
...๐น๐น๐น...
Umar dan Sonia kini sedang melakukan check out di bandara.
"Ayo, istriku." ucap Umar yang meraih tangan sang istri berjalan disisinya.
Sonia hanya menurut seraya melihat sekitar. Ia berharap bisa menemukan keberadaan Zein di sana. Namun sepertinya sang putra belum sampai di bandara untuk menjemput mereka.
"Pa, di mana Zein?" tanya Sonia yang masih memperhatikan sekitar.
"Putramu itu sedang menuju ke sini." jawab Umar seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
Sonia hanya menghela nafas berat seraya terus memperhatikan sekitar bandara. Entah kenapa guratan kecemasan sangat terlihat jelas di wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan muda itu. Namun sebisa mungkin Sonia berusaha menutupinya dari sang suami.
***
Aliyya dan Zein saat ini sedang menuju ke bandara dengan menggunakan mobil Jeep. Entah mobil Jeep kuno siapa yang mereka gunakan, hanya Aliyya lah yang tau.
"Kamu gila, Aliyya. Kalau Mama dan Papa naik benda kuno ini, mereka bisa masuk angin." ujar Zein yang mengemudi mobil Jeep kuno itu.
"Jangan banyak bicara! Dasar pria sombong! Mentang-mentang anak orang kaya yang tinggal di kota besar malah bicara seperti itu." sungut Aliyya yang berada di sisi Zein.
Zein hanya memutar bola matanya efek jengah dan melirik tajam ke arah Aliyya.
Dasar wanita gila. Gumam Zein dalam hati.
Zein tidak merespon perkataan Aliyya. Jika ia terus menjawab perkataan gadis itu, bisa saja mereka mengalami kecelakaan karena Zein yang tidak fokus mengemudi mobil itu.
Tidak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai di bandara. Zein pun turun, begitu pula dengan Aliyya. Namun saat Aliyya ingin turun, tiba-tiba lengan bajunya tersangkut di pintu mobil Jeep kuno itu.
Krek!
Lengan baju Aliyya pun sobek karena tersangkut di mobil Jeep kuno itu. Zein yang melihat itu hanya tertawa lepas karena puas dan senang melihat Aliyya yang kesulitan.
"Kenapa kamu tertawa, hah!? Memang ada yang lucu!?" sungut Aliyya yang kesal seraya memegangi lengan bajunya.
"Itu akibat dari sikapmu. Dasar ceroboh!" ujar Zein yang tertawa lepas melihat Aliyya kesal.
Aliyya pun berjalan seraya melihat sekitar untuk mencari keberadaan Umar dan Sonia. Saat Aliyya berjalan, tiba-tiba dari belakang Zein langsung membuka jaket yang ia pakai dan mengenakan jaketnya itu pada Aliyya.
"Pakai lah, jaket ini. Tidak baik seorang wanita memakai pakaian sobek seperti itu." ujar Zein seraya mengenakan jaketnya pada Aliyya.
Aliyya terperanjat saat mendapat perlakuan itu dari Zein. Ia hanya terdiam dan menatap ke arah sepupunya yang jail dan konyol itu.
"Kalau pakaianmu sobek saat bertemu Papa, bisa-bisa aku yang akan dimarahi." ujar Zein yang kini sudah di hadapan Aliyya dan sedang memasangkan resleting jaketnya.
Mata keduanya pun saling terpaut lama. Seperti ada kunci rahasia yang berhasil mengunci rapat tatapan itu. Sementara tangan Zein, tetap bekerja pada jaketnya dan perlahan menarik resleting jaket ke atas.
Tanpa keduanya sadari, dari kejauhan Zaki yang mengikuti Aliyya masih memperhatikan keduanya.
"Wanita macam apa yang akan aku nikahi besok? Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu dengan pria lain. Sementara besok adalah hari pernikahan kami!"
Zaki pun emosi lalu memukul setir mobilnya dengan sangat keras. Lalu Zaki pun memilih pergi meninggalkan Aliyya setelah sakit hati tatkala melihat calon istrinya bersama pria lain yang tidak ia kenal. Akhirnya, Zaki pergi dengan membawa kesalahpahaman, kekesalan dan kekecewaan terhadap Aliyya.
Sementara di sisi lain, Sonia yang sejak tadi melihat sekitar dan mencari Zein. Tanpa disengaja, matanya bersirobok dan melihat adegan mesra itu.
Mata Sonia membulat besar saat melihat Zein yang begitu dekat dengan Aliyya. Sonia pun langsung beranjak dan menghampiri mereka.
"Kamu di sini, Zein..."
Sonia yang datang pun langsung menarik tangan Zein dari jaket yang dipakai Aliyya, dan itu membuat keduanya tersadar dari lamunan panjang.
"Mama..."
Sonia pun memeluk Zein dan melirik Aliyya dengan tatapan yang tidak bersahabat. Sementara Aliyya langsung menjauh dari sisi Zein dan memasang resleting jaketnya yang belum selesai Zein pakaikan.
"Papa..." ucap Zein yang melihat Umar.
"Apa kabar putraku?" tanya Umar yang memeluk Zein.
"Sangat baik, Pa." jawab Zein dengan percaya diri.
Aliyya yang melihat kehadiran sang paman pun berjalan mendekatinya dan menyalami punggung tangannya.
"Assalamualaikum Paman, Bibi..." ucap Aliyya yang menyapa keduanya.
"Wa'alaikumsalam..." jawab Sonia yang melihat ke arah Aliyya dengan tatapan dingin.
"Wa'alaikumsalam. MasyaAllah, kamu cantik sekali, Nak." ujar Umar seraya menangkup wajah keponakannya itu.
Umar pun mengecup kening keponakannya dengan penuh kasih sayang. Sementara Aliyya merasa sangat bahagia karena bisa bertemu dengan Umar setelah sekian tahun lamanya mereka tidak pernah bertemu.
Zein yang usil pun tampak tersenyum, saat melihat kedekatan antara ayah dan sepupunya itu. Namun tidak dengan Sonia. Ekspresi tidak suka pada Aliyya sangat jelas terlihat di wajahnya.
"Sonia... ini Aliyya kita. Apakah kamu sudah melihatnya? Kini Aliyya kita sudah dewasa." ujar Umar yang merangkul bahu Aliyya.
"Iya, Pa. Aku sudah melihatnya." jawab Sonia yang masih terlihat dingin.
"Dia sangat cantik." ucap Umar yang selalu memuji Aliyya, keponakan kesayangannya.
Sonia hanya tersenyum tipis dan berusaha bersikap baik pada Aliyya di depan suaminya. Sementara Aliyya yang menyadari sikap sang bibi, hanya bisa tersenyum pias.
__ADS_1
"Zein, di mana mobilmu?" tanya Sonia yang ingin segera pergi dari bandara.
"Bukan mobil biasa, Ma. Tapi Jeep kuno yang Papa sukai selama ini." jawab Zein yang melihatkan kunci mobil Jeep kuno itu pada Umar.
Sonia terlihat tidak suka dengan semua ini. Selama ini ia berusaha untuk melarang sang suami untuk mengemudi. Namun kali ini ia tidak bisa menahan Umar lagi karena Zein.
Sementara Umar terlihat sangat berbinar dan antusias tatkala melihat kunci mobil itu. Sejak tinggal di Jakarta, Umar tidak pernah lagi mengemudi mobil, bahkan Jeep kuno. Dan kali ini putra kesayangannya itu sudah, mengabulkan permintaannya.
Mereka pun langsung naik ke atas mobil Jeep kuno itu. Umar terlihat senang dan bahagia bisa kembali ke kota kelahirannya.
"Jangan terlalu kencang, Pa." ujar Sonia yang duduk di belakang bersama Aliyya.
"Ayolah, Ma. Papa sangat jago mengemudi dan Mama tidak perlu khawatir." ujar Zein yang selalu membela sang ayah.
"Sonia, istriku... sudah lama aku ingin sekali mengemudi mobil kuno ini. Jadi aku mohon, jangan larang aku untuk kali ini." sahut Umar yang sedang mengemudi.
"Wah, Paman. Baru kali ini Aliyya melihat Paman mengemudi seperti ini. Ayo, Paman. Tambah lagi kecepatan mobilnya." timpal Aliyya yang ikut senang dan menikmati.
Sonia pun melirik Aliyya dengan tatapan tidak suka saat gadis itu mendukung Umar dan Zein. Entah apa yang membuat Sonia sangat tidak menyukai Aliyya, bahkan Sabrina, adik kandung suaminya sendiri. Dan hal itulah yang membuat Aliyya penasaran hingga kini. Namun Aliyya hanya bisa diam dan tidak menanyakan hal itu pada sang bibi, karena takut akan melukai hati sang paman.
"Kalian pegangan ya." pekik Umar yang ingin menambah kecepatan mobil Jeep kuno itu.
Umar pun menambah kecepatan mobil Jeep sehingga angin pun terasa sangat kencang. Tidak lama kemudian, mereka pun akhirnya sampai di rumah Aliyya.
Saat mereka sampai, Aliyya tampak heran saat melihat sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah mereka. Tapi Aliyya tidak menghiraukan itu. Ia langsung mengajak Umar dan Sonia masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum..." ucap Umar dengan suara yang lantang.
Sabrina yang sedang berada di dalam pun terperanjat saat mendengar suara bariton yang tidak asing di telinganya selama ini. Lalu...
"Kakak..." ujarnya yang menoleh dan melihat Umar datang ke rumahnya.
Sabrina, Galuh dan Aldha yang melihat itu pun langsung beranjak dan menghampiri mereka semua dengan ekspresi yang sangat berbinar penuh keharuan.
"Wa'alaikumsalam, Kak." jawab Sabrina yang menyalami dan memeluk sang kakak.
"Bagaimana kabarmu, adikku?" tanya Umar yang melepaskan pelukannya.
"Aku baik, Kak." jawab Sabrina yang menangis terharu dengan kedatangan sang kakak.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Umar yang memegang wajah Sabrina.
"Sudah dua belas tahun, Kak. Sudah dua belas tahun Kakak tidak pernah datang ke rumah ini. Rumah kita, rumah Ibu, dan rumah masa kecil kita. Apakah Jogja terlalu jauh sehingga Kakak tidak bisa datang ke sini?" jawab Sabrina yang tertunduk sedih.
Umar benar-benar tercubit dengan perkataan Sabrina yang pilu. Ia menyadari kalau selama ini, hubungannya dengan sang adik hanya melalui perantara pesan atau video call. Umar tidak hanya sibuk. Namun ada alasan lain yang membuatnya tidak bisa datang terlalu sering ke Jogja dan menemui Sabrina, adik kandung satu-satunya.
"Kamu pasti tau seperti apa kehidupanku di Jakarta, Sabrina. Kota Jakarta bukan sekedar kota, tapi juga arena. Di mana setiap orang bisa terbang tinggi semampu mereka, tanpa sadar kalau mereka pernah menginjakkan kaki tanah." tutur Umar yang menatap lekat sang adik.
Sonia yang melihat adegan itu, hanya diam dan terlihat tidak menyukai basa-basi Sabrina. Salah satu alasan Umar tidak bisa terlalu sering berkunjung ke Jogja adalah Sonia. Entah apa alasan Umar itu, apakah pernah ada masalah di antara keduanya?
Sabrina pun langsung memeluk sang kakak karena kerinduan yang sangat dalam. Zein dan Aliyya yang melihat adegan itu pun ikut terharu. Begitu juga dengan Galuh dan Aldha. Namun tidak dengan Sonia.
"Ayo, Kak. Kakak harus istirahat. Mari aku antar ke kamar Kakak dan Kak Sonia." ujar Sabrina yang mulai tenang dan mengajak keduanya.
Umar pun mengikuti Sabrina, begitu juga dengan Sonia. Mereka berjalan ke kamar tamu. Setelah itu Sabrina keluar dan mencari keberadaan Aliyya.
"Zein, apakah kamu melihat Aliyya?" tanya Sabrina pada keponakannya itu.
"Tidak, Bi. Aku tidak melihatnya." jawab Zein yang ikut melihat ke sekitar rumah.
Saat mereka tengah melihat sekitar, Zein pun menemukan keberadaan Aliyya. Lalu...
"Aliyya..."
Zein pun melambaikan tangan dan meminta Aliyya untuk mendekatinya.
"Ada apa lagi dengan pria konyol ini."
Aliyya pun berjalan mendekati Zein tanpa sadar kalau Sabrina juga ada di sana.
"Ada apa lagi?" sungut Aliyya yang bertanya pada Zein.
"Ibu mencarimu sejak tadi. Ada Zaki yang ingin bertemu denganmu." ujar Sabrina yang menepuk bahu putri sulungnya itu.
"Zaki?" ucap Aliyya yang terkejut mendengar kalimat sang ibu.
"Kenapa kaget seperti itu, hah! Kamu gugup bertemu dengan pria itu." ujar Zein yang sengaja menggoda Aliyya.
"Diam kamu! Bukan urusanmu." sungut Aliyya yang ketus dan melotot ke arah Zein.
"Ayo, ikut Ibu." ujar Sabrina yang menarik tangan Aliyya menuju halaman samping.
Aliyya pun pasrah seraya berpikir. Ternyata mobil yang ada di depan itu adalah mobil Zaki. Sementara Zein yang penasaran dengan pria yang bernama Zaki, ia pun mengikuti Sabrina dan Aliyya.
"Maaf ya, Nak. Kamu jadi menunggu lama karena ulah gadis ini." ucap Sabrina pada Zaki yang duduk di halaman samping.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya hanya ingin bicara sebentar dengan Aliyya." jawab Zaki yang beranjak dari duduknya.
"Kalau begitu, Ibu tinggal dulu ya." ucap Sabrina yang melepaskan tangan Aliyya.
Sabrina pun pergi. Kini hanya Aliyya dan Zaki yang ada di halaman samping. Aliyya merasa canggung karena baru pertama kali bertemu dengan Zaki.
__ADS_1
Semua ini karena kamu, Zein Abdullah. Kalau dia tidak usil padaku, maka aku akan mengenal wajah Zaki saat itu. Gumam Aliyya dalam hati.
Aliyya hanya tertunduk di hadapan Zaki tanpa mau menatapnya. Sementara Zaki, tersenyum tipis melihat sikap Aliyya.
"Kenapa hanya diam? Ayo, duduk dulu." ujar Zaki yang mengajak Aliyya bicara.
"Iya, baiklah..."
Aliyya dan Zaki pun duduk di halaman samping, tanpa sadar kalau ada seseorang yang melihat dan memperhatikan keduanya dari dalam.
"Aku hanya ingin bicara tentang pernikahan kita besok. Semuanya sudah aku siapkan. Jadi kamu dan keluargamu tidak perlu repot untuk menyiapkan hal-hal lain." ujar Zaki.
Aliyya pun mendongakkan kepalanya dan melihat Zaki.
"Kenapa seperti itu? Keluargaku juga masih mampu untuk membiayai pernikahan kita." tanya Aliyya yang merasa aneh dengan Zaki.
"Tidak perlu, Aliyya. Percaya sama aku. Kalau begitu aku pamit pulang ya. Besok kita akan bertemu lagi dengan status kita yang baru." ujar Zaki yang beranjak dan tersenyum tipis.
Aliyya pun ikut beranjak. Kata-kata Zaki berhasil membuat wajahnya merah dan tersipu malu.
"Iya, kamu hati-hati ya." ucap Aliyya yang malu dengan Zaki.
Zaki hanya tersenyum penuh arti. Lalu ia pergi keluar dari rumah Aliyya. Sementara Zein, sejak tadi ia mendengar pembicaraan keduanya.
"Jangan terlalu dalam menatap matanya." ujar Zein yang menghampiri Aliyya.
"Kamu mau apa lagi sih, hah!" sungut Aliyya yang kesal dengan sikap Zein.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Jangan terlalu dalam menatap matanya. Nanti jatuh cinta. Belum tentu dia akan menikahi kamu." ujar Zein yang terus menggoda Aliyya.
"Diam kamu! Kalau tidak, mulutmu itu akan aku kasih cabe rawit." sungut Aliyya yang kesal dan menunjuk wajah Zein.
"Kabur..." sahut Zein yang langsung pergi.
Aliyya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sepupunya yang jahil dan bar-bar itu. Lalu ia pun ikut masuk ke dalam rumah.
***
Tidak terasa hari semakin malam. Di rumah Aliyya terlihat ramai karena malam ini adalah malam terakhir Aliyya berstatus sebagai seorang gadis dan malam besok, ia sudah resmi menjadi istri dari seorang Zaki Mahendra Putra. Seorang pria yang tinggi, tampan dan juga pengusaha muda.
Semua orang yang ada tengah sibuk menyiapkan untuk acara besok pagi. Namun tidak dengan Sonia. Ia hanya melihat dan memperhatikan sekitarnya. Namun saat Sonia sedang berjalan dan memeriksa sekitar, ia melihat Zein yang ikut sibuk membantu persiapan pernikahan Aliyya.
Aku tidak bisa membiarkan putraku terus berada di sini. Gumam Sonia dalam hati.
"Zein..."
Zein yang sedang sibuk pun menoleh lalu menghampiri sang ibu.
"Ada apa Ma?" tanya Zein pada Sonia.
"Tidak ada, Zein. Mama hanya ingin bertanya sesuatu padamu." jawab Sonia dengan suara yang lambat.
"Apa itu Ma?" tanya Zein yang makin penasaran.
"Kamu tidak jadi pergi ke Singapore untuk berlibur dengan Rizal? Mama dengar kamu ingin mengadakan acara di sana dengan teman-temanmu." jawab Sonia yang masih bersuara lambat.
"Iya, Ma. Tapi Papa melarangku untuk pergi sebelum acara pernikahan Aliyya selesai." jawab Zein yang terlihat lesu dan pasrah.
Sonia pun menyeringai tipis. Ia memang ingin Zein pergi dari rumah itu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Entah apa yang Sonia pikirkan saat ini. Sejak mendengar kabar pernikahan Aliyya dan Umar menyuruh Zein untuk datang ke Jogja mewakili keluarga, wanita paruh baya nan cantik itu tampak gelisah, ketakutan dan mencemaskan sesuatu.
"Kamu pergi saja. Nanti biar Mama yang membujuk papamu di sini." ujar Sonia yang berusaha menghasut putranya itu.
"Mama serius?" tanya Zein yang tidak yakin dengan perkataan ibunya.
"Iya, Sayang. Kamu pergi saja. Ini tiket untuk kamu pergi bersama Rizal. Mama siapkan ini untukmu." ujar Sonia yang membujuk Zein.
"Lalu bagaimana dengan Papa?" tanya Zein yang masih kurang yakin dengan ide Sonia.
"Papamu biar Mama yang menghadapinya. Pergilah besok pagi karena keberangkatan di tiket itu sengaja Mama ambilkan pagi untuk kamu dan Rizal." jawab Sonia meyakinkan.
"Baiklah, Ma. Aku sayang sekali sama Mama." ucap Zein yang memeluk ibunya.
"Mama lebih menyayangimu, Nak." ucap Sonia yang tersenyum tipis.
"Kalau begitu aku istirahat dulu ya, Ma. Mama juga harus istirahat." ujar Zein yang melepas pelukan sang ibu.
"Iya, Sayang." jawab Sonia yang membelai kepala sang putra.
Zein pun pergi dari hadapan Sonia. Senyum tipis namun penuh arti itu kembali terukir di wajah wanita paruh baya itu.
"Semoga rencanaku berhasil dan Zein tidak akan mendapatkan masalah di sini..."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All๐๐๐
Jangan lupa like, komen, rate dan vote cerita baru author ya๐