
To. Mama Renata
Ma. Tolong jangan katakan apa-apa pada Sabrina. Aku ingin menyelesaikannya dengan caraku sendiri.
From. Vania
Sampai di ruangannya Renata mendengar bunyi notifikasi pada ponselnya. Dilihatnya sebuah pesan masuk dari anak gadisnya. Renata sudah menduga, apa yang sedang dipikirkan gadis kesayangannya itu. Tak berselang lama. Sabrina terlihat di depan ruangan sedang mengetuk pintu.
Tok Tok Tok.
"Masuklah!" ucap Renata dingin.
"Ada yang bisa saya bantu Presdir?" tanya Sabrina dengan sangat sopan.
"Lain kali tolong jaga sikapmu. Kamu adalah model fashion di Department Store ini. Seharusnya kamu bisa menghargai pelanggan kami." Renata terlihat sangat serius mengucapkannya.
"Tapi wanita itu adalah wanita murahan yang....." Belum selesai mengucapkannya Renata sudah menyelanya.
" Cukup!" ucap Renata dengan sangat tegas.
Sabrina terlihat sedikit takut dengan ekspresi Renata yang terlihat sangat tegas.
"Saya mohon maaf Presdir, saya tidak akan mengulanginya." Sabrina menunduk karena takut.
__ADS_1
Sabrina meninggalkan ruangan Renata dengan perasaan kesal. Dia merasa tidak terima dengan kejadian hari ini.
" Gara-gara wanita murahan itu, aku kehilangan muka di hadapan Presdir," gerutunya sambil berjalan meninggalkan Department Store.
Vania sudah berganti pakaian dan melihat Sabrina meninggalkan Department Store. Vania langsung mendatangi kantor Mama Renata.
"Apa yang Mama ucapkan pada wanita itu, sehingga wajahnya terlihat kesal?" tanya Vania.
"Itu hanya urusan pekerjaan. Sayang," jawabnya sambil mengelus kepala anaknya.
"Terimakasih Ma, untuk tidak mengatakan siapa Vania sebenarnya." Vania memeluk Mamanya erat.
"Sebenarnya Mama tak terima, gadis kesayangan Mama diperlakukan seperti itu." Renata terlihat sangat kesal.
Vania menjelaskan semuanya, sebelum dia pamit kembali ke kampusnya. Sampai di kampus, ternyata kelas sudah dimulai. Vania tidak berani masuk, dia memutuskan mendatangi fakultas kedokteran. Belum sampai turun dari mobilnya, Alex sudah menghampirinya.
"Tadi aku terlambat masuk, takut dimarahi mendingan aku kesini," ucap Vania senyum-senyum.
"Gadis nakal, ayo ikutlah aku." Alex menggandeng tangan istrinya dengan erat.
Alex membawa Vania ke sebuah ruangan yang cukup banyak orang di dalamnya. Vania sedikit malu berada di antara mereka.
"Siapa gadis cantik yang bersamamu Lex?" tanya salah satu dari mereka.
__ADS_1
Alex hanya tersenyum menatap istrinya yang cantik itu.
"Dia adalah....." ucapnya belum selesai.
"Kak Alex, bisa antar aku ke toilet sebentar?" Vania terlihat gugup.
Alex pun mengantarnya ke toilet dekat kantin.
"Kak Alex. Bisa tidak kita merahasiakan pernikahan kita? Sampai aku berusia 20 tahun." Vania terlihat sedikit ragu-ragu mengatakannya.
"Sepertinya kamu malu memiliki suami sepertiku," ucap Alex dengan kecewa.
Alex pun kembali ke ruangan tadi tanpa Vania. Alex merasa sangat kecewa dengan istrinya itu. Setelah dia benar-benar yakin akan perasaannya, Vania justru memintanya merahasiakan hubungan mereka. Tak lama setelah kedatangan Alex, Vania menyusulnya
dan duduk di sampingnya. Dia tahu pasti Alex sangat tersinggung dengan ucapannya tadi. Vania hanya terdiam tanpa suara disamping Alex, yang sedang memimpin pertemuan BEM. Setelah acara selesai, mereka mengobrol santai sambil bercanda.
"Alex, boleh dong aku menjadikan wanita cantik di sampingmu itu menjadi kekasihku?" tanya salah seorang di hadapannya.
"Tanya saja dengan yang bersangkutan," jawabnya tanpa menatap Vania sedikit pun.
"Lalu apa hubunganmu dengannya?" tanyanya.
" Mungkin saja dia adalah adikku," jawab Alex dengan tatapan aneh.
__ADS_1
Seluruh ruangan tertawa mendengar jawaban dari Alex. Vania hanya terdiam tanpa menanggapi pertanyaan apapun.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰