Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 23 ~ Pedoman Pernikahan


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Aliyya... ada apa Nak? Kenapa kamu datang bersama dengan banyak Polisi seperti ini?"


Umar pun mendekati Aliyya lalu memegangi bahunya untuk memberikan ketenangan dan menjelaskan semuanya. Aliyya yang matanya sudah sembap pun berusaha untuk tenang. Lalu...


"Papa... aku dituduh..."


"Tidak, Pa!!! Biar aku saja yang memberitahu semua orang agar mereka tau siapa gadis itu sebenarnya." potong Zein seraya berjalan.


Dengan tergontai-gontai, Zein berjalan menaiki pelaminan yang telah siap untuk acara resepsi pernikahannya bersama Aliyya hari ini. Lalu....


"Para tamu undangan yang terhormat! Dengar! Hari ini adalah hari di mana acara resepsi pernikahanku dengan gadis itu. Dia adalah keponakan kesayangan papaku dan acara ini dibuat karena aku telah menikah dengannya. Aku minta maaf karena istriku yang cantik itu datang terlambat, tapi itu tidak lah penting. Yang paling penting saat ini adalah, kenapa gadis itu bisa datang terlambat! Alasannya datang terlambat karena, dia telah tertangkap basah mencuri barang mahal di salah satu supermarket yang ada di Jakarta!" tutur Zein yang mabuk dan semakin frustasi sepertinya.


Umar yang mendengar itu pun menoleh ke arah Aliyya. Sementara Aliyya terus memperhatikan Zein yang mabuk dan meracau tanpa henti. Semua orang tampak tidak percaya dengan semua perkataan Zein. Bi Sumi, Farhan dan Rizal juga tercengang mendengar semua itu. Namun Sonia dan Shafia terlihat berbeda karena mereka sangat senang menyaksikan semua ini.


"Dia telah mencuri!" ucap Zein.


"Diamlah Zein!" seru Umar yang mulai geram.


Umar pun merangkul bahu keponakannya dan hendak membawa Aliyya ke tempat lain untuk bicara. Suasana yang semakin tegang karena ulah Zein membuat Aliyya semakin tersudut.


"Jika aku mencintai gadis itu, maka detik ini juga aku akan menulis sebuah tulisan di telapak tanganku!!! Istriku tercinta adalah seorang pencuri barang mewah!" ucap Zein.


"Bisakah kau diam, Zein!!!"


Umar yang sejak tadi hanya bisa diam dan sedikit demi sedikit memberikan penjelasan pada sang putra, kini telah habis kesabaran. Sejak tadi Zein terus meracau dan berbicara buruk tentang Aliyya di depan semua orang, tapi Umar masih bisa menahannya. Namun tidak setelah Zein menghina Aliyya sebagai seorang pencuri. Aliyya pun berjalan hendak mendekati Zein yang masih berdiri di depan pelaminan. Menatap pria itu dengan tatapan penuh harap serta kebencian yang mencapai puncak batasnya.


"Aku tidak mencuri, Zein! Aku bukan pencuri!"


Suara Aliyya yang parau terdengar sangat jelas di telinga semua orang, termasuk Zein. Lalu Zein berjalan mendekati Aliyya dan menariknya kembali mendekati beberapa orang Polisi.


"Katakan pada kami semua, Pak Polisi. Apa yang telah gadis ini lakukan di supermarket." ujar Zein seraya mendorong kasar Aliyya.


"Nona ini tertangkap petugas keamanan, Tuan. Dia telah mencuri salah satu barang di sana dan barang itu ada di dalam tasnya." ujar Polisi yang menjelaskan semuanya.


"Papa dengar itu 'kan? Seperti ini kah menantu yang Papa pilihkan untuk hidup bersamaku dan aku harus menghabiskan waktuku dengannya?" timpal Zein yang masih mabuk berat.


Umar kembali terdiam, berusaha untuk tenang seraya mencari jalan keluar dari masalah ini. Sementara Sonia dan Shafia, kedua wanita berbeda generasi itu terus saja menyeringai puas melihat Aliyya yang menangis. Lalu Umar mendekati Aliyya yang tertunduk sedih karena meratapi nasib pernikahannya dan nasib sang paman yang harus merasakan malu karenanya.


"Aliyya, anakku... apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Umar yang berusaha menguatkan Aliyya.


"Papa... aku benar-benar tidak mencuri apa pun. Aku juga tidak tau kenapa barang mahal itu ada di dalam tasku." jawab Aliyya yang parau.


"Memang apa yang sudah kamu lakukan di sana Aliyya? Bukannya kamu pergi ke salon dengan Namira?" timpal Sonia yang angkat bicara dan pastinya ingin menyudutkan Aliyya.


"Aku memang pergi bersama Kak Namira, Ma. Dan aku ingin membelikan obat untuk Mama." jawab Aliyya yang berusaha menenangkan diri.


"Memang Mama menyuruh kamu membeli obat itu? Mama menyuruh Namira, bukan kamu!" tandas Sonia yang marah dan disengaja.

__ADS_1


"Iya Ma, tapi aku..."


"Lalu di mana Namira sekarang?" potong Sonia yang semakin menyudutkan Aliyya.


"Aku tidak tau, Ma. Tapi aku sudah melihatnya keluar dari supermarket itu." jawab Aliyya yang memang sempat melihat Namira pergi.


"Pa... mana ponselmu?"


Tanpa menunggu jawaban sang suami, Sonia pun langsung mengambil ponselnya di dalam saku lalu menghubungi Namira. Dengan suara speaker ponsel yang dibesarkan, Namira yang masih belum pulang pun tersambung.


"Hallo Namira..." ucap Sonia.


"Hallo Ma..."


"Kamu di mana Namira?" tanya Sonia.


"Aku masih di supermarket, Ma. Aku sedang mencari Aliyya. Sejak tadi aku tidak bisa menemukan Aliyya dan di sini ramai sekali."


Zein yang berdiri tidak jauh dari sang mama pun mendekat lalu mendekatkan wajahnya ke ponsel dengan seringai tajam ke arah Aliyya.


"Pulang saja, Kak. Orang yang Kakak cari sudah sampai di rumah dan dia pulang diantar Polisi." ujar Zein yang melirik Aliyya.


"Iya, Namira. Sebaiknya kamu pulang sekarang." timpal Sonia yang ikut melirik Aliyya.


"Baiklah Ma..."


"Papa dengar 'kan? Lalu Papa pikir, aku tidak mampu mencari gadis yang lebih baik dari keponakan kesayangan Papa ini?" ujar Zein.


Seringai demi seringai terus terukir di wajah Sonia dan Shafia. Misi yang mereka buat untuk menjebak Aliyya di supermarket berhasil. Dan tanpa Aliyya sadari, sosok gadis yang sempat menabrak dirinya saat hendak keluar dari toko obat itu juga hadir di acara itu. Siapa gadis itu sebenarnya? Entahlah, mungkin dia memiliki hubungan dengan salah satu penghuni rumah Umar dan Sonia. Sosok gadis itu pun tampak menyeringai licik dan berlalu pergi mendekati para tamu yang lainnya.


"Sungguh, istri dan menantu yang sangat baik! Tapi hari ini, kamu malah tertangkap basah di supermarket! Memalukan sekali hidupmu itu! Apa ini tujuanmu untuk menikah denganku? Untuk mempermalukan semua keluargaku di depan banyak orang? Kamu gadis yang sangat taat dalam agama, tapi seperti ini kah perilaku yang baik menurutmu itu? Kalau kamu peduli, aku ingin meminta sesuatu darimu. Apakah kamu akan memberikannya untukku?" tandas Zein yang menatap Aliyya dengan kebencian.


Aliyya yang masih menatap racauan suaminya itu pun mengeryitkan dahi karena heran. Begitu pula dengan Sonia yang tampak takut jika Zein meminta sesuatu. Sementara itu, Umar masih tetap bergeming, berdiri di samping Aliyya dan Zein yang masih mabuk bahkan semakin gila.


"Ceraikan aku!!!"


Bagaikan dihujam duri jutaan milyar banyaknya, Aliyya terperangah saat mendengar perkataan Zein yang sangat lantang dan tegas itu. Semua orang tampak terkejut. Bi Sumi, Farhan, Rizal, Umar dan semua tamu undangan yang datang. Semuanya terperangah tapi tidak dengan Sonia, Shafia dan sosok gadis yang menabrak Aliyya di supermarket itu. Ketiga wanita berbeda usia itu tersenyum puas dengan perkataan Zein.


Bulir bening pun lolos begitu saja dari manik cantik Aliyya yang sejak tadi menatap nanar sang suami. Sementara Zein juga masih menatap sang istri dengan penuh amarah dan rasa benci yang teramat besar. Kedua mata mereka saling menatap dan berkaca-kaca, tapi semua itu bukan karena rasa cinta, melainkan karena benci dan kecewa. Ikatan persaudaraan yang seharusnya tidak retak karena ini, justru malah semakin hancur dan disaksikan semua orang. Betapa sakitnya hati Aliyya yang sejak awal sudah menjadi korban dari pernikahan ini. Sungguh kasihan!


"Zein!!!" seru Umar yang menoleh ke arah Zein.


"Aku benar-benar ingin bercerai, Pa. Lepaskan aku dari gadis itu! Aku sudah muak dan tidak tahan lagi! Aku ingin bercerai!!!" tandas Zein.


Bruk!


Zein yang mabuk dan meracau sejak tadi pun akhirnya tumbang. Pria tampan itu pingsan setelah mengatakan semua isi hatinya di depan banyak orang. Melihat sang adik yang pingsan, Farhan pun bergegas membawa Zein ke kamar dan dibantu oleh Rizal. Aliyya yang melihat pun hanya bisa terdiam. Gadis itu masih terkejut dan syok dengan permintaan suaminya yang tengah mabuk berat itu.


"Aku akan bicara lagi dengan anda nanti, Pak Polisi." ujar Umar tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


"Baiklah Tuan..."


Para Polisi yang datang bersama dengan Aliyya pun beranjak pergi. Mereka cukup mengerti dengan situasi sulit yang sedang dialami sang pemilik rumah besar itu, maka dari itu mereka pergi dan memilih menunggu Umar nanti.


"Sebagai kepala keluarga di rumah ini, saya benar-benar minta maaf atas apa yang telah terjadi. Dengan sangat terpaksa, saya meminta kalian untuk pergi dari sini. Saya minta maaf dan memohon. Pergilah!!!" tutur Umar yang masih tertunduk malu tanpa melihat siapa pun.


Umar yang masih tertunduk pun berlenggang pergi meninggalkan acara yang sudah hancur itu tanpa melihat Aliyya. Perlahan, para tamu undangan pun juga berangsur pergi. Setelah semua orang pergi, Sonia yang masih berdiri di samping Aliyya pun menatapnya dengan tajam dan penuh rasa benci. Lalu Sonia yang benci sekaligus puas dengan kejadian ini beranjak dan pergi menyusul Umar.


Kini, hanya Aliyya yang masih terpaku di ruang tamu. Air mata kesedihan, kekecewaan serta kebencian yang mendalam terus mengalir di wajahnya. Jika hari pernikahannya adalah hari yang sangat buruk baginya, maka hari ini pun sama bahkan melebihi hari pernikahan. Rasa malu dan kecewa di hatinya tidak bisa bohong. Tapi seorang Aliyya bisa apa untuk sekarang? Ia hanya manusia biasa yang sedang mendapat ujian bertubi-tubi dalam pernikahannya.


Lama Aliyya termenung di ruang tamu. Dengan langkah yang teramat sangat berat, ia berusaha untuk tetap berjalan menuju kamar Zein. Ya, itu hanya kamar Zein, bukan kamarnya atau kamar keduanya. Hanya milik Zein! Seperti itulah yang Zein katakan terus-terusan hingga terngiang di telinga Aliyya.


Aliyya pun masuk ke dalam kamar Zein. Rasa lelah karena tuduhan, bukan hanya tubuh yang merasakan lelah, tapi juga hati dan pikirannya. Apalagi saat matanya perlahan menoleh ke arah tempat tidur, di mana Zein terbaring dan tertidur pulas karena pengaruh minuman keras.


Bruk!


Aliyya tersimpuh lemah di kaki tempat tidur dan menangis sesegukan. Masalah demi masalah datang beriringan dan membuatnya lupa kalau bulan sudah menggantikan tugas matahari. Aliyya benar-benar terlihat rapuh kali ini. Rapuh bukan hanya karena pernikahannya yang jauh dari kata bahagia dengan seorang pria seperti Zein, melainkan rapuh karena telah membuat nama baik sang paman tercoreng di hadapan semua orang. Tidak terpikirkan olehnya untuk melakukan hal itu, tapi kenapa hal seperti ini bisa terjadi di saat acara resepsi? Kata-kata Zein yang sangat menyakitkan pun terngiang lagi di telinga Aliyya dan membuatnya terdiam.


Aliyya tampak termenung jauh menerawang, berusaha memahami semua yang terlanjur terjadi di dalam kehidupan dirinya saat ini. Saat Aliyya tengah termenung, tiba-tiba ia teringat dengan pesan sang ibu yang sempat memberi nasihat untuknya sebelum sarapan bersama dan berangkat ke Jakarta hari itu.


Apa pun masalahmu nanti, bacalah Al-Qur'an ini, Sayang. Baca dan pahami isi yang ada di dalamnya. Maka setiap masalah yang sedang kamu lalui, pasti akan menemukan jalan keluar. Saat kamu tidak memahami sesuatu, maka hanya di dalam sinilah jawaban yang dapat kamu temukan atas semua masalahmu itu.


Itulah salah satu nasihat Sabrina untuk sang putri sebelum pergi meninggalkan Jogja dan menempuh hidup baru di rumah suaminya. Setelah lama termenung dan merasa lebih tenang, Aliyya pun beranjak dan memilih untuk sholat terlebih dahulu sebelum tidur. Dengan khusyuk dan hikmat, Aliyya melaksanakan sholat wajib dan membaca Al-Qur'an setelah itu.


Setelah lama berdo'a dan mengaji, Aliyya pun beranjak dan berjalan mendekati Zein yang sudah berada di alam mimpi indahnya. Lalu, dengan penuh ketenangan hati, ia menarik selimut dan menyelimuti tubuh sang suami. Senyum tipis dan manis pun terukir di wajah cantiknya. Walaupun hatinya sangat sakit karena Zein, tapi Aliyya sangat dewasa dan bisa berpikir jernih untuk melakukan sesuatu.


Saat Aliyya tengah termenung dan menatapi wajah Zein yang terlelap, tiba-tiba satu pesan dan nasihat dari sang ibu kembali terngiang di telinganya.


Dalam pernikahan, menunduk itu bukanlah sebuah jawaban dari sebuah masalah. Kita sebagai wanita tidak harus selalu menunduk karena menunduk itu perbudakan, bukan hubungan. Di dalam hubungan rumah tangga tidak ada yang namanya perbudakan karena hubungan rumah tangga itu kebersamaan. Kamu dan suamimu kelak harus selalu bersama, mengarungi bahtera rumah tangga dan sebagai wanita, kita harus berhati-hati. Karena sedikit saja kesalahan yang dilakukan akan membuat keluarga dari pihak wanita itu malu yang berkepanjangan. Jadi menunduk bukan jawabannya.


Aliyya tersenyum tatkala teringat dengan nasihat sang ibu. Nasihat yang dikatakan Sabrina jauh sebelum Aliyya menikah dan semua itu kembali terngiang di telinganya. Rasa rindu pun ikut menyelimuti hati Aliyya yang lembut dan tulus itu.


Dalam sebuah pernikahan, kita harus mampu menulis kisah pernikahan kita sendiri. Karena hanya orang yang terlibat dalam pernikahan itulah yang bisa menjelaskan dan merasakan semuanya. Terutama, kamu harus bisa melihat diri suamimu dan juga dirimu sendiri. Lihat bagaimana kelemahan suamimu dan kebaikan yang ada di dalam dirinya. Setelah itu, baru kamu putuskan bagaimana kisah pernikahan itu akan berjalan. Kamu harus bisa menulis kisah pernikahanmu sendiri, Aliyya.


Aliyya pun beranjak setelah teringat dengan semua nasihat sang ibu. Nasihat itu seakan menjadi kekuatan baru untuk seorang Aliyya. Air matanya pun sudah berhenti mengalir dan kering. Senyum manis yang tadinya terukir indah di bibir tipis miliknya itu, kini berubah menjadi seringai tajam yang disertai dengan sorot mata tajamnya terhadap Zein.


"Tidurlah yang nyenyak, Zein! Karena mulai besok pagi dan seterusnya, kamu harus bersiap dengan kisah pernikahan kita yang akan aku tulis sendiri! Istrimu, Aliyya Zein Abdullah, bukan lagi Aliyya yang lemah!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2