Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Cinta Yang Menyakitkan


__ADS_3

Begitu mendengar sahabatnya menyebut nama Alex, Vania langsung ikut melihat ke arah yang sama.


"Itu Kak Alex, lagi nungguin Kak Sabrina," ucap Riana.


"Kak Sabrina ternyata model fashion disini," cetus Vina.


Vania menatap Alex dari jauh, rasanya hatinya terbakar. Rasanya seluruh badannya menjadi panas, seolah telah mendidih. Tak tahan melihat dengan apa yang dilihatnya, Vania mengajak sahabatnya menjauh dari Alex.


"Kita cari baju disana saja," ucapnya sambil menunjuk ke arah berlawanan.


Ketiga sahabatnya mengikutinya tanpa curiga.


"Jadi wanita ular itu model di E.R Department Store, ternyata dunia begitu sempit," ucap Vania sambil terkekeh dalam hati.


"Vania kok malah melamun sih?" tanya Tiara.


"Aku tidak melamun. Hanya sedang memikirkan sesuatu. Kalian pilih saja suka-suka, biar aku yang bayar," jawab Vania.


Mereka sedang asyik memilih dress yang lucu-lucu, Manager toko menghampiri Vania.

__ADS_1


"Selamat datang Nona Vania, apa perlu saya panggilkan Nyonya Renata?" tanya Manager itu.


"Tidak perlu, sejak kapan Sabrina menjadi model fashion kita?" tanya Vania lirih, agar sahabatnya tak mendengar pembicaraannya.


"Baru 1 bulan Nona. Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" tanyanya lagi.


"Kembalilah bekerja, aku akan menemani teman-temanku." Vania pun kembali mengikuti sahabatnya.


Vania kembali bersama teman-temannya, mereka mulai mencoba beberapa pakaian. Kebersamaan keempat sahabat itu benar- benar membuat iri, bagi mereka yang menatapnya.


Setelah lelah berkeliling ke sana kemari, akhirnya saat sore Vania memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Baru sampai ruang tamu, sudah mendapatkan sambutan yang sangat tidak menyenangkan.


"Darimana saja kamu, jam segini baru pulang?," tanya Alex ketus.


" Kamu itu jangan suka main sembarangan, sekarang kamu istriku. Kamu itu tanggung jawabku." Alex terlihat kesal.


"Sudahlah Kak, aku capek. Tak perlu sok-sokan menjadi suami beneran. Kak Alex saja sama Sabrina, aku tak mengusiknya juga." jawab Vania sambil berlalu meninggalkan Alex.


Alex menatap kepergian Vania memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Darimana Vania tahu tadi aku sama Sabrina? Bukankah tadi dia ada kelas?" gumamnya.


Alex menyusul Vania ke kamarnya, namun istrinya itu tak terlihat. Terdengar suara air mengalir di kamar mandi. Alex pun menunggu Vania selesai mandi. Vania keluar dengan baju tidurnya.


"Kamu tak makan dulu?" tanya Alex pada Vania yang tidur membelakanginya.


"Aku tidak lapar," jawabnya ketus.


"Vania apa kamu marah denganku?" tanyanya.


"Bagaimana aku tak marah, kamu bermesraan dengan kekasihmu dihadapanku. Aku ini perempuan yang tadi kau sebut sebagai istrimu." Mata Vania terlihat berkaca-kaca.


"Kapan aku bermesraan di hadapanmu?" Alex pun sedikit bingung.


"Kalau Kakak memang tidak mencintaiku, paling tidak hargailah perasaanku." Vania segera keluar dari kamarnya, sebelum Alex melihat air matanya.


Vania duduk di teras samping rumahnya, dia menangisi dirinya sendiri. Selama bertahun-tahun dia mencintai Alex, dia selalu bahagia jika mengingat kenangan bersamanya. Namun sekarang, baru sehari Vania menjadi istri Alex ternyata rasanya sesakit ini. Mencintai tanpa dicintai, begitu menyesakan dada. Alex menatap Vania dari belakang pintu, dadanya menjadi sesak mendengar tangisan Vania. Ingin rasanya Alex memeluk cinta pertamanya itu. Namun rasanya dia tak sanggup, melangkahkan kakinya menghampiri istrinya itu.


Alex mulai memikirkan tentang perasaannya. Kalau dia mencintai Sabrina, lalu perasaan apa yang dirasakannya untuk Vania. Ketika Vania tersenyum dia bahagia melihatnya. Saat Vania menangis, rasanya sesak di dadanya. Ketika Vania terluka, ingin rasanya dia memeluknya.

__ADS_1


Mungkinkah rasa cinta di masa kecilnya, berubah menjadi cinta yang sebenarnya?


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading


__ADS_2