Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 11 ~ Tertangkap Basah


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Aliyya, Zein..."


Semua mata terbelalak seketika saat melihat pemandangan Zein yang sedang memeluk Aliyya di dalam kamarnya tanpa rasa malu. Sonia yang mengira sang putra bungsu sudah pergi ke Singapore, tak kalah terkejut saat menemukan Zein ada di kamar Aliyya. Sementara Umar, Sabrina dan Galuh tampak sangat terkejut melihat putrinya yang sedang berpelukan dengan Zein.


Zein dan Aliyya pun melerai pelukan mereka dan menoleh ke arah orang-orang itu. Mata Aliyya yang sembap menjadi perhatian banyak orang. Sementara itu, Zaki terlihat sangat puas bisa mempermalukan Aliyya dan keluarganya seperti ini.


"Kalian bisa lihat mereka!? Seperti ini kah perilaku orang yang baik? Berpelukan di dalam kamar dengan kondisi pintu yang tertutup rapat?" sahut Paman Zaki yang semakin menyudutkan Aliyya dan Zein.


Sayup-sayup pembicaraan buruk orang pun mulai terdengar. Mereka terus saja membicarakan kejadian ini dan membuat Sabrina, Galuh dan Umar merasa tersudut.


"Apa yang anda bicarakan Pak? Kami tidak melakukan apa pun. Aku hanya ingin mengambil ponselku yang tertinggal di sini. Saat aku masuk ke sini, tanpa disengaja aku melihat Aliyya yang menangis sesegukan. Apa salah jika aku menenangkannya sebagai seorang saudara?" ujar Zein yang membela diri dan Aliyya.


"Lalu kenapa ponselmu bisa tertinggal? Apakah kau tidur bersamanya tadi malam, sehingga membuatmu lupa dengan ponselmu?" timpal Paman Zaki yang semakin menyudutkan Zein.


"Tutup mulutmu, Tuan! Putraku tidak mungkin melakukan hal kotor seperti itu!" tandas Umar yang menatap tajam ke arah Paman Zaki.


"Jangan mengelak lagi, Tuan Umar! Sudah jelas di sini kalau mereka benar-benar ada hubungan spesial!" timpal Paman Zaki.


"Sudahlah, Paman! Lebih baik kita pergi dari tempat ini. Sungguh memalukan kalau kita tetap berada di sini!" ujar Zaki yang menatap hina Aliyya dan Zein.


Zaki dan keluarganya pun beranjak keluar dari kamar Aliyya. Sementara keluarga Aliyya masih tampak terpaku berdiri di dalam sana. Namun tidak dengan Galuh.


Galuh tidak bisa menerima sang putri dipermalukan seperti ini oleh keluarga Zaki. Dengan dada yang terasa sangat sesak, Galuh pun menyusul keluarga Zaki keluar dan disusul oleh Sabrina, Umar, Sonia dan yang lainnya, termasuk Aliyya dan Zein.


"Tunggu..."


Mendengar suara bariton itu, keluarga Zaki pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Putriku tidak bersalah! Kalian salah besar karena telah berani menuduh putriku. Aku tidak bisa menerima penghinaan ini." tandas Galuh dengan suaranya yang tertahan.


Keluarga Zaki hanya saling pandang, tidak ada yang menjawab perkataan Galuh. Lalu Galuh pun mendekati Zaki.


"Walaupun pernikahan putriku batal hari ini, tapi aku bersumpah. Setelah ini aku akan menikahkan putriku dengan pria yang jauh lebih baik darimu, Zaki! Kau telah menunjukan siapa dirimu sebenarnya dan aku sangat bersyukur karena putriku tidak jadi menikah dengan pria sepertimu. Pria yang tidak punya hati nurani!!!" tandas Galuh seraya merapihkan kerah baju Zaki.


Zaki berdecak kesal seraya terkekeh geli saat mendengar perkataan pria paruh baya itu.


Bruk!


"Ayah..." pekik Aliyya yang terkejut melihat ayahnya didorong kasar oleh Zaki.


Zaki mendorong Galuh dengan sangat kuat hingga membuatnya terjatuh. Lalu pergi begitu saja meninggalkan semuanya. Sabrina, Aliyya dan Aldha yang melihat itu pun langsung membantu Galuh untuk berdiri. Namun sesak di dada pria paruh baya itu semakin menjadi dan membuatnya pingsan.


"Ayah... bangun, Ayah!" pekik Aliyya yang menangis dengan sesegukan.


"Farhan... bantu Papa mengangkat pamanmu dan membawanya ke kamar." ujar Umar pada Farhan seraya mendekati Galuh.


Umar, Farhan serta Zein pun mengangkat Galuh lalu membawanya ke kamar. Setelah itu Umar memanggil dokter untuk segera datang ke rumah Sabrina.


Sabrina yang duduk di samping sang suami hanya bisa menangis seraya menggenggam tangannya. Sementara Aliyya hanya berdiri terpaku di dekat pintu, menatap sang ayah yang terbaring lemas di atas tempat tidur. Karena merasa tidak tega, Aliyya pun beranjak dari kamar sang ayah dan duduk di bawah tangga.


Aliyya menangis sesegukan di sana, maratapi nasib pernikahan impiannya yang gagal hari ini. Tidak hanya gagal, tapi juga membuat malu seluruh anggota keluarganya dan keluarga Umar sebagai pamannya. Aliyya menangis, meringkuk di tepi tangga, menyembunyikan wajahnya di sela lututnya.


"Aliyya..."


Suara bariton yang terdengar familiar itu membuat Aliyya menghentikan tangisnya. Lalu menoleh ke sumber suara itu.


"Paman..."


"Apa yang sebenarnya terjadi di antaramu dengan Zein, Nak? Kenapa semua ini bisa menimpamu?" tanya Umar seraya meraih tangan Aliyya.


Aliyya pun berusaha menghentikan tangisnya, mengatur nafas dan menghapus air matanya. Lalu Aliyya menceritakan semuanya pada Umar. Mulai dari pertemuan pertamanya dengan Zein, Zein yang tidak mengatakan kalau dirinya bukan lah Zaki, sikap Zein yang menurutnya sudah keterlaluan saat berada di bangunan tua malam itu hingga dipergoki petugas yang sedang berjaga di sana, dan yang paling tidak disangka olehnya adalah kalau petugas itu adalah paman Zaki.


Semuanya Aliyya ceritakan pada Umar dan membuat pria paruh baya itu terperangah. Tangannya mengepal kuat dan siap untuk memukul apa pun yang ada di hadapannya, kecuali Aliyya. Sementara itu, Aliyya masih menceritakan lagi apa pun yang Zein lakukan padanya hingga berakhir seperti ini.

__ADS_1


***


Lain Sabrina, lain pula dengan Sonia. Wanita paruh baya itu terlihat sedang menahan rasa kesal dan amarahnya karena situasi ini. Situasi yang sangat tidak menguntungkan bagi keluarganya, terutama dirinya sendiri. Lalu Sonia pun menghampiri putranya dan menariknya keluar dari kamar Sabrina.


"Ada apa denganmu? Kenapa kamu kembali lagi ke sini Zein?" tanya Sonia yang teramat kesal pada sang putra.


"Percaya lah, Ma. Aku tidak melakukan apa pun di kamar Aliyya. Aku hanya ingin mengambil ponselku yang tertinggal di sana. Itu saja!!!" jelas Zein yang memang jujur.


"Mama bisa mempercayaimu, Zein. Tapi bagaimana dengan papamu? Apakah dia akan mendengarkan penjelasanmu?" tanya Sonia yang terlihat panik dan memalingkan wajah dari sang putra.


"Mama tenang saja. Aku akan menjelaskan semuanya pada Papa. Aku yakin kalau Papa pasti percaya padaku." jawab Zein seraya mengusap bahu Sonia dari belakang lalu pergi menemui sang ayah.


"Zein... Zein!"


Usaha Sonia untuk menghentikan putranya itu sia-sia. Zein sudah pergi dan menuruni tangga untuk menemui Umar..


"Aku tidak boleh diam saja! Aku harus melindungi putraku!"


Sonia pun beranjak dengan memegang tekat yang kuat untuk melindungi Zein. Entah apa yang membuatnya berpikir kalau Zein sedang dalam bahaya. Tapi bahaya apa?


***


Di bawah tangga, Aliyya yang menangis tampak masih berbicara dengan Umar. Sementara Umar berusaha menenangkan keponakannya itu agar tetap kuat dan tidak memikirkan hal yang telah terjadi.


Zein yang hampir sampai di lantai bawah pun melihat Aliyya yang masih menangis dalam pelukan ayahnya. Terbesit rasa bersalah dalam hatinya. Zein sadar akan kesalahannya pada sepupunya itu dan karena ulahnya yang ingin berniat jahil pada Aliyya, membuat semuanya kacau, bahkan Zein tidak pernah membayangkan kalau hal ini akan terjadi.


"Maafkan aku, Aliyya. Karena ulah konyolku, pernikahanmu batal dan kacau seperti ini. Tapi aku akan memperbaiki semuanya, Al."


Dengan penuh keyakinan, Zein pun berjalan mendekati Aliyya dan Umar.


"Pa, Aliyya..."


Umar yang tengah memeluk Aliyya pun terdiam saat mendengar suara Zein. Hatinya masih teramat sakit karena kecewa dengan perbuatan putra kesayangannya itu. Sementara Aliyya, gadis itu perlahan mendongakkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Zein.


"Maafkan aku, Pa. Semua ini salahku. Karena aku pernikahan Aliyya batal dan semua keluarganya dan keluarga kita dipermalukan seperti tadi oleh keluarga Zaki." ujar Zein seraya menundukan kepalanya sebagai tanda permintaan maafnya.


"Semuanya sudah terjadi, Zein. Andaikan saja kamu berpikir panjang dan memikirkan apa akibat yang akan terjadi karena ulahmu, maka semua ini tidak akan terjadi dan Aliyya pasti sudah bahagia!" jawab Umar dengan suara yang tertahan karena menahan emosi dan memilih untuk tidak menatap putranya.


Zein terdiam dan mengaku kalau dirinya memang salah. Aliyya yang melihat itu pun beranjak dan masih menatap Zein dengan tatapan penuh kebencian. Namun saat Zein terdiam, nafas kasarnya pun terhembus dan kepalanya yang tertunduk kini terangkat kembali.


"Tapi semua ini..."


"Kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kamu lakukan, Zein. Kamu harus menikahi Aliyya!" potong Umar yang menatap tajam ke arah Zein.


Aliyya dan Zein terperanjat saat mendengar perkataan Umar. Guratan tidak menerima sangat terlihat jelas di wajah keduanya.


"Tidak, Paman. Aku tidak mau menikah dengan pria yang sudah menghancurkan kebahagiaanku. Aku tidak mau menikah dengan pria pengecut seperti dia!" jawab Aliyya yang menoleh ke arah Zein dengan tatapan membunuh.


"Bagaimana mungkin aku menikahi Aliyya, Pa? Aku tidak bisa karena aku belum ingin menikah." jawab Zein yang menggelengkan kepalanya dan memalingkan wajahnya.


"Kamu harus bertanggung jawab, Zein!!! Kamu harus menuruti perkataan Papa kalau kamu ingin hidupmu tenang." ujar Umar yang masih berusaha menahan emosinya.


"Tidak, Pa! Selama ini aku selalu menuruti perkataanmu dan aku melakukan semuanya. Tapi untuk kali ini, maaf Pa. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa menikah dengan Aliyya!" jawab Zein yang sesekali menoleh ke arah Aliyya.


Umar yang tadinya berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosinya pun tampak mengepalkan tangan. Dadanya terasa sangat sesak mendapatkan penolakan dari putra kesayangannya itu.


Plak!


Satu tamparan kuat mendarat mulus di pipi Zein dan itu berhasil membuat mata Aliyya terbelalak melihat adegan itu. Tidak hanya Aliyya, Sonia yang sejak tadi mengikuti Zein pun ikut terperanjat saat melihat Umar menampar Zein untuk pertama kalinya.


"Papa..."


Umar, Aliyya dan Zein pun menoleh ke arah sumber suara yang terpekik itu. Sementara dari asal suara itu, tampak lah Sonia yang bergegas melangkahkan kaki menghampiri putra bungsunya itu.


"Apa yang sudah kamu lakukan Pa? Tidak seharusnya kamu menampar Zein seperti ini!" tandas Sonia yang merangkul bahu Zein.

__ADS_1


"Zein harus menikahi Aliyya, Ma! Karena dia harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dia lakukan terhadap Aliyya! Karena ulah Zein, Aliyya batal menikah dan keluarga kita dipermalukan seperti tadi!" tutur Umar yang emosi namun tetap tenang.


"Kenapa Papa hanya memikirkan perasaan Aliyya? Lalu bagaimana dengan perasaan Zein?" tandas Sonia seraya melirik tajam ke arah Aliyya.


"Jika Zein ingin perasaannya dihargai oleh orang lain, maka dia harus bisa menghargai perasaan orang lain terlebih dahulu. Bukan malah mempermainkan perasaan orang lain seperti ini!" tandas Umar yang menatap tajam Sonia dan Zein.


"Tapi Pa..."


"Tidak ada tapi lagi, Zein. Ayo ikut Papa!" potong Umar lalu menarik tangan Zein.


Zein yang masih merasa bersalah pun hanya pasrah mengikuti sang papa. Sementara itu, Sonia tampak menoleh dan menatap tajam Aliyya, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu bergegas mengikuti Umar. Aliyya yang tidak setuju dengan usulan sang paman pun bergegas menaiki tangga dan mengikuti Umar, Zein dan Sonia.


***


Umar terus menarik paksa tangan Zein, hingga kini mereka berada di dalam kamar Sabrina.


"Ada apa Kak? Kenapa Kakak menarik paksa tangan Zein seperti itu?" tanya Sabrina yang heran melihat raut wajah sang kakak.


Umar masih bergeming, sesekali tatapan tajam ia tolehkan ke arah sang putra kesayangan itu. Sementara Zein hanya tertunduk, raut wajahnya tampak sangat kesal dan kecewa dengan sikap sang papa. Tidak berselang lama, Sonia dan Aliyya yang menyusul Umar dari belakang pun datang.


"Pa... jangan seperti ini! Pikirkan perasaan putramu sendiri. Tolong berpikir lah terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan!" ujar Sonia yang melambatkan nada bicaranya.


Umar tetap bergeming, menatap Zein dan sang istri secara bergantian. Sementara Sabrina, Galuh dan Aldha yang melihat tingkah Umar, masih tampak kebingungan. Namun semua itu tidak menyurutkan niat Umar yang mutlak itu.


"Zein akan bertanggung jawab atas perbuatan yang telah ia lakukan, Sabrina." ujar Umar yang masih menatap tajam Zein.


"Maksud Kakak apa?" tanya Sabrina.


"Zein akan menggantikan posisi Zaki sebagai calon suami Aliyya. Zein akan menikah dengan Aliyya!" jawab Umar dengan sangat lantangnya.


Seketika mata Sabrina, Galuh, Farhan, Namira, Shafia dan Aldha terbelalak saat mendengar penuturan Umar. Sementara Sonia hanya bisa mendengus kesal terhadap sang suami. Lalu bagaimana dengan Aliyya dan Zein? Tentu saja keduanya tampak tidak percaya dengan semua ini.


"Hari ini juga, Zein akan menikah dengan Aliyya. Zein harus bisa bersikap dewasa atas semua yang telah dia lakukan pada Aliyya. Dan aku pastikan, tidak ada yang boleh menentang keputusanku ini!" ujar Umar yang melihat ke arah semuanya, termasuk Zein dan Aliyya.


"Tapi Kak..."


"Sudahlah, Sabrina. Aku tau mana yang terbaik untuk putraku, Zein. Dan aku juga tau mana yang terbaik untuk keponakanku, Aliyya. Zein dan Aliyya harus menikah, demi kebaikan kita bersama!" tutur Umar yang dengan lantang.


Sabrina yang sangat mengenal sifat keras Umar pun hanya bisa terduduk pasrah lalu menoleh ke arah Galuh yang masih terlihat pucat. Galuh hanya mengangguk, seakan membenarkan keputusan Umar sebagai ayah Zein dan paman Aliyya. Seutas senyum tipis pun terukir di wajah Galuh karena ia merasa lega karena Aliyya akan menikah dengan Zein.


Lalu bagaimana dengan Sonia? Tentu saja wanita paruh baya nan cantik dan elegan itu tampak mendengus kesal seraya membuang muka. Hal inilah yang ia takutkan sejak tadi, bahkan sejak Zein memutuskan untuk pergi dan datang ke rumah Sabrina.


Andaikan saja kamu mendengarkan perkataan Mama, Zein. Maka peristiwa ini tidak akan pernah terjadi. Mama tidak rela jika kamu harus menikah dengan gadis itu. Mama tidak rela, Zein. Mama benar-benar tidak rela. Gumam Sonia dalam hati.


Sementara Aliyya dan Zein tampak saling melempar pandangan. Tatapan kebencian dari sorot mata Aliyya yang tajam sangat terlihat jelas. Matanya yang merah dan basah tampak menatap tajam pria yang tak lain adalah Zein, saudara sepupunya itu. Lalu Zein, pria tampan itu masih saja bersikap santai, walaupun bekas merah di pipinya karena tamparan Umar masih terlihat sangat jelas. Sejenak Zein menoleh dan menatap dalam mata Aliyya. Setelah puas, Zein pun menghela nafas kasar lalu mendongakkan kepalanya.


"Aku ingin bicara sebentar dengan Aliyya, Pa."


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Kira-kira apa yang mau dibicarakan Zein dengan Aliyya?


Huhuhu, semoga kalian semua suka ya sama cerita baru author πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ setelah kemarin cerita yang sedih dan penuh bawang, kini cerita baru yang juga banyak bawang bakal setia menemani kalian semua 🀭🀭🀭 cerita ini hanya haluan author semata, yang mungkin kalau ada kesamaan nama tokoh, tempat atau yang lainnya dengan karya lainnya, harap dan berharap banget untuk dimaklumi ya sayang😚


Ikuti terus kisah Aliyya dan Zein ya 🧑🧑🧑

__ADS_1


__ADS_2