Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Tak Mungkin Bangkit


__ADS_3

Begitu berita skandal tentang dirinya mulai menyebar, apartemen Sabrina selalu diintai oleh para wartawan. Dia terlalu malu dan tak memiliki rupa untuk menampakkan dirinya. Sudah 2 hari sejak skandalnya terkuak, Sabrina belum keluar dari apartemenya. Di hari ketiga, dengan mode penyamaran, diam-diam wanita itu meninggalkan kediamannya. Dengan menggunakan taksi, Sabrina menuju kantor agensi yang menaunginya. Baru sampai depan kantor, beberapa wartawan sudah berjaga di depan pintu masuk.


"Sial! Aku harus menyembunyikan wajahku gara-gara ulah perempuan murahan itu," gerutu Sabrina sambil berjalan lewat pintu belakang kantor agensi.


Wanita itu berjalan melewati kekacauan di dalam kantor. Para karyawan sudah kalang kabut melayani pertanyaan wartawan. Tanpa banyak menyapa, Sabrina menaiki tangga kantor menuju ruangan pemilik agensi. Kebetulan sekali lelaki itu masih ada di ruangannya. "Om Frans!" teriak Sabrina sambil memeluk lelaki yang sedang sibuk menerima panggilan telepon.


"Sabrina! Bagaimana kamu bisa masuk ke sini?" tanyanya penasaran.


Sabrina duduk di pangkuan Frans, sesekali wanita itu membelai wajah lelaki di hadapannya itu. "Aku menyamar dan masuk lewat pintu belakang," jawabnya dengan tatapan menggoda. Beberapa saat kemudian, Sabrina menempelkan bibirnya di bibir Frans. Mereka pun berciuman penuh hasrat, saling membalas dengan gairah yang semakin memuncak.


Frans tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia membuat Sabrina duduk di pangkuannya saling berhadapan. Lelaki itu menjelajahi seluruh bagian tubuh Sabrina dengan lembut, membuat wanita itu mendesah merasakan sentuhan Frans. Tak cukup sampai di situ, Frans membuka seluruh kain yang menutupi tubuh Sabrina, tanpa peduli dengan orang-orang di luar ruangan itu. Mereka berdua melewati saat-saat mendebarkan dan menggairahkan yang penuh dengan jeritan kenikmatan. Seluruh ruangan dipenuhi oleh desahan sexy dari mulut Sabrina serta deru nafas Frans yang menggebu.


Selesai dengan percintaan mereka, Sabrina dan Frans langsung merapikan pakaian mereka. Kemudian membasuh wajah penuh keringat karena permainan panas mereka. Setelah itu, Sabrina membaringkan tubuhnya di sofa ruangan itu. "Om Frans! Kamu harus membantuku membersihkan namaku," ucapnya sambil menatap lelaki yang sedang memasang kancing kemejanya.


Frans menghampiri Sabrina dan duduk di sampingnya. Lelaki itu membelai lembut wajah Sabrina, sesekali mempermainkan bibir wanita itu. "Untuk sementara, kamu harus sembunyi dulu. Aku tak bisa melawan skandal ini. Sebenarnya, siapa yang sudah kamu ganggu rumah tangganya? Sepertinya dia bukan orang biasa," ujarnya dengan tatapan serius.


"Jadi Om Frans tak bisa membantuku. Aku harus membiarkan karirku hancur?" seru Sabrina dengan kemarahan yang meledak-ledak.


Frans mencoba menenangkan Sabrina, lelaki itu memeluknya. "Tenanglah! Karirmu sudah tak mungkin bangkit lagi. Sepertinya seseorang sudah memblokir aksesmu untuk bangkit," jelasnya dengan lembut.

__ADS_1


"Apa! Karirku benar-benar hancur? Aku akan membunuh perempuan murahan itu. Percuma aku selalu memuaskan Om Frans, kalau masalah kecil ini saja tak bisa Om selesaikan!" Sabrina keluar sambil membanting pintu ruangan Frans.


Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah wanita yang selama ini selalu memuaskan hasratnya di mana pun. Sabrina selalu menuruti keinginan Frans, asalkan karirnya terus meningkat ke puncak. Sekarang, wanita itu benar-benar telah kehilangan segalanya. Hanya rasa malu yang diterimanya.


Sabrina kembali keluar lewat pintu belakang. Setelah taksi yang dipanggilnya datang, wanita itu langsung menuju rumah kerabatnya. Dia tak ingin terjebak di apartemennya. Sampailah Sabrina di sebuah rumah mewah dan juga besar. Wanita itu langsung masuk setelah pintu dibuka oleh penjaga rumah itu. "Kakak ada?" tanyanya pada penjaga rumah.


"Tuan Muda ada di dalam semua, Nona," jawabnya.


Sabrina langsung berjalan menuju ke dalam rumah. Dia langsung memeluk lelaki yang sedang berdiri di depan kolam ikan itu. "Kak Dennis! Tolonglah aku! Aku sudah kehilangan segalanya," rengek wanita itu dengan manja.


"Apa maksudmu, Sabrina? Bukankah kamu bilang mendapatkan kontrak ratusan juta?" tanya Dennis sambil menatap wanita di depannya.


"Jangan macam-macam kamu, Sabrina! Siapa sebenarnya mantan kekasihmu itu?" tanya Dennis dengan tatapan penuh kecemasan.


Sabrina tersenyum menyeringai, tatapan matanya penuh kebencian. "Dia Alex, pewaris tunggal rumah sakit tempat Kak Dennis bekerja," jawabnya.


"Apa! Jangan gila kamu! Kamu bisa hancur jika menyinggung keluarga itu," ucap Dennis dengan cemas.


Sabrina bangkit dari sofa lalu berjalan mendekati Dennis. Wanita itu mengambil beberapa makanan untuk ikan lalu menaburkannya di kolam. "Mama mertua Alex bahkan lebih sadis dari mereka. Dia yang menghancurkan karirku dan membuatku tak mungkin bangkit lagi," keluhnya dengan tatapan menyedihkan.

__ADS_1


Dennis memandangi sepupunya itu dengan rasa iba. Sepertinya Sabrina telah melawan orang yang salah. Lelaki itu terlalu kasihan melihat Sabrina, namun dia tak tahu harus membantunya seperti apa. "Di mana kamu sekarang tinggal?" tanyanya sambil menatap wanita itu.


"Ijinkan aku tinggal di rumah ini untuk sementara waktu. Seluruh wartawan mendatangi apartemenku. Aku serasa terpenjara di sana," jelas Sabrina.


Dennis mengantar Sabrina ke sebuah kamar kosong di rumahnya. Dia menyuruh Sabrina membersihkan dirinya lalu beristirahat. Karena wanita itu terlihat sangat kelelahan dan wajahnya sedikit pucat. Setelah Sabrina masuk ke dalam kamar mandi, Dennis segera keluar dari ruangan itu. Membiarkan Sabrina istirahat seorang diri.


Ketika hari sudah semakin larut, diam-diam Sabrina keluar dari rumah Dennis. Dia memanggil taksi untuk mengantarnya ke sebuah tempat yang ingin didatanginya. Dua puluh menit kemudian, sampailah Sabrina di sebuah diskotik yang berada di pusat kota. Wanita itu berjalan menuju ruangan di lantai atas. "Apa bos ada di dalam?" tanyanya pada dua lelaki yang berjaga di pintu.


Salah satu lelaki itu masuk dan memberitahukan kedatangan Sabrina untuk mencari pemilik diskotik itu. Wanita itu akhirnya diperbolehkan untuk masuk dan bertemu dengan pemilik diskotik itu. "Bos! Aku butuh bantuanmu," seru Sabrina begitu masuk ke dalam ruangan itu.


Lelaki tinggi besar itu langsung berdiri menyambut kedatangan Sabrina. Dia memberikan ciuman kasar pada wanita yang memohon bantuannya itu. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya dengan suara dingin dan mengintimidasi.


Kemudian Sabrina mendekatkan wajahnya di telinga lelaki itu. Dia berbisik sangat pelan juga sangat hati-hati. Lelaki itu langsung membulatkan matanya dan tersenyum kecut mendengar permintaan Sabrina.


"Kamu tahu, bayaran apa yang harus kamu berikan untuk hal seperti itu? Uang saja tidak akan cukup untuk membayarnya," balasnya sambil meraba-raba seluruh bagian tubuh Sabrina.


Sabrina hanya bisa pasrah dan menerima semua perlakuan lelaki itu. Karena hidupnya juga sudah hancur. Tak ada lagi yang bisa diharapkannya lagi.


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2