
Alex menyadari sikap dingin Vania setelah meninggal The Java Hotel Jogja. Perempuan itu terlihat kesal, terlukis kekecewaan dari tatapan matanya. Sampai di rumah, Vania juga masih mengacuhkan Alex. Dia langsung berlari menuju kamar tidur mereka. Alex yang merasa terganggu dengan sikap istrinya, langsung menyusulnya ke kamar. Sampai di kamar, Vania sudah larut dalam tangisannya.
Alex menghampiri Vania dan duduk di sampingnya. "Sayang! Apa yang terjadi, mengapa kamu menangis?" tanya Alex cemas.
Vania masih menangis tersedu-sedu. "Kak Alex masih bisa bertanya? Bagaimana bisa Kak Alex berbincang mesra dengan wanita yang sangat cantik di depanku? Bisa-bisanya Kakak tak merasa bersalah," seru Vania.
Alex hanya menggelengkan kepalanya, karena merasa geli dengan Vania yang sedang cemburu buta. Dia tak menduga, Vania akan begitu cemburu pada sepupunya itu. Memang tidak bisa dipungkiri, Jessie memang sangat cantik. Bahkan kecantikan Vania tidak ada apa-apanya dengan Jessie. Namun cinta Alex sepenuhnya hanya untuk istrinya. Setiap detik Alex hampir gila, karena memikirkan istrinya itu. "Ternyata cinta memang bisa membuat seseorang menjadi gila," ucap Alex dalam hatinya.
"Sayang! Kamu juga tahu, Jessie itu adalah sepupuku. Tante Melissa adalah istri dari Om David. Kakak kandung dari Mama Davina," jelas Alex.
"Kak Alex pasti membohongi Vania. Mana mungkin sepupu kok sangat mesra?" protes Vania.
Alex seakan ingin membenturkan kepalanya di tembok. Dia sudah tidak tahu lagi, bagaimana akan menjelaskan semua pada Vania. Ketika Alex menceritakan yang sebenarnya, Vania justru menuduhnya berbohong. Istrinya itu benar-benar membuatnya frustasi.
"Aku akan meminta Mama Davina menjelaskan padamu," ucap Alex sedikit kesal.
"Tak perlu memanggil Mama Davina! Pasti Mama akan membela Kak Alex," seru Vania setengah berteriak.
Terlalu kesal menghadapi istrinya, Alex sampai menarik rambutnya sendiri. Rasanya begitu meresahkan lubuk hatinya yang terdalam. Lelaki itu kemudian menghubungi Mama Mertuanya, Renata. Bagi Alex Renata adalah senjata pamungkasnya. Untung saja, Renata masih ada di sekitar kompleks perumahan itu.
Tak berapa lama, Renata sudah berada di rumah mereka. Dia tersenyum melihat Alex yang terlihat kesal sekaligus frustasi.
"Dimana istrimu? Biar Mama yang memberikan pengertian padanya," ucap Renata.
"Vania ada di kamarnya. Ma!" jawab Alex.
Renata menaiki tangga rumahnya, lalu memasuki kamar anaknya. Dia melihat anaknya meringkuk di atas ranjang.
"Bangunlah!" seru Renata.
"Mama!" Vania langsung terbangun begitu mendengar suara Mamanya.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa kamu mendiamkan Alex? Kecemburuanmu sudah membutakan hati dan matamu," ujar Renata.
"Mengapa Mama malah membela Kak Alex?" protes Vania.
"Kamu pikir siapa Jessie? Dia sepupu Alex yang tinggal di Solo. Jessie juga cucu dari Kakek Rudy, apakah kamu melupakan itu?" tutur Renata.
Vania mencoba mengingat kenangan, ketika masih tinggal di Solo. Perempuan itu masih sangat mengingat Kakek Rudy. Tapi kenangan Jessie tak tersimpan di memorinya. Tiba-tiba saja Vania mengingat sosok David. Dia pun tersenyum malu karena kecemburuannya yang tidak beralasan.
"Vania ingat sekarang, Jessie pasti anak dari Om Tampan. Kalau Vania perhatikan, wajah Kak Alex mirip dengan Om Tampan," kata Vania.
Sewaktu kecil, Vania sering bermain bersama Alex di kediaman keluarga besar Gunawan. Tak jarang dia bertemu David, kakak Davina. Vania pun selalu memanggil David dengan sebuah Om Tampan.
"Temuilah Suamimu! Dia sedang gelisah memikirkan dirimu," ujar Renata.
Vania berlari menghampiri Alex yang duduk di teras samping. Lalu perempuan itu langsung memeluk suaminya. Ada rasa bersalah dalam hati Vania, karena sudah salah paham pada suaminya sendiri. "Kak Alex! Maaf. Vania sudah dibutakan dengan rasa cemburu," ucapnya lirih.
"Bukankah cemburu tanda cinta?" goda Alex sambil tersenyum.
"Aduh! Sakit Sayang," protes Alex.
Tak tega karena rintihan Alex, Vania mencium lembut tangan yang tadi dicubitnya. Alex pun menjadi geli melihat Vania yang menciumi tangannya.
"Sayang! Disini juga sakit," ucap Alex sambil menunjuk pada bibirnya.
Seolah mendapatkan kode, Vania langsung mencium Alex. Lelaki itu merasakan kebahagiaan yang tak terduga. Istrinya yang manja menjadi penurut dan selalu memenuhi keinginannya. Setelah itu Alex juga membalas ciuman itu, hingga mereka berdua hampir kehilangan nafasnya. Lelaki itu melepas ciumannya, lalu mengecup kening istrinya.
"Terimakasih Sayang. Karena sudah mencintaiku dan menyelamatkan aku dari wanita murahan itu," kata Alex.
Vania kembali tersenyum dengan tulus. "Vania juga berterima kasih, karena Kak Alex sudah menjaga diri. Dan memberikan tubuh ini hanya untukku," ucapnya sedikit berbisik.
Perkataan Vania terdengar sangat menggoda bagi Alex. Pikirannya menjadi melayang-layang membayangkan yang indah-indah. Ingin rasanya Alex menggendong Vania, dan membawanya langsung ke kamar. Namun itu hanya sebuah keinginan semata. Alex harus menahan hasratnya untuk menyentuh Vania, karena Renata masih belum meninggalkan rumah itu. Alex tak mau semakin malu, jika sampai Renata mendengar suara dari percintaan mereka. Karena memang kamar itu tidak kedap suara.
__ADS_1
Pasangan itu masuk ke dalam rumah, dan melihat Renata masih duduk di ruang tengah.
"Mama masih disini? Vania pikir sudah kembali ke kantor," ucap Vania.
"Perkataanmu terdengar seperti sedang mengusir Mama," balas Renata.
Wajah Vania langsung panik, begitu tahu Renata mengetahui apa yang ada di pikirannya. "Mama bisa aja," ucap Vania sambil duduk memeluk Mamanya.
Alex sangat mengagumi Mama Mertuanya. Sebagai single parent, Renata berhasil membangun bisnis fashion, sekaligus mendidik anak perempuan satu-satunya dengan sangat baik. Banyak orang yang mengagumi sosok Renata. Tak jarang Renata masuk di berbagai majalah, menjadi pengusaha sukses yang menginspirasi. Itu menjadi prestasi yang sangat membanggakan.
"Bukankah kalian belum berbulan madu?" tanya Renata dengan tiba-tiba.
"Setiap hari kita juga berbulan madu. Ma!" cetus Alex tanpa rasa malu.
Vania mencubit perut Alex dengan sangat lembut, agar tak menyakitinya. Alex tersenyum melihat wajah Vania yang sedikit memerah karena malu.
"Kalau mau, cari yang dekat-dekat saja. Kalian berdua juga masih harus masuk kuliah," ujar Renata.
"Kalau Vania ingin bermalam di pulau pribadi. Hanya ada aku dan Kak Alex, jadi kita bisa bebas melakukan apapun disana," jawab Vania sambil membayangkan tinggal di pulau bersama suaminya.
"Tantenya Alex punya pulau pribadi di Kepulauan Seribu," ucap Renata.
"Benarkah? Wah berarti Tantenya Kak Alex kaya raya dong," kata Vania dengan polosnya.
Vania jadi membayangkan betapa kayanya keluarga besar suaminya. Dia pun senyum-senyum sendiri, seakan lupa ada Renata disampingnya.
"Nanti biar Alex menghubungi Tante Melissa, untuk menanyakan tentang pulau pribadi itu," kata Alex.
"Benarkah kita bisa bulan madu di sana? Pasti akan sangat menyenangkan." Vania terlihat antusias dengan pulau pribadi itu.
Bahkan semalam Vania sulit tidur, karena membayangkan berada di pulau hanya dengan Alex. Sepertinya perempuan itu, terlalu menginginkan bulan madu di pulau pribadi.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰