
Vania sedang mempersiapkan beberapa makanan untuk menjamu ketiga sahabatnya. Ini adalah pertama kalinya Vania membawa orang lain ke rumahnya. Selama ini Vania tak pernah dekat dengan siapapun, hanya ketiga sahabatnya itu yang paling dekat dengannya. Semua camilan dan buah-buahan sudah tersaji di atas meja. Vania juga sudah meminta Bik Imah memasak hidangan spesial untuk sahabatnya.
Sambil menunggu ketiga sahabatnya, Vania tiduran di sofa ruang tengah. Hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya adalah sekarang, memiliki suami yang hebat dan juga sahabat yang terbaik. Tak berapa lama, terdengar suara deru mesin mobil memasuki halaman. Vania langsung bangkit dari sofa, dan menyambut kedatangan ketiga sahabatnya di teras. "Selamat datang sahabat-sahabat terbaikku," kata Vania dengan senyuman ramah.
Vania membawa mereka ke ruang tengah. Mereka semua tak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya. Mereka tak menduga, Vania tinggal di sebuah rumah yang sangat mewah dan megah.
"Gila! Ini rumah apa istana!" cetus Vina sambil berjalan mengelilingi ruangan itu.
Tiara tak kalah takjub, sampai membulatkan matanya ketika melihat barang-barang mewah di rumah sahabatnya itu. " Emang keluargamu kaya banget ya?" tanyanya polos.
Sedangkan Riana sudah menduga sebelumnya, kalau Vania anak orang kaya. Dia sama sekali tak terkejut dengan pemandangan di rumah itu. "Dimana Kak Alex?" tanyanya penasaran.
Vania tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Dia pun duduk di sebelah Riana sambil memakan buah-buahan. "Mas Alex jadi dokter magang di Rumah Sakit Lentera," jawabnya.
Mereka mengobrol sambil menikmati hidangan yang disajikan. Sesekali mereka bercanda saling meledek dan membuat Vania malu. Sedangkan nyonya rumah itu hanya senyum-senyum mendengarkan ledekan dari sahabatnya.
"Vania! Jangan lupakan janjimu!" seru Tiara sambil menatapnya tajam.
Vania terlihat bingung, dia sudah tak ingat apa yang sudah dijanjikannya pada sahabatnya itu. Dia pun mengerutkan keningnya, mengisyaratkan kalau dia tak mengerti. "Janji apa?" tanyanya bingung.
"Kebanyakan bercinta membuatnya amnesia," sindir Vina sambil tersenyum kecut.
Vania mendadak pucat karena malu. Wajahnya merah padam, dia tak menyangka Vina bisa mengetahui hal itu. Rasanya sudah kepalang basah, Vania tak mungkin lagi mengelaknya. Mengelak pun hanya akan menjadi sebuah lelucon bagi sahabatnya. Seperti sudah tak ada lagi jalan untuk keluar. " Vina! Bagaimana kamu tahu kalau aku habis itu?" tanyanya ragu.
Vina akhirnya tersenyum kemenangan, tebakannya sangatlah tepat. Vania yang tak mampu mengelaknya, membuat Vina serasa di atas angin. "Cara berjalan mu saja sudah menjelaskan semuanya. Berapa kali kamu melakukannya?" Vina bertanya tanpa ada perubahan dari ekspresinya.
Wajah Vania sontak memucat. Namun dirinya sudah berjanji akan menceritakan kisahnya. Rasanya Vania ingin memukul kepalanya sendiri karena terlalu malu. Dengan ragu dan perasaan yang semakin tak karuan, akhirnya Vania pun bercerita. "Kemarin di RS melakukannya sekali, lalu malamnya kami bercinta sampai pagi," jawabnya.
__ADS_1
Riana dan Tiara langsung menutup mulutnya dengan tangan. Sedangkan Vina tertawa penuh kemenangan. Vania hanya menunduk malu karena ucapannya sendiri.
"Gila! Aku tak menyangka kamu dan Kak Alex sama-sama penuh gairah." Tiara sudah tak sanggup menahan ungkapan yang sedari tadi sudah ditahannya.
Vina tertawa terbahak-bahak, menertawakan ekspresi malu pada wajah Vania. Perempuan itu berhasil membongkar betapa bergairahnya pasangan pengantin baru itu. "Tak perlu malu, aku sangat mengerti," hibur Vina di tengah tawanya.
Tiara mencoba mendekati Vania, lalu duduk di sebelahnya. Kemudian dia berbisik di dekat telinganya. "Bagaimana cerita malam pertamanya?" ucapnya lirih.
"Pertanyaan lain saja," protes Vania semakin kesal.
"Kamu sudah berjanji akan menceritakannya," seru Riana lumayan keras.
Vania terdiam sejenak, dia mulai mengingat-ingat tentang malam pertamanya. Terlalu banyak percintaannya dengan Alex, sehingga dia agak lupa yang mana kejadian malam pertama mereka. Ketiga sahabatnya itu dengan sabar dan sangat tenang menunggu cerita Vania. Seolah mereka ingin menelanjanginya.
"Awalnya aku merencanakan sebuah malam pertama di hotel. Namun terpaksa harus gagal, karena Mas Alex terlalu bingung apa saja yang harus dilakukan," jelasnya dengan perasaan sangat malu.
Vania akhirnya mengulas senyuman kemenangan bagi dirinya sendiri. Dia sangat bangga menjadi yang pertama bagi Alex. "Sayangnya, aku dan Mas Alex sama-sama menjadi yang pertama. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya? Seakan berada di surga dunia, begitu memabukkan," goda Vania dengan senyum-senyum.
Riana dan Tiara hanya bisa membayangkan bagaimana nikmatnya sebuah percintaan. Mereka berdua sama-sama polos, tak pernah melakukan hal-hal yang seperti itu. Paling-paling hanya berciuman bibir saja tak pernah lebih.
Melihat Vania yang sedikit pamer, Vina pun merasa sedikit kesal. "Memabukkan apa? Waktu pertama kali, kamu pasti menjerit kesakitan," sindirnya dengan senyuman yang menggoda.
"Tanya saja sama Vina! Sepertinya dia lebih berpengalaman daripada aku," balas Vania sambil melirik sahabatnya itu.
Vina pun tersenyum manis lalu memeluk Vania. Dia merasakan aura membunuh pada sahabatnya itu. Vina sudah menyerah dan tak mau menggoda Vania lagi. Dia tak ingin sahabatnya itu marah lalu melemparkan bom padanya. "Aku hanya bercanda, Sayang," ucapnya tulus.
Vania pun membalas pelukan Vina dengan erat. Sebenarnya dia tak marah, hanya sedikit kesal karena Vina terus-terusan mengerjainya. "Kita berenang yuk!" ajaknya pada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
"Kita semua tak membawa baju ganti," ucap Riana sedikit sedih.
"Aku sudah menyiapkan baju untuk kalian," jawab Vania yang mendapat sorakan dari mereka.
Mereka semua pun masuk ke dalam kolam. Mereka saling melemparkan air ke arah wajah. Keempat wanita itu terlihat sangat bahagia. Mereka bercanda dan tertawa di dalam air. Sesekali mereka juga pura-pura lomba renang, hanya sekedar untuk lucu-lucuan. Namun beberapa kali Vania selalu menang.
"Tuan rumah yang selalu menang, adakah kecurangan?" goda Vina sambil melirik Vania.
"Kalau kalah ya kalah saja," protes Vania sambil menatap Vina dengan tajam.
"Rumahmu enak ya, ada kolam renangnya. Aku selalu bermimpi bercinta di dalam air," ujar Vina sambil membayangkan yang indah-indah.
Vania pun mendekati Vina dan berbisik di telinganya. "Aku pernah bercinta di kolam ini," ucapnya lirih.
"Apa!" Vina langsung memukul pundak Vania dengan pelan. Dia merasa kesal karena impiannya didahului oleh sahabatnya sendiri. "Jadi air ini bekas permainan panas kalian," sindirnya sambil tersenyum kecut.
"Jangan jorok deh! Setelah itu langsung dikuras," jelas Vania sambil mencubit pipi Vina.
Setelah berenang, Vania langsung menyiapkan pakaian baru untuk sahabatnya. Mereka mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian mereka langsung menikmati makan siangnya, karena terlalu lapar sehabis berenang.
"Kamu sengaja membeli pakaian baru untuk kita?" tanya Tiara sambil menikmati makanannya.
Vania tersenyum memandang Tiara. "Aku tak membeli, tapi mengambil dari toko mamaku," jawabnya dengan jujur dan polos.
"Jadi ini barang curian?" goda Vina sambil tersenyum.
"Aku rela mencuri hanya untuk sahabat terbaikku," jawab Vania terlihat sangat tulus. Membuat ketiga sahabatnya itu langsung memeluknya secara bersamaan.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰