Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
The Wedding


__ADS_3

Alex dan Vania sedang duduk di sebuah ruangan hotel. Setelah menyelesaikan make up dan memakai dress pengantin, mereka berdua bisa sedikit bersantai sambil menunggu waktu. Beberapa kali Alex terlihat mengusap hidungnya. Dia terlihat gelisah dan tidak tenang. Vania yang merasakan kegelisahan suaminya, langsung menggenggam tangannya. "Kenapa Kak Alex sangat gelisah? Bukankah ini hanya pesta biasa?" tanya Vania.


"Entahlah. Aku merasa gelisah dan tidak tenang," jawab Alex.


Seorang pengarah acara pun datang untuk menjemput pasangan itu. Mereka berdua berjalan pelan melewati beberapa wartawan dan banyaknya tamu undangan.


Vania terlihat cantik dengan gaun pengantin yang sudah dipilihnya.


Dunia dongeng dan sosok para puteri menginspirasi Vania untuk memilih gaun pengantin itu. Gaun pengantin dengan detail bunga dan juga payet dalam warna ivory yang klasik. Dipadukan dengan veil menambah kesan sakral. Vania memilih veil yang panjangnya melebihi kaki, sehingga tampilan menjadi lebih romantis dan dramatis. Sedangkan Alex terlihat sangat serasi dengan tuxedo warna hitam pilihannya. Semua mata seolah terhipnotis, memandang pasangan pengantin yang baru saja memasuki ballroom hotel.


Sebuah ballroom hotel di sulap menjadi wedding venue yang sangat mengagumkan. Dengan ribuan mawar yang tertata dengan sangat indah. Red carpet panjang bertabur kelopak mawar mengantarkan pasangan menuju pelaminan.


Didepan pelaminan, beberapa Bridesmaids terlihat membawa seikat bunga. Hanya ada seorang Bridesmaids yang berdiri di tengah yang membawa bunga yang berbeda. Baby's Breath, bunga berwarna putih yang kini banyak difavoritkan dalam dekorasi pernikahan, yang melambangkan kesucian dan simbol cinta yang abadi juga murni.


Sang pengantin berjalan menuju pelaminan, dengan diiringi oleh musik yang sangat romantis. Sabrina begitu syok dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa sadar tubuhnya bergetar, berdiri di depan pelaminan untuk memberikan bunga pada istri mantan kekasihnya. Sabrina berharap apa yang terjadi adalah mimpi. Rasanya dia ingin pingsan berada di tengah acara itu. Ingin rasanya dia berlari secepat mungkin keluar dari ballroom hotel itu.


Alex yang menyadari Sabrina berdiri menjadi Bridesmaids sempat menghentikan langkahnya sekejap. Dia berusaha tersenyum dengan tenang. "Sayang. Bagaimana Sabrina bisa berdiri disana?" bisik Alex pada istrinya.


"Semua atas pengaturan Mama," jawabnya.


Tiba saatnya, ketika Sabrina harus memberikan bunga pernikahan itu. Dengan tangan bergetar, dia berjalan mendekati pengantin. Matanya berkaca-kaca, wajahnya sangat pucat. Namun Sabrina tak mungkin bisa melarikan diri dari sana. Karena sekali dia pergi, karirnya pasti hancur saat itu juga. Beberapa wartawan mengabadikan momen paling mendebarkan bagi Sabrina. Dengan memaksa sedikit senyuman di bibirnya, Sabrina memberikan seikat Baby's Breath kepada Vania. "Selamat atas pernikahan kalian," ucapnya dengan nada bergetar.


"Terimakasih," jawab Vania sambil tersenyum angkuh meledeknya.


Pengantin itu langsung berjalan menuju pelaminan, sedangkan Sabrina masih mematung di tempatnya. Dia masih tak percaya dengan kenyataan hidup yang harus dilewatinya. Tak ingin menjadikan pusat perhatian, seorang teman menarik tangan Sabrina. Andai Sabrina tak punya malu, mungkin sekarang dia sudah menjerit seperti orang gila. Dia merasa dipermainkan sekaligus dipermalukan, namun dia tak mampu membalasnya. Apa yang dilakukan oleh Renata memang terlihat kejam dan tak berperasaan.

__ADS_1


Di sudut yang berbeda, Davina dan Renata memandang ke arah yang sama. "Lihatlah! Perempuan murahan itu pasti sangat syok," ucap Renata.


"Dia seperti akan pingsan melihat Alex dan Vania," lanjut Davina


"Sabrina pantas mendapatkannya. Karena semua ulahnya pada Vania," kata Renata dengan senyuman sinis.


"Apa yang sudah dilakukan wanita itu?" tanya Davina sangat penasaran.


Namun pembicaraan mereka harus terhenti, ketika tamu mulai menghampiri mereka.


Acara berlangsung dengan sangat lancar. Semua undangan juga memuji pesta pernikahan itu. Melissa yang juga hadir bersama keluarga besarnya, juga ikut serta dalam kebahagiaan mereka.


"Selamat Alex. Vania," sapa Jessie dengan senyuman cantiknya.


"Kak! Jangan memelukku! Istriku ini sangat cemburu padamu," goda Alex.


Diam-diam Vania mencubit paha Alex, karena merasa telah dipermalukan. Wajahnya memerah karena menahan malu. Dia pun merasa tak enak pada Jessie yang masih berdiri di depannya. "Maaf Kak. Aku sempat salah paham padamu," ucap Vania tulus pada Jessie.


"Tak masalah. Aku sangat mengerti perasaanmu," jawab Jessie dengan lembut.


Jessie melihat sekeliling, seperti mencari seseorang. Lalu berjalan menghampiri seorang lelaki muda yang cukup tampan. "Jason!" panggil Jessie pada lelaki itu.


Jason langsung berjalan menghampiri Jessie. Lalu Jessie membawanya menemui kedua mempelai. "Berikan selamat pada sepupumu!" pinta Jessie.


Jason langsung menemui Alex dan istrinya, lalu memberikan ucapan selamat yang tulus. Alex begitu bahagia bertemu Jason, karena lelaki itu sangat sulit untuk ditemui. " Terimakasih Kak Jason atas kehadiranmu. Tak menyangka Dokter sesibuk dirimu bisa menghadiri pesta sederhana ini," tutur Alex.

__ADS_1


"Aku tak mau mengecewakan kedua wanita itu," jawab Jason sambil memandang Jessie dan Melissa.


Alex langsung tersenyum, dan memahami apa yang dimaksudkan Jason. Setelah Jason pamit pergi, Alex langsung melirik istrinya penuh curiga. Namun lelaki itu harus bisa menahannya, sampai acara benar-benar selesai.


Acara pesta selesai, Vania dan Alex memasuki kamar hotel yang sudah disiapkan untuk mereka. Dengan kekesalan dalam hatinya, Alex melepaskan pakaiannya. Lalu berganti dengan piyama dan langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Kak. Bantu lepas gaun ini," pinta Vania.


Alex langsung membantunya dan kembali ke atas ranjang tanpa mengatakan apapun. Vania merasakan keanehan pada sikap Alex. Dia mendekatinya dan ikut berbaring di sebelahnya. " Kak Alex marah sama Vania? Apa salah Vania?" tanyanya sedih.


"Apa kamu begitu menyukai Jason? Sampai tanpa henti memandangnya," jawab Alex kesal.


"Kak Alex cemburu? Bukankah Jason kekasih Kak Jessie?" goda Vania.


Alex kemudian menyentil kening istrinya. "Dasar nakal! Jason itu kembarannya Kak Jessie," jawabnya.


Vania menunjukkan ekspresi terkejut dan tak percaya. " Benarkah? Pantas saja Kak Jason sangat tampan," jawab Vania kelepasan.


Alex langsung mengerucutkan bibirnya, karena cemburu. Dia langsung berbaring membelakangi istrinya. Vania yang menyadari kesalahannya, berusaha merayunya dengan ciuman-ciuman kecil untuk menggoda Alex. Lelaki itu juga membalasnya dengan ciuman yang sangat lembut. Akhirnya Vania berhasil membuat Alex tak marah lagi. Dan mereka berdua melakukan ritual seperti malam pertama.


Selesai dengan ritual mereka, Vania tiduran di lengan suaminya. Rasanya kebahagiaan mereka sudahlah lengkap. Semua orang sudah mengetahui pernikahan mereka. Tak perlu ada lagi yang harus ditutupi. Vania tersenyum memandangi suaminya yang terlihat kelelahan. "Mas! Apa kamu sudah tidur?" tanyanya.


Begitu mendengar Vania memanggilnya dengan panggilan yang berbeda, Alex langsung membuka kedua matanya dengan senyuman. "Tadi kamu panggil aku dengan sebutan apa?" tanyanya dengan senang.


Vania terlihat berpikir, lalu tersenyum menggoda suaminya. "Mas Alex Sayang," panggilnya malu-malu.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2