
Renata sedang berada di dalam kantornya di E.R Department Store. Dia menyuruh sekretarisnya menghubungi Sabrina agar segera datang menemuinya. Renata akan memberikan perempuan itu sedikit kejutan yang menyenangkan.
Tak berapa lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu kantor Renata. Tok tok tok.
"Masuklah!" seru Renata pada seseorang dibalik pintu.
Sabrina membuka pintu kemudian masuk ke ruangan Renata. "Selamat pagi Presdir," sapa Sabrina.
Renata berdiri lalu duduk di sofa ruangannya. "Duduklah! Ada yang ingin aku sampaikan," kata Renata dingin.
Sabrina lalu duduk di depan Renata sambil tersenyum menatapnya. Perempuan itu sedikit takut dengan sikap dingin yang ditunjukkan oleh Renata.
"Sebulan lagi aku akan mengadakan pesta pernikahan untuk anak dan menantuku. Aku harap kamu bisa membantuku untuk menjadi Bridesmaids di acara itu. Tentu saja kamu tak sendiri, ada beberapa model juga akan berpartisipasi. Apa kamu bersedia?" ujar Renata.
Sabrina tersenyum senang mendapatkan tawaran yang sangat menyenangkan itu. "Tentu saja Presdir, saya bersedia menjadi Bridesmaids di pernikahan anak Anda," jawabnya.
"Terimakasih atas kesediaan mu. Untuk segala sesuatunya, nanti sekretaris ku akan menghubungimu," balas Renata.
Setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Sabrina pun pamit pergi. Dia merasa bangga dan senang dengan permintaan Renata. Karena secara pribadi Renata meminta Sabrina untuk berpartisipasi dalam pesta pernikahan anaknya. Sabrina juga tak mencurigai apapun motif Renata. Hatinya sudah terlanjur senang mendengar kabar itu.
Di Fakultas Ekonomi
Setelah selesai dengan mata kuliahnya, Vania menunggu Alex di taman depan gedung. Ketiga sahabatnya sudah pulang duluan, karena kebetulan mereka memiliki acara masing-masing. Saat sedang sibuk memainkan ponselnya, Dion teman satu jurusan Vania menghampirinya.
"Vania! Kamu sendirian disini. Dimana ketiga sahabatmu?" tanya Dion.
__ADS_1
Vania langsung tersenyum menatap Dion. "Mereka pulang duluan, karena ada acara. Kamu sendirian mengapa belum pulang?" Vania balik bertanya.
"Aku menunggu Kakakku menjemput, katanya dia sedang dalam perjalanan. Kalau boleh tahu, kamu sedang menunggu siapa?" tanya Dion lagi.
"Menunggu kekasihku, dia sudah berjanji akan menjemputku," balas Vania.
Dion hanya mengulas sedikit senyuman saat mendengar jawaban Vania. Tak berapa lama, sebuah mobil warna hitam berhenti tak jauh dari mereka berdua duduk.
"Aku duluan ya! Itu Kakakku sudah datang," pamit Dion.
Vania tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sekilas Vania melihat seseorang di dalam mobil itu. Seorang lelaki yang adalah Kakak Dion. Ketika pandangan mereka saling bertemu, Vania secara cepat memalingkan wajahnya. Perempuan itu sedikit risih dengan cara menatap lelaki yang menjemput Dion tadi. Tak lama kemudian Alex pun datang menjemput istrinya itu. Vania langsung masuk dan duduk di dalam mobil.
"Sayang, apa ada masalah di kampus?" tanya Alex sambil menatap Vania yang terlihat risau.
"Tidak ada Kak. Hanya saja tadi aku bertemu seorang lelaki, yang memandang aku dengan tatapan aneh. Dan itu sangat menggangguku," jelasnya.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan kampusnya. Vania meminta Alex untuk berhenti di supermarket dulu, untuk membeli segala kebutuhan sehari-hari. Mereka berdua berbelanja, seperti pasangan suami istri pada umumnya. Ketika sedang memilih sayuran, tanpa diduga Sabrina juga ada disana.
Sabrina memandang sinis ke arah Vania, seolah Vania tidak pantas berada di sana. "Aku sudah menduga, perempuan ini yang membuatmu berpaling dariku," ujar Sabrina dengan nada menghina.
Tanpa menjawab, Alex membawa Vania meninggalkan tempat itu. Baru beberapa langkah, Sabrina mendorong Vania hingga terjatuh. "Oh Sorry! Aku tak sengaja," ujarnya tanpa dosa sambil berlalu melewati mereka berdua.
Alex berniat mengejarnya, dan memberikan pelajaran pada wanita murahan itu. Namun Vania yang langsung bangun ketika terjatuh, justru menarik tangannya dan menggenggamnya lebih erat. "Biarkan saja Kak, aku juga baik-baik saja," ucap Vania lembut.
"Tapi Sabrina sudah mengganggumu," protes Alex.
__ADS_1
Vania tersenyum lalu melanjutkan belanjanya. Alex semakin tahu dengan sifat Vania. Dia tak menyangka perempuan yang sudah dinikahinya itu ternyata berhati malaikat. Alex merasa sangat beruntung memiliki Vania didalam hidupnya. Dia pun tersenyum lalu mengejar istrinya yang sudah berjalan lebih dulu. Lalu berbisik di telinganya, "I love you."
Wajah Vania langsung memerah seketika, mendengar 3 kata yang diucapkan oleh suaminya. Dengan hati yang berdebar-debar Vania berjalan ke kasir. Lalu Alex membayar seluruh belanjanya dan membawanya ke dalam mobil. Perempuan itu memasuki mobil dengan hati yang berbunga-bunga. Melihat wajah Vania yang terlihat berseri-seri, Alex jadi ingin menciumnya.
"Sayang, bolehkah aku menciumu sekarang?" tanya Alex penuh harap.
Vania melihat sekeliling, dan terlihat cukup sepi. Hanya beberapa mobil yang masih terparkir. Dia pun menatap mesra pada Alex, "Disini?" tanyanya.
Tak sabar menunggu jawaban Vania, Alex langsung menyerang Vania dengan ciuman yang menggairahkan. Vania membalas sentuhan dari Alex dengan sangat lembut. Lelaki itu seolah telah kehilangan akalnya. Dia mencoba membuka beberapa kancing kemeja milik istrinya. Vania pun tidak menyadari hal itu. Namun disaat Alex mencoba meraba sesuatu di balik kemeja, Vania tersadar dan sedikit mendorong Alex untuk mengakhiri ciuman yang penuh hasrat itu.
"Hentikan Kak! Kita bisa melakukan ini di hotel atau di rumah. Jangan di tempat parkir seperti ini. Aku tak ingin orang-orang menilai kita tidak baik," jelas Vania sedikit kesal.
Alex terlihat sangat menyesali perbuatannya. "Maafkan aku Sayang, aku hanya tak bisa mengendalikan diriku," jawabnya.
Vania mengecup bibir Alex sekilas, lalu membenahi pakaiannya. "Kita bisa lanjutkan begitu sampai di rumah," goda Vania dengan senyuman.
Seakan mendapatkan sebuah durian runtuh, Alex langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Untung saja jalanan sedang tidak ramai.
"Tak perlu mengebut! Masih banyak waktu untuk kita," seru Vania
Alex kemudian mengurangi kecepatan mobilnya, sambil sesekali melirik ke arah Vania. Lelaki itu merasakan perjalanannya kali ini sangat lama. Alex sudah tak sabar untuk membawa Vania ke dalam pelukannya. Lalu dia juga ingin segera menciumi isterinya.
Sampai di garasi rumahnya, Alex langsung menggendong Vania memasuki kamarnya. Sepertinya hasrat kelelakinya sudah sangat menguasai otaknya. Tanpa mempedulikan pelayan di rumahnya, lelaki itu menggendong istrinya sambil terus menciuminya. Vania hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan yang sangat menggoda dari Alex.
Sampai di kamarnya, mereka berdua benar-benar sudah dikuasai oleh gairah percintaannya. Alex memperlakukan Vania dengan sangat lembut, hingga perempuan itu terbuai dalam permainannya. Siang itu menjadi hari yang sangat melelahkan bagi mereka. Alex seakan tak pernah puas menikmati percintaannya. Entah berapa ronde mereka melakukannya bersama. Hingga Vania kelelahan, lalu tertidur hingga hari sudah semakin gelap. Vania terlihat tidur pulas dalam dekapan Alex.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰