
Hari ini Vania sengaja datang ke kampus lebih pagi, dia ingin membagi kebahagiaannya dengan para sahabatnya. Sebelum tiga sahabatnya datang, Vania sudah memesan beberapa makanan untuk dirinya. Kebetulan sekali, tadi pagi perempuan itu tidak sarapan. Vania terlalu malas makan sendirian, karena Alex berangkat lebih pagi. Hal itu yang menyebabkan Vania melewatkan sarapannya.
Tak berapa lama, Vina dan Tiara terlihat berjalan menuju kantin. Mereka berdua datang dengan senyuman manis yang menyegarkan. "Pagi, Nyonya Alex!" sapa Vina dengan wajah yang sangat bersemangat.
Tiara langsung duduk berhadapan dengan Vania. Gadis itu memandang penasaran pada sahabatnya. Seolah ada jutaan pertanyaan melayang-layang di kepalanya. "Vania. Hal penting apa yang membuatmu mengumpulkan kita disini?" tanyanya sangat penasaran.
Vania hanya senyum-senyum dengan wajah tanpa dosa. Dia malah asyik dengan makanannya sendiri, tanpa peduli dengan rasa penasaran sahabatnya. Padahal dua sahabatnya itu sudah tidak sabar menunggu kabar bahagia yang akan dikatakan Vania. "Tunggu! Yang satu lagi belum datang," balasnya sambil terus tersenyum.
Tak berapa lama, Riana datang dengan wajah yang tak kalah bersemangat. "Pagi, Cantik. Maaf aku terlambat," ucapnya dengan ramah.
Mereka semua duduk berempat, saling merapat satu sama lain. Vania mengisyaratkan untuk merapatkan barisan. Setelah mereka berdekatan, Vania berucap dengan lirih. "Aku sudah hamil," bisiknya.
"Apa!" Mereka semua terkejut secara bersamaan. Tiara sampai menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Vina langsung memelototi Vania. Riana malah hampir terjatuh dari kursinya, karena sangat terkejut. Mereka semua berbisik-bisik agar tak ada orang lain yang mendengarnya.
"Kamu serius? Wah! Kak Alex benar-benar hebat, bisa menghamili kamu secepat ini," cetus Vina tanpa basa-basi.
Vania hanya tersenyum tanpa menanggapi perkataan Vina. Dia terlalu bahagia akan menjadi seorang ibu. Vania pun ingin merayakannya dengan tiga sahabatnya itu. "Karena aku sangat bahagia, aku akan mentraktir kalian di E.R Department Store. Kalian bisa membeli apapun yang kalian suka," kata Vania.
Mereka semua langsung bersorak kegirangan, bahkan Riana sampai melompat-lompat tanpa peduli sekitarnya. Setelah menghabiskan makanannya, Vania dan sahabatnya segera masuk ke kelas. Saat kelas sudah selesai, barulah mereka berangkat ke E.R Department Store.
__ADS_1
Baru sampai di tempat parkir, suasana sudah terlihat sangat ramai. Vania bingung harus memarkirkan mobilnya dimana? Perempuan itu menghentikan mobilnya di lobby depan, lalu memanggil petugas parkir. "Tolong carikan dua mobil ini, tempat untuk parkir," ucapnya pada pegawai parkir.
"Baik, Nona," jawabnya dengan senyuman ramah.
Semua karyawan E.R Department Store pasti mengenal Vania. Anak tunggal dari pemilik E.R Department Store yang sangat terkenal itu. Jadi seramai apapun suasana di sana, pasti mereka semua akan memberikan penyambutan yang ramah untuk Vania.
Vania berjalan bersama tiga sahabatnya, menerjang kerumunan di dalam toko. "Kenapa ramai sekali sih?" gerutunya sambil memandang segala arah.
"Sepertinya ada jumpa fans di sini," ujar Riana sambil berjalan mendekati padatnya kerumunan. Setelah melihatnya, Riana langsung memutar balik dengan wajah cemas. "Ternyata ini semua fans Sabrina Aurora," serunya pelan.
Ekspresi wajah Vania mendadak berubah, senyumannya seolah terkikis lalu menghilang. Kemudian dia berjalan melewati acara jumpa fans, tanpa melihat ke arah Sabrina. "Ayo kita menjauh dari tempat ini," seru Vania pada sahabatnya.
Di sisi yang lain, Vania sedang memilih beberapa pakaian untuk sahabat-sahabatnya. Sedangkan yang lainnya, terlihat bingung dengan pilihan mereka. Vania merasa senang melihat ketiga sahabatnya sangat antusias memilih pakaian. Dia ingin membagi kebahagiaannya dengan caranya sendiri. Seperti sekarang, dengan mengajak mereka berbelanja, sudah membuatnya cukup senang. Setelah semua mendapatkan barang pilihannya, ketiga perempuan itu kembali menghampiri Vania.
"Aku memilih gaun yang ini. Bagaimana, bagus tidak?" tanya Vina dengan membawa sebuah gaun berwarna merah yang sangat cantik.
Vania tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. "Kalau kamu yang pakai, pasti akan sangat cantik. Badanmu saja tidak kalah dengan model papan atas," jawabnya sambil memegang gaun merah itu.
Vina tersenyum malu, hingga wajahnya merona. Perempuan itu terlena dengan pujian yang diucapkan oleh Vania. Vina menjadi senyum-senyum sendiri, membayangkan dirinya memakai gaun itu. Tak berapa lama, Riana dan Tiara juga sudah memilih pakaian yang disukainya. Mereka pun hendak berjalan menuju kasir. Belum sampai setengah jalan, Sabrina datang menghadang mereka.
__ADS_1
"Jangan mentang-mentang kamu anak dari pemilik E.R Department Store ini, kamu bisa seenaknya memandang aku," cetus Sabrina dengan aura kemarahan yang sudah tak mampu dibendung.
Vania tersenyum cantik seperti biasa, seolah tak ada apapun yang terjadi. "Maaf. Aku tak mengerti dengan ucapanmu," balas Vania sambil berlalu meninggalkan wanita itu. Vania tak mau menanggapi kegilaan yang akan dilakukan oleh Sabrina. Seolah Vania sudah berfirasat buruk terhadap wanita itu.
Melihat Vania akan berjalan meninggalkannya, Sabrina langsung menarik tangan Vania dengan sedikit kasar. "Tunggu! Wanita sialan!" teriak Sabrina dengan lantang.
Vina yang melihat pemandangan itu langsung murka, dan mendorong Sabrina dengan keras. Bahkan Sabrina pasti sudah jatuh ke lantai, jika managernya tidak menahannya. "Jangan kasar dengan Vania! Dia sedang mengandung! Jika sampai terjadi sesuatu dengannya, aku tak akan membiarkanmu," balas Vina dengan tatapan yang sangat mengerikan.
Sabrina seolah mendapatkan sebuah tamparan yang sangat keras. Dia tak menyangka, Vania akan hamil secepat itu. Dia merasa sudah kehilangan kesempatan untuk merebut Alex kembali ke sisinya. Seakan api amarah sudah membakar hati dan jiwanya. Sabrina memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tanpa mengatakan apapun. Berita kehamilan Vania berhasil membuat pukulan untuknya. Sabrina belum merelakan Alex bersanding dengan wanita lain. Meskipun selama ini dia hanya memanfaatkan Alex, jauh di lubuk hatinya Sabrina juga mencintai lelaki itu. Dia pun tak bisa mengingkari perasaannya sendiri.
Setelah kepergian Sabrina, ketiga sahabat Vania langsung mendekatinya. "Kamu baik-baik saja?" tanya Tiara dengan wajah yang sangat cemas.
"Aku tidak apa-apa," jawab Vania tanpa ekspresi.
"Rasanya aku sudah tak tahan ingin merobek mulut Sabrina," sahut Vina dengan wajah penuh amarah.
"Sudahlah. Ayo kita segera pulang," ucap Vania sambil berjalan ke kasir.
Vina, Tiara, dan Riana memandangi Vania yang berjalan lebih dulu. Mereka tidak tega jika sahabatnya harus diperlakukan dengan buruk. Vania terlalu baik kepada Sabrina, padahal jika dia mau, Vania bisa membalasnya lebih buruk lagi dari perlakuan Sabrina. Vania terlalu berhati malaikat, itu juga yang terkadang membuat sahabatnya kesal. Vania tak pernah mau membalas setiap perlakuan buruk Sabrina kepadanya. Padahal sudah berkali-kali Sabrina melakukan hal yang merugikan kepadanya.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰