
...πΉπΉπΉ...
Jatuh lagi bulir bening dari sudut mata Aliyya saat mendengar perkataan sang suami yang sangat keras dan menghujam hati. Rasanya sakit sekali saat melihat pria yang sudah sah menjadi suaminya, membakar suatu benda di depan matanya sendiri. Dan benda itu adalah benda yang sempat ia gunakan tadi. Sebesar itu kah kebencian Zein pada Aliyya, hingga benda apa pun yang gadis itu sentuh, Zein rela membakarnya. Sungguh menyakitkan sekali.
"Kamu tidak mempunyai hak di kamar ini. Jadi jangan pernah menganggap kalau aku sedang bermain-main dengan ucapanku!" tandas Zein.
Zein pun melempar baju yang terbakar itu ke sembarang arah dan beranjak pergi dari kamar. Sementara Aliyya terduduk lesu dan menangis di dalam kamar sendirian tanpa siapa pun yang mengetahuinya.
***
"Jarak tempuh larimu sudah sangat jauh, Zein. Tapi posisimu sekarang masih saja sama dan tidak bergerak sedikit pun."
Zein yang masih tersulut emosi karena Aliyya pun memilih untuk berlari di atas Treadmill di halaman samping rumahnya. Namun di saat ia sedang menumpahkan segala kekesalan yang ada di dalam hatinya, sang mama pun datang menghampiri seraya membawakan sebotol air mineral dingin.
"Zein... bicaralah pada Mama, Sayang. Mama sangat mencemaskan dirimu. Di Jogja, kamu menerima begitu saja keputusan papamu dan menikahi gadis itu. Lalu saat sampai di rumah, kamu menggendong tubuhnya masuk ke dalam kamarmu. Mama juga melihatmu berdansa dengan gadis itu. Lalu tadi pagi, kamu menolak untuk diadakan acara resepsi dan Aliyya juga sudah memakai bajumu. Mama benar-benar bingung dengan sikapmu, Zein." tutur Sonia.
Zein tetap bergeming, sorot matanya yang tajam menatap ke arah depan tanpa melihat ke arah sang mama. Amarahnya kali ini sangat memuncak hingga ke ubun-ubun dan Sonia tampak tersenyum tipis melihat itu.
"Zein... kamu bisa mengatakan semuanya pada Mama. Kalau kamu menceritakan semuanya, maka Mama akan tau masalahmu dan Mama bisa membantumu dengan senang hati, Nak." tutur Sonia seraya membujuk Zein yang marah.
"Aku sudah membakar baju itu, Ma!" jawab Zein yang menghentikan larinya di atas Treadmill.
Sonia tampak menyeringai puas tatkala sang putra mengatakan itu. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi dirinya yang sejak kemarin dan hari ini sudah muak dengan tingkah Umar yang selalu membela keponakan kesayangannya itu.
"Aku benar-benar minta maaf, Ma. Saat ini aku sadar kalau aku sudah banyak mengecewakan Mama. Aku tidak mau mendengarkan kata-kata Mama dan karena itulah aku selalu mendapat masalah. Mama benar! Seharusnya aku tidak pergi ke Jogja dan seharusnya aku tidak datang lagi di saat acara pernikahan itu dimulai, maka semua ini tidak akan pernah terjadi. Sekarang aku benar-benar sangat menyesal, Ma. Aku benar-benar minta maaf pada Mama." tutur Zein yang mengungkapkan isi hatinya.
"Tidak apa-apa, Sayang. Mama mengerti sekali perasaanmu saat ini. Sejak kecil kamu selalu seperti ini, Zein." jawab Sonia seraya memeluk erat sang putra kesayangan.
Zein pun membalas pelukan sang mama tak kalah erat, menumpahkan segala kegundahan hatinya yang saat ini penuh dengan penyesalan karena sudah menikah dengan Aliyya. Sungguh penyesalan yang tidak berguna, Zein Abdullah!
"Kamu ingat, waktu kamu kecil. Kamu sangat bandel dan tidak pernah mendengarkan apa yang Mama katakan. Saat itu kamu membawa seekor anak kucing liar, masuk ke dalam rumah ini. Padahal Mama sudah memperingati kamu, kalau kucing itu hanya akan membawa penyakit saja dan Mama akan membelikan anak kucing yang lebih bagus dari itu. Tapi kamu tidak mau mendengarkan Mama, Zein." tutur Sonia seraya berjalan dengan Zein di tepi kolam.
"Iya Ma, aku ingat dengan kenangan itu. Tapi tidak lama kemudian, anak kucing itu hilang dan pergi dari rumah ini, bahkan tidak pernah kembali lagi." timpal Zein yang melihat Sonia.
"Kamu benar, Sayang. Tapi anak kucing itu bukan hilang atau lari, melainkan Mama yang melepaskannya. Lebih tepatnya, Mama sudah membuangnya dan itu semua demi kesehatan kamu, Zein." ujar Sonia seraya mengelus wajah sang putra.
Zein pun terhenyak seketika, berusaha memahami tujuan dari perkataan sang mama. Sementara Sonia hanya menyeringai tipis dan sangking tipisnya, Zein tidak menyadari hal itu.
"Pergilah mandi, Zein. Bersihkan dirimu." ujar Sonia seraya mengelus lembut wajah putranya.
Zein yang terdiam pun tersadar dari lamunan lalu beranjak pergi dan meninggalkan Sonia di tepi kolam. Seringai licik pun kini tampak jelas di wajah wanita paruh baya nan elegan itu. Entah apa yang sedang Sonia pikirkan saat ini sehingga wajahnya tampak menyeramkan bagi siapa pun yang melihatnya.
***
Setelah merasa tenang dan lega, Aliyya pun memilih untuk mengelilingi rumah Umar yang sangat besar seperti istana kerajaan itu. Saat Aliyya tengah berjalan ke arah dapur, ia melihat Bi Sumi yang sedang merapihkan peralatan di sana. Gadis cantik itu pun menghampiri ART paruh baya itu.
"Bi Sumi sedang apa?" ujar Aliyya yang berjalan menghampiri ART paruh baya itu.
"Nona Aliyya... Bibi sedang merapihkan alat dapur yang sudah kotor ini, Non. Non sendiri sedang apa di sini?" jawab Bi Sumi yang menghentikan aktifitasnya.
"Aku hanya ingin melihat kondisi rumah ini saja, Bi. Ternyata rumah Paman sangat besar. Aku sampai bingung harus melewatinya satu per satu." tutur Aliyya seraya mengedar pandangan.
"Kenapa Non Aliyya tidak mengajak Tuan Zein? Dia 'kan suami Non dan dia bisa memberitahu apa saja tentang rumah ini." ujar Bi Sumi seraya meraih tangan Aliyya.
Aliyya pun terdiam, berusaha mengulas senyum di wajahnya pada Bi Sumi dan menutupi apa yang tengah terjadi di antara dirinya dan Zein. Karena sejak awal menikah, hanya dirinya dan Zein lah yang tau apa yang sedang mereka alami saat ini. Sebuah hubungan yang tidak diinginkan namun terjadi di dalam kehidupan keduanya.
"Non... kenapa diam saja? Kalian baik-baik saja 'kan?" ujar Bi Sumi yang membuyarkan Aliyya.
"Ah iya, Bi. Kami baik-baik saja kok. Zein itu pria yang baik dan sangat manis, tapi dia memang sedikit menyebalkan. Mungkin karena dia anak kesayangan Paman ya, Bi." jawab Aliyya seraya tersenyum dan terkekeh kecil bersama Bi Sumi.
__ADS_1
"Non Aliyya bisa saja. Sejak kecil, Tuan Zein itu memang sangat manja dengan Tuan Umar, dan apa pun yang dia inginkan, Tuan Umar pasti selalu memberikannya. Bibi masih teringat saja dengan masa kecil Tuan Zein karena sejak kecil Bibi yang mengasuhnya." tutur Bi Sumi seraya menggenggam tangan Aliyya.
Aliyya pun tertegun dengan penuturan Bi Sumi. Ia baru tau kalau Bi Sumi lah yang merawat dan mengasuh Zein sejak kecil. Pantas saja, Zein terlihat lebih dekat dengan Umar dibandingkan Sonia.
"Bibi sangat bersyukur karena Zein menikah dengan kamu, Nak. Karena Bibi bisa melihat ketulusan di matamu. Bibi sangat yakin kalau pernikahan kalian nantinya akan bahagia. Bibi merasakan sesuatu yang berbeda dari dirimu dan hanya kamu lah yang bisa merubah Zein." tutur Bi Sumi seraya mengelus wajah Aliyya.
"Tapi Bi..."
"Bibi ada sesuatu untukmu. Tunggu sebentar!" potong Bi Sumi yang tiba-tiba teringat sesuatu.
Bi Sumi pun berjalan menuju kamarnya yang tidak jauh dari dapur. Sementara Aliyya hanya memasang ekspresi heran melihat tingkah Bi Sumi. Sebenarnya apa yang ingin Bi Sumi berikan pada Aliyya sampai wajah ART paruh baya itu tampak berbinar senang.
"Ini..."
"Apa ini Bi?"
"Ini adalah anting-anting milik Zein. Saat itu, dia pernah mendapatkan uang yang cukup banyak dari Tuan Umar, lalu dengan uang itu, dia pergi dan ingin membeli mainan. Tapi saat sampai di pasar, anak itu malah membeli anting-anting ini dan memberikannya pada Bibi karena takut ketahuan oleh Nyonya Sonia. Zein meminta Bibi untuk menyimpannya dan dia meminta Bibi untuk memberikan anting-anting ini kepada istrinya kelak." tutur Bi Sumi yang menceritakan masa kecil Zein.
Aliyya tersenyum kikuk saat tangannya meraih anting-anting cantik itu. Entah kenapa setelah mendengar cerita Bi Sumi, seakan menjadi energi penyemangat dirinya untuk menghadapi sikap Zein. Perlahan, emosi yang tadinya tinggi tiba-tiba menguap begitu saja tatkala matanya terus memandangi anting-anting itu.
"Simpanlah anting-anting itu, Nak. Gunakan saja di saat kamu membutuhkan anting itu. Pasti kamu akan terlihat semakin cantik jika kamu memakainya nanti." ujar Bi Sumi seraya mengelus wajah Aliyya.
"Terima kasih Bi..."
Aliyya pun memeluk erat Bi Sumi. Di rumah ini, selain Umar dan Farhan, hanya Bi Sumi yang menerima dirinya masuk ke dalam rumah itu. Walaupun Bi Sumi hanya ART, tapi kasih sayang dan perhatiannya sudah sangat cukup untuk Aliyya.
"Semoga kamu selalu bahagia, Nak." ucap Bi Sumi yang masih memeluk erat tubuh Aliyya.
***
Tidak terasa, hari pun sudah semakin siang. Aliyya yang sempat menjemur pakaiannya kini tampak sedang berjalan masuk ke dalam seraya membawa tas kopernya. Aliyya pun berjalan menaiki tangga, hendak masuk ke dalam kamarnya. Bukan, bukan kamarnya, tapi kamar Zein dan dia hanya menumpang di sana. Sungguh kejam!!!
Saat Aliyya membuka pintu dan hendak masuk, tiba-tiba saja pintu yang tadinya tidak terkunci kini tertutup rapat dan terkunci. Padahal ketika ia mengambil pakaiannya di belakang, pintu kamar itu masih terbuka dan tidak terkunci.
"Apa mungkin Zein yang telah mengunci kamar ini dan ingin mengusir aku? Jahat sekali kamu, Zein!!!"
Aliyya mendadak jadi sendu, tapi rasa kesalnya lebih besar dari kekecewaan di hatinya. Tanpa Aliyya sadari, ada sepasang mata yang tengah memperhatikan gerak-geriknya sejak tadi.
"Ada apa Aliyya?"
Aliyya pun langsung menoleh ke arah sumber suara karena terkejut.
"Mama... pintunya..."
"Kenapa kamu mengunci pintunya Aliyya?"
Ternyata sepasang mata yang memperhatikan Aliyya sejak tadi adalah Sonia.
"Aku tidak mengunci..."
"Di rumah ini tidak ada yang mengunci pintu, Aliyya. Karena itu akan mempersulit pekerjaan para pelayan." potong Sonia dengan cepat.
"Tapi Ma, aku..."
"Pasti Zein lupa memberitahumu kalau di rumah ini tidak perlu mengunci pintu." potong Sonia lagi tanpa memberi peluang bagi Aliyya untuk menjelaskan.
Aliyya pun hanya menghela nafas panjang. Setiap ia ingin menjelaskan tentang pintu itu, Sonia selalu memotong perkataannya.
"Ya sudah, kalau begitu pergilah ke kamar tamu yang ada di lantai bawah. Bawa kopermu itu dan Mama akan mengambil kunci kamar tamu untukmu. Tunggu sebentar ya." ujar Sonia yang meraih bahu Aliyya.
__ADS_1
"Baiklah Ma..."
Aliyya pun beranjak seraya mengangkat tas kopernya yang terlihat sangat berat. Sementara Sonia, wanita paruh baya itu hanya menyeringai licik di belakang Aliyya. Entah apa yang sedang ia lakukan untuk menantunya itu.
"Hari ini aku akan menunjukan padamu, seperti apa posisimu di rumah ini, gadis kampung!!!"
Sonia pun ikut beranjak dan memilih tangga di bagian samping. Sementara itu, Aliyya yang menuruni tangga bagian depan, sudah sampai di depan kamar tamu yang dimaksud oleh sang mama mertua.
"Permisi Pak, bisa kah anda membukakan pintu itu untukku? Aku ingin meletakkan koperku ke dalam kamar ini." ujar Aliyya pada pelayan yang baru saja keluar dari kamar tamu.
"Maaf Nyonya, tapi kamar ini sudah disiapkan untuk tamu Tuan Umar dari luar negeri." jawab pelayan itu seraya menundukan kepalanya.
Aliyya pun terdiam dan bingung harus apa lagi, kamar Zein dikunci dan kamar tamu pun sudah dirapihkan untuk tamu yang akan datang.
"Ya ampun, Mama minta maaf Aliyya. Mama lupa tentang tamu luar negeri itu. Seperti ini saja, kamu pergi keluar dan tunggu di ruang tamu lebih dulu nanti kita akan bicara sebentar." ujar Sonia.
"Baiklah..."
Aliyya pun menuruti perkataan Sonia lagi. Sementara itu, Sonia tampak menyeringai puas melihat keponakan suaminya itu kesulitan. Sepertinya Sonia sengaja mempersulit Aliyya di rumah itu dengan cara mengunci kamar Zein. Ya... semua itu dilakukan oleh Sonia yang ingin membuat Aliyya tidak betah di rumahnya.
Sonia pun mengikuti Aliyya yang sudah duduk di ruang tamu. Sementara gadis cantik itu pun hanya bisa tersenyum tanpa berpikiran buruk pada sang mama mertua.
"Aliyya... kamu tidak bisa duduk di sofa itu, karena sofa itu sudah dibersihkan untuk para tamu yang akan datang." ujar Sonia yang baru datang dan berdiri di samping Aliyya.
Aliyya pun langsung beranjak dari duduknya dan menoleh ke arah Sonia.
"Kalau begitu Mama akan mengantarmu ke tempat istirahatmu. Maksud Mama, ke kamar barumu dan juga kamar Zein." ujar Sonia yang memasang wajah pura-pura baik pada Aliyya.
Aliyya hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu ia mengangkat kopernya lagi. Sementara Sonia langsung menggandeng tangan Aliyya dengan cengkraman tangannya yang kuat. Raut wajah Sonia pun berubah seketika. Guratan kebencian yang terlihat jelas di wajah ibu dua anak itu.
Kedua wanita berbeda generasi itu pun berjalan keluar rumah. Sonia seperti sedang menyeret Aliyya keluar dari rumah itu. Tanpa Aliyya sadari kalau dirinya saat ini tengah diusir secara halus oleh sang mama mertua.
Drrrrtttt!
Ketika mereka sampai tepat di depan gerbang, ponsel Sonia tiba-tiba bergetar dan ia langsung mengangkatnya tanpa menghiraukan Aliyya.
"Hallo... oh iya, apa kabar?" ujar Sonia yang mengangkat telepon entah dari siapa itu.
Aliyya hanya terdiam dan mengikuti Sonia. Sementara Sonia asyik berbicara di telepon.
"Oh iya, berkas itu ada padaku. Iya, semuanya ada di kamarku. Ya sudah, kalau begitu biarkan aku mengambilnya terlebih dahulu." ujar Sonia yang masih berbicara dengan seseorang.
Tanpa memperdulikan Aliyya yang tengah menunggunya sejak tadi, Sonia pun bergegas masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Aliyya di depan gerbang rumahnya dengan kopernya.
"Mama..."
Aliyya pun berusaha memanggil Sonia yang berjalan menuju rumah namun Sonia hanya melambaikan tangannya, seakan meminta Aliyya untuk menunggunya di sana. Dan apa yang terjadi pada Aliyya? Gadis itu hanya bisa pasrah dan menunggu Sonia di depan gerbang. Sementara Sonia, wanita paruh baya sekaligus ibu mertua yang jahat itu tampak menyeringai puas saat berdiri di depan pintu rumahnya dan mematikan ponselnya.
"Selamat menunggu waktu kepergianmu, Aliyya!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All πππ