
Alex menjadi kesal, karena melihat Bik Imah hanya senyum-senyum tanpa menanggapi ucapannya. Dia pun memberikan jus itu pada Vania yang masih terduduk lemas di meja makan. Vania langsung meminum habis jus buatan suaminya.
"Apakah lebih baik?" tanya Alex pada istrinya.
Vania mengangguk, seolah enggan menjawab. Wanita itu masih terlihat sedikit pucat dan tak bersemangat. Alex membantu istrinya berjalan menuju kamarnya.
"Mas. Aku ingin makan omelet telur buatan Mas Alex," ucap Vania sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Alex kembali ke dapur untuk membuat omelet telur permintaan Vania. Kebetulan sekali Bik Imah masih mencuci piring dan peralatan memasak.
"Bik! Tolong siapkan bahan-bahan untuk membuat omelet, Vania ingin memakannya." Alex membuka lemari perabot untuk mengambil panci penggorengan.
Bik Imah sudah menyiapkan semua bahan sekaligus bumbunya, agar majikannya hanya perlu mencampur lalu memasaknya. "Apakah Tuan Alex tidak berpikir kalau Non Vania sedang hamil?" tanya wanita setengah baya itu pada Alex.
Sebelumnya, Alex tak memikirkan hal itu. Namun mendengar ucapan dari Bik Imah, dia langsung berpikir ke arah sana. "Bagaimana aku bisa melupakan hal itu?" gerutu Alex sambil menarik rambutnya.
Begitu omelet sudah siap, Alex langsung tersenyum dan terlihat lebih bersemangat menemui istrinya. "Terimakasih, Bik." Lelaki itu langsung beranjak meninggalkan dapur. Sampai di kamar ternyata Vania sudah tertidur lelap. Alex mengusap kepala istrinya, mengelus perut Vania dengan lembut. "Semoga saja, kamu benar-benar sudah tumbuh disini," ucapnya lirih.
Walaupun belum yakin tentang kehamilan istrinya, Alex sudah sangat senang. Dia berharap Vania benar-benar mengandung anaknya. Kehadiran seorang anak akan melengkapi kebahagiaan mereka berdua. Lelaki itu sampai tak bisa memejamkan matanya, karena sudah tak sabar ingin membawa Vania ke dokter kandungan. Walaupun dirinya juga seorang dokter, di hadapan Vania dia tak mampu melakukan apapun. Bahkan bakatnya sebagai dokter, seolah menghilang jika harus berhadapan dengan istrinya.
Tanpa sadar hari sudah pagi, Alex masih duduk di sofa kamarnya sambil membaca buku. Semalaman lelaki itu benar-benar tak bisa tidur. Alex hanya membaca buku-bukunya tentang ilmu kedokteran.
Vania membuka matanya, sambil mengumpulkan kekuatannya untuk bangun. "Selamat pagi, Mas." Vania bangkit dan beranjak menyusul Alex di sofa. Wanita itu langsung memeluk suaminya dengan erat. "Mengapa pagi-pagi Mas Alex sudah membaca buku?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Alex tersenyum memandang istrinya, lalu mengecup bibirnya sekilas. "Morning kiss, Sayang." Kemudian dia meletakkan bukunya di atas meja, sambil melepaskan kacamatanya. Alex pun mendekap lembut tubuh Vania ke dalam pelukannya. "Aku ingin kamu ikut ke RS hari ini," katanya sambil memainkan rambut istrinya.
Vania menatap suaminya penuh tanya. "Mengapa harus ke Rumah Sakit?" tanyanya lirih. Wanita itu masih bergelayut manja di tubuh Alex. Dia merasakan sebuah kenyamanan saat memeluk suaminya.
"Apa mau aku memandikanmu?" tanya Alex penuh harap.
Vania tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lelaki itu benar-benar memandikan istrinya. Namun kali ini, benar-benar mandi yang sesungguhnya, tanpa ada hal-hal lainnya. Alex menggosok lembut punggung Vania, mengusapnya dengan pelan. Sesekali dia mengelus perut Vania yang masih rata. Setelah beberapa kali Alex mengelus perut Vania, sepertinya dia mulai merasakan sesuatu yang aneh pada suaminya.
"Mengapa Mas Alex terus mengelus perutku?" tanya Vania yang semakin penasaran.
Alex lalu mengguyur tubuh Vania hingga bersih, lalu mengerikannya. "Perutmu terlalu menggemaskan," jawabnya sambil mengecup perut istrinya. Alex lalu menggendong Vania ke dress room, dia memilih baju untuk istrinya. Pilihan jatuh pada dress jeans panjang di atas lutut, didesain dengan model sabrina ditambah kancing mutiara dari atas sampai bawah.
Ketika Vania merias wajahnya, Alex gantian yang mandi. Lelaki itu melakukan ritual mandinya secepat mungkin. Dia ingin segera ke RS dengan segera. Akhirnya Vania dan Alex sudah duduk di meja makan di rumahnya. Wanita itu masih belum berselera makan, dia hanya memakan beberapa buah dan selembar roti.
"Perutku rasanya sangat kenyang," jawab Vania tak bersemangat.
Alex hanya tersenyum sambil menghabiskan makanannya. Setelah mereka selesai dengan sarapannya, Alex langsung mengajak Vania ke RS. Jalanan yang sangat macet membuat Alex beberapa kali menggerutu. Sepertinya lelaki itu sudah sangat tidak sabar untuk mendapatkan kabar gembira. Vania yang melihat Alex sedikit tidak sabar, merasa sedikit risih.
"Mengapa hari ini Mas Alex terlihat sangat tidak sabar?" tanya Vania dengan nada tidak senang.
Alex merasakan ketidaknyamanan Vania akan dirinya. "Maafkan aku, Sayang. Aku hanya ingin segera sampai ke RS," kilahnya.
Padahal jauh di lubuk hatinya, Alex merasakan kegelisahan yang sangat besar. Antara akan bahagia atau akan kecewa, semakin membuat hatinya berdebar. Akhirnya setelah melewati perjalanan yang terasa sangat panjang bagi Alex, mereka berdua sudah sampai di Rumah Sakit Lentera. Alex berjalan sambil menggandeng tangan istrinya, menuju sebuah ruangan paling ujung. Sampai di depan ruangan itu, Alex mengetuk pintu. Tok tok tok. Seorang perawat membukakan pintunya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Dokter Evi," sapa Alex dengan ramah.
Dokter Evi langsung memandang ke pasangan itu. "Selamat datang, Alex, Vania. Mari silahkan duduk dulu." Dokter Evi meletakkan beberapa map besar milik pasien.
"Mas. Untuk apa kita ke sini?" tanya Vania sedikit berbisik.
Dokter Evi tersenyum memandang Vania. Walaupun suaranya pelan, namun terdengar jelas di telinganya. "Hai Vania! Pasti kamu melupakan aku. Kita pernah bertemu di pernikahan kalian. Kebetulan papanya Alex adalah teman kuliahku," jelasnya. Kemudian Dokter Evi berjalan menuju sisi ranjang. "Vania. Kemarilah! Aku akan memeriksa keadaanmu," seru Dokter Evi dengan sangat ramah.
Dengan ragu-ragu Vania menuju ke ranjang periksa, dia membaringkan tubuhnya di sana. Alex berdiri di samping Vania dengan detak jantung yang sangat tidak beraturan. Karena terlalu cemas, Alex sampai berkeringat dingin. Dokter Evi membantu Vania membuka kancing yang berada tepat di perut.
"Mengapa perutku yang harus diperiksa?" protes Vania pada dokter itu.
Dokter Evi hanya tersenyum, kemudian mengoles gel di perut Vania. Dokter Evi melakukan pemeriksaan USG, transducer digerak-gerakkan di bagian perut Vania. Dokter Evi kembali tersenyum begitu melihat layar monitor. "Lihatlah! Titik kecil ini adalah calon bayi kalian. Diperkirakan usianya adalah 6 minggu. Selamat Alex dan Vania," ucap Dokter Evi dengan senyuman hangat.
Vania masih terdiam di atas ranjang, dia belum percaya dengan kehamilannya. Alex langsung mengecup kening Vania. "Terimakasih, Sayang. Kamu memberikan aku seorang bayi yang ada di perutmu," ungkap Alex sangat terharu.
"Dokter. Apakah aku benar-benar hamil?" tanya Vania masih tak percaya.
"Kamu benar-benar telah mengandung anak Alex. Jagalah kandunganmu dengan baik. Setelah ini, lakukan beberapa tes kesehatan lainnya, untuk memastikan keselamatan ibu dan bayinya," jawab Dokter Evi dengan sangat lembut.
Akhirnya Vania bisa tersenyum lega, walaupun ada kecemasan di dalam hatinya. "Terimakasih, Dokter," ucapnya senang.
Alex merasakan kebahagiaan yang sangat besar. Dia ingin selalu mendampingi Vania setiap saat. Lelaki itu merasa sangat beruntung bisa menikahi istrinya.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰