
...πΉπΉπΉ...
"Zein..."
Aliyya dan Zein terkesiap tatkala terdengar suara bariton khas sang kakak sulung tiba-tiba meneriaki nama Zein. Keduanya pun saling pandang sebelum akhirnya Aliyya berlari ke arah pintu dan tepat berpapasan dengan sang kakak.
"Selamat pagi, Al..." sapa Farhan yang tersenyum.
"Selamat pagi Kak Farhan..." jawab Aliyya.
Farhan yang berdiri celingukan ke dalam kamar Zein pun berusaha untuk masuk. Namun saat Farhan ingin masuk ke dalam, Aliyya seakan enggan beranjak dari pintu dan berusaha menghalangi Farhan masuk. Setiap Farhan melangkah, Aliyya selalu mengikuti arah langkahnya. Farhan ke kanan, Aliyya pun ke kanan begitu juga sebaliknya. Sikap Aliyya sukses membuat Farhan merasa heran seraya berusaha celingukan ke dalam kamar Zein. Namun tetap saja, Aliyya selalu menghalangi dirinya.
"Apakah Zein ada di dalam, Al?" tanya Farhan yang semakin dibuat heran dengan tingkah adik iparnya itu.
"Hei Kak... aku di sini. Ada apa? Kenapa Kakak mencariku di pagi buta seperti ini?" timpal Zein yang menghambur datang dan berdiri di sisi Aliyya seraya menutupi jalan masuk ke kamarnya.
Zein yang baru datang pun tertawa seraya memperlihatkan sederetan gigi putihnya pada Farhan lalu menoleh ke arah Aliyya. Sementara Farhan semakin kebingungan melihat tingkah keduanya yang sangat aneh pagi ini.
"Apakah aku boleh masuk?" tanya Farhan seraya ingin menerobos masuk namun langsung dicegah oleh Zein.
"Jangan, Jangan!!! Maksudku, jangan sekarang Kak." serkas Zein yang berusaha mencegah sang kakak.
"Iya, Kak. Kamar kami masih berantakan, jadi kami berdua sedang merapihkannya." timpal Aliyya yang sangat gugup karena berbohong pada Farhan.
"Kakak tau sendiri 'kan kalau kamarku ini sangat berantakan. Jadi saat ini aku dan Aliyya sedang membersihkan semuanya. Bahkan saat ini kami sedang melakukannya." timpal Zein yang mencari alasan lagi.
"Oke, baiklah kalau begitu. Lalu apakah kalian ingin berolahraga Zein, Al?" tanya Farhan yang kebingungan.
"Sepertinya untuk saat ini tidak dulu, Kak. Kami tidak bisa meninggalkan kamar dalam kondisi yang seperti ini." jawab Aliyya yang sangat cepat.
"Aliyya benar, Kak. Kami tidak bisa berolahraga di luar. Sebaiknya Kakak saja yang berolahraga. Kami akan berolahraga di sini saja. Kakak jangan khawatir." timpal Zein seraya menoleh kikuk ke arah Aliyya.
Dahi Farhan yang mulus seketika berkerut karena melihat pola tingkah keduanya. Aliyya dan Zein terlihat semakin aneh, seakan tengah menutupi sesuatu di dalam sana. Bukan hanya menutupi, tapi mereka tidak ingin siapa pun lagi melihat kondisi kamarnya yang terbagi walaupun mereka tau kalau usaha itu pada akhirnya akan terbongkar juga.
"Bi Sumi sempat membawa bajuku dan meninggalkannya di dalam kamarmu. Jadi aku harus mengambilnya." ujar Farhan yang hendak melangkah masuk tapi dicegah lagi.
"Tunggu, tunggu, tunggu!!! Nanti biar aku saja yang mengantarkan bajumu langsung ke kamarmu, Kak. Kakak tenang saja dan lebih baik Kakak langsung olahraga saja." serkas Zein yang spontan dan menghalangi Farhan masuk dan dibantu pula oleh Aliyya.
"B-baiklah, kalau begitu aku permisi dulu ya." jawab Farhan yang kikuk seraya akhirnya berlenggang pergi.
Aliyya dan Zein hanya mengangguk, berusaha tersenyum walaupun keduanya masih terlibat pertengkaran yang tak pernah ada artinya. Setelah Farhan menghilang, keduanya pun menghela nafas lega seraya tersandar ke daun pintu.
"Huff..." ucap keduanya serentak seraya mengangkat tangan kanan masing-masing dan ingin melakukan tos.
Entah sadar atau tidak, kali ini Aliyya dan Zein bukan melemparkan tatapan tajam, melainkan saling tersenyum lega dan bahkan ingin melakukan aksi tos sebagai tanda kemenangan mereka karena berhasil mencegah Farhan untuk masuk ke dalam kamar mereka. Sejurus kemudian, aksi tos yang diharapkan itu ternyata dengan cepatnya tersadar dari benak dua sejoli yang saling membenci itu. Tangan keduanya pun langsung terturun lemas seperti tak bertulang seraya melempar tatapan jengah dan juga kesal yang masih belum usai karena pertengkaran konyol tadi.
"Aku benar-benar tidak percaya kalau aku akan mengikuti semua kebohonganmu ini." ujar Zein yang melirik Aliyya.
"Aku juga tidak percaya." sungut Aliyya yang jengah.
"Semua ini salahmu!!!" serkas Zein yang berjalan masuk.
__ADS_1
"Enak saja!!! Semua ini salahmu!!!" sahut Aliyya yang tidak mau kalah seraya mengikuti suaminya itu.
Tanpa menjawab sahutan sang istri, Zein terus berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Aliyya yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela nafas kasar karena tingkah menyebalkan Zein.
***
Semua orang pun tampak berkumpul di meja makan, termasuk Zein. Pria tampan yang masih menganggap dirinya sebagai single boy itu tampak asyik mengolesi selai kacang di atas selembar roti tawar. Sementara itu, yang lainnya tampak sibuk menikmati sarapan pagi ini.
Lalu ke mana Aliyya? Gadis itu tentu saja masih ada di rumah itu. Tidak berselang lama, Aliyya datang seraya membawakan semangkuk nasi kuning. Asap dari nasi kuning yang baru masak itu tampak mengebul dengan sensasi aroma yang sangat nikmat dari masakan itu. Aliyya yang baru saja sampai di ruang makan pun berdiri di sisi Umar namun matanya tertuju pada Zein. Pria itu juga ikut melihatnya dengan tatapan jengah yang tak berujung.
Kehadiran Aliyya di ruang makan sontak membuat raut wajah Sonia, Namira dan Shafia mendadak masam. Ketiga wanita berbeda generasi itu hanya mendelikkan mata mereka ke arah Aliyya dengan tatapan yang tidak bersahabat. Sementara Aliyya yang tidak menyadari hal itu hanya bersikap santai seraya memperhatikan Zein.
Saat Zein melihat ke arahnya lagi, Aliyya pun tampak mengangguk kecil, seakan menawarkan nasi kuning buatannya itu pada Zein. Namun dengan sombongnya, Zein malah mengambil makanan lain yang tersedia di atas meja seraya melirik sang istri. Melihat itu, Aliyya hanya bisa menggelengkan kepala karena Zein tidak akan mau memakan makanan hasil dari masakannya sendiri.
"Berikan padaku, Al. Wah, ini nasi kuning khas Jogja ya. Dari aromanya saja sudah sangat nikmat, apalagi dengan rasanya." ujar Farhan seraya mengambil mangkuk itu dari tangan Aliyya.
"Kamu benar sekali, Farhan." timpal Umar yang ikut menyicipi masakan buatan keponakan kesayangannya.
Mendengar pujian yang terlontar dari mulut Farhan sukses membuat Shafia jengah. Sementara Aliyya tersenyum lega karena masih ada orang di rumah ini yang menyukai masakannya. Aliyya pun beranjak dan duduk di samping Zein. Melihat sang istri yang duduk di sampingnya, Zein pun meliriknya tajam dan dibalas tak kalah tajam pula oleh Aliyya.
Tanpa menghiraukan tatapan tajam Zein yang sangat menyebalkan itu, Aliyya pun mulai mengambil beberapa makanan yang tersedia sebagai menu sarapan pagi ini. Begitu pula dengan pria yang ada di sampingnya. Zein yang sejak tadi asyik mengoleskan selai kacang di atas roti tawarnya pun juga mulai menikmatinya.
"Oh iya Zein, ini ada sesuatu untukmu dan Aliyya. Ya anggap saja ini sebagai hadiah kecil dari Papa untuk pernikahan kalian." ujar Umar yang tiba-tiba seraya memberikan sebuah amplop putih pada Zein.
"Hadiah? Hadiah apa ini Pa?" tanya Zein seraya menjangkau amplop putih pemberian sang papa.
"Papa sudah menyiapkan satu buah kamar hotel di hotel kita. Sebuah kamar yang cocok untuk sepasang kekasih yang baru saja menikah dan kamar itu sangat cocok jika digunakan untuk kalian berbulan madu. Kamar itu sangat spesial dan terletak di lantai yang paling atas. Jadi sangat cocok untuk kalian untuk menghabiskan waktu bersama." jawab Umar yang tersenyum penuh arti seraya melihat ke Aliyya dan putranya.
"Wah, Papa memang sangat baik. Tentu saja kami akan datang ke sana dan menikmatinya dengan senang hati." jawab Zein seraya melirik ke arah Aliyya dengan senyum penuh arti.
Jawaban Zein itu berhasil membuat Shafia tersedak saat ia sedang menikmati sarapan hingga semua mata tertuju ke arahnya. Dengan cepat Shafia yang tidak ingin mati hanya karena tersedak pun mengambil gelas minumnya. Namira tersenyum miring melihat madunya itu tersedak tiba-tiba, karena Namira tau apa yang menjadi rencana Shafia saat ini. Namun sangat disayangkan karena rencana itu gagal lagi dan lagi.
Aliyya yang masih terperangah pun melirik Zein, tatapan tajam keduanya seakan bertemu saat Zein juga meliriknya.
Dasar bodoh!!! Apa yang sedang dia pikirkan tentang kamar hotel itu? Kenapa dia malah mengambil amplop yang berisi kunci kamar itu dari Papa? Gumam Aliyya dalam hati.
Mari kita satukan pernikahan kita, keponakan kesayangan. Gumam Zein dalam hati.
Bak perang bathin seraya melempar lirikan maut keduanya tampak melempar raut wajah yang sangat bertolak belakang. Aliyya dengan raut wajah jengah dan sorotan mata yang kesal karena Zein mengambil amplop itu dari Umar, sedangkan Zein dengan senyum miring penuh arti.
***
Sarapan pagi pun telah usai. Aliyya yang kini berada di dalam kamar tampak gelisah, kakinya terus melangkah menyisir semua sisi kamar. Wajahnya tampak tertekuk seperti baju yang belum disetrika karena memikirkan perkataan sang papa mertua tentang kamar hotel untuk dirinya dan Zein melakukan ritual bulan madu.
Hati dan pikirannya yang kalut membuat gadis Jogja itu tidak menyadari akan kedatangan Zein. Ketika Aliyya berbalik, ia melihat sang suami melangkah lebar, masuk dan melewati dirinya yang tengah gelisah.
"Ada apa ini?" ujar Aliyya yang tiba-tiba gugup.
Mendengar pertanyaan Aliyya membuat kaki Zein terhenti seketika. Pria itu pun menoleh dan melihat heran sang istri dengan senyum manisnya yang masih mengembang luas.
"Apa maksudmu?" tanya Zein.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengambil amplop itu?" tanya Aliyya yang semakin dirundung rasa gugup dan salah tingkah.
"Oh ini. Papa memberikan ini sebagai hadiah pernikahan kita. Lalu bagaimana bisa aku menolaknya. Apakah kamu mengetahui sesuatu?" jawab Zein seraya menghambur ke atas tempat tidurnya dengan posisi miring melihat Aliyya.
Dahi Aliyya pun mengerut saat melihat tingkah aneh Zein. Otaknya seakan diminta untuk berpikir lebih keras untuk bisa membaca isi pikiran pria tampan itu. Tapi sepertinya, saat ini otak cerdas Aliyya sedang kehabisan baterai akibat perkataan Umar tentang kamar hotel, sehingga ia tidak bisa berpikir cepat dan mendadak error.
Bibir Zein melengkung seketika tatkala melihat raut wajah Aliyya yang mendadak seperti orang bodoh seperti itu.
"Duduklah!!! Ayo duduk!!!" ujar Zein.
Aliyya semakin terperangah dibuatnya saat melihat jari jemari tangan Zein yang bekerja, seakan meminta Aliyya untuk duduk di dekatnya. Entah apa yang terjadi pada gadis Jogja itu, tanpa berpikir panjang ia langsung duduk di tepi tempat tidur sesuai dengan isyarat Zein.
Saat Aliyya duduk di tepi tempat tidur, Zein pun beranjak duduk dan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya itu. Aliyya semakin dibuat gugup dan canggung karena ulah tingkah Zein yang sangat aneh hari ini. Sementara Zein semakin tersenyum lebar penuh arti saat melihat wajah Aliyya dari jarak yang sangat dekat.
"Kamar itu sangat luar biasa, romantis dan sangat indah. Kamar itu juga kedap suara dan pastinya sangat privasi, tidak akan ada seorang pun yang bisa mendengar atau melihat apa yang kita lakukan di dalam nanti. Kamu pasti akan sangat menyukai kamar itu." tutur Zein.
Aliyya semakin dibuat tak percaya dengan tingkah Zein. Pria tampan itu berbicara seraya mendekati Aliyya yang semakin lama semakin beringsut mundur karena ulahnya. Wajah keduanya sangat dekat, semakin dekat dan makin dekat karena Zein yang bergerak maju. Sementara Aliyya yang merasa canggung dan heran, berusaha untuk terus mundur dan menjauhi Zein yang semakin bergerak maju.
"Apa maksudmu Zein?" tanya Aliyya yang sangat kikuk.
"Aku sudah terlalu banyak berpikir selama ini. Semua yang pernah aku katakan padamu dan semua perilaku burukku padamu. Saat ini aku tengah berpikir, sampai kapan kita harus bertengkar. Kita sudah menikah dan kehidupan kita sudah menyatu. Itu artinya kita harus bahagia. Kehadiran dirimu membuatku sangat bahagia. Jadi aku harus membuatmu bahagia juga. Semua harus adil di antara suami dan istri. Kita harus membuat hubungan kita ini semakin kuat dengan cara saling berdekatan. Itu 'kan yang dilakukan oleh sepasang suami dan istri?" tutur Zein.
Takut, gugup dan bingung, seperti itulah mimik wajah Aliyya saat Zein berusaha mendekati dirinya. Gerakan Zein semakin membuatnya tidak nyaman, wajah pria tampan itu semakin dekat di depan matanya sehingga Aliyya semakin dibuat gelisah dengan tingkah suaminya itu.
"Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti melihat hantu? Aku ini suamimu, bukan hantu atau orang jahat yang akan menculikmu. Ayo, cepat kemasi pakaianmu!!! Jangan lupa untuk membawa beberapa pakaianmu yang sangat sexy."
Aliyya yang sejak tadi beringsut mundur pun terkesiap saat mendengar permintaan suaminya itu, hingga membuat tubuhnya yang telah sampai di ujung tempat tidur pun hampir terjatuh. Namun dengan sigap, tangan kekar Zein berhasil meraih pinggang ramping Aliyya dan menopang pinggang ramping itu dengan gagahnya.
Degh!
Tatapan keduanya pun terkunci. Manik Aliyya yang sejak tadi memperhatikan Zein seakan terhipnotis tak berkedip. Sementara Zein hanya tersenyum manis seraya merangkul dan menopang pinggang Aliyya agar gadis itu tak terjatuh. Lama tatapan mereka saling terkunci seakan sulit untuk dapat terlepaskan. Namun Aliyya yang tersadar lebih dulu, dengan cepat merotasi matanya ke arah lain dan membuat Zein tersenyum simpul melihatnya salah tingkah.
"Sebentar lagi kita akan berangkat ke hotel dan kita akan mengakhiri semua pertengkaran kita selama ini."
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Huhu, sepertinya Aliyya dan Zein akan pergi bulan madu ke hotel milik keluarganya π apakah bulan madu mereka akan berjalan lancar seperti bulan madu pada umumnya?
Penasaran???
Ikutin terus kisah pernikahan Aliyya dan Zein yang semakin hari semakin greget wkwkwkw πππ So, jangan pindah channel ya β€οΈβ€οΈ
__ADS_1
Semangat terus untuk kita semua π save healthy and stay in home π Jangan lupa selalu jaga kesehatan karena covid masih berkeliaran di mana-mana π·π·π·π·π·