
...๐น๐น๐น...
"Papa... Papa..."
Saat Zein tengah berusaha membujuk Farhan untuk tidak ikut dengannya, tiba-tiba terdengar suara cempreng bocah perempuan dari arah tangga. Seketika semua mata pun tertuju pada sumber suara itu. Sementara bocah perempuan itu tampak berlari menghampiri sang papa yang ada di antara para pria itu.
"Ada apa Sayang?" tanya Farhan yang membelai kepala sang putri bungsu dengan sayang.
"Aku mengantuk sekali, Pa. Aku ingin ditemani Papa malam ini." jawab Fara seraya merengek dan menarik tangan Farhan.
"Malam ini sama Mama dulu ya, Sayang. Papa tidak bisa menemani kamu." ujar Farhan yang sedang berusaha membujuk Fara.
"Tidak mau! Aku ingin bersama Papa!!!" jawab Fara yang merengek manja lagi seraya menarik tangan sang papa.
Farhan yang tidak tega pun menghela nafas panjang. Sementara Zein dan Rizal tampak tersenyum lega karena Fara berhasil menjadi bidadari penolong untuk acara larut malam ini.
"Baiklah, tapi aku akan tetap datang ke kamar Zein dalam waktu 10 menit!!! Ayo Sayang." ujar Farhan pada semuanya lalu menggendong Fara.
Farhan pun pergi membawa Fara ke kamarnya karena malam semakin larut. Sementara Zein hanya dibuat jengah sekaligus merasa malu melihat tingkah sang kakak yang konyol itu.
"Zein... aku minta maaf ya, tapi malam ini aku harus mengatakannya padamu. Kalau Farhan sangat lah payah." ujar salah satu temannya.
"Sebelum menikah Farhan tidak seperti itu. Apa yang terjadi padanya? Kenapa setelah menikah tingkahnya semakin aneh dan konyol?" timpal salah satu teman Zein yang berdiri di belakang Rizal.
"Apa maksudmu?" tanya Rizal yang menoleh tajam dan mengira kalau Farhan menjadi payah setelah menikah dengan kakaknya, Namira.
"Eh maaf, tapi maksudku bukan Namira. Setiap pria yang sudah menikah selalu saja berubah dan tingkahnya menjadi sangat payah sehingga dia tidak keren lagi jika sudah menikah." jawab teman Zein yang berdiri di belakang Rizal itu.
"Tidak semua pria!!! Ya hanya itu saja yang ingin aku tegaskan pada kalian! Sekarang kita masuk ke kamarku dan kita menonton pertandingan itu bersama malam ini." ujar Zein yang menyeringai.
Rizal dan teman-temannya pun mengangguk mendengar pengecualian Zein yang jelas saja kalau pengecualian itu memang untuk dirinya. Zein tidak ingin teman-temannya menganggap dirinya payah setelah menikah, bahkan bukan semakin payah melainkan akan semakin keren. Setelah melewati sedikit rintangan yang dibuat oleh Farhan, mereka semua pun berjalan ke lantai atas menuju kamar Zein Abdullah yang keren menurut dirinya sendiri.
***
Drrrrttt!
Ketika Aliyya sedang menyiapkan masakan, tiba-tiba saya ponselnya yang terletak di atas meja bergetar. Aliyya pun meraih ponselnya itu dan membuka notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Raut wajah Aliyya berubah pias seketika saat membaca sebuah pesan yang dikirim Zein. Pesan yang melarang dirinya untuk masuk ke dalam kamar di saat teman-temannya datang. Walaupun merasa jengah tapi Aliyya memilih untuk tidak menghiraukan pesan itu dan melanjutkan aktifitas memasaknya yang sudah selesai.
"Wah aroma masakanmu sampai tercium keluar."
Bi Sumi yang kembali dari ruang tamu berhasil dibuat takjub dengan aroma masakan Aliyya. Dengan wajah yang berbinar, ART paruh baya itu tampak semangat sekali menghampiri Aliyya yang sedang menyajikan hasil praktek memasak, tanpa menyadari tatapan tajam dari majikannya. Siapa lagi kalau bukan Sonia Abdullah yang tidak suka jika ada orang yang memuji Aliyya di depan matanya. Sementara Aliyya, gadis Jogja itu juga tampak berbinar dan tersenyum karena berhasil menyelesaikan masakannya sekaligus menolong Pelayan malang yang hampir saja dipecat Sonia.
"Teman-teman Zein sudah datang. Ayo, kita temui mereka dan bawa masakanmu untuk mereka ya." ujar Bi Sumi yang bersemangat.
Aliyya pun semakin bersemangat saat mendapat dukungan dari sang ART baik hati itu. Sementara Sonia tampak sangat tidak suka dengan semua ini.
"Ma... masakanku sudah selesai dalam waktu 15 menit. Mama tidak jadi memecat Pelayan itu dari rumah 'kan?" ujar Aliyya yang menatap lekat ibu mertuanya itu.
Sonia yang kesal hanya bisa mengangguk dan senyum lega terbit dari wajah Pelayan malang itu. Begitu juga dengan Aliyya dan Bi Sumi.
"Terima kasih banyak, Nyonya Aliyya." ucap Pelayan malang yang benar-benar hampir menjadi malang karena dipecat oleh Sonia.
Aliyya yang tulus membantu dan rela menantang Sonia untuk memasak demi menyelamatkan pekerjaan Pelayan itu, hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sementara itu, wajah Sonia semakin dibuat masam karena Aliyya yang berhasil menyelesaikan tantangan darinya.
***
"Zein Abdullah adalah singa yang hidup bebas dan tidak akan ada yang bisa menjinakkannya."
Seraya berjalan menyusuri koridor lantai dua, Zein yang merasa sangat percaya diri itu terus saja meracau membanggakan dirinya sendiri. Tidak peduli seperti apa yang respon temannya dan ia terus saja berlagak seperti seorang pria yang belum menikah.
"Tidak ada yang bisa merubah hidup seorang Zein Abdullah! Kalian..."
Ucapan Zein yang sombong itu terpangkas nyata tatkala meracau dan tangan kekarnya membuka daun pintu kamar. Seketika semua mata tertuju pada kamar Zein yang berubah menjadi sangat rapih dan penuh dengan kilauan warna-warna lampu. Mata Zein menyapu setiap sisi kamarnya yang tidak sesuai dengan ekspektasi malam ini. Pasalnya ia telah membanggakan diri pada para temannya, kalau tidak ada seorang pun yang bisa merubah gaya hidupnya. Namun apa yang telah terjadi? Bahkan Aliyya sukses merubah dan menghias kamarnya dalam waktu yang singkat.
Seraya menyapu setiap sudut kamar, wajah Zein tampak memerah karena menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. Jantungnya seakan tengah memompa darah dengan sangat cepat sehingga gemuruh-gemuruh kemarahan semakin jelas di wajahnya. Rizal yang mengerti dengan suasana hati sahabatnya itu berusaha menenangkan Zein seraya mengusap bahunya dari belakang. Lalu teman-teman Zein juga tampak terkejut dengan perubahan yang terjadi di dalam kamar Zein.
"Wah kau benar Zein! Tidak ada yang berubah di dalam hidupmu!" ujar salah satu teman Zein.
"Kau betul sekali! Tidak ada yang berubah!" timpal teman yang lainnya seraya tertawa lepas.
__ADS_1
Zein pun masuk ke dalam kamarnya dan disusul pula oleh Rizal serta keempat temannya. Seraya berjalan masuk, Zein melihat alas kasur dan sofa yang sudah berubah warna.
"Aku sudah bilang, kita menonton di luar saja. Kau malah tidak mendengarkanku." ujar Rizal yang berbisik di samping Zein.
"Lihat ini!!! Tirai jendela kamarmu saja ikut berubah menjadi pink, Zein. Mimpimu pasti akan berwarna pink juga. Hahahaha...." ujar salah satu teman Zein yang lainnya lagi dan tertawa.
"Sepertinya kamarmu ini kurang poster romantis. Biar aku ambilkan dulu ya." timpal teman lainnya yang semakin mengejek Zein.
"Kau sudah sangat berubah dalam waktu yang sangat cepat, Zein." timpal yang satunya lagi.
"Ya, aku setuju kalau Zein benar-benar berubah." timpal yang lainnya lagi dan terus mengejek.
Berbagai racauan demi racauan keluar dari mulut para temannya itu. Zein yang semakin geram pun berusaha untuk tetap mengontrol emosinya terhadap Aliyya.
Aku sangat yakin kalau gadis itu pasti sengaja melakukan semua ini di saat teman-temanku datang agar aku ditertawakan. Gumam Zein dalam hati.
"Teman-teman... selera humor Aliyya itu sangat luar biasa dan dia sangat menyenangkan, Zein. Benar-benar lelucon yang sangat hebat." timpal Rizal yang mendekati Zein dan berusaha untuk mencairkan suasana hati sang pemilik kamar.
"Lelucon maksudmu?" tanya salah satu teman Zein seraya beranjak dari rebahannya.
"Seharusnya kamar Zein itu tetap sama seperti dulu. Tapi ketika Aliyya mengetahui rencana kita untuk datang ke sini, dia langsung merubah seisi kamar seperti sekarang. Benar 'kan Zein?" tutur Rizal seraya mengerlingkan matanya pada Zein.
"Ah iya, yang dikatakan Rizal sangat benar. Aliyya memang seperti itu orangnya dan hal-hal seperti itulah yang menjadi daya tariknya." timpal Zein yang mengerti dengan maksud sahabatnya itu.
"Tapi sepertinya..."
"Kalian duduk saja terlebih dahulu. Aku ingin keluar sebentar." potong Zein seraya menepuk bahu temannya itu.
Dengan cepat Zein pun berjalan keluar dengan amarah yang bergemuruh. Sementara Aliyya yang sudah selesai memasak keluar dari dapur seraya membawa banyak makanan di atas troli. Tanpa menghiraukan tatapan tajam Sonia, gadis itu terus saja berjalan keluar.
Saat Aliyya berada di koridor lantai atas seraya mendorong troli makanan dan hendak menuju kamar, tiba-tiba ia berpapasan dengan suaminya yang berjalan tergesah-gesah mendekatinya.
"Apa ini?" tanya Zein seraya menghentikan troli makanan yang dibawa Aliyya.
"Makanan." jawab Aliyya yang singkat.
"Kamu pintar sekali ya!" ucap Zein penuh arti.
"Tanpa kamu mengatakan hal itu, aku juga tau kalau aku ini memang pintar!" jawab Aliyya yang jengah seraya menatap tajam suaminya itu.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." jawab Aliyya yang terkejut dan ketakutan melihat Zein.
"Kamu yakin? Setelah semua yang telah kamu lakukan, kamu masih berpura-pura untuk tidak mengerti? Wah, kamu memang sangat pintar!" tandas Zein yang masih mencekam bahu Aliyya.
"Apa yang kamu katakan Zein?" tanya Aliyya yang masih tidak mengerti dengan sikap Zein.
"Kamu itu sangat lancang, Aliyya!!! Berani sekali kamu menyentuh seisi kamarku dan merubah semuanya tanpa sepengatahuan aku!!! Kamu itu bukan siapa-siapa di rumah ini dan sudah berapa banyak aku mengatakan hal ini padamu! Jangan sentuh kamarku!!!" tandas Zein yang semakin marah dengan penuh penegasan dan penekanan.
"Oh karena itu. Tadi itu... tadi aku sempat video call dengan Ayah dan Ibu di Jogja. Jadi aku harus merubah kamar itu agar mereka tidak curiga dengan hubungan pernikahan kita." jawab Aliyya yang gugup karena merubah kamar Zein.
"Itu sebabnya kamu merubah semuanya? Mulai dari alas kasur, sofa dan bantal! Dan kamu tidak merubah gaya kamarku seperti semula karena video call konyol itu? Sebenarnya apa maumu? Apa yang ingin kamu tunjukkan, hah!?" tandas Zein seraya mendekati Aliyya dan menatapnya.
Aliyya yang tadinya berusaha mengontrol hati dan emosinya pun terbawa suasana. Aliyya pun geram mendengar semua penindasan Zein.
"Kamu jangan lupa kalau kamar itu juga..."
"Cukup!!!" potong Zein yang geram sehingga membentak Aliyya dengan sangat keras.
Aliyya pun terkejut dengan suara suaminya yang keras itu. Sementara Zein terus menatap penuh amarah dan semakin membenci Aliyya.
"Hari ini aku peringatkan lagi padamu! Jangan pernah mendekati kamarku!!! ucap Zein seraya menunjuk tegas wajah istrinya itu.
Aliyya hanya terdiam, tidak bisa mengatakan apa pun melawan suaminya yang menyebalkan itu. Ia memang bersalah karena tidak memberitahu Zein tentang masalah ini dan hal itulah yang membuat Aliyya malas sekali melawan pria itu.
"Zein..."
Saat keduanya tengah melempar tatapan tajam penuh kebencian, tiba-tiba saja terdengar suara bariton dari arah belakang Zein. Aliyya dan Zein pun memutus rantai tatapan itu lalu menoleh ke sumber suara itu.
"Zein... sedang apa kau di sini? Oh, hai istrinya Zein, aku Karim." ujar salah satu teman Zein yang bernama Karim dan menyapa Aliyya.
"Hai, aku Aliyya." jawab Aliyya yang kikuk.
__ADS_1
Sementara Zein hanya diam saja seraya melirik Aliyya yang tersenyum pada temannya.
"Wah ini apa Aliyya?" tanya Karim yang melihat banyak makanan di atas troli makanan.
"Itu martabak telur." jawab Aliyya yang canggung.
"Wah pertandingan malam ini pasti akan semakin seru! Apalagi jika ditemani makanan buatan tangan Aliyya yang aromanya sangat menggugah selera ini." ujar Karim yang memuji masakan Aliyya.
Aliyya hanya bisa tersenyum kikuk mendengar perkataan Karim yang memuji masakannya itu. Sementara Zein masih tetap bungkam dan tidak mengatakan hal apa pun. Namun tatapan tidak suka pada Aliyya tetap saja ia tunjukkan.
"Biar aku yang membawanya ke dalam kamar." ujar Karim seraya mendorong troli makanan itu.
"Tidak, tidak, biar aku saja." timpal Aliyya seraya mendorong troli dan mengambil alih.
Tanpa menghiraukan Zein, Aliyya pun berjalan bersama Karim menuju kamar Zein. Sementara pria tampan yang merasa tidak diacuhkan itu tampak mendengus kesal dan memilih untuk pergi ke tempat lain.
"Kamu mau pergi ke mana Zein? Pertandingan sepak bola akan dimulai sebentar lagi."
Saat Zein baru saja hendak melangkah, Farhan yang sudah selesai menemani putrinya tidur pun datang dan langsung menarik tangan Zein. Pria tampan itu pun hanya pasrah dan masih kesal. Namun apa daya jika Farhan sudah menariknya seperti itu, mau tak mau Zein harus tetap ikut menonton pertandingan favoritnya.
***
"Assalamualaikum, hai semuanya..."
Aliyya yang tiba di depan pintu kamar seraya mendorong troli makanan pun menyapa semua teman-teman Zein. Mendengar suara lembut itu seakan menghipnotis semua telinga yang ada di sana, sehingga semua mata pun tertuju padanya. Aliyya pun tersenyum manis pada semua teman Zein yang beranjak dari tempatnya dan berjalan mendekati Aliyya.
"Wa'alaikumsalam, hai istrinya Zein. Aku Vian, temannya Zein." jawab salah satu teman Zein yang bernama Vian dan menertawakan Zein.
"Hai, aku Aliyya..."
"Hai Aliyya, aku Syakir." timpal salah satu teman Zein lagi yang bernama Syakir.
"Hai Syakir..."
"Hai Aliyya, aku Adi." timpal salah satu teman Zein yang terakhir dan bernama Adi.
"Hai Adi..."
Dengan penuh semangat Aliyya yang ramah menjawab semua sapaan teman-teman Zein yang tak kalah tampan dari Zein. Di saat yang bersamaan, Zein dan Farhan pun datang lalu masuk ke dalam kamar Zein.
"Wah, apa yang kamu buat Aliyya?" ujar Farhan yang melihat banyak makanan di atas troli.
"Aku membuatkan martabak telur untuk kalian semua agar kalian lebih bersemangat menonton pertandingan sepak bola malam ini." jawab Aliyya yang tersenyum pada kakak iparnya itu.
Aliyya pun meraih salah satu piring yang berisi penuh martabak telur hasil praktek memasaknya tadi melawan Sonia. Lalu memberikan martabak telur yang tampak sangat nikmat itu kepada Adi, Vian, Karim, Syakir, Rizal dan Farhan. Sementara Zein, pria tampan itu hanya bisa melongo heran melihat kedekatan semua teman-temannya itu dengan Aliyya dalam waktu yang sangat singkat.
"Martabak telur buatanmu sangat enak, Aliyya." ujar Farhan yang melahap habis martabak itu.
"Terima kasih, Kak. Aku sengaja membuatnya dengan resep bumbu yang Ibu kirimkan tadi." jawab Aliyya seraya menawarkan martabak lagi.
"Iya Aliyya, baru kali ini aku merasakan martabak telur yang sangat enak seperti ini." timpal Vian.
"Ini benar-benar sangat enak." timpal Syakir.
"Aliyya sangat pintar memasak ternyata." timpal Karim yang sangat menikmati martabak telur itu.
Aliyya hanya tersenyum lega karena semua teman Zein menyukai masakannya seraya melirik Zein yang masih terdiam di posisinya. Sementara Zein masih tak habis pikir dengan pesona sang istri yang bisa menarik perhatian semua temannya hingga dirinya pun terasingkan.
"Zein... kamu mau martabak?" tanya Aliyya yang menawarkan masakannya itu pada sang suami.
.
.
.
.
.
Happy Reading All ๐๐๐
__ADS_1
Kira-kira Zein bakal tergoda ngak ya sama pesona martabak telur buatan Aliyya yang super duper enak itu?
Ikuti terus kisah Aliyya dan Zein yang penuh dengan lika-liku kehidupan pernikahan โบ๏ธโบ๏ธ