
Pagi yang sangat indah hari ini, menjadi hari baru bagi pasangan itu. Alex dan Vania sudah tidak sembunyi-sembunyi untuk berangkat bersama ke kampusnya. Bahkan mereka berdua menghabiskan waktu bersama untuk sarapan di kantin Fakultas Kedokteran. Alex sudah memantapkan hatinya untuk menjadi suami Vania. Tak ingin menyembunyikan status pernikahannya lagi.
Vania terlihat sangat bahagia dengan perlakuan Alex kepadanya. Tanpa malu, Alex berani mengajak Vania ke kampusnya dengan terang-terangan. Wajah cantik berseri seperti bunga di musim semi. Membuat iri setiap kali orang memandangnya.
"Hai gadis cantik, lama kita tidak berjumpa," sapa Ardi dengan ramah sambil duduk di samping Vania.
"Hai Kak, apa kabar?" tanya Vania sekedar basa-basi.
Mereka bertiga mengobrol dengan asyik, kadang juga tertawa mendengar lelucon yang dikatakan oleh Ardi. Saking asyiknya, mereka tak menyadari sepasang mata sedang di penuhi oleh api amarah.
"Jadi wanita ini yang membuatmu ingin meninggalkanku," ucap Sabrina dengan tatapan penuh emosi.
"Itu bukan urusanmu." Alex mulai terpancing dengan ucapan Sabrina.
"Aku tak akan membiarkan siapapun mendapatkan mu." Sabrina semakin emosi dan menyiram Vania dengan air mineral yang sudah ditangannya.
"Cukup Sabrina, kamu sudah sangat keterlaluan. Aku tak ingin melihatmu lagi." Alex pun membawa Vania ke dalam pelukannya, tanpa mempedulikan orang di sekitarnya.
__ADS_1
Alex dengan sangat lembut membersihkan rambut istrinya yang basah. Melepaskan kemejanya dan memakaikan pada Vania. Terlihat sangat jelas, bajunya basah karena ulah Sabrina tadi. Ardi sedikit bingung dengan perlakuan Alex kepada gadis cantik didepannya itu.
"Mungkinkah Vania telah merebut Alex dari Sabrina?" gumam Ardi di dalam hatinya.
Alex pun tidak tega melihat istrinya itu.
"Sayang. Aku akan mengantarmu pulang mengambil baju." Alex merasa bersalah dengan kejadian itu.
"Tidak perlu Kak, sebentar lagi kelasmu akan dimulai. Aku akan mengambil baju di toko Mama Renata saja." Vania masih bisa tersenyum tulus menatap Alex.
"Baiklah, bawalah mobilku." Alex memberikan kunci sekaligus STNK-nya.
"Seorang cewek murahan sedang mencoba baju yang sangat mahal. Dia pikir akan mampu membelinya." Sabrina muncul bersama seorang wanita di sampingnya.
Seorang Manager yang mendengar ucapan Sabrina sangat terkejut. Dia langsung memandang ke arah Vania dengan ketakutan.
"Sebenarnya aku sedikit bingung, siapa yang lebih murahan disini?" Perkataan Vania membuat Sabrina geram dan sedikit emosi.
__ADS_1
"Dasar tidak tahu diri!" Sabrina mendorong Vania hingga terjatuh di lantai.
Renata yang sedang berkeliling, mendengar keributan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat Vania yang terjatuh di lantai, membuat amarahnya memuncak tak terkendali.
"Apa-apaan ini. Kalian membiarkan seorang gadis terjatuh di lantai tanpa menolongnya?" Nada suara Renata terdengar mengerikan.
"Tidak apa-apa Nyonya. Tadi saya terjatuh sendiri saat berjalan." Vania mencoba menutupi identitasnya, di depan Sabrina. Renata pun langsung mengerti.
"Bukankah kamu model yang di kontrak Department Store ini?" tanya Renata menatap Sabrina dengan dingin.
"Benar Presdir," jawab Sabrina.
"Jadi kamu tahu, saya Presdir disini?" tanya Renata.
"Tentu saja. Siapa yang bergelut di dunia fashion, yang tidak mengenal anda," tutur Sabrina dengan sangat ramah.
"Setelah selesai urusanmu dengan gadis itu, temui aku di kantor." Tanpa pamit Renata langsung pergi dari keributan itu.
__ADS_1
Mendengar Renata menyuruh Sabrina ke ruangannya, Vania mendadak gelisah. Dia berpikir Mamanya akan memecat Sabrina, sebelum Vania bisa memberikan pelajaran kepada wanita ular itu. Secepat kilat Vania langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Renata.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰