
Kembali dari pesta Dion, Vania semakin kesal. Dia tak menduga akan bertemu Sabrina di acara pesta itu. Hatinya menjadi tak karuan, Sabrina berhasil mengacaukan pikiran dan juga hatinya. Tanpa melepas bajunya, Vania langsung membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Dia terlalu lelah, lelah karena memikirkan kejadian di pesta tadi. Kejadian tadi membuatnya malas melakukan apapun. Wanita itu hanya tiduran, hingga dia benar-benar tertidur. Bahkan ketika suaminya pulang, dia pun tak menyadari hal itu.
Melihat istrinya tertidur tanpa mengganti pakaiannya, Alex sudah berpikir yang tidak-tidak. Dia yakin pasti sesuatu telah terjadi di pesta itu. Alex menjadi gelisah dan cemas, memikirkan istrinya. Dia hanya bisa berharap istrinya akan baik-baik saja. Bahkan semalaman Alex tak bisa memejamkan matanya. Lelaki itu terlalu khawatir akan istrinya. Kecemasannya benar-benar membuatnya tidak bisa tidur. Sepanjang malam, hanya Vania yang ada dia pikirannya. Alex mengecup keningnya, lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Saat menjelang pagi, barulah lelaki itu terlelap.
Keesokan harinya, Vania melihat suaminya masih tertidur disampingnya. Dia menyentuh wajah Alex dengan sangat lembut, lalu bangkit dari tidurnya. Vania pun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah sarapan siap, Vania kembali masuk ke kamarnya dan membangunkan suaminya. "Mas! Bangunlah, Mas. Temani Vania sarapan," bisiknya lirih di telinga Alex. Lelaki itu pun memaksakan dirinya untuk terbangun, walaupun matanya masih terasa berat.
"Morning, Sayang," balasnya dengan mata yang masih sedikit terpejam.
"Jam berapa Mas Alex pulang?" tanya Vania sambil memandang ke wajah suaminya.
Alex tersenyum lalu mengecup tangan istrinya. "Mungkin jam 12 atau lebih," jawabnya lirih sambil mengucek matanya.
"Baiklah. Ayo kita sarapan, setelah itu kita bisa mandi," ajak Vania sambil menarik tangan Alex.
__ADS_1
Pasangan itu pun menikmati sarapan mereka dalam perasaan yang sangat damai. Alex menatap Vania dengan hangat, menyebarkan benih-benih cinta dalam kehidupan rumah tangga mereka. Setelah makan mereka pun membersihkan dirinya, lalu duduk santai sambil menonton TV di ruang tengah.
"Mas Alex tidak ke rumah sakit?" tanya Vania sambil menatap suaminya.
"Kebetulan hari ini aku libur. Sayang! Ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apakah terjadi sesuatu di pesta tadi malam?" tanya Alex dengan perasaan cemas. Dia terus menatap istrinya, mencari-cari celah untuk mengetahui kegelisahan di dalam hati Vania. Alex terlalu penasaran apa yang sudah mengganggu pikiran istrinya.
Vania sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun dia mencoba untuk tetap tenang dan tetap tersenyum. Dia tak ingin suaminya menjadi khawatir akan dirinya. "Mas. Sebenarnya kemarin malam, aku bertemu dengan Sabrina di pesta itu. Dia mencoba untuk menggangguku. Untung saja aku langsung pergi dari tempat itu," jelasnya dengan perasaan yang sedih dan tidak bersemangat.
Alex sudah menduga sebelumnya, pasti telah terjadi sesuatu di sana. Namun dia tak menyangka kalau itu berhubungan dengan Sabrina. Setiap kali mendengar nama itu disebut, Alex menjadi sangat kesal. Seolah Sabrina ingin selalu mengganggu kehidupan rumah tangganya. Dia takak rela Sabrina mengganggu istrinya. "Maafkan aku, Sayang. Ini semua gara-gara aku. Kalau kamu tak menikah denganku, mungkin dia tak akan pernah mengganggumu," ungkapnya dengan penuh penyesalan.
Pasangan itu hanya menghabiskan waktunya seharian di rumah, sambil duduk-duduk menonton TV. Kemudian tiduran di kamar, sambil membaca buku tentang mata kuliahnya. Hingga sore harinya, Vania merasa bosan. Dia pun mengajak suaminya untuk berjalan-jalan ke taman kota. Alex pun menyetujui keinginan istrinya. Mereka berdua mengendarai mobilnya, sambil berkeliling kota. Akhirnya mereka berhenti di sebuah taman di pusat kota. Suasana taman terlihat sangat ramai. Banyak anak-anak yang sedang bermain-main, sambil tertawa dengan teman-temannya. Vania merasa sangat senang melihat pemandangan itu. Mungkin naluri keibuannya mulai muncul tanpa disadarinya. Wanita itu terlihat tersenyum memancarkan kebahagiaan dari dalam hatinya. Alex pun ikut bahagia melihat senyuman cerah dari wajah istrinya.
"Mas, aku ingin memiliki anak yang lucu-lucu seperti mereka," ucap Vania sambil melihat kearah anak-anak yang sedang bermain.
__ADS_1
Alex tersenyum, lalu menggenggam tangan istrinya. "Anak kita nanti pasti akan lucu seperti mereka," balas Alex. Lelaki itu mengusap lembut kepala istrinya, dia menjadi tidak sabar untuk melihat anaknya terlahir ke dunia.
Saat hari sudah mulai gelap, Alex membawa istrinya ke sebuah restoran yang cukup terkenal di kota itu. Mereka duduk di kursi yang dekat dengan kasir. Tak berapa lama, makanan yang dipesan sudah datang. Vania langsung melahapnya tanpa menunggu lama. Di tengah Vania menikmati makanannya, dia tiba-tiba saja tersedak makanannya. Ternyata Vania terlalu terkejut melihat Sabrina juga mendatangi restoran itu. Alex langsung ikut melihat ke arah istrinya memandang. Lelaki itu juga sangat terkejut, namun Alex mencoba menahannya sekuat tenaga. Lelaki itu pun berpindah duduk, menjadi di samping istrinya. Kemudian dia menepuk pundak Vania dengan lembut.
"Tak perlu terkejut, Sayang. Jangan terlalu dipikirkan," hibur Alex dengan sangat lembut. Alex masih memandangi istrinya dengan perasaan cemas saya juga gelisah. Dia takut kecemasannya itu dapat mempengaruhi anak di dalam kandungannya.
Dari kejauhan Sabrina terus melihat pasangan suami-istri itu. Matanya menyiratkan kemarahan yang tak mampu ia ungkap. Dia tak mampu lagi menahan emosi dalam hatinya. Wanita itu terbakar api cemburu, yang semakin membara di dalam lubuk hatinya. Dia tak menyangka akan merasakan sakit yang seperti itu, karena pada awalnya hubungannya dengan Alex hanya sekedar main-main. Wajahnya terlihat sangat emosi, mukanya muram dan dia terlihat sangat gelisah.
"Sabrina! Mengapa mukamu terlihat begitu muram? Bukankah tadi kamu baik-baik saja?" tanya seorang model pria yang datang bersama Sabrina.
"Tutup mulutmu! Aku sedang kesal!" seru Sabrina dengan dingin.
Orang-orang yang datang bersama Sabrina langsung saling menatap. Mereka saling pandang, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Sabrina. Ketika mereka datang, Sabrina baik-baik saja. Namun ketika sampai di restoran, dia menjadi marah dan kesal. Mereka semua hanya bisa bertanya dalam hatinya. Karena mereka tak mungkin mengungkitnya di depan Sabrina. Wanita itu bisa mengamuk dan kehilangan akalnya.
__ADS_1
Sabrina benar-benar sudah di puncak kemarahannya. Sorot matanya sangat tajam, penuh dengan kobaran api amarah. Seolah mampu menghanguskan semua hal di sekitarnya. Sabrina terlihat sangat menakutkan, ekspresinya begitu mengerikan. Wanita itu tak mampu lagi mengendalikan perasaannya, kecemburuannya telah menguasai pikirannya. Padahal semuanya hancur karena kesalahannya sendiri. Yang ada sekarang, Sabrina hanya bisa menyesali perbuatannya. Dia merasa menyesal telah menyia-nyiakan cinta dan ketulusan Alex di masa lalu. Wanita itu hanya bisa menangis didalam hatinya, dan itu sangat menyedihkan.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰