Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Sang Penolong


__ADS_3

Matahari bersinar sangat cerah, langit terlihat segitu laut. Sinar mentari menghangatkan seisi bumi. Kicauan suara burung terdengar sangat merdu dan indah. Segarnya udara pagi menyegarkan hati dan jiwa.


Vania menatap arah cahaya dalam mata terpejam. Dia ingin merasakan hangatnya sang surya pagi itu. Perempuan itu melebarkan senyuman di bibirnya, dan merasakan kedamaian di hatinya. Ketenangan singgah di relung hatinya, menambahkan rasa nyaman dalam menyambut hari itu.


"Selamat pagi, Sayang. Nikmati sarapanmu!" ucap Alex sambil membawa dua piring nasi goreng di tangannya. Alex meletakkan makanannya di meja dekat bangku taman di depan rumah. Kemudian lelaki itu berjalan menghampiri istrinya, dan sedikit menariknya untuk duduk. "Duduklah! Habiskan sarapanmu, aku akan mengantarmu ke kampus," ujarnya dengan lembut.


Vania kembali tersenyum memandangi wajah tampan suaminya. Tanpa penolakan, dia langsung melahap nasi goreng di hadapannya. Setelah menghabiskannya, Vania meminum segelas susu khusus untuk ibu hamil. Dia merasa terlalu kenyang, sampai terlalu malas menggerakkan tubuhnya. "Terimakasih, Mas. Kamu membuatku terlalu kenyang," sindirnya pada Alex.


Alex mengulas senyuman hangat untuk istrinya, lalu berdiri dan mendekati Vania. Lelaki itu mengusap perut istrinya dengan sangat lembut. "Anakmu ini juga perlu banyak nutrisi," jelasnya sambil terus memegang perut Vania. Lelaki itu lalu memeluk istrinya, kemudian mengecup keningnya. "Ayo kita harus segera berangkat!" ajaknya.


Vania berjalan mengikuti suaminya ke kamar. Mereka berdua mengambil tas masing-masing. Kemudian pasangan itu melajukan mobilnya menuju kampus. Sampai di kampus, Vania langsung turun sedangkan Alex langsung ke rumah sakit.


Saat Vania sedang berjalan dari tempat parkir menuju gedung kampusnya, sebuah mobil warna merah melaju dengan kecepatan tinggi dari arah belakang Vania. Wanita itu tak menyadari hal itu. Dia masih berjalan santai tanpa melihat ke belakang. Tiba-tiba saja ....


"Vania!" teriak Dennis sambil menarik tubuh wanita itu. Mereka berdua terjatuh di tepian jalan. Mobil merah itu langsung menambah kecepatannya, dan menghilang begitu saja.

__ADS_1


Vania sangat terkejut dan merasa sangat takut. Dia memegangi perutnya, ada rasa khawatir yang hadir di pikirannya. Wanita itu kemudian memandang Dennis yang masih menahan tubuhnya. Vania sedikit menjauh dari Dennis, lalu melihat kondisi lelaki itu. "Apa Kak Dennis baik-baik saja?" tanyanya dengan cemas. Vania menarik tangan Dennis dan memeriksa luka di tangannya. "Kita harus segera ke Rumah Sakit, Kak. Luka ini harus segera diobati," seru Vania dengan panik.


Dennis terus memandangi Vania. Dia sudah terhipnotis dengan kecantikan wanita di hadapannya. Lelaki itu mencoba tersenyum semanis mungkin. "Aku baik-baik saja, Vania. Apakah kamu tidak terluka?" tanyanya dengan cemas.


Vania masih memperhatikan luka di tangan Dennis. "Kalau bukan karena Kak Dennis, mungkin Vania tidak akan selamat," ucapnya dengan lirih. Ekspresi wanita itu menjadi sangat sedih bercampur dengan ketakutan. Dia tak menyangka akan ada seseorang yang ingin melukainya.


"Yang penting, kamu sekarang masih baik-baik saja. Lain kali kamu harus berhati-hati, sepertinya mobil itu sengaja ingin mencelakakan kamu," kata Dennis dengan tatapan mata yang tajam dan sangat serius.


Vania semakin terkejut dengan ucapan Dennis, wajahnya menjadi lebih pucat. Wanita itu membantu Dennis untuk berdiri lalu dia pamit untuk masuk ke kelasnya. "Terimakasih, Kak Dennis. Maaf, Vania harus segera masuk," balasnya dengan nada suara yang sangat tulus. Vania langsung beranjak meninggalkan Dennis yang masih berdiri menatapnya.


"Hati-hati, Vania," gumam Dennis sambil terus memandangi kepergian Vania.


"Alex! Tolong bantu aku mengobati lukaku," pintanya pada seorang dokter magang.


Alex langsung mengambil perlengkapannya, dan langsung membersihkan luka di tangan Dennis. "Apa yang sudah terjadi Dokter? Sepertinya tangan dan kaki Anda tidak baik-baik saja?" tanyanya sambil mengobati luka luar di tangan dan kaki Dennis.

__ADS_1


"Tadi ada sebuah mobil yang dengan sengaja ingin menabrak seorang wanita, dan aku datang untuk menyelamatkannya," jelas Dennis sambil menahan rasa sakit pada lukanya. Lelaki itu menjadi sangat pucat karena menahan kesakitan yang dirasakannya.


Alex pun dengan telaten merawat seniornya itu. Dia sangat mengkhawatirkan teman sejawatnya. "Sebaiknya Dokter Dennis mengambil rontgen untuk kaki Anda. Mari! Saya akan membantu Anda," sarannya pada dokter yang lebih senior darinya. Alex akhirnya membantu Dennis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Dia tidak tega melihat lelaki itu harus menahan rasa sakitnya. Sebagai seorang teman, Alex berharap Dennis baik-baik saja.


Sambil menunggu hasil rontgen, Dennis berbaring di ruang istirahat khusus dokter. Lelaki itu masih memikirkan Vania. Dia sangat mengkhawatirkan wanita itu. Wanita yang diam-diam dikaguminya. Dennis terus membayangkan wajah cantik Vania ketika tersenyum. Tatapan mata Vania telah menyihir hatinya. Lelaki itu mungkin telah jatuh hati pada wanita yang sudah ditolongnya itu.


Tak berapa lama Alex datang dengan membawa hasil rontgen Dennis. Dia pun menyerahkan hasilnya, kepada lelaki itu. Ternyata kaki Dennis mengalami trauma akibat benturan yang cukup keras, sehingga membuat tulang kakinya retak. Dia pun harus beristirahat untuk sementara waktu. Padahal dia merasa kakinya baik-baik saja. Ternyata benturan itu cukup membuatnya tak bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


Alex cukup prihatin dengan keadaan Dennis. Karena lelaki itu adalah penanggung jawab IGD. Alex hanya bisa berharap, semua akan tetap lancar tanpa Dennis di IGD. Saat istirahat, Alex mendatangi Dennis di kamar perawatannya. Lelaki itu berbaring di ranjang sambil memegang ponselnya. "Istirahatlah, Dokter. Jangan memaksakan diri," ledeknya sambil berjalan ke samping ranjang Dennis.


"Maaf, Alex. Aku jadi merepotkanmu," ujar Dennis dengan penuh penyesalan.


Alex tersenyum memandang lelaki yang terbaring di ranjang itu. "Sudahlah! Pikirkan dulu kesembuhanmu. Aku jadi penasaran, Siapa wanita yang ingin kamu selamatkan itu? Apakah dia sangat berharga buat Dokter Dennis?" ledeknya sambil senyum-senyum.


Dennis tersipu malu mendengar ucapan Alex. Wajahnya merona karena tak mampu menutupi perasaannya. Lelaki itu menjadi semakin berdebar memikirkan wanita yang sudah diselamatkannya. "Kamu tahu saja, Alex!" gerutunya malu-malu. Rasanya Dennis ingin menyembunyikan wajahnya karena sangat malu. "Sepertinya aku telah jatuh hati pada wanita itu," cetusnya dengan sedikit ragu.

__ADS_1


Alex langsung tertawa mendengar pengakuan Dennis. Seorang dokter yang terkenal dingin dan cuek, tiba-tiba saja mengaku telah jatuh cinta. Alex tersenyum penuh kemenangan menatap seniornya itu. Dia ikut berbahagia untuk Dennis. "Akhirnya, Dokter jatuh cinta juga. Aku kira Dokter Dennis tak menyukai wanita," ledeknya lalu kembali menertawakan seniornya. Puas tertawa, Alex hanya senyum-senyum memandang lelaki yang sedang jatuh cinta itu. Dia ikut senang mendengar kebahagiaan temannya.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2