
Malam ini beberapa model dan ketiga sahabat Vania mendatangi sebuah butik. Mereka semua akan mencoba gaun, yang akan dipakai untuk menjadi Bridesmaids di pesta pernikahan Alex dan Vania. Setelah semua mencoba dress, pegawai butik mengatakan masih ada seorang yang belum hadir. Sudah menunggu 30 menit, namun orang yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya satu persatu mereka meninggalkan butik itu.
Di tempat parkir Vina tak sengaja melihat Sabrina memasuki butik. "Bukankah itu Sabrina!" ucap Vina pada kedua sahabatnya.
Tiara dan Riana langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vina. "Untuk apa Sabrina mendatangi butik itu juga?" tanya Tiara penasaran.
"Mungkinkah dia adalah orang yang kita tunggu tadi?" Tiara semakin penasaran.
Ketiga sahabat itu saling memandang, banyak pertanyaan tersirat dalam sorotan mata mereka.
"Besok kita tanya langsung pada Vania," kata Vina sambil masuk ke dalam mobilnya.
Pagi hari di kampus, ketiga sahabat Vania sudah tidak sabar menanyakan apa yang sudah dilihatnya kemarin. Mereka bertiga menunggu Vania di taman dekat tempat parkir. Tak berapa lama terlihat Vania turun dari mobil Alex.
"Vania!" teriak Vina sambil melambaikan tangannya.
Setelah berpamitan dengan suaminya, Vania langsung menghampiri sahabatnya.
"Jangan berteriak seperti itu, bikin malu saja," gerutu Vania.
"Sorry. Aku sudah tak sabar ingin bertanya padamu," jelas Vina.
Vania sedikit penasaran dengan pertanyaan Vina yang membuat sahabatnya menjadi tidak sabar. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanyanya.
"Kemarin kami bertiga melihat Sabrina juga datang ke butik itu. Apa dia juga menjadi Bridesmaids di pesta pernikahanmu?" tanya Vina.
"Mungkin saja itu hanya sebuah kebetulan," jawab Vania sedikit ragu.
Walaupun Vania terlihat tenang, sebenarnya dia juga sangat penasaran. Dalam keresahan hatinya, Vania menelepon Alex. Dia meminta Alex menjemputnya di kantor Renata. Sepulang kuliah, Vania mendatangi kantor Renata menaiki taksi.
Seluruh karyawan menyambut kedatangan Vania dengan ramah. "Apa Mama ada di kantornya?" tanya Vania pada Manager toko.
"Presdir ada di ruangannya. Mari saya antar," jawab Manager itu.
__ADS_1
Vania sudah berada di ruangan Renata. Wanita itu sedang sibuk dengan kertas-kertas di atas mejanya.
"Boleh Vania masuk?" tanya Vania sedikit membuka pintu ruangan itu.
"Masuklah!" seru Renata.
Vania masuk dan melihat-lihat isi ruangan itu. "Sepertinya Mama sangat sibuk. Apa Vania mengganggu?" tanyanya.
Renata menaruh berkas ditangannya, lalu berjalan menghampiri anaknya. "Apa yang sudah mengganggumu, hingga kamu menemui Mama?" tanya Renata.
"Vania tentu saja sangat merindukan Mama," ucapnya sambil memeluk Renata.
"Jangan mencoba membohongi Mamamu. Mama sangat mengenalmu!" balas Renata sedikit kesal.
Vania akhirnya menyerah, dia memang tak pandai dalam berbohong. "Apa Mama meminta Sabrina menjadi Bridesmaids di pernikahan Vania?" tanyanya.
Renata sedikit tersenyum menatap anaknya itu. "Itu hanya sedikit pelajaran untuknya," jawabnya dingin.
"Maksud Mama?" Vania semakin penasaran dengan rencana Renata.
"Bukankah saat gladi bersih kita akan bertemu?" ucap Vania.
"Kalian akan melakukan gladi bersih di waktu yang berbeda," jelas Renata.
Vania tersenyum senang dengan rencana Renata. Ternyata Mamanya jauh lebih kejam daripada dirinya. Setelah mendapatkan pesan dari Alex, yang sudah menunggunya di luar. Vania pun pamit dengan wajah berbinar dan hati yang gembira. Seperti seorang anak yang mendapatkan mainan baru.
Dari kejauhan, Alex menatap wajah Vania yang terlihat sangat senang. Lelaki itu menjadi penasaran, apa yang membuat istrinya semakin bahagia. Vania langsung memasuki mobil, dan duduk di kursi penumpang.
"Sayang. Apa yang membuatmu begitu bahagia?" tanya Alex sangat penasaran.
"Apakah sangat terlihat? Rencana pesta pernikahan kita ternyata sangat sempurna. Aku sangat menyukai usulan Mama Renata," jawab Vania dengan senyuman.
Alex pun melirik Vania sekilas, dia begitu heran dengan sikap Vania. Kemarin Vania sangat menolak pesta pernikahannya, tapi sekarang Vania terlihat sangat bahagia menyambutnya. Hal itu terasa aneh bagi Alex.
__ADS_1
"Kak! Kita mampir ke restoran sebentar ya. Aku akan membeli makan malam kita," ajak Vania.
"Bukankah ada pelayan yang memasak?" tanya Alex.
"Mereka semua ijin pulang kampung. Jadi kita hanya berdua saja di rumah," jawab Vania.
Alex mendadak tersenyum tanpa alasan. Entah apa yang membuatnya tersenyum tanpa ada yang lucu. Vania memandang aneh Alex. Vania jadi penasaran, apa yang membuat suaminya begitu cepat merubah moodnya.
Setelah membeli beberapa makanan, mereka berdua langsung pulang. Sampai di rumah, suasana sangat sepi. Tak ada kehidupan lain selain mereka berdua. Alex melihat Vania yang menaruh makanan di atas meja. Dia pun langsung memeluk tubuh Vania dari belakang.
"Kak! Lepas dong! Vania mau menyiapkan makan malam," ucap Vania karena risih.
Bukannya melepaskan Alex justru mencium leher Vania, untuk menggodanya. Vania membalikkan badannya, lalu mencubit perut Alex sambil mengecup bibirnya.
"Sakit Sayang!" protes Alex.
Vania kembali mengecup bibir Alex. "Jadi begini sakit?" balas Vania.
Vania langsung berjalan menuju kamarnya. Tanpa menoleh ke arah suaminya.
"Yang sakit cubitannya Sayang. Kalau ciumannya pasti sangat nikmat," ucap Alex sambil mengejar Vania.
Vania justru membersihkan kamarnya, tanpa peduli Alex yang merajuk di dekatnya. Dia mulai mengganti seprei dan juga ingin mengganti gorden kamarnya. Vania menarik sebuah meja untuk membantunya melepaskan gorden yang lumayan tinggi. Vania menaiki meja, dan melepaskan gorden satu persatu.
Alex malah tiduran di ranjang tanpa dosa. Saat Vania berdiri di atas meja, terlihat sangat jelas kaki Vania yang sangat indah. Belum lagi Vania hanya mengenakan dress pendek di atas lutut. Alex dibuat susah payah menahan hasratnya. " Sayang! Apa kamu sengaja menggodaku dengan berdiri di meja itu?" tanyanya.
Vania tak menjawab pertanyaan itu. Dia masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya. Karena tak mendapatkan jawaban, Alex justru menghampiri Vania dan berdiri di sampingnya. Lelaki itu malah menggoda Vania dengan membelai kakinya. Perempuan itu semakin kesal dan menendang pelan Alex. "Dasar Suami tidak pengertian," gerutu Vania.
Alex hampir saja terjengkang ke lantai. Untung saja dia mampu menahan tubuhnya. Melihat Vania menggerutu, lelaki itu akhirnya ikut naik meja untuk membantunya.
"Wajahmu yang cemberut semakin terlihat sexy," goda Alex sambil berdiri di atas meja bersama Vania.
"Biar aku yang memasangnya. Tapi tetaplah disini," bisik Alex.
__ADS_1
Vania membalikkan badannya, mereka berdua menjadi saling berhadapan. Alex mulai memasang gorden yang baru, yang kebetulan sedikit tinggi. Dalam posisi seperti itu, hati Vania menjadi bergejolak tak berarah. Setiap kali Alex berjinjit, wajah Vania menjadi menempel di dada Alex. Bahkan Vania bisa mendengar suara detak jantung suaminya itu. Jantung Vania seakan berlomba dengan degupan jantung Alex. Begitu indah jika harus dibayangkan.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰