Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 29 ~ Rela Berbohong


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Ini teh hangat untukmu, Mas."


Dengan penuh cinta, Sabrina memberikan satu cangkir teh hangat untuk sang suami yang tengah menikmati suasana tenang di halaman rumahnya seraya membaca koran.


"Terima kasih istriku yang cantik." ujar Galuh seraya menyeruput teh hangat buatan Sabrina.


Sabrina yang mendapat gombalan pun hanya terkikik geli seraya menggelengkan kepalanya. Kini mereka tengah duduk berdua di halaman depan, sementara Aldha tengah asyik bermain ponsel di ruang tamu seraya menonton televisi.


Drrrrttt!


Saat Sabrina tengah asyik membaca majalah di halaman depan bersama Galuh, tiba-tiba ponsel miliknya yang ada di atas meja pun bergetar. Seketika senyum manis nan indah terukir jelas tatkala melihat nama seseorang yang berhasil menghidupkan layar ponselnya. Lalu Sabrina mengangkat ponselnya yang sudah tidak sabar untuk diangkat olehnya itu.


"Assalamualaikum Ibu..."


"Wa'alaikumsalam Aliyya sayang. Kamu apa kabar Nak?" jawab Sabrina seraya menoleh ke arah Galuh yang sudah menoleh ke arahnya.


Mendengar nama sang putri yang disebut, Galuh pun beranjak dari duduknya dan mendekati sang istri. Sementara dari arah dalam, Aldha yang ikut mendengar nama sang kakak pun meloncat dan berlari ke arah luar rumah mendekati sang ibu.


"Kabarku baik di sini, Bu. Ibu apa kabar?" tanya Aliyya yang tampak berbinar dan berkaca-kaca.


"Ibu sangat baik, Sayang. Oh iya, apakah kamu sudah menerima paket yang Ibu kirim untukmu?" jawab Sabrina yang tak kalah berbinar.


"Sudah, Bu. Bahkan aku sedang memakannya sekarang. Rasanya sangat enak. Ibu selalu tau apa yang aku inginkan." jawab Aliyya seraya memakan makanan ringan kiriman Sabrina.


"Ibu sangat merindukanmu, Nak." ujar Sabrina yang mendadak sendu dan parau.


"Aku juga sangat merindukan Ibu dan Ayah." jawab Aliyya yang meneteskan air matanya.


Sabrina pun hanya tersenyum kikuk mendengar suara sang putri yang ikut parau dan terdengar sedang menahan tangis di seberang sana. Sementara Galuh dan Aldha yang melihat mata Sabrina berkaca-kaca pun langsung merebut ponselnya.


"Assalamualaikum Sayang..." ujar Galuh.


"Wa'alaikumsalam Ayah... Ayah apa kabar? Kondisi kesehatan Ayah baik-baik saja 'kan?" tanya Aliyya yang bertubi-tubi karena khawatir.


"Saat mendengar suaramu saja Ayah sudah sangat baik, Sayang." jawab Galuh yang ikut parau seperti sang istri dan Aliyya di sana.


Aliyya pun bisa menghela nafas lega karena ia mendengar secara langsung jawaban sang ayah. Selama berada di Jakarta pikirannya sering kali teringat pada kesehatan Galuh yang mendadak sempat drop karena acara pernikahannya batal bersama Zaki. Namun kini Aliyya tampak lega dan berbinar tatkala mendengar kabar keluarga tercintanya di Jogja.


"Kakak... apakah Kakak tidak merindukan aku? Kakak jahat sekali sih! Sejak Kakak pergi ke Jakarta, kita tidak pernah melakukan video call, bahkan aku sering menghubungi Paman melalui video call. Ayo, Kak! Kita video call! Aku sangat merindukanmu dan ingin tau seperti apa rumah serta kamar pengantinnya." tutur Aldha yang langsung merebut ponsel Sabrina dari Galuh.


Aliyya pun terdiam saat mendengar permintaan Aldha yang ingin sekali melihat kondisi kamar tidurnya bersama Zein. Matanya yang basah itu pun mengedar, memperhatikan setiap sudut dari kamar seorang pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Kamar yang sangat identik dengan identitas seorang Zein Abdullah. Kamar yang katanya bukan miliknya karena kamar itu hanya milik sang empunya.


"Aliyya... kamu masih mempunyai hadiah alas kasur yang Ibu berikan itu 'kan?" tanya Sabrina yang merebut ponselnya dari Aldha.


"Kakak... ayo kita video call saja." timpal Aldha yang merebut ponsel sang ibu lagi.


Aliyya tetap bergeming, matanya masih terus mengedar dan menerawang jauh memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya secara mendadak.


Ya Allah... yang Ibu dan Ayah ketahui adalah bahwa aku dan Zein hidup bahagia di dalam pernikahan neraka ini. Jika mereka sampai melihat kamar ini, maka bisa dipastikan, kalau mereka akan mengetahui pernikahanku dan Zein tidak lah bahagia seperti yang mereka kira. Gumam Aliyya dalam hati.


"Aldha... mungkin nanti sore saja kita video call. Saat ini Kakak sedang merapihkan kamar." ujar Aliyya yang berusaha untuk mengelak.


"Ya sudah, aku tunggu nanti sore ya Kak. Aku tutup dulu ya. Assalamualaikum." jawab Aldha yang kegirangan di seberang sana.


"Wa'alaikumsalam..."


Aliyya pun menghela nafas panjang seraya terus menatapi kamar Zein yang tidak memiliki warna kehidupan sama sekali. Semua warna kamarnya hanya hitam dan navy, sesuai sekali dengan Zein yang petakilan dan keras kepala. Namun bukan Aliyya namanya jika ia tidak bisa merubah warna dan penampilan kamar Zein yang menyeramkan menjadi kamar sepasang pengantin baru.

__ADS_1


***


"Entah kenapa sahabatku yang bodoh ini malah merubah rencana kita di saat terakhir."


Setelah lama berkumpul dengan Rizal dan keempat temannya yang lain di sebuah Cafe, tanpa terasa hari sudah semakin gelap sehingga mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Zein dan menonton pertandingan sepak bola yang ada di salah satu stasiun televisi. Zein yang sedang mengendarai mobil tampak sesekali melirik ke arah Rizal yang duduk di samping kursinya. Pertikaian kecil di antara dua pria tampan itu akhirnya berakhir dan kini mereka semua sedang dalam perjalanan pulang.


Rizal yang mendengar perkataan Zein pun tersedak saat tengah menikmati minuman kaleng di tangannya. Lalu menoleh ke arah Zein dengan tatapan jengah.


"Kau bilang apa? Aku bodoh? Kau yakin?" tanya Rizal yang sangat jengah dengan sahabatnya itu.


"Tentu saja sangat yakin. Kau merubah rencana yang sudah kita jadwalkan setiap pertandingan bola di televisi hanya karena ada Aliyya di sana. Kau dengar!!! Kamarku itu akan tetap menjadi kamarku dan tidak ada yang boleh mengambil itu dariku! Tapi hari ini aku cukup senang karena kalian mengajakku pergi berkumpul di tempat biasa." tutur Zein yang masih fokus mengemudi.


"Tapi situasinya saat ini pasti sudah sangat berubah, Zein." ujar salah satu teman Zein yang duduk di belakang.


"Kau ini seperti tidak tau saja. Semua pria pasti mengatakan hal seperti itu di belakang istrinya, sama seperti Zein." timpal salah satunya lagi.


"Hei, aku itu tidak punya istri! Kalian lihat saja nanti! Karena Zein Abdullah akan hidup sesuai dengan keinginan dirinya sendiri." jawab Zein.


"Jadi walaupun kau sudah menikah tidak akan ada pengaruhnya?" tanya salah satu temannya lagi.


"Tentu saja tidak dan tidak akan pernah!" jawab Zein yang melihat melalui kaca spion.


"Kalau kau tidak menginginkan pernikahan lalu kenapa kau tidak menolaknya saja Zein?" tanya salah satu temannya yang lain lagi.


"Ceritanya terlalu panjang dan rumit. Jadi kalian lupakan saja tentang masalah itu dan fokus lah pada acara kita malam ini!" jawab Zein dengan penuh penekanan.


Rizal dan keempat temannya pun hanya saling pandang seraya menggelengkan kepala ketika mendengar pengakuan Zein. Sungguh, pria itu memang sangat menyebalkan dan jahat karena tidak mengakui Aliyya sebagai istrinya.


***


Setelah lama berdiam dan termenung di dalam kamar Zein seraya memperhatikan setiap sisi, Aliyya pun bangkit dan meraih kopernya yang berada di dalam lemari pakaian Zein. Dengan penuh semangat yang tinggi, gadis Jogja yang cantik itu membuka kopernya dan mengambil sesuatu. Suatu benda yang tampak berkilauan dan berwarna-warni. Berbentuk mutiara yang sangat indah tatkala terkena pantulan cahaya lampu dan beberapa mainan dinding berbentuk bintang, hati serta botol yang tak kalah memiliki warna kehidupan.


Dengan penuh semangat, Aliyya pun memulai aktifitas menghias kamar Zein dan berusaha untuk menghilangkan aurah kejahatan di dalam kamar itu. Gadis Jogja itu menggantung semua benda cantik yang menjadi hiasan kamarnya di saat ia masih berada di Jogja. Ternyata Sabrina juga mengirimkan beberapa benda cantik itu dan membuat Aliyya semakin semangat menghiasi sisi kamar Zein.


"Semuanya sudah rapih. Lebih baik aku segera membersihkan diri sebelum Aldha melakukan video call bersama Ayah dan Ibu untuk melihat kamarku ini."


Aliyya yang terlihat lelah akibat berbenah pun tidak ingin menunggu lagi. Dengan langkah yang lebar, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tidak butuh waktu yang lama, Aliyya pun keluar dari kamar mandi dan langsung meraih laptopnya untuk video call dengan keluarganya di Jogja.


"Assalamualaikum... Ayah, Ibu..." ucap Aliyya.


Sambungan video call via laptop pun terhubung. Tanpa sadar, air mata Aliyya mengalir begitu saja saat melihat wajah kedua orang tuanya di layar laptop dengan sangat jelas. Walaupun ia berusaha untuk tidak menangis dan berusaha untuk tetap tersenyum, tapi karena rasa rindu yang sangat dalam pasti sehingga bulir bening itu terdorong keluar dengan sendirinya.


"Wa'alaikumsalam putriku Sayang... kenapa kamu menangis Nak? Ayo, cepat hapus air matamu itu sekarang juga! Ayah tidak ingin melihat air mata itu di saat seperti ini! Ayo!" tutur Galuh yang melihat mata sang putri basah.


"Iya Ayah, tapi Ayah juga harus menghapus air matanya dong." jawab Aliyya yang terkekeh dan berusaha memecahkan suasana.


Ternyata ayah dua anak itu juga ikut meneteskan air mata kerinduan pada sang putri. Lalu dengan cepat ia menyeka air matanya dan tampak Aldha serta Sabrina yang terkikik geli melihat air mata Galuh.


"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya Sabrina yang mulai berkaca-kaca menatap layar laptop.


"Kabarku masih baik sama seperti tadi, Bu. Aku benar-benar sangat merindukan kalian di sana dan aku juga sangat merindukan rumah kita." jawab Aliyya yang berusaha untuk tersenyum.


"Rumah yang kamu tempati saat ini adalah rumahmu satu-satunya, Sayang. Walaupun setelah menikah kamu tidak berada di sini, rumah ini juga akan tetap menjadi rumahmu." ujar Sabrina yang semakin berkaca-kaca.


"Kakak... ayo tunjukkan kamarmu!" timpal Aldha yang berusaha memecahkan suasana.


"Iya, akan aku tunjukkan pada kalian ya." jawab Aliyya yang beranjak dari duduknya.


Aliyya pun memutar kamar seraya memegangi laptopnya itu dan memperlihatkan kamar yang sempat ia hias sebelum melakukan video call. Melihat kamar sang putri yang begitu luas dan berwarna, seketika mata Sabrina dan Galuh membulat sempurna karena takjub. Mereka sangat takjub dengan warna-warna yang ada di dalam kamar itu. Tentu saja, Aliyya sudah mempersiapkan semuanya agar mereka tidak curiga kalau kehidupan pernikahannya dengan Zein tidak bahagia.

__ADS_1


"Wah kamarmu sekarang semakin luas, cantik dan mewah, Kak. Tak kalah jauh dari kamarmu yang ada di sini." ujar Aldha yang sangat takjub.


"Iya, sangat cantik dan mewah. Sama seperti di Jogja." timpal Galuh yang mulai parau lagi.


"Tentu saja, Ayah. Rasanya juga sama seperti di sana. Aku juga selalu mengingat tentang semua yang pernah Ayah dan Ibu ajarkan padaku. Aku tidak akan pernah melupakan itu." jawab Aliyya.


"Iya, Sayang. Ibu sangat yakin kalau Zein juga sangat menyukai warna-warna dan kamar itu. Kalian pasti hidup bahagia. Sepertinya kamu sudah memberikan warna di dalam kehidupan Zein, Sayang." tutur Sabrina yang tersenyum di layar laptop.


Aliyya pun terdiam dan tersenyum getir ketika mendengar perkataan sang ibu. Hatinya yang sedang dirundung rasa rindu itu tercubit dan terhenyak. Sabrina mengira kalau pernikahan Aliyya dan Zein sangat bahagia. Namun pada kenyataannya, kehidupan Aliyya dan Zein saat ini sangatlah buruk, seperti berada di dalam neraka yang sangat, bahkan sangat sangat terkutuk.


Rasanya ia ingin sekali menyerah dan keluar dari neraka terkutuk itu sehingga terbebas dari Zein. Namun demi kepercayaan kedua orang tuanya, Aliyya akan tetap bertahan dan terus melanjutkan kisah pernikahannya bersama Zein. Walaupun ia merasa ragu, apakah kisah itu akan berakhir indah atau malah sebaliknya.


"Tapi di mana Kak Zein?" tanya Aldha yang tidak dapat menemukan Zein di sekitar kamar.


"Zein... Zein masih bekerja, Aldha. Jadi dia belum pulang." jawab Aliyya yang terkejut dan gugup.


"Lalu bagaimana keadaan semua orang yang ada di sana Sayang? Apakah mereka baik-baik saja?" tanya Sabrina lagi.


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja, Bu." jawab Aliyya yang tersenyum lebar dan senang.


"Syukurlah kalau begitu, Nak. Kami sudah sangat senang bisa melihatmu walaupun hanya melalui video call. Sampaikan salam kami pada Zein dan katakan padanya kalau kami akan selalu berdo'a untuk kebahagiaan kalian berdua." tutur Galuh.


"Iya Ayah..."


"Kalau begitu kami tutup dulu ya, Sayang. Assalamualaikum putriku." ujar Sabrina yang berkaca-kaca seraya melambaikan tangannya.


"Wa'alaikumsalam..."


Sambungan video call pun berakhir dengan air mata yang lagi-lagi membanjiri wajah cantik Aliyya. Seraya menutup laptopnya, ia menyeka air mata yang tanpa izin terus saja mengalir.


Demi kebahagiaan Ayah, Ibu, dan Aldha, aku akan berusaha untuk melakukan segalanya walaupun aku harus berbohong ribuan kali banyaknya. Semoga Allah selalu melindungi keluargaku di sana. Gumam Aliyya dalam hati.


Aliyya pun termenung memikirkan keluarganya. Setidaknya kerinduan saat ini sudah terobati walaupun hanya sedikit. Karena hanya melalui video call lah mereka dapat saling melepaskan rasa rindu yang dalam itu tanpa harus bertemu.


"Aliyya..."


Seketika lamunan Aliyya pun buyar saat Bi Sumi datang menghampirinya yang sedang termenung jauh. Namun langkah Bi Sumi terhenti ketika ia hendak melangkah masuk ke dalam kamar Zein. Matanya berbinar tatkala menikmati warna yang berbeda di dalam kamar Zein.


"MasyaAllah... kamar ini indah sekali." ujar Bi Sumi yang berjalan masuk seraya melihat isi kamar Zein.


Aliyya pun beranjak dari duduk dan tersenyum pada Bi Sumi yang menghampirinya. Mata Bi Sumi tampak tidak puas melihat dan menikmati indahnya suasana yang berbeda di dalam kamar Zein. Penuh warna-warna dan juga keceriaan.


"MasyaAllah... kamu benar-benar sukses telah merubah kamar ini, Sayang." ujar Bi Sumi yang ikut takjub dengan hiasan Aliyya.


"Dengan sangat cepat, benar 'kan Bi?" jawab Aliyya yang tersenyum bahagia mendapatkan pujian dari Bi Sumi.


"Iya, kamu sangat cepat merubah kamar ini. Oh iya Bibi hampir saja lupa. Tadi Zein menelepon Bibi dan memberitahu kalau dia sebentar lagi akan datang ke sini bersama teman-temannya. Apakah Bibi perlu membuatkan sesuatu untuk mereka?" ujar Bi Sumi yang teringat akan Zein.


Aliyya yang mendengar itu pun tampak heran dan mengeryitkan dahi.


"Teman-teman? Selarut malam ini Bi?"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2