Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Pemilik Mobil Merah


__ADS_3

Malam itu Alex sedikit pulang terlambat, dia harus menggantikan rekannya yang tidak dapat masuk karena sedang dirawat di Rumah Sakit. Alex tak mampu menghindari hal itu, dia pun harus melakukan tugas itu. Ketika hari sudah mulai larut malam, akhirnya Alex bisa pulang juga. Sampai di rumah, istrinya masih berada di ruang tengah. Alex menyapanya dan menatapnya penuh cinta. Namun lelaki itu tak ingin menyentuh istrinya, sebelum dia membersihkan diri.


Selesai mandi, Alex menyusul Vania di ruang tengah. Dia langsung memeluk dan mengecup singkat bibirnya. "Kenapa belum tidur, Sayang?" tanyanya dengan tatapan penuh cinta. Kemudian Alex mengusap lembut perut istrinya, sambil sesekali menciumnya. "Baik-baik di perut Mommy ya!" ucapnya pada bayi masih di dalam perut istrinya.


Vania sangat senang mendapatkan perlakuan lembut dari suaminya. Wanita itu melebarkan sebuah senyuman yang hangat, lalu memandang Alex dengan penuh kasih sayang. "Peluk aku, Mas," pintanya dengan manja. Vania hanya bisa pasrah menerima setiap perlakuan suaminya.


Tanpa menunggu lagi, Alex langsung memeluk istrinya, dia mampu merasakan kegundahan yang ditutupi oleh istrinya. Sangat jelas terlukis di wajah Vania, dari matanya terpancar sorot mata penuh kecemasan. Walaupun dia mencoba menutupinya dengan senyuman terindah sekalipun, sebagai seorang suami Alex bisa merasakannya. Dia yakin, ada sesuatu yang sudah terjadi dengan istrinya. "Sayang, apa hari ini semua baik-baik saja? Aku sedikit cemas memikirkan mu," ujarnya dengan suara lirih tetapi terdengar sangat jelas.


Vania mencoba untuk menutupi kecemasannya, namun tubuhnya justru merespon sebaliknya. Keringat dingin mulai mengucur di dahi Vania, tangannya terasa dingin dan berkeringat. Beberapa kali wanita itu mengusap dahinya. Vania menatap suaminya dengan perasaan yang sulit dikendalikannya. "Tadi di kampus, ada seseorang yang sengaja ingin mencelakakan aku tepat di depan gedung kampus," jawabnya dengan suara bergetar dan lirih.


"Apa! Bagaimana bisa? Apa kamu baik-baik saja, Sayang?" Dengan panik Alex memeriksa seluruh tubuh istrinya. Dia sangat takut jika Vania sampai terluka.


Vania mencoba sekuat hati untuk tenang. Dia menarik tubuh Alex dan memeluknya. "Aku baik-baik saja, untung saja ada yang menolongku. Tetapi aku sangat takut, Mas. Aku takut orang itu ingin mencelakakan aku lagi," jelasnya dengan ketakutan.


Alex mendekap erat tubuh istrinya, dia sangat khawatir dengan keadaannya. Padahal seorang wanita hamil tak boleh berpikir berlebihan, apalagi sampai stress. Dan sekarang, Vania justru terlalu stress memikirkan kejadian yang menimpanya di kampus. "Sayang, aku akan membawamu ke kamar," balasnya. Alex menundukkan tubuhnya, lalu meraup tubuh istrinya. Dia pun membawa Vania dalam gendongannya.

__ADS_1


Sampai di kamarnya, Alex menurunkan istrinya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Istirahatlah, Sayang. Jangan memikirkan yang tidak-tidak," ucapnya disertai kecupan singkat di keningnya. Setelah istrinya tertidur, Alex keluar sambil membawa ponselnya. Sepertinya dia sedang menelepon seseorang. Tak lama kemudian, lelaki itu masuk dan ikut berbaring di samping istrinya. Mereka berdua tenggelam dalam mimpi indahnya.


Esok harinya tanpa sepengetahuan istrinya, Alex sengaja ijin untuk tidak datang ke rumah sakit. Dia ingin mencari tahu kejadian apa yang menimpa Vania kemarin. Lelaki itu sudah membuat janji dengan sahabat mama mertuanya, Mario. Alex sengaja meminta bantuan Mario untuk menyelidiki kejadian itu.


Setelah Vania masuk ke gedung kampusnya, Alex langsung menjemput Mario di rumahnya. Kebetulan sekali rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus Vania. Sampai di sebuah alamat yang diberikan Mario sebelumnya, terlihat sebuah rumah yang cukup besar bergaya minimalis modern. Alex mengetuk pintunya, lalu seorang wanita paruh baya membukakannya. Alex duduk di kursi ruang tamu. Sambil menunggu, Alex membaca beberapa buku di atas meja.


Tak lama kemudian, Mario keluar dengan senyuman hangat yang tercetak dari wajahnya. "Maaf, membuatmu menunggu," ucapnya dengan tiba-tiba.


Alex langsung menatap lelaki itu, lalu memberikan senyuman lembut dengan sopan. "Aku juga baru saja datang, Om," balas Alex sedikit sungkan. Alex kemudian meletakkan buku di tangannya, lalu berdiri sambil memandang lelaki yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Ayo kita berangkat ke kampus, Om," ajaknya dengan ramah.


Sampai di kampus, Mario langsung menghubungi staf kampus, dan meminta ijin untuk memeriksa CCTV. Dengan modal sebuah id card milik Mario, mereka berdua sama sekali tak mengalami hambatan. Mario dan Alex langsung di arahkan ke sebuah ruangan khusus di lantai 2. Seorang petugas menemani mereka di ruang kontrol CCTV. Walaupun dalam rekaman itu korban tidak terlihat dengan jelas, namun sebuah mobil yang melaju kencang itu terekam dengan sangat jelas. Mario mengambil salinan video itu, kemudian mereka berdua pamit meninggalkan ruangan itu.


"Sepertinya mobil itu benar-benar ingin menabrak istriku," cetus Alex dengan suara sedih. Lelaki itu mendadak pucat, membayangkan video yang baru saja di lihatnya.


Mario sangat mengerti kecemasan Alex, dia pun menepuk pundak Alex. "Tenanglah! Aku akan mencari tahu, siapa pemilik mobil itu?" balasnya dengan suara tenang. Mario berjalan menuju tempat parkir, lalu masuk ke dalam mobil Alex. "Antarkan aku menemui Renata," pintanya dengan ekspresi wajah yang dingin dan terdengar serius.

__ADS_1


Alex langsung melajukan mobilnya menuju E.R Department Store. Sampai di tempat parkir, terlihat toko baru saja dibuka. Mario langsung berjalan masuk ke dalam toko, sedangkan Alex mengikuti di belakang. Seorang karyawan toko menyambut kedatangan dua lelaki itu dengan sangat ramah.


"Apa Renata sudah datang?" tanya Mario tanpa ada basa-basi.


"Bu Renata baru saja masuk ke dalam ruangannya," jawab karyawan itu.


Mario langsung menuju ruangan Renata. Semua karyawan sudah tahu tentang kedekatan Mario dengan pemilik toko itu. Tanpa banyak bertanya, Alex tetap mengikuti Mario. Akhirnya mereka sampai juga di sebuah ruangan yang cukup luas dan terlihat mewah.


"Apa kabar, Mama Renata?" sapa Alex dengan sedikit canggung.


Renata langsung menoleh, dan menatap dua lelaki di hadapannya. "Alex! Mario! Tumben kalian datang bersamaan?" tanyanya sangat penasaran.


"Bawa laptopmu ke sini. Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu," seru Mario sambil duduk di kursi yang ada di ruangan itu.


Mario menunjukkan video itu, Renata terlihat sangat terkejut melihatnya. "Walaupun video ini tidak terlalu jelas, aku sangat yakin wanita dalam video itu adalah anakku," ucap Renata sangat cemas. Renata mencoba menahan amarahnya, seolah kepalanya akan meledak menyaksikan putrinya hampir tertabrak mobil. "Mario! Selidiki pemilik mobil merah itu. Aku harus menemukan siapa yang berusaha mencelakai Vania," ujar Renata dengan dingin dan terdengar menakutkan. Renata sedang berada di puncak emosinya, seolah sebuah bom sudah siap meledak kapanpun juga.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2