Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Kecupan Pemberi Semangat


__ADS_3

Vania memutuskan tak kembali ke kamarnya. Dia memilih tidur di kamar tamu lantai bawah. Vania masih menangisi kepedihan di hatinya. Takdir apa yang telah dipilihkan untuknya, hingga dia tak mampu mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Tanpa disadarinya hari sudah pagi, sedangkan matanya belum terpejam sama sekali. Kedua matanya bengkak, lingkaran hitam di bawah mata begitu terlihat. Vania mandi dan duduk di meja makan.


"Kenapa semalam tak kembali ke kamar?" Alex tiba-tiba sudah ada di hadapannya.


"Apa kamu ingin kita berangkat bersama?" tanya Alex.


"Aku tidak berangkat kuliah. Aku mau tidur, nikmati saja sarapanmu," ucap Vania lalu beranjak masuk ke kamarnya.


Alex hanya menatap kepergian Vania dari hadapannya. Dia mulai mengkhawatirkan kesehatannya. Wajahnya terlihat pucat, matanya bengkak. Alex pun menyusul Vania ke kamarnya. Dia melihat Vania sudah tertidur di ranjang, dipeganglah keningnya.


"Suhu tubuhnya panas," gumam Alex.


Alex mengambil steteskop di tas perlengkapannya. Dia mulai memeriksa istrinya itu.


"Sepertinya dia demam dan kurang istirahat," ucapnya.


Alex lalu mengambil Parasetamol yang ada di tasnya. Dia meminumkan obat itu ke Vania. Alex pun mengurungkan niatnya untuk ke kampus. Dia memilih menemani istrinya yang sakit. Alex terus menggenggam tangan Vania, dia mengecup tangan itu. Vania pun terbangun karena sentuhan bibir Alex di tangannya.


"Kak, kenapa tak berangkat ke kampus?" ucap Vania lirih.

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa meninggalkan Istriku yang sedang sakit," jawab Alex sambil terus menatap wanita di depannya.


Mendengar jawaban Alex, air mata Vania mengalir di pipinya.


"Istriku, kenapa menangis?" tanya Alex.


"Aku sangat terharu mendengar kata ISTRIKU," jawab Vania.


"Tunggulah sebentar, aku akan mengambil bubur untukmu." Alex pun keluar menuju dapur.


Tak lama kemudian Alex kembali membawa semangkuk bubur di tangannya.


"Buka mulutmu, aku akan menyuapimu," ucap Alex.


"Biarkan aku belajar melakukan tugasku sebagai Suamimu, dasar istri tidak peka," ucap Alex dengan kesal.


"Baiklah Suamiku." Vania pun tersenyum mendapatkan perhatian dari Alex.


Secara telaten Alex menyuapinya, bahkan dia juga yang membersihkan makanan yang belepotan di sekitar bibir Vania. Mendapat perlakuan yang lembut, hati Vania menjadi berbunga. Walaupun dia juga takut jika harus dikecewakan.

__ADS_1


"Kak, jangan terus-terusan memperlakukan aku dengan lembut. Aku bisa semakin jatuh cinta pada Kak Alex. Aku belum siap dikecewakan," tutur Vania.


Alex tak menjawab perkataan Vania, dia hanya menatapnya dan sekilas mengecup keningnya. Lalu dia pun keluar dari kamarnya.


"Mengapa hatiku berdebar saat mengecup keningnya?" Alex bertanya di dalam hatinya.


Kecupan kecil di kening Vania seolah menjadi obat baginya. Vania menjadi lebih bersemangat, seolah tubuhnya sudah tak merasakan sakit apapun. Vania menjadi senyum-senyum sendiri. Di balik pintu kamar, Alex memperhatikan tingkah istrinya itu. Dia sedikit lega, perhatiannya membuat Vania menjadi lebih bersemangat.


Keesokan harinya ketika terbangun, Vania mendapati Alex masih tertidur di sampingnya. Ditatapnya wajah tampan yang ada di depannya. Hatinya berdebar lebih kencang. Vania pun menyentuh pipi Alex, lalu turun ke bibirnya. Bibir Alex sangat menggodanya. Ingin rasanya dia mencium bibir Suaminya, namun Vania hanya berani memandanginya saja. Dan membayangkan Alex menciumnya.


"Apa Suamimu ini terlalu tampan?" Suara Alex membuyarkan lamunannya.


"Iya eh tidak!" Vania terkejut membuatnya bingung untuk menjawab.


Alex pun tersenyum dengan tingkah lucu istrinya.


"Apa kamu ingin mencium bibir sexy milikku?" tanya Alex meledeknya.


"Apa!" ucapnya terkejut.

__ADS_1


"Darimana Kak Alex tau aku ingin mencium bibirnya? Jangan-jangan tadi dia pura-pura masih tertidur," gumam Vania sambil menarik rambutnya.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading


__ADS_2