Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Kekhawatiran Seorang Suami


__ADS_3

Saat menjelang sore hari, Vania baru sampai di rumahnya. Suasana hatinya menjadi sangat buruk, pertemuannya dengan Sabrina telah mengacaukan hatinya. Rasa kesal, marah juga gelisah melebur menjadi satu. Vania hanya bisa menahan amarahnya, karena dia tak ingin tenggelam dalam emosinya.


Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba saja begitu terasa melelahkan baginya. Hingga tanpa sadar, perempuan itu sudah tertidur lelap, terlena dalam buaian mimpi indah.


Beberapa saat kemudian, Alex sudah kembali dari RS. Lelaki itu memandangi istrinya yang tertidur pulas, tanpa melepaskan sepatunya. Alex pun melepaskan sepatu istrinya, lalu beranjak ke kamar mandi. Sudah menjadi kebiasaannya, setelah pulang dari RS pasti langsung membersihkan dirinya dulu.


Keluar dari kamar mandi, istrinya masih belum juga bangun. Lelaki itu langsung berbaring di sampingnya, dan memeluk tubuh Vania. Sesekali Alex mengelus perut istrinya dengan sangat lembut. Satu jam menunggu, Alex menjadi tak sabar untuk membangunkan istrinya. Dia pun sengaja menciumi Vania agar segera terbangun. Tak mendapatkan respon yang berarti, Alex langsung menarik kemeja istrinya lalu menciumi perutnya. "Bangunlah, Sayang!" bisiknya lembut.


Vania yang masih samar-samar mendengar panggilan Alex, memaksakan untuk membuka matanya. Terlihat wajah Alex tepat di depan wajahnya. Vania melebarkan sebuah senyuman hangat untuk suaminya. "Selamat malam, Mas!" sapanya.


Alex langsung mengecup bibir istrinya, sambil mengelus rambutnya dengan lembut. "Ayo bangun, Sayang! Aku sudah menunggumu untuk makan malam," balas lelaki itu dengan wajah berbinar.


Vania langsung terbangun, memandang jam dinding di kamarnya. "Aku harus mandi, Mas. Sudah hampir malam," balasnya sambil berjalan ke kamar mandi.


"Mau aku bantu mandi, Sayang?" tanya Alex sambil memandang istrinya memasuki kamar mandi.


"Vania mandi sendiri saja, takut kemalaman," balasnya.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara dering ponsel dari tas Vania. Alex mencari suara itu, kemudian menyalakan ponselnya. Aura wajah lelaki itu langsung muram, begitu membaca pesan yang baru saja masuk. Dia menjadi lebih tidak sabar, menunggu Vania keluar dari pintu yang terus dilihatnya.

__ADS_1


Satu detik saja terasa begitu lama untuk Alex. Dia menjadi semakin tidak sabar, lalu berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sayang, jangan lama-lama mandinya!" teriaknya pada istrinya. Alex terus berdiri di sana, tanpa beranjak sedikit pun.


Begitu pintu terbuka, Alex langsung menarik Vania dengan lembut. Kemudian mendudukkannya di atas ranjang. "Sayang! Apa maksud pesan dari Vina ini?" tanyanya dengan cemas. Alex memberikan ponsel itu pada istrinya.


Vania langsung mengambil ponsel dari tangan suaminya, kemudian membaca pesan Vina.


Vania .... Kamu benar-benar tak apa-apa? Seharusnya kamu biarkan aku memberi pelajaran pada Sabrina ....


From Vina


Vania seperti sedang menahan nafas, lalu menghelanya. Dia pun memandang suaminya yang terlihat sangat khawatir itu. Kemudian Vania berdiri, lalu memeluk Alex dengan erat. "Aku baik-baik saja, Mas. Cuma tadi siang sempat bertemu dengan Sabrina di toko Mama Renata," jawabnya.


"Dia hanya sedikit menarik tanganku, lagian aku juga baik-baik saja. Mas Alex tak perlu mengkhawatirkan aku. Ketiga sahabatku selalu siap menjaga istrimu ini," jelas Vania sambil tersenyum sangat menggoda.


Alex kemudian memeluk istrinya, merasakan kehangatan dari tubuhnya. Setelah kehamilan Vania, lelaki selalu saja khawatir terhadap istrinya. Meninggalkan Vania tanpa pengawasannya, selalu membuatnya tidak tenang. Setelah itu, mereka berdua turun ke bawah untuk menikmati makan malam yang sudah terlambat. Vania mengambilkan makanan untuk suaminya, baru kemudian dia duduk di kursinya.


"Terimakasih, Sayang," ucap Alex pada istrinya.


Tak ada pembicaraan apapun di antara mereka. Sebenarnya, Alex sedikit kesal karena Vania merahasiakan pertemuannya dengan mantan kekasihnya, Sabrina. Namun lelaki itu hanya bisa menahan perasaannya, agar tidak membuat Vania berpikir macam-macam. Setelah makan malam itu, pasangan suami istri itu langsung kembali ke kamarnya lagi. Alex lebih banyak diam, tanpa bersuara. Vania sepertinya menyadari hal itu. Dia pun menghampiri Alex, yang masih duduk di sofa kamarnya sambil membaca buku.

__ADS_1


"Apa Mas Alex sedang marah denganku?" tanya Vania sambil menggenggam tangan suaminya.


Alex terlihat sedikit dingin, namun dia tetap berusaha untuk tersenyum di depan istrinya. "Aku tidak marah denganmu, Sayang. Aku hanya terlalu mengkhawatirkan kamu dan anak kita," jawabnya sambil mengelus perut istrinya. Alex pun menaruh buku yang sedang dibacanya di atas meja, lalu menatap wajah istrinya dengan tatapan yang hangat.


Melihat suaminya yang terlihat sangat menggodanya, Vania berdiri lalu duduk di pangkuan Alex. Wanita itu lalu menciumi suaminya dengan bergairah, membuat Alex tak bisa menahan dirinya lagi. Lelaki itu langsung membaringkan istrinya di atas ranjang. Setelah itu, Alex memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh istrinya.


Dengan pelan namun pasti, Alex melepaskan kancing baju istrinya. Sesaat kemudian, lelaki itu sudah bermain-main di dada Vania. Wanita itu hanya pasrah, menikmati setiap belaian lembut dari suaminya. Karena terlalu menikmatinya, Vania tak sadar telah memejamkan matanya dan mengeluarkan suara desahan yang semakin membakar gairah suaminya. Lelaki itu juga melepaskan pakaiannya sendiri, sambil terus menciumi seluruh bagian tubuh Vania.


Di tengah gejolak gairah yang semakin membara, Alex baru mengingat pesan Dokter Evi pada mereka berdua. Dengan sangat terpaksa, Alex menghentikan aktivitasnya, lalu berbaring di samping istrinya. Vania terlihat sangat kecewa dengan suaminya. Wanita itu memandang suaminya dengan jutaan pertanyaan di hatinya.


"Mengapa Mas Alex berhenti?" tanya Vania dengan gelisah.


Lelaki itu menunjukkan wajah kecewanya, lalu memeluk tubuh Vania dari belakang. "Dokter Evi melarang kita berhubungan suami istri untuk sebulan ke depan. Apa kamu juga melupakan itu, Sayang?" tanyanya pada wanita yang dipeluknya, tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.


Vania membalikkan badannya, hingga mereka saling berhadapan. Ada raut kekecewaan dari wajah cantiknya. "Tetapi aku sangat menginginkannya, Mas," ucapnya dengan iba. Vania lalu bangkit dari tidurnya, dan kembali mencium Alex penuh gairah. Wanita itu seolah tak peduli dengan ucapan Dokter Evi. Dia pun mendekatkan wajahnya pada telinga Alex. "Lakukanlah dengan pelan, Mas. Aku sudah tidak tahan lagi," bisiknya sangat menggoda.


Lelaki itu tak sanggup menolak permintaan istrinya. Alex merasa tertantang mendengar bisikan Vania. Malam itu, Alex benar-benar memuaskan hasrat istrinya dengan sangat lembut. Sayangnya, mereka hanya melakukan percintaan sekali saja. Pasangan itu terlalu mengkhawatirkan janin yang masih berada di perutnya. Akhirnya, mereka hanya tertidur saling memeluk, tanpa mengulangi permainan mereka.


Setelah permainan mereka, Alex tak bisa langsung tidur. Lelaki itu terus memikirkan perlakuan Sabrina pada istrinya. Alex khawatir Sabrina akan melakukan hal yang bisa melukai istrinya.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2