
Pagi ini Alex yang mengantar dan menjemput Vania ke kampusnya. Kebetulan jadwal shift Alex, ditukar oleh seorang dokter yang lebih senior dari dirinya. Dokter itu beralasan akan ada acara keluarga di rumahnya. Mau tak mau, Alex pun menyetujuinya.
Begitu hari sudah siang, Alex kembali mendatangi kampus istrinya. Dia menunggu Vania di bangku bawah pohon dekat tempat parkir. Terlihat dari kejauhan Vania dan ketiga sahabatnya, berjalan mendekati Alex. Vania langsung berbinar begitu melihat suaminya sudah menunggu. Wanita itu langsung berjalan cepat, menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya. "Apakah Mas Alex sudah lama menunggu ku?" tanya Vania.
Alex tersenyum sambil menatapnya. "Aku juga baru saja datang," jawabnya.
Kemudian Vania pamit kepada ketiga sahabatnya, lalu masuk kedalam mobilnya. Alex pun langsung membawa Vania pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, mereka berdua menghabiskan makan siang bersama. Setelah itu mereka duduk-duduk di teras samping rumahnya. Vania begitu menikmati waktu kebersamaannya dengan Alex, dia tak dapat membayangkan perasaannya sangat bahagia.
"Sayang, apakah kamu jadi ke pesta ulang tahun temanmu?" tanya Alex pada istrinya.
"Nanti malam Vina akan menjemputku ke sini, aku akan berangkat bersama ketiga sahabatku," jawab Vania dengan nada yang lembut dan wajah yang yang penuh dengan senyuman hangat. Vania pun menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. Dia merasakan kenyamanan di dalam hatinya. "Jam berapa Kak Alex akan berangkat ke rumah sakit?" tanyanya.
"Masih jam 3 sore. Baiklah, ayo kita istirahat sebentar. Masih da waktu 2 jam, sebelum aku berangkat ke rumah sakit," jawab Alex dengan senyuman.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, lalu ke kamarnya. Vania terbaring, dengan tangan Alex sebagai bantalnya. Wanita itu merasakan kenyamanan, ketika suaminya itu memeluknya. Ada rasa bahagia, tenang, dan damai dalam hatinya. wanita itu sangat menyukai aroma tubuh suaminya, aroma tubuh yang membuat hatinya selalu nyaman. Beberapa saat kemudian, mereka berdua sudah tertidur lelap. Terbuai dalam mimpi yang indah.
Satu jam kemudian, Alex terbangun dari tidurnya. Dia lalu bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Melihat istrinya yang masih terlelap, Alex Tak tega untuk membangunkannya. Dia pun hanya mengecup keningnya, lalu berangkat ke rumah sakit. Dalam hatinya, Alex tak tega meninggalkan istrinya sendirian. Namun apapun alasannya, dia harus menjalankan kewajibannya, sebagai dokter magang di rumah sakit milik keluarganya.
Kemudian ketika hari menjelang sore, Vania terbangun dan tak mendapati Alex di sampingnya. Wanita itu lalu berjalan keluar dari kamarnya. "Bik. Mas Alex tadi berangkat jam berapa?" tanyanya pada Bik Imah.
__ADS_1
"Jam setengah 3, Non," jawab wanita paruh baya itu dengan ramah. Bik Imah kemudian melanjutkan pekerjaan rumahnya.
Vania langsung mandi, dan bersiap untuk pergi ke rumah Dion. Vania memberikan pulasan make up tipis yang natural, dengan balutan dress hitam panjang. Vania terlihat sangat cantik dan elegan. Wanita itu duduk di kursi ruang tamu, sambil menunggu ketiga sahabatnya.
Tak berapa lama, Vina datang dengan dua sahabat lainnya. Mereka sudah bersiap untuk berangkat menuju pesta Dion. Vania pun langsung berjalan memasuki mobil Vina. Dia duduk di kursi belakang dengan Riana, sedangkan Tiara duduk di samping Vina.
"Vania kamu cantik sekali, kamu sangat cocok dengan gaun itu," puji Riana sambil menatap Vania.
Vania tersipu malu mendengarkan pujian dari sahabatnya, dia pun tersenyum lalu menatap Riana. "Ah kamu bisa aja. Aku merasa biasa-biasa saja," balasnya jangan senyuman lembut.
Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di rumah Dion. Sebuah rumah yang lumayan besar, terlihat megah dengan halaman yang cukup luas. Suasana rumah itu terlihat sudah sangat ramai, terlihat beberapa teman kampus juga ada yang hadir.
Vania membalas dengan sebuah senyuman yang manis. "Apa kabar Kak Dennis? Lama kita tidak bertemu," balas Vania dengan sangat sopan.
Dennis pun mengantarkan mereka ke acara pesta itu berlangsung. Sebuah halaman belakang yang luas, disulap menjadi sebuah tempat pesta dengan konsep garden party terlihat sangat indah dan menarik. "Selamat menikmati acara pestanya," ucap Dennis.
Kemudian mereka berempat menghampiri Dion, yang sedang mengobrol dengan teman-teman lainnya. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun dan memberikan sebuah kado kecil untuk Dion. Lelaki itu pun mengucapkan rasa terima kasihnya, atas kedatangan teman-temannya dan juga kado yang telah diberikan oleh mereka. "Vania kamu sudah bertemu Kak Denis? Dari tadi dia sudah menunggumu," ujar Dion sambil tersenyum.
"Kami sudah bertemu dengan Kak Dennis tadi di depan," jawabnya dengan senyuman yang sedikit aneh.
__ADS_1
Vina pun menarik Vania untuk menjauh dari Dion. "Apa hubunganmu dengan kakaknya Dion?" tanyanya sangat penasaran. Vina terlalu penasaran dengan hubungan sahabatnya itu, dengan kakak teman kampusnya.
Vania menatap Vina dengan senyuman lembut, sambil menghela nafasnya. "Aku dan Kak Dennis tidak ada hubungan apa-apa. Dia hanya pernah menolongku sekali, ketika mobilku sedang mogok. Aku juga tidak sedekat itu," jelas Vania kepada sahabatnya.
Mereka berempat menikmati hidangan pesta yang sudah disajikan. Mereka sengaja tidak berbaur dengan tamu-tamu yang lain. Hanya duduk di meja paling sudut di halaman itu. Tak berapa lama, seseorang yang tidak diduga juga hadir dalam pesta itu. Semua mata tertuju pada wanita yang baru saja datang itu.
"Vania! Bukankah itu Sabrina?" tanya Riana sambil menatap ke arah Sabrina datang.
Wajah Vania berubah kesal, dia merasa tidak nyaman dengan kedatangan wanita itu. Wanita yang selalu mengusik hubungannya dengan suaminya. Sabrina adalah mantan kekasih suaminya. Vania pun bangkit dari tempat duduknya, bermaksud untuk segera pulang saat. Dia mulai melangkah ke arah pintu keluar. Tiba-tiba saja wanita itu itu datang menghampirinya. "Wanita murahan! Untuk apa kamu datang ke pesta ini?" tanya Sabrina dengan angkuh dan wajah yang sangat sinis.
Mendengar ucapan kasar dari Sabrina, Vania tidak bisa diam saja. Dia pun menatap dingin pada wajah Sabrina. "Sebenarnya, siapa yang lebih murahan di sini? Bukankah kamu yang selalu tidur dengan pengusaha-pengusaha itu?" balas Vania dengan nada sedikit kasar.
Wajah Sabrina memucat seketika. Aura kemarahan memancar dalam sinar matanya. "Wanita sialan! Aku akan membalasmu!" ancam Sabrina sambil menatap Vania dalam amarah yang memuncak.
Vania langsung pergi dari pesta itu, diikuti oleh ketiga sahabatnya. "Vania. apakah kamu baik-baik saja?" tanya Vina dengan wajah yang sangat cemas.
"Kalian tenang saja, aku tak selemah itu. Aku diam bukan berarti aku takut, aku hanya ingin menjaga harga diriku sendiri," jawabnya dengan senyuman yang sedikit dipaksakan.
Vani sedikit heran dengan takdirnya. Mengapa takdir selalu mempertemukannya dengan Sabrina? Seakan dimanapun dia melangkah, Sabrina selalu saja di dekatnya. entah itu takdir atau kebetulan, rasanya sama saja bagi Vania.
__ADS_1
Jangan lupa Love Vote dan komentarnya Happy Reading🥰🥰