Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Melepaskan Kerinduan


__ADS_3

Langkah demi langkah Vania berjalan pelan, menuju sebuah rumah besar di seberang rumahnya. Seorang satpam tersenyum ramah menyambut kedatangannya. Sampai di halaman depan yang cukup luas, terlihat Mama mertuanya sedang sibuk dengan bunga-bunga di taman. Wanita itu sedang memotong daun-daun yang mulai menguning juga membersihkan area taman. Saking asyiknya, Davina sampai tak menyadari kedatangan Vania.


"Selamat pagi, Ma!" sapa Vania dengan sedikit senyuman.


Suara Vania membuat Davina sedikit terkejut, dan langsung membalikkan badannya. Wanita itu langsung tersenyum ramah menyambut kedatangan menantunya. "Selamat pagi, Sayang. Tumben pagi-pagi sudah disini?" godanya sambil senyum-senyum menatap Vania.


"Di rumah sepi, Vania jadi kesepian," jawabnya tak bersemangat.


Davina masih bingung dengan jawaban Vania. Dia pun mencuci tangannya, lalu mengajak Vania masuk ke dalam rumah. "Memangnya Alex sesibuk itu?" tanya Davina penasaran.


Vania berjalan mengikuti Davina sampai di ruang tengah, lalu dia memilih duduk di sofa besar di ruangan itu. "Baru sehari jadi dokter magang, Vania sudah tak bisa bertemu Mas Alex. Sebelum Vania bangun, Mas Alex sudah berangkat. Pulangnya pun setelah Vania sudah terlelap," gerutunya dengan wajah cemberut.


Davina melihat wajah kekesalan pada menantunya. Namun dia juga mengerti dengan kesibukan Alex, apalagi statusnya yang masih menjadi dokter magang. Wanita itu akhirnya mendekati menantunya, dan mengusap lembut rambutnya. "Nanti kamu ikut Mama ke Rumah Sakit, biar kamu bisa melihat sendiri pekerjaan Alex disana. Sepertinya ruangan yang kalian minta sudah disiapkan oleh Papa," ajaknya pada Vania.


Begitu mendengar ajakan mama mertuanya, Vania langsung tersenyum cerah. Mendadak dia menjadi bersemangat. "Apa Vania beneran boleh ikut, Ma?" tanyanya dengan wajah berbinar.


"Tentu saja, Sayang," jawab Davina.


Davina juga merasa senang, melihat Vania yang menjadi lebih bersemangat untuk menemui suaminya. "Sepertinya dia terlalu merindukan Alex," ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan sarapannya, Vania pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap. Dia sudah tak sabar ingin bertemu dengan suaminya. Sehari saja tak bertemu Alex, sudah membuat suasana hatinya semakin kacau. Kerinduan yang mendalam semakin menyesakkan dadanya. Seolah Vania sudah tak mampu lagi menahan rasa rindu di dalam hatinya.


Suara klakson mobil Davina terdengar hingga kamarnya. Vania langsung mengambil tasnya dan berlari keluar menuju mobil mama mertuanya. Dengan wajah yang berbinar, Vania membuka pintu mobil. Wanita itu tersenyum memandang Davina, sambil memasang seat belt di tubuhnya. "Vania sudah siap, Ma," serunya dengan semangat.


Davina langsung melajukan mobilnya menuju RS Lentera. Dia merasa kasihan melihat Vania yang terlalu merindukan Alex. Bahkan di wajah Vania tersirat ada sebuah perasaan yang menyiksa hatinya. Akhirnya sampai juga mereka di lobby RS. Setiap staf menyapa Davina dengan sangat sopan. Tak jarang mereka tersenyum lalu membungkukkan badannya. Vania yang melihat hal itu, menjadi senyum-senyum sendiri.


"Sayang. Kamu bisa menunggu Alex di ruangan yang disiapkan untukmu. Ada di lantai 7 dengan pintu warna pink. Mama mau memanggil Alex dulu," ujar Davina sambil menatap lembut wajah Vania.


Vania pergi ke lantai 7, sedangkan Davina menuju ruangan dokter. Setelah berputar-putar tak menemukan putranya, Davina pun memilih bertanya pada dokter yang mengurusi semua mahasiswa magang. "Dokter Dennis!" panggilnya pada seorang dokter yang sedang berdiri di samping IGD.


"Ada yang bisa saya bantu, Dokter Davina?" tanya Dennis dengan sangat sopan.


"Tolong beritahu pada dokter magang bernama Alex, untuk segera ke ruangan saya," jawab Davina dengan tegas.


"Ada apa Mama memanggilku?" tanyanya penasaran.


"Seseorang sedang menunggumu, di lantai 7 pintu warna pink," jawab Davina dengan senyuman.


Alex memandang wanita di hadapannya dengan tajam. Dia begitu penasaran dengan orang yang menunggunya itu. "Siapa orangnya, Ma?" tanyanya lagi.

__ADS_1


Davina tersenyum melihat Alex yang begitu penasaran. Dia pun mendekati Alex, lalu mendorongnya keluar. "Cepatlah temui dia, sebelum dia pergi dari ruangan itu," serunya sambil terus mendorong Alex.


Merasa sangat penasaran, Alex langsung memasuki lift dan menuju lantai 7. Begitu Alex keluar dari lift, terlihat sebuah pintu pink satu-satunya di lantai itu. Dengan hati yang sedikit berdebar, Alex mendorongnya pintu warna pink di depannya. Seolah mendapatkan kebahagiaan yang berlimpah, Alex langsung memeluk wanita di ruangan itu. "Sayang, aku sangat merindukanmu," bisiknya lembut.


Vania memeluk erat suaminya, seolah tak ingin lagi berpisah. Wanita itu tenggelam dalam kerinduan yang membakar hatinya. Diciuminya Alex dengan sangat lembut dan penuh hasrat. Lelaki itu membalas ciuman hangat dari Vania. Rasanya seperti sudah ribuan tahun, dia tak merasakan betapa lembutnya bibir wanita yang sangat dicintainya itu.


Alex pun melepaskan seragam dokternya, dan kembali menciumi istrinya. Ciuman kali ini seolah menuntut ingin sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman. Lelaki itu mulai menyentuh lembut tubuh istrinya. Dia terlalu menginginkan Vania, hingga tak mampu lagi menahan gejolak hasrat yang memenuhi jiwanya. Akhirnya Alex mendorong Vania hingga terbaring di ranjang besar ruangan itu.


" Sayang, aku menginginkannya sekarang," bisik Alex sambil menggigit lembut leher istrinya.


Vania membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang diinginkan oleh suaminya. "Disini?" tanyanya ragu.


Detik berikutnya, Alex sudah tak sabar lagi untuk menunggu jawaban dari istrinya. Dia pun langsung menghujani Vania dengan sentuhan lembut, yang membuatnya pasrah dengan keinginan suaminya. Akhirnya mereka berdua benar-benar menyatukan tubuh mereka. Hingga membuat kedua anak manusia itu, tenggelam dalam gejolak hasrat yang seolah membakar kerinduan yang mendalam.


Setelah selesai dengan permainan yang memabukkan, Alex masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Vania masih terbaring lelah di atas ranjang, dengan berbungkus selimut yang menutupi tubuhnya yang indah. Tak berapa lama, Alex keluar dengan wajah yang lebih segar. Lelaki itu memakai lagi pakaiannya, lalu menghampiri istrinya. "Sayang, aku harus kembali ke IGD. Rasanya aku tak rela jika harus meninggalkanmu," ucapnya dengan nada sedih, lalu mengecup bibir Vania.


Kemudian Vania kembali memeluk Alex dengan tubuhnya yang masih polos. "Aku masih merindukanmu, Mas," ucapnya lirih.


Alex tersenyum mendengar perkataan istrinya. Dia pun mencium Vania dengan sangat lembut, lalu mengecup keningnya. "Nanti malam tunggu aku pulang. Kita akan melepaskan kerinduan yang masih tersisa ini. Aku sangat mencintaimu," ucap Alex sebelum keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


Vania tersenyum memandang kepergian suaminya. Dia sudah tak sabar menunggu kepulangan Alex. Wanita itu merasakan kebahagiaan besar di dalam hatinya. Saking bersemangatnya, Vania buru-buru pulang untuk bersiap-siap menyambut Alex nanti malam. Setelah berpamitan dengan mama mertuanya, Vania menaiki taksi online untuk pulang.


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2