menariknya lagi dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


"Selamat tinggal teman-teman!" sahut Zein seraya melambatkan tangan pada keempat preman jalanan bodoh itu.


Keempat preman itu pun hanya melambaikan tangan pada Zein. Sementara Zein yang sudah masuk ke dalam mobil bergegas melarikan diri dan membawa Aliyya sebelum mereka semua menjadi waras kembali.


***


"Cuaca indah, wanita cantik, pesta yang meriah. Aku sangat senang sekali malam ini."


Di pesta hari valentine, sepasang suami istri yang tak lain adalah Namira dan Farhan sudah tiba lebih dulu dibandingkan Zein dan Aliyya. Farhan tampak sangat gembira dan senang hingga membuatnya bersenandung merdu di sela langkahnya seraya merangkul pinggang Namira yang ramping.


"Lebih baik kamu diam, Mas. Jangan berlagak sok keren seperti ini karena akan terlihat palsu." ujar Namira seraya menenangkan Farhan.


"Tenang saja, Sayang. Malam spesial ini kita harus bersenang-senang dan menghabiskan waktu bersama dengan yang lainnya. Kamu lihatlah, di sini ramai dan meriah sekali." jawab Farhan yang tidak mau diam.


"Tenanglah Mas..." ujar Namira.


"Santai dan jangan terlalu tegang, Sayang. Aku akan menemui beberapa orang pria dan wanita yang ada di pesta ini. Kamu tunggu di sini ya." jawab Farhan yang berlenggang meninggalkan Namira.


"Mas Farhan..." sahut Namira yang memanggil suaminya itu.


"Dulu Mas Farhan tidak seperti ini. Tapi setelah Mas Farhan menikah dengan istri keduanya itu, dia menjadi sangat payah. Mulai sekarang aku akan menjauhkan Mas Farhan dari wanita itu!!!"


Namira yang kesal dan jengah pun memilih pergi ke tempat lain. Dengan begitu ia bisa melupakan tingkah suaminya yang aneh dan payah sehingga meninggalkan dirinya sendirian di tengah pesta. Tanpa sadar, ada seseorang yang sedang berdiri dan mengikutinya sejak tadi. Sementara Farhan terus berjalan dan menyusuri keramaian pesta.


"Hei semuanya..." sahut Farhan yang datang lalu menyapa Karim, Vian, Syakir, dan Adi.


"Hei Farhan. Akhirnya kau datang juga." ujar Vian seraya merangkul bahu Farhan dengan akrab.


"Pesta dan musik yang sangat indah. Aku senang sekali berada di sini." ujar Farhan.


"Terima kasih karena kau sudah datang." jawab Vian yang mempunyai acara malam ini.


"Sama-sama, Vian. Hai para Nona... malam ini kalian cantik sekali. Selamat hari valentine ya." ujar Farhan yang menyapa semua teman Vian.


"Selamat hari valentine juga." jawab para gadis cantik temannya Vian.


"Kalau begitu aku ingin berkeliling dulu ya." ujar Farhan seraya menepuk bahu Vian dan Karim.


"Baiklah, selamat bersenang-senang Farhan." sahut Vian seraya melambaikan tangannya.


Farhan yang sudah berjalan pun berbalik sejenak dan membalas lambaian tangan Vian. Namun pada saat ia berbalik kembali untuk melanjutkan langkah, Farhan hampir menabrak seseorang di depannya. Seseorang itu tampak memakai jubah dan penutup kepala yang serba hitam sehingga menutupi seluruh tubuh serta wajahnya.


"Hei selamat hari valentine, Nona. Kenapa di hari spesial ini kamu memakai penutup kepala dan jubah serba hitam seperti ini? Tidak pantas jika kamu tetap memakainya, Nona. Ayo buka saja." ujar Farhan yang sedang merayu sosok itu.


"Tapi aku takut jika suamiku nanti akan marah." jawab suara lembut di balik jubah hitam itu.


"Kenapa suamimu marah? Hari ini 'kan hari kasih sayang. Mana mungkin suamimu akan marah." ujar Farhan yang memang sedang merayu sosok itu.


"Baiklah karena kamu bersikeras. Aku akan membuka penutup kepalaku." jawab suara lembut itu lagi yang mendayu-dayu merayu Farhan.

__ADS_1


Farhan yang sejak tadi penasaran dengan sang empunya suara lembut pun tampak tersenyum. Sementara sosok si suara lembut pun perlahan mulai mengangkat penutup kepalanya itu.


"Ta-da... kejutan..."


Farhan pun langsung terperangah melihat sosok yang ada di dalam jubah itu.


"Shafia... kamu di sini juga Sayang?" ujar Farhan yang terlihat panik dan gelisah melihat istrinya.


"Tentu saja, Sayang. Aku datang ke sini untuk memberikan kejutan padamu." jawab Shafia.


Ternyata sosok yang berada di belakang Namira tadi adalah Shafia. Sesuai dengan rencananya, istri kedua Farhan itu tidak hanya mengikuti pasangannya yang pergi ke pesta valentine dengan Namira, tapi Shafia juga menjalankan misi mengikuti pasangan Aliyya dan Zein. Bak menyelam sambil minum nata de coco, seperti itulah misi Shafia kali ini. Tidak hanya Farhan yang akan ia dapatkan raganya, tapi Aliyya. Entah rencana apa yang akan dilakukannya kali ini untuk menjebak dan mempermalukan Aliyya.


"Ayo kita pergi ke sana, Mas." ujar Shafia yang menggandeng tangan Farhan.


Farhan yang digandeng pun tampak pasrah saja dan tidak bisa menolak keinginan istri keduanya.


***


"Oh iya, aku pernah mendengar kalau seseorang bisa menemukan jalannya sendiri di mana pun ia berada. Lalu apa yang terjadi denganmu tadi?"


Aliyya dan Zein akhirnya sampai di pesta itu. Seraya berjalan beriringan, Zein sepertinya masih terngiang dengan kejadian tadi. Di mana Aliyya tiba-tiba hilang dan ternyata ia sedang dikepung oleh empat orang preman sekaligus.


"Jadi kamu mengatakan pada preman itu kalau aku ini pasien rumah sakit jiwa yang gila?" tanya Aliyya yang menoleh jengah, menatap suaminya.


"Kamu tidak perlu berkata bohong untuk bisa menyelamatkan hidupmu. Dengan berkata jujur pun kamu juga akan bisa menyelamatkan diri." jawab Zein yang berjalan di samping Aliyya.


"Ck!!! Kata-katamu itu seakan membenarkan kalau aku ini memang orang gila. Dasar pria menyebalkan!!! Tapi ternyata kamu bisa juga ya melawan mereka semua." sungut Aliyya yang jengah seraya melipat tangannya di dada dan melirik Zein.


"Melawan mereka? Untukmu?" tanya Zein yang menertawakan Aliyya karena menganggapnya melawan preman itu untuk menolong Aliyya.


Sebenarnya Aliyya memang berharap jika Zein benar-benar melawan keempat preman itu untuk menolongnya. Namun lagi-lagi harapan Aliyya yang mustahil itu hancur dan musnah seketika saat melihat tampang Zein yang menyebalkan. Aliyya memang berharap seperti itu dan ia juga berharap kalau Zein akan merubah sikapnya. Tapi sepertinya itu sangat mustahil dan tidak mungkin akan terjadi. Aliyya yang jengah saat melihat tampang Zein pun memilih pergi. Lalu...


"Hai Aliyya... kamu sudah datang ya?" ujar Vian yang datang menghampiri bersama Karim, Adi, dan Syakir.


"Hai Aliyya... kamu cantik sekali memakai gaun ini." timpal Karim yang selalu takjub melihatnya.


"Iya, aku baru saja sampai. Terima kasih atas pujian kalian. Kalian juga tidak kalah tampan malam ini." ujar Aliyya yang tersenyum manis.


"Aku pikir tamu kehormatan kita tidak akan datang ke pesta." timpal Vian yang terkekeh.


"Iya aku juga berpikir seperti itu, Vian." timpal Syakir yang berdiri di samping Adi dan Karim.


"Ayo Aliyya! Kita ke sana. Aku ingin sekali memperkenalkan dirimu pada kekasihku." ujar Vian seraya mengajak Aliyya dan yang lainnya.


"Baiklah..."


Aliyya pun memilih pergi bersama Vian, Karim, Syakir dan Adi. Ia tidak mengajak Zein dan membiarkannya begitu saja. Melihat itu, Zein merasa kesal dan jengkel pada Aliyya serta teman-temannya. Bahkan teman-teman Zein tidak ada yang menyapanya sejak ia datang bersama Aliyya. Kasihan sekali pria tampan itu.


"Ck!!! Sebenarnya kalian itu teman siapa sih? Kenapa kalian lebih akrab dengan gadis itu lalu melupakan aku seperti ini? Dasar pengkhianat!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2