Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Suasana Mencekam


__ADS_3

Esok harinya ketika bangun tidur, Vania menyalahkan televisi di kamarnya. Ada berita yang cukup menggemparkan dan menghebohkan. Bahkan hampir semua stasiun televisi menyiarkan berita skandal itu.


Sabrina Aurora tertangkap basah sedang bermalam di hotel dengan seorang pengusaha.


Status Sabrina sebagai seorang simpanan akhirnya terkuak.


Skandal yang menyeret Sabrina berhasil menghancurkan karirnya.


Seluruh Perusahaan mode menghentikan kontrak kerja sama dengan Sabrina Aurora.


Vania mencoba menggoyangkan tubuh Alex untuk membangunkannya. "Mas. Bangunlah!" ucapnya lirih di telinga suaminya. Vania mengecup bibir Alex sambil membelai wajahnya. "Ada kabar menggemparkan tentang Sabrina," jelasnya lagi.


Alex berusaha untuk membuka matanya, dan memahami perkataan istrinya. "Apa yang terjadi, Sayang?" tanyanya dengan mata yang masih terpejam. Alex pun memeluk istrinya dengan sedikit manja sambil mengusap perutnya.


"Lihatlah televisi!" seru Vania sambil menyimak gosip terbaru.


Alex memaksakan diri untuk membuka matanya. Melihat berita skandal Sabrina yang sudah menyebar, tidak membuatnya terkejut. Lelaki itu malah tersenyum hangat pada istrinya sambil sesekali mencium perutnya. "Aku sudah tahu kalau ini bakal terjadi," jawabnya tanpa melihat gosip yang melanda Sabrina.

__ADS_1


Vania mencoba memahami maksud ucapan suaminya. "Sudah tahu?" tanyanya dalam hati. Wanita itu langsung memandang tajam pada suaminya, dia mencoba mencerna ucapannya. Tiba-tiba saja hati Vania berdesir membayangkan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. "Apakah ini ulah Mama Renata?" tanyanya dengan sangat serius.


"Mungkin seperti itu. Kita bisa menghubungi Mama jika kamu mau, Sayang," balas Alex dengan ragu-ragu. "Itu hanya dugaan sementara," tambahnya lagi. Alex bangun dan berjalan keluar dari kamarnya. Tak lama kemudian lelaki itu kembali ke kamar dengan membawa segelas susu dan beberapa sandwich. "Nikmati dulu sarapanmu, Sayang," ucapnya dengan suara lirih dan terdengar sedikit menggoda.


"Mas Alex sengaja ingin menggodaku?" tanyanya sedikit kesal.


Lelaki itu langsung mencium bibir Vania karena terlalu menggemaskan dan sangat menggoda. Pasangan itu saling membalas setiap ciuman lembut dan menggairahkan itu. Alex tak melepaskan ciuman pagi yang bergelora itu. Lelaki itu justru melancarkan aksinya untuk memberikan sentuhan sensual pada wanita hamil yang semakin menggodanya. Alex meremas dada Vania dengan sangat lembut, sesekali wanita itu mendesah dalam sentuhan yang membuatnya melayang. "Bolehkah kita melakukannya sekarang?" desah Alex dengan suara yang menggoda.


"Bukankah Mas Alex yang menjadi dokter? Kenapa malah tanya Vania?" Wanita itu terdengar kesal dan kehilangan gairahnya. Vania mendorong suaminya dengan pelan lalu berjalan menuju kamar mandi. Wanita itu membersihkan dirinya dan menyegarkan pikirannya dalam guyuran air shower. Setelah tubuhnya merasa lebih rileks dan tenang, Vania keluar dan melihat suaminya kembali memeluk guling di atas ranjang. "Jika Mas Alex tidak bangun, Vania mau sarapan sendirian," serunya dengan suara agak keras.


Alex langsung bangkit dari tempat tidur dan berjalan mengejar istrinya yang melangkah keluar. "Tunggu, Sayang," ucapnya sambil memeluk hangat tubuh Vania. "Tunggu aku di meja makan. Aku mau mandi dulu," pintanya dengan tulus. Lelaki itu segera masuk ke kamar mandi.


Ketika Alex sudah selesai mandi, dia langsung menuju meja makan. Dia melihat istrinya sedang tenggelam dalam lamunannya. Bahkan Vania tak menyadari kalau dirinya sudah berada di samping istrinya. "Sayang. Pagi-pagi sudah melamun!" ucapnya lembut sambil menyentuh pundak istrinya.


Vania terperanjat kaget, membuat jantungnya berdegup kencang. Dia langsung menoleh memandang wajah tampan suaminya. Wanita itu sedikit salah tingkah, seolah bingung harus bersikap bagaimana. "Mas! Sejak kapan duduk di sini?" tanyanya seperti orang yang sedang dilanda kebingungan. Dia langsung berdiri dan mengambilkan makanan untuk suaminya.


"Sejak kamu tenggelam dalam tatapan yang membuat jiwamu kehilangan arah," jawab Alex dengan senyuman hangat dan suara yang sedikit lirih. Alex memandang istrinya, mencari celah dari tatapannya. "Apa yang sudah mengganggu pikiranmu?" tanyanya.

__ADS_1


Vania kembali duduk ke kursinya, dia mengambil makanan untuk sarapannya. "Aku takut Sabrina akan mendatangiku lagi," jawabnya. Wanita itu langsung melahap hidangan di hadapannya, tanpa peduli dengan Alex yang terus memperhatikannya.


Alex sangat mengerti kekhawatiran istrinya. Karena dia juga merasakan perasaan yang sama seperti Vania. Namun sebagai seorang lelaki, Alex berusaha menutupi kegelisahannya. Dia tak mau membuat istrinya semakin khawatir. Lelaki itu ingin menunjukkan ekspresi wajah yang setenang mungkin. Seolah sedang tak terjadi apa-apa dalam keluarga barunya.


Tak berapa lama, Renata tiba-tiba sudah berada di antara mereka. Dia langsung duduk berhadapan langsung dengan Vania. "Apa kedatangan Mama mengejutkanmu?" tanyanya sambil memandang anak dan menantunya secara bergantian.


Alex dan Vania saling memandang, mereka berdua masih terkejut dengan kedatangan Renata. "Tumben pagi-pagi Mama sudah sampai di sini?" tanya Vania dengan pandangan yang sedikit bingung.


"Kalian sudah melihat gosip terhangat pagi ini?" tanya Renata tanpa ekspresi. "Itu semua karena Mama yang melakukannya. Kalian berdua jangan terkejut," ucapnya tanpa beban. "Mama pasti akan menghancurkan siapa pun yang ingin mengganggu keluarga kita," tambahnya dengan ekspresi wajah yang dingin.


"Bukankah itu sedikit keterlaluan, Ma?" sela Vania dengan ragu-ragu.


"Keterlaluan apa maksudmu? Dia sudah berencana untuk membunuhmu, bahkan hukuman ini belum setimpal," jelas Renata dengan sedikit emosi yang terlihat dari sorot matanya. Renata berjalan dan mengambil sebotol air mineral dingin di dalam kulkas. Wanita itu langsung meminumnya sampai habis. "Terasa menyegarkan," desahnya lirih. Renata kembali duduk di hadapan Vania. "Alex! Kamu harus lebih ekstra menjaga Vania. Bisa saja wanita itu melakukan hal yang lebih nekad lagi," tegasnya dengan nada sangat serius.


"Alex akan lebih lagi menjaga Vania, Ma," balas lelaki itu. Alex menatap istrinya dengan lembut dan penuh kecemasan.


Suasana meja makan berubah mencekam. Rasa gelisah, khawatir dan cemas melebur menjadi satu. Hanya keheningan yang tercipta di antara 3 anak manusia itu. Sesekali mereka saling menatap lalu kembali ke dalam pikirannya masing-masing. Seolah setiap kedipan mata menjadi bersuara, setiap tarikan nafas menjadi sebuah irama. Bahkan sedikit saja gerakan begitu menggetarkan dan terlihat menarik perhatian. Vania berdiri kemudian melangkahkan kakinya ke teras samping. "Aku tak tahan dengan suasana yang mengerikan ini," protesnya sebelum meninggalkan meja makan. Vania sama sekali tak menoleh ke arah belakang. Dengan santai dia meninggalkan suaminya dan mamanya. Wanita itu memilih duduk sambil melihat ikan di dalam kolam samping rumahnya.

__ADS_1


Happy Reading


__ADS_2