
...πΉπΉπΉ...
Suara alarm membangunkan Zein dari tidur panjangnya. Zein pun bergegas bangun dan meraih jam itu.
"Astaga! Sudah jam lima. Pesawatku pagi ini jam enam."
Zein pun beranjak dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Mendengar suara bisik membuat Rizal pun ikut terbangun.
"Ya ampun! Kita bisa telat, Zein." ujar Rizal yang melihat ke sampingnya.
Rizal tidak sadar kalau Zein sudah masuk ke dalam kamar mandi. Rizal pun beranjak dari tempat tidur.
"Zein, ayo cepat. Kita akan terlambat." seru Rizal dari depan kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Zein pun keluar dan sudah siap dengan pakaian santainya.
"Cepat mandi! Kalau tidak aku akan pergi sendirian!" seru Zein yang memerintah Rizal.
Rizal pun berdecak kesal dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Zein sibuk merapihkan wajah dan rambutnya. Kini penampilan pria itu sudah sangat tampan dan wangi.
"Singapore, I'm coming..."
Saat Zein sedang asyik bercermin, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. Zein pun menghampiri pintu dan membukanya.
"Mama..."
Dengan langkah tergesah, Sonia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Zein.
"Kenapa kamu belum pergi Zein?" tanya Sonia yang terlihat tegang.
"Aku sedang menunggu Rizal, Ma." jawab Zein yang masih bersikap santai.
"Oke, dengarkan Mama. Kamu pergi lewat pintu belakang saja karena di depan sudah banyak orang. Semua orang sedang sibuk untuk acara Aliyya hari ini. Jadi cepat lah pergi dan tinggalkan rumah ini!" ujar Sonia pada Zein.
Zein yang melihat guratan kecemasan di wajah sang ibu pun tampak heran dan bingung. Sementara Sonia yang sedang memberikan arahan untuk Zein, melihat Rizal yang keluar dari kamar mandi.
"Ridwan sudah selesai. Sekarang pergi lah!" seru Sonia pada keduanya.
"Baiklah, Ma. Aku pergi dulu ya. Bye..." ucap Zein yang menyalami dan mencium tangan Sonia.
Zein dan Rizal pun bergegas pergi dan keluar dari kamar lalu berjalan menuruni tangga. Tanpa ada yang melihat, mereka berhasil keluar dari pintu belakang. Sebenarnya Zein masih bingung dengan sikap sang ibu yang terlihat aneh dan ketakutan. Namun pria itu memilih untuk tidak menghiraukan hal itu, karena pikirannya saat ini adalah Singapore.
***
"Kamu sudah siap, Nak?"
Melihat sang putra yang sudah siap, Ibu Zaki pun datang menghampiri Zaki yang tengah duduk terdiam di depan meja riasnya. Pada saat menjelang pernikahan seperti ini, biasanya raut wajah mempelai wanita maupun pria tampak berbinar dan bahagia. Namun tidak dengan Zaki yang tampak berusaha keras meredamkan emosi di hatinya. Zaki pun menghela nafas kasar lalu menoleh ke arah sang ibu.
"Sudah, Ma." jawab Zaki yang tersenyum sinis.
"Ayo kita turun. Pamanmu sudah menunggu kita di bawah." ujar Ibu Zaki.
Zaki pun beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar bersama sang ibu. Saat sampai di lantai bawah, Zaki berjalan dan menghampiri sang paman yang tengah duduk bersama ayahnya.
"Ayo, kita pergi, Pa, Paman." ujar Zaki.
"Kamu tampan sekali, Nak." ujar sang paman yang memuji keponakannya.
Zaki hanya tersenyum simpul penuh makna. Namun pujian sang paman tidak menyurutkan niatnya untuk Aliyya hari ini.
"Ayo, Mas. Calon besan kita pasti sudah menunggu kedatangan kita di sana." ujar Ibu Zaki pada sang kakak.
"Ayo..." jawab Paman Zaki.
Mereka pun berjalan keluar rumah, di mana seluruh anggota keluarga besar Zaki sudah menunggunya sejak tadi. Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil dan bergerak ke rumah Aliyya.
***
"Kamu sangat cantik, Sayang."
Dengan sangat telaten, Sabrina menemani sang putri di dalam kamarnya dan terus memuji kecantikan putri sulungnya itu.
"Lihatlah, Bu. Huruf namanya terlihat sangat cantik di telapak tanganku ini." ujar Aliyya yang memperlihatkan henna di tangannya.
"Allah sudah menakdirkan Zaki untukmu, Sayang." jawab Sabrina yang mengecup pucuk kepala putrinya.
Senyum Aliyya pun terlukis sangat indah di wajahnya. Sejak tadi ia selalu memandang lukisan henna huruf Z yang ada di telapak tangannya.
Lukisan huruf itu memberi arti yang sangat dalam untuk Aliyya. Lukisan henna itu berarti kalau sebentar lagi, ia akan menikah dengan seseorang yang bernama Zaki. Dan pria itu yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
***
Umar dan Galuh saat ini sedang berada di depan rumah. Mereka tengah menunggu kedatangan calon menantunya.
"Aliyya yang akan menikah, kenapa aku yang yang merasa tidak sabar." ucap Galuh yang melihat ke sana ke mari.
__ADS_1
"Hahahaha... tenanglah, Galuh. Sebentar lagi kau akan menjadi wali nikah untuk putrimu." jawab Umar yang tertawa melihat Galuh.
Galuh hanya terkekeh mendengar perkataan kakak iparnya itu. Namun rasa gugup, takut dan tegang tidak mau pergi dari hatinya. Sementara semua anggota keluarga dan para tamu sedang menunggu di dalam rumah. Sonia, Farhan, Namira dan Shafia terlihat sedang duduk di sana.
"Apa Mama sudah berhasil membuat Zein pergi dari sini?" tanya Shafia yang berbisik.
"Semuanya sudah beres!" jawab Sonia yang santai.
"Mama yakin kalau Papa tidak akan bertanya keberadaan Zein nanti?" tanya Namira yang tidak mau kalah dengan Shafia.
"Mama akan menyelesaikan masalah itu nanti, yang paling penting saat ini, putraku sudah pergi dan tidak akan mendapatkan masalah." jelas Sonia yang tampak tegang.
Namira dan Shafia pun tersenyum lega saat tau kalau Zein sudah pergi. Sama dengan halnya Sonia, Namira dan Shafia juga tidak menyukai keluarga Aliyya. Namun di antara kedua wanita itu tetap saja ada perbedaan.
Namira memang tidak menyukai Aliyya, tapi ia tetap bersikap manis dan sopan terhadap keluarganya. Sedangkan Shafia, wanita itu menunjukan ketidaksukaan dirinya terhadap keluarga Aliyya secara terang-terangan.
Entah kenapa Sonia sangat kekeuh untuk menyuruh Zein pergi karena ia merasa takut kalau Zein akan mendapatkan masalah jika tetap berada di sini.
Kira-kira masalah apa yang membuat Sonia takut seperti itu? Entahlah.
Tidak lama kemudian, rombongan dari pihak pria pun akhirnya datang. Kedatangan mereka memenuhi halaman rumah Aliyya sehingga membuat suasana menjadi sangat ramai. Dengan antusias, Umar dan Galuh pun menjemput dan menyambut kedatangan mereka.
"Assalamualaikum." ucap Ayah Zaki yang baru turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam, ayo silakan masuk." jawab Galuh yang terlihat sangat bahagia.
"Selamat datang keluarga Zaki." ucap Umar yang menyambut mereka semua.
"Terima kasih, Pak. Sambutan anda sangat membuat keluarga kami merasa terhormat." jawab Paman Zaki yang ramah.
"Ayo, semuanya. Silakan masuk!" ujar Galuh.
Mereka semua pun masuk mengiringi Zaki sebagai pengantin pria yang akan memasuki rumah calon istrinya.
Saat rombongan keluarga Zaki masuk, semua orang yang menunggu di dalam pun langsung berdiri. Sebagai tanda menghormati mereka semua yang datang. Zaki pun berjalan menuju tempat yang sudah disediakan untuk proses ijab kabul. Di temani oleh Sang ibu, Zaki berjalan perlahan sebagai seorang pengantin pria.
Setelah Zaki duduk di tempat indah itu, semua tamu pun ikut duduk di tempat yang sudah disediakan. Tidak berselang lama, Aliyya pun keluar dan turun dari lantai atas. Dengan pakaian putih dan make up yang natural menambah kesan cantik di wajah Aliyya.
Saat Aliyya tengah berjalan menuruni tangga bersama Sabrina dan Aldha, semua mata tertuju pada pengantin wanita yang cantik sangat itu.
Pujian demi pujian pun sayup-sayup terdengar keluar dari bibir para tamu undangan. Kecantikan Aliyya mampu membuat semua terhipnotis. Namun tidak dengan Zaki dan Ibu Zaki. Mereka malah menyeringai sinis melihat ke arah gadis itu. Tapi berbeda hal dengan sang paman. Saat melihat Aliyya, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Sepertinya aku pernah melihat gadis ini."
"Ikut aku sebentar, Dek." ujar Paman Zaki yang menarik tangan Ibu Zaki keluar.
Ibu Zaki yang melihat sikap kakaknya yang aneh pun merasa heran dan bingung. Namun ia pasrah ketika sang kakak menariknya.
"Ada apa sih Mas?" tanya Ibu Zaki yang sejak tadi merasa heran.
"Kamu yakin akan menikahkan Zaki dengan gadis itu?" tanya Paman Zaki yang membuat Ibu Zaki penasaran.
"Memang kenapa Mas? Ada apa?" tanya Ibu Zaki yang semakin penasaran.
"Aku melihat gadis itu di bangunan tua bersama seorang pria tadi malam. Wajah mereka sangat dekat bahkan hampir berciuman. Saat aku datang dan memergoki mereka, mereka terlihat sangat terkejut. Lalu pria itu mengatakan kalau gadis itu adalah calon istrinya." jelas Paman Zaki.
Ibu Zaki terdiam sejenak. Kini lengkap sudah bukti yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu. Pertama, ia melihat Aliyya yang berpelukan dengan Zein di balkon kamarnya. Kedua, Zaki, sang putra juga melihat kemesraan Aliyya dengan Zein saat di bandara. Dan sekarang, Paman Zaki juga ikut melihat langsung kemesraan Aliyya dan Zein saat berada di bangunan tua.
Ternyata Polisi yang memergoki Aliyya dan Zein tadi malam adalah Paman Zaki yang sedang bertugas di bangunan tua.
"Aku juga pernah melihat gadis itu berpelukan dengan pria lain, Mas." ujar Ibu Zaki membelakangi sang kakak.
"Lalu kenapa pernikahan ini masih kamu lanjutkan?" tanya Paman Zaki yang terbawa emosi.
"Mas lihat saja nanti! Putraku tidak sebodoh itu harus menikah dengan wanita yang tidak baik seperti Aliyya." jawab Ibu Zaki yang tersenyum sinis.
Sang kakak hanya menatap heran adiknya itu. Lalu mereka pun kembali masuk ke dalam rumah Aliyya dan bergabung dengan yang lainnya.
"Apakah kedua mempelai sudah siap?" tanya Penghulu pada keduanya.
Zaki melirik Aliyya yang tertunduk malu dan tidak berani menatap semua orang. Senyum sinis saat melirik Aliyya kembali terukir.
"Tunggu, Pak!" ucap Zaki yang menghentikan kelangsungan acara dan beranjak dari kursi.
Degh!
Suasana yang ceria dan bahagia seketika berubah menjadi sangat tegang ketika Zaki mengatakan kata itu. Mata semua orang pun tertuju padanya, termasuk Aliyya.
Aliyya yang tadinya tertunduk langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Zaki. Sementara Galuh dan Umar saling melempar pandangan. Mereka ikut terkejut dengan ucapan Zaki.
Di sisi lain, Ibu Zaki tersenyum tipis saat mendengar ucapan sang putra. Ia sangat tau apa yang akan direncanakan untuk calon istri putranya itu. Sementara Paman dan Ayah Zaki, merasa heran dengan sikap Zaki yang tiba-tiba meminta waktu pada Penghulu.
Lain Ibu Zaki, lain pula dengan Sonia. Hatinya merasa tidak enak saat mendengar ucapan Zaki. Jantungnya berdetak sangat cepat. Entah apa yang akan terjadi pada acara ini.
Semoga ini tidak ada hubungannya dengan putraku. Gumam Sonia dalam hati.
__ADS_1
Penghulu pun melihat ke arah Galuh dan Umar dengan tatapan heran. Sementara Galuh tampak menoleh ke arah Sabrina yang duduk bersama Aldha.
"Ada apa Nak?" tanya Galuh yang penasaran.
"Sebelum saya mengucapkan ijab kabul di hadapan kalian semua. Izinkan saya untuk mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Saya ingin mengucapkan terima kasih pada keluarga Pak Galuh yang telah menerima saya menjadi calon suami putri sulungnya."
Seketika guratan kecemasan yang tadinya tampak jelas di wajah Galuh dan Sabrina, kini bertukar menjadi senyuman penuh rasa bersyukur dan bahagia karena mendapatkan seorang menantu yang baik seperti Zaki. Begitu juga dengan Umar, wajah pria paruh baya yang berstatus sebagai paman Aliyya itu juga tampak berbinar tatkala mendengar penuturan calon menantunya itu. Sementara Sonia, ia juga tampak tersenyum tipis, bukan karena bahagia melihat Aliyya bahagia, tapi karena merasa lega dengan perkataan awal Zaki.
"Saya mengucapkan terima kasih karena saya dan keluarga sudah disambut dengan sangat hormat. Saya sangat bahagia, saat mengetahui kalau saya akan dijodohkan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Dan kini wanita itu sudah duduk manis, tepat di samping saya."
Perkataan Zaki berhasil membuat warna merah merona terpancar di kedua pipi Aliyya yang cantik. Senyum manisnya kembali terukir hingga ia tidak berani melihat ke arah Zaki. Sementara Zaki yang melihat Aliyya hanya tersenyum simpul dan sangat dingin. Lalu...
"Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi saya dan terkhusus Aliyya sendiri. Karena pada hari ini. Saya Zaki Mahendra Putra berjanji, bahwa saya... tidak akan melanjutkan acara pernikahan ini!!!!" tandas Zaki dengan suara yang sangat lantang.
Duaaaaaarrrrrrr!
Bagaikan petir yang menggelegar di pagi hari. Seketika langit cerah berubah menjadi sangat gelap. Aliyya yang tertunduk dan tersipu malu sejak tadi, langsung mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Zaki.
Tidak hanya Aliyya, para tamu pun terkejut dan langsung berdiri saat mendengar perkataan pria itu, termasuk Umar dan Sonia. Umar benar-benar sangat terkejut saat mendengar ucapan yang keluar dari bibir calon suami keponakan kesayangannya itu.
Zaki yang sudah berdiri pun menatap tajam ke arah Aliyya. Matanya memerah bagaikan monster yang sedang menahan amarah. Perlahan Aliyya pun beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati Zaki.
"Apa maksud perkataanmu?" tanya Aliyya yang bibirnya bergetar dan matanya mulai memanas.
"Apa kata-kataku masih kurang jelas? Aku tidak akan melanjutkan pernikahan ini. Itu artinya, aku membatalkan pernikahan kita!" tandas Zaki dengan suaranya yang keras.
Air mata pun lolos begitu saja dari sudut mata Aliyya. Bibirnya bergetar dan sangat terkejut saat mendengar perkataan Zaki.
"Kenapa kamu membatalkan pernikahan ini? Bukannya kamu yang datang ke sini dan melamarku di depan kedua orang tuaku. Lalu kenapa harus berakhir seperti ini?" tanya Aliyya yang meminta penjelasan Zaki.
"Kamu bertanya kenapa Al? Lalu kenapa kamu selalu berduaan bersama pria lain di saat pernikahan kita ini sudah dekat? Hah!" tandas Zaki yang menatap tajam Aliyya.
Degh!
Aliyya pun terdiam dan matanya tampak menerawang. Seketika ingatannya kembali berputar, saat pertama kali ia bertemu dengan Zein dan di saat itulah kesalahpahaman di antara mereka terjadi.
Pria lain? Apakah mungkin selama ini Zaki selalu melihatku saat aku sedang bersama Zein. Gumam Aliyya dalam hati.
Sabrina yang melihat perdebatan di antara keduanya pun tidak bisa menahan air matanya lagi. Sementara Aldha berusaha untuk menenangkan ibunya agar tidak menangis.
Umar dan Galuh pun saling melempar pandangan. Mereka benar-benar tidak mengerti dengan perkataan Zaki. Lalu Galuh dan Umar pun mendekati keduanya.
"Apa yang kamu katakan, Zaki? Kenapa kamu menuduh Aliyya bersama pria lain?" tanya Galuh seraya memegangi bahu putrinya.
"Putri Pak Galuh ini sudah bermain-main saat di belakang saya. Tidak hanya sekali, bahkan tidak hanya saya, Mama saya pun melihat Aliyya saat bersama pria itu!" tandas Zaki yang sangat emosi.
Aliyya masih terdiam dan tetap bergeming. Air matanya terus mengalir tanpa henti.
"Aku mempunyai buktinya, Pak!" ucap Zaki yang mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
Galuh dan Umar yang heran pun saling melempar pandangan lagi. Sementara Aliyya sedikit menoleh ke arah Zaki.
"Ini pria itu!!!"
Aliyya sangat terkejut saat melihat foto itu. Begitu juga dengan Galuh, Umar, Sabrina dan Sonia.
"Zein..." ucap Umar yang melihat foto putra kesayangannya bersama Aliyya.
Mata Sonia membulat sempurna ketika melihat foto sang putra yang tertangkap kamera dan sedang berhadapan mesra dengan Aliyya, di saat mereka di bandara. Tidak hanya Sonia, Galuh, Sabrina, Aldha, Farhan, Namira dan Shafia pun demikian. Semua orang terkejut melihat foto mesra yang semakin menyudutkan Aliyya. Raut wajah cemas dan gelisah pun menghantui Sonia.
"Foto itu tidak benar, Zaki. Dia Zein. Dia hanya sepupuku. Dia hanya anak pamanku. Kami tidak mempunyai hubungan yang lain, selain hubungan saudara." ujar Aliyya yang berusaha membela dirinya.
"Tidak benar katamu? Lalu kejadian malam itu? Kejadian di saat kamu berpelukan mesra dengannya di balkon kamarmu? Apakah kejadian malam itu juga masih kurang membuktikan, kalau kamu mempunyai hubungan spesial dengan pria itu?" tandas Zaki yang semakin memojokan Aliyya.
Degh!
Memori otak Aliyya seketika berputar dan teringat dengan kejadian malam itu. Malam itu Aliyya masih salah mengira, bahwa Zein adalah Zaki yang hendak memberikan hadiah padanya.
"Kamu telah salah paham, Zaki! Malam itu aku mengira kalau..."
"Stop!!!
.
.
.
.
.
Happy Reading Allπππ
Jangan lupa like, komen, rate dan vote cerita baru author yaπππ terima kasihπππ
__ADS_1