Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 27 ~ Masakan Pedas


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Aldha... tolong siapkan koper Ibu!"


Sabrina tampak semakin tidak tenang jika belum melihat apa yang terjadi sebenarnya seperti perkataan Sonia melalui ponselnya tadi pagi. Entah kenapa kini ibu dua anak itu ingin sekali menyusul Aliyya dan ingin memastikan sendiri bagaimana keadaannya.


Aldha yang mendapat sahutan dari sang ibu pun bergegas menghampiri Sabrina.


"Ibu mau pergi ke mana dengan koper?" tanya Aldha yang bingung seraya meletakkan koper.


"Ibu... Ibu ingin mengunjungi kakakmu di rumah mertuanya. Tapi kamu jangan mengatakan hal ini pada ayahmu ya. Ibu akan pergi sendiri dan kamu harus bisa menjaga rumah." jawab Sabrina yang terlihat ragu.


"Ibu... Ibu tidak apa-apa 'kan? Apa Ibu sedang menyembunyikan sesuatu dari Ayah? Lalu kenapa rencana Ibu ini mendadak sekali dan tidak mau mengajak aku atau Ayah?" tanya Aldha yang penasaran seraya meraih bahu sang ibu.


Sabrina pun terdiam. Mana mungkin ia bisa menceritakan semua yang dikatakan Sonia padanya via telepon kepada Aldha. Bukan takut kalau Aldha akan memberitahu Galuh, tapi ia takut sang putri keduanya itu akan ikut sedih mendengar kabar buruk mengenai pernikahan kakaknya.


Melihat Sabrina yang terdiam, Aldha pun semakin heran dan yakin kalau sang ibu tengah menutupi sesuatu darinya dan Galuh.


"Ibu..."


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Ibu hanya ingin memberikan barang-barang kakakmu yang tertinggal di sini. Siapa tau saja dia sangat membutuhkan barang-barang itu." jawab Sabrina yang berusaha meyakinkan Aldha.


"Barang-barang itu bisa dikirim melalui paket saja, Bu. Ibu tidak perlu ke sana sendirian kecuali kalau Ibu mengajakku ke sana." ujar Aldha yang terkekeh dengan wajah melasnya.


"Itu memang maunya kamu saja! Dasar!" jawab Sabrina seraya menepuk kening sang putri.


Aldha pun mendengus geli saat mendapatkan perlakuan itu dari Sabrina. Sementara Sabrina sendiri merasa lega karena Aldha tidak terlalu ingin tau masalah apa yang sedang berusaha ia tutupi. Setelah puas menggoda sang ibu, Aldha pun beranjak dan keluar dari kamar Sabrina.


Drrrrttt!


Tidak lama setelah Aldha pergi, tiba-tiba ponsel Sabrina bergetar. Lalu ia langsung mengangkat telepon dan berbicara dengan seseorang. Raut wajah Sabrina seketika pias ketika berbicara dengan seseorang di seberang sana. Tidak lama kemudian, pembicaraan pun berakhir.


"Tiket pesawat ke Jakarta sedang mahal sekali. Uangku tidak cukup untuk membeli satu tiket."


Ternyata orang yang menghubungi Sabrina adalah pihak penjual tiket pesawat. Sebelum meminta Aldha untuk menyiapkan koper, ia sudah lebih dulu menanyakan harga satu buah tiket untuknya pergi ke Jakarta. Tapi setelah mengetahui harga tiket sedang mahal, Sabrina pun mengurungkan niatnya untuk menyusul Aliyya ke Jakarta. Bukan karena tidak mampu untuk membeli tiket, melainkan takut kalau sang suami sampai mengetahui niatnya pergi ke kota besar itu sendirian.


"Lebih baik nanti aku tanyakan langsung pada Zein tentang masalah ini terlebih dahulu. Aku yakin kalau Zein tidak berniat untuk bercerai dengan putriku. Kak Sonia pasti salah paham."


Sabrina yang masih tidak tenang pun berusaha sekuat tenaga untuk bisa tenang. Nafas kasar pun terhembus dan sesekali ia mengurut dada untuk melakukan terapi menenangkan dirinya.


"Iya, Kak Sonia pasti sudah salah paham."


***


Setelah lama berjalan di taman, Umar dan Zein pun kini sudah pulang. Kedua pria berbeda generasi dan usia itu tengah berjalan beriringan memasuki rumah. Saat keduanya sedang asyik berjalan masuk, Aliyya yang baru keluar dari dapur pun keluar sehingga mereka berpapasan.


Umar tersenyum melihat keponakannya itu baik-baik saja setelah insiden memalukan tadi malam. Sementara Aliyya ikut tersenyum pada Umar lalu melirik tajam ke arah Zein. Tatapan keduanya pun terkunci lagi dan seperti biasa yang sering mereka lakukan, melempar tatapan tajam yang penuh dengan rasa benci. Zein yang merasa jengah dengan tatapan itu pun memilih untuk pergi dari hadapan istrinya itu.


"Papa..." ujar Aliyya yang tersenyum.


"Kamu baik-baik saja 'kan Sayang?" tanya Umar yang mendekati keponakan sekaligus menantu kesayangannya itu.


"Sejak kejadian tadi malam Papa pasti selalu memikirkan aku. Iya 'kan? Papa jangan khawatir lagi ya. Aku pasti baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkan aku, Pa. Setelah kejadian tadi malam itu aku berjanji!!! Aku tidak akan pernah menghancurkan kepercayaan Papa dan Mama lagi. Aku tidak akan membuat kalian malu lagi." tutur Aliyya yang berusaha menenangkan Umar.


"Papa percaya sama kamu, Nak." jawab Umar seraya mengusap lembut rambut Aliyya.


"Terima kasih Pa..."


Umar pun mengangguk dan tersenyum. Lalu ia beranjak dari hadapan Aliyya. Sementara gadis cantik yang berasal dari Jogja itu juga ikut tersenyum lega. Setidaknya masih ada Umar sebagai ayah mertua sekaligus paman untuk dirinya di rumah itu, dan yang paling penting Umar sangat mempercayai dirinya kalau semua tuduhan pencurian itu tidak benar.


"Semoga saja tuduhan itu segera terbongkar."


Aliyya pun menghela nafas panjang lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan yang sudah ia siapkan untuk Zein. Bukan sengaja ia membuatkan makanan itu, melainkan untuk melakukan sesuatu pada suaminya yang keras kepala itu. Dengan senyum jahil dan liciknya, Aliyya pun berjalan menuju ke kamar Zein dan kebetulan sekali bisa berpapasan dengan Umar yang sedang berjalan ke ruang kerjanya. Ide licik Aliyya pun muncul seketika saat melihat Umar.


"Papa..."

__ADS_1


Umar yang sedang berjalan pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke sumber suara. Sementara Aliyya tampak tersenyum lebar dan bergegas menghampiri Umar.


"Kamu mau membawa makanan itu ke mana Nak?" tanya Umar yang melihat nampan dan sebuah mangkuk berisi makanan di tangannya.


"Aku ingin memberikan makanan ini untuk Zein, Pa. Kata Ibu, seorang istri harus memberikan makanan setiap pagi untuk suaminya. Ini adalah makanan khas Jogja dan Zein harus memakan makanan ini." jawab Aliyya dengan wajah melas.


"Kalau begitu kamu bawakan saja ke kamar. Mungkin suamimu itu masih di dalam kamar." ujar Umar yang belum mengerti dengan sikap Aliyya.


"Tapi Pa, aku takut Zein tidak mau memakan masakanku ini. Papa bisa membantuku 'kan?" jawab Aliyya yang dengan wajah melasnya itu.


"Baiklah, Papa akan menemanimu memberikan makanan itu untuk Zein. Ayo!!!" ujar Umar yang tertawa geli melihat Aliyya lalu berjalan.


Aliyya pun semakin tersenyum puas mendengar perkataan Umar yang menuruti permintaannya. Lalu mereka berjalan menaiki tangga, menuju kamar Zein. Saat keduanya sampai di depan pintu kamar Zein yang terbuka, mereka melihat Zein yang baru keluar dari kamar mandi dengan penampilan tampannya.


"Zein... kamu masih di sini?" ujar Umar seraya berjalan masuk dan disusul oleh Aliyya.


"Iya, memang kenapa Pa? jawab Zein yang heran sekaligus bingung dengan kedatangan Umar dan Aliyya di belakangnya.


"Kebetulan sekali! Papa ingin memintamu untuk melakukan sesuatu. Kamu mau 'kan?" ujar Umar yang melihat ke arah Zein dan tersenyum.


"Memang Papa ingin aku melakukan apa?" tanya Zein yang semakin penasaran dan melirik Aliyya.


"Papa ingin kamu memakan masakan istrimu. Karena bibimu bilang, kalau seorang suami itu wajib memakan makanan yang dibuatkan oleh istrinya. Itu sebagai tanda kalau kamu masih menghargai istrimu. Kamu mau memakan ini 'kan? Aliyya sudah bersusah payah memasak untukmu. Jadi kamu harus memakannya!!!" jawab Umar seraya menoleh ke arah Aliyya.


Zein yang jengah pun melihat masakan Aliyya. Seketika matanya membulat sempurna ketika melihat masakan yang tidak asing baginya itu. Sementara Aliyya hanya tersenyum puas saat melihat ekspresi terkejut di wajah suaminya yang sangat menyebalkan itu.


"Tapi Pa, aku tidak bisa memakan masakan ini. Papa tau sendiri, bukan? Kalau aku tidak bisa memakan makanan pedas dari sejak kecil? Masakan Aliyya ini masakan pedas, Pa." sungut Zein yang berusaha mengelak dan menghindari makanan itu.


"Papa sangat tau, Zein. Tapi waktu kecil, kamu belum menikah. Jadi kamu bisa menolak untuk tidak memakan makanan pedas." jawab Umar.


Zein yang kesal pun mendengus kesal seraya melirik tajam istrinya. Sementara Aliyya yang memperhatikan raut wajah Zein sejak tadi tampak berusaha keras untuk menahan tawanya.


"Ayo Zein!!! Makan masakan istrimu!!!" seru Umar seraya memberikan makanan itu.


"Baiklah Pa..."


Aliyya dan Umar yang melihat itu pun hanya saling pandang lalu tersenyum. Umar lega karena putranya mau memakan masakan istrinya, sementara Aliyya tersenyum puas karena berhasil menjahili balik suaminya itu.


"Kamu temani saja suamimu di sini. Papa ingin menemui mamamu dulu di lantai bawah." ujar Umar seraya meraih bahu Aliyya.


"Iya Pa..." jawab Aliyya seraya mengangguk.


Umar yang tersenyum pun pergi dari kamar putranya dan meninggalkan Aliyya bersama Zein di dalam kamar itu.


"Aku tidak kuat lagi." pekik Zein yang kepedasan seraya meletakkan makanan itu di atas meja.


"Pa... Zein tidak mau menghabiskan makanan yang aku buat!!!" pekik Aliyya yang memanggil Umar.


"Ck!!! Semua ini hanya rencanamu 'kan?" sungut Zein yang semakin jengah dan kepedasan.


"Kalau benar kenapa? Aku memang sengaja membuat makanan pedas ini untuk membalas semua perbuatanmu yang selalu membuat air mataku mengalir deras!!! Kini aku sudah puas melihat air matamu walaupun karena makanan pedas. Setidaknya kamu juga mengeluarkan air mata sepertiku. Jadi, skor kita sekarang sama." tutur Aliyya yang menatap tajam suaminya.


"Ck!!! Dasar keponakan kesayangan!!!" sungut Zein yang beranjak dan meninggalkan Aliyya.


Aliyya yang melihat ekspresi Zein menahan rasa pedas pun tertawa lepas. Rasanya puas sekali melihat musuh yang sangat menyebalkan dalam hidupnya itu menangis dan panik hanya karena merasakan pedas di lidahnya. Sungguh, raut wajah Zein yang merah berhasil membuat Aliyya terpingkal lepas. Setelah Zein pergi, Aliyya pun mencicipi makanan itu karena sejak tadi ia hanya merasakan rasanya ketika melihat Zein.


"Huh, huh, huh!!! Rasanya seperti kobaran api. Pedas sekali makanan ini!!!"


Aliyya pun ikut merasakan pedas di lidahnya. Lalu ia bergegas keluar dari kamar menuju ke dapur untuk mengambil minuman yang bisa menghilangkan rasa pedas.


***


"Apakah aku harus menanyakannya pada Zein?"


Sabrina masih tampak gelisah di dalam kamar karena teringat dengan perkataan Sonia. Nasib pernikahan putrinya yang sedang terancam itu sungguh membuatnya tidak bisa tenang.

__ADS_1


"Kalau aku tidak menanyakan hal ini pada Zein, maka aku tidak akan bisa tenang. Sepertinya aku memang harus menanyakannya pada Zein."


Dengan kekuatan hati dan keberanian, Sabrina pun meraih ponselnya yang berada di atas nakas lalu mencari nomor ponsel Zein.


"Assalamualaikum Bi..."


"Wa'alaikumsalam Zein. Bagaimana kabarmu Sayang?" tanya Sabrina yang berusaha tenang.


"Aku baik-baik saja, Bi. Bibi dan Paman di sana bagaimana? Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Zein yang menghentikan langkahnya dan masih tampak kepedasan karena ulah Aliyya.


"Bibi, Paman dan Aldha baik-baik saja. Bibi hanya ingin menanyakan sesuatu padamu Zein?" jawab Sabrina yang beranjak dari duduknya.


"Bibi ingin bertanya apa?" tanya Zein seraya mengibaskan tangannya pada lidahnya yang masih terasa panas dan pedas.


"Apa benar kamu ingin menceraikan istrimu?" tanya Sabrina yang tidak bisa basa-basi lagi.


Seketika Zein terperanjat mendengar pertanyaan sang bibi. Rasa pedas yang berkobar di dalam mulutnya seakan menguap begitu saja karena masalah perceraian yang sempat terucap secara spontan itu sudah sampai di telinga Sabrina.


"Bibi..." ujar Zein yang tiba-tiba gugup dan tidak tau harus menjelaskan apa pada sang bibi.


"Jawab saja, Zein!!! Bibi ingin mendengarkan jawaban yang keluar langsung dari bibirmu!!! Setelah berpikir cukup panjang, akhirnya Bibi memberanikan diri untuk menanyakannya langsung padamu. Pamanmu di sini memang bukan orang kaya, tapi dia masih mempunyai harga diri. Dia tidak akan bisa menerima berita buruk ini kalau memang benar adanya. Kalau berita itu benar, maka hari ini juga Bibi akan datang ke sana dan membawa Aliyya pulang bersama Bibi!!!" tutur Sabrina yang entah sejak kapan matanya basah.


Zein pun terdiam saat mendengar suara Sabrina yang parau dan menangis. Rasa sayangnya pada sang bibi membuat hatinya tidak tega. Zein yang panik pun berusaha untuk memberikan jawaban pada sang bibi. Sementara air mata Sabrina saat ini semakin deras di wajahnya karena sesak dan takut mendengar jawaban putra menantunya itu.


"Bibi... sejak Aliyya masuk ke dalam hidupku ini, rasanya hidupku hancur. Aliyya berusaha untuk mengambil apa pun yang aku miliki di rumah ini. Kamarku juga diambil, seakan dia lah pemilik asli kamar itu. Dia selalu saja mencari masalah denganku, merapihkan kamarku dan membereskan semua barang-barang milikku di kamar. Aku sangat tidak suka dengan hal itu, Bi. Setiap aku melarangnya, dia selalu menentangku dan melakukan sesuatu seenaknya. Aku tidak bisa jika harus seperti itu, Bi. Aku tidak suka melihat caranya yang seakan berkuasa di dalam kamarku. Dia selalu membawa barang-barang yang tidak aku butuhkan, dan di saat aku ingin pergi keluar, tiba-tiba Papa menanyakan Aliyya padaku lalu menyuruhku untuk tidak pergi meninggalkan Aliyya sendirian. Mana mungkin aku bisa seperti itu, Bi. Itu bukan gayaku tapi Papa tetap saja memaksaku." tutur Zein yang masih kepedasan dan mengungkapkan isi hati pada sang bibi.


"Jadi karena itu kamu ingin menceraikan Aliyya?" tanya Sabrina yang semakin menangis dan takut.


"Bibi... aku mengatakan hal ini bukan berarti aku ingin menceraikan Aliyya. Tidak, Bi!!! Aku tidak akan meninggalkan putri Bibi semudah itu!!! Aliyya sudah menikah denganku dan aku hanya ingin dia tau dengan sifat suaminya ini, seperti apa suaminya. Jadi Bibi jangan khawatir lagi ya." jawab Zein yang berusaha menenangkan bibinya.


Lepas sudah beban sesak yang menghimpit Sabrina sejak tadi pagi. Rasa khawatirnya kini seakan menguap begitu saja setelah mendengar langsung jawaban dari mulut Zein. Ternyata apa yang ia khawatirkan sejak tadi tidak lah benar.


"Benarkah seperti itu Zein? Jadi yang dikatakan oleh Kak Sonia tidak benar 'kan?" tanya Sabrina yang ingin memastikan.


Zein pun terdiam lagi saat mendengar nama sang mama disebut oleh Sabrina. Kini Zein mengerti kenapa Sabrina menghubunginya dan menanyakan hal ini padanya.


"Bibi jangan khawatir ya. Mama pasti sudah salah paham." jawab Zein yang meyakinkan Sabrina.


"Kini hati Bibi benar-benar sudah tenang, Zein. Terima kasih karena kamu sudah mau berkata jujur pada Bibi. Jaga dirimu baik-baik ya, Nak. Assalamualaikum." ujar Sabrina yang merasa lega dan senang mendengar semua penjelasan Zein.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Zein.


Setelah menutup telepon, Zein pun terdiam lagi. Entah kenapa ia merasa bersalah sekali pada Sabrina karena insiden memalukan saat acara resepsi tadi malam. Cukup lama ia terdiam, akhirnya Zein pun berjalan menuruni tangga dan menuju ke kamar Sonia.


"Zein... kebetulan sekali kamu di sini, Nak. Ayo bantu Mama untuk memilih beberapa menu makanan yang harus Mama masukan ke dalam buku resep kali ini." ujar Sonia yang sedang asyik tanpa menoleh ke arah Zein.


"Kenapa Ma? Kenapa Mama melakukan itu?" tanya Zein yang masih berdiri dan melihat kesibukan sang mama di hadapannya.


"Karena Mama percaya padamu, Nak. Ayo bantu Mama! Pilihanmu pasti akan Mama masukan ke dalam buku resep." jawab Sonia yang sibuk.


"Bukan tentang buku menu makanan, Ma!" ujar Zein yang kini berdiri di belakang sang mama.


Sonia terdiam dan menghentikan aktifitasnya ketika mendengar perkataan Zein. Tanpa menoleh ke arah sang putra yang berdiri di belakangnya, Sonia tampak memasang raut wajah yang tidak terbaca.


"Seharusnya Mama tidak memberitahu Bibi Sabrina tentang perceraian itu!!!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2