
Detik berganti menit, hari berganti bulan. Tanpa terasa sudah sebulan penuh Alex menjadi dokter magang di RS Lentera. Semakin hari Vania menjadi terbiasa dengan aktivitas baru suaminya. Walaupun pada awalnya selalu merasa sangat kesal, sekarang semua terasa mudah baginya. Jika Vania terlalu merindukan suaminya, dia akan menemuinya ke RS. Tak jarang jika pasien sedang sepi, Vania menghabiskan waktu bersama Alex di RS. Ternyata sebuah ruangan khusus itu, sangat bermanfaat bagi pasangan muda itu.
Hari ini adalah hari libur untuk Alex. Lelaki itu sengaja ingin mengajak istrinya untuk berjalan-jalan keliling kota. Pagi-pagi sekali, Alex sudah menyiapkan keperluannya untuk bepergian. Dia membangunkan Vania yang masih tidur terlelap. "Sayang. Bangunlah! Bukankah kita akan jalan-jalan pagi ini?" bisiknya di telinga Vania, sambil sesekali menciumnya.
Vania yang merasa risih, memaksakan diri untuk membuka matanya. "Mas, kita akan pergi kemana?" tanyanya sambil bermalas-malasan di atas ranjang.
"Aku akan membawamu ke tempat yang spesial," jawabnya dengan senyuman hangat di wajahnya.
Vania pun beranjak dari tempat tidurnya, dan masuk ke kamar mandi. Selesai mandi, dia langsung bersiap dengan sedikit polesan make up di wajahnya. Sebenarnya akhir-akhir ini Vania terlalu malas melakukan apapun. Namun demi suami yang sangat dicintainya, Vania rela memaksakan dirinya. Setelah selesai bersiap, wanita itu pun segera turun untuk menyusul suaminya. "Mas, aku sudah siap," ucapnya tak bersemangat.
Alex melihat wajah istrinya yang sedikit pucat. Dia pun sedikit khawatir dengan keadaan Vania. "Sayang. Apa kamu sedang sakit?" tanyanya sangat cemas. Alex menyentuh kening istrinya. Namun tak ada tanda-tanda jika demam. "Bagaimana kalau kita batalkan saja jalan-jalannya?" tanya Alex sedikit ragu.
Vania terlihat sedikit kecewa, namun wanita itu tetap mencoba untuk tersenyum. "Aku sudah terlalu bosan hanya di rumah saja. Bagaimana kalau kita ke kedai ice cream dekat kampus? Aku sangat ingin memakan ice cream dengan taburan almond," jawabnya dengan wajah yang lebih berbinar.
Mereka berdua langsung menuju kedai ice cream yang disebutkan oleh Vania tadi. Begitu sampai di sana, Vania memesan beberapa varian ice cream dengan bermacam topping. Alex yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tak yakin istrinya itu mampu menghabiskan semua ice cream-nya.
"Sayang. Kamu yakin akan memakan sebanyak itu?" tanya Alex tak percaya.
Vania langsung memandang suaminya dengan wajah kesal. Dia sedikit menunjukkan wajah cemberutnya. "Apa Mas Alex terlalu takut jika Vania menjadi gendut?" godanya pada suaminya.
"Aku akan sangat senang jika kamu berubah menjadi wanita gendut yang sexy," balas Alex dengan senyuman menggoda.
Beberapa saat kemudian, Vania telah menghabiskan semuanya. Sebenarnya Alex tak percaya dengan yang sudah dilihatnya, namun semua bukti ada di depan matanya. Vania telah menghabiskan tujuh porsi ice cream yang sudah dipesannya. Setelah itu, mereka berdua berjalan sebentar menuju sebuah taman di tengah kota.
__ADS_1
Vania dan Alex duduk di sebuah bangku di pinggir taman. Vania terus memandangi seorang balita yang bermain dengan ibunya. Pemandangan itu terlihat sangat indah baginya. " Mas! Bukankah anak itu terlihat sangat lucu," ucapnya sambil terus memandang seorang bocah yang sedang bermain.
Alex pun ikut memandang ke arah mata Vania menatap. Dia pun ikut tersenyum, saat melihat bocah itu tertawa bahagia bersama ibunya. "Apa kamu menginginkan yang seperti itu?" tanyanya penuh arti.
Vania tak menjawabnya, dia malah menatap suaminya dengan sangat tajam. Wanita itu memberikan sebuah isyarat yang sangat sulit diartikan oleh suaminya.
Alex semakin bingung dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh istrinya. Dia pun mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinganya. "Nanti malam kita akan membuat yang seperti itu," ucapnya lirih.
Vania yang mendengarnya langsung mencubit perut Alex dengan lembut. "Selalu itu yang Mas Alex pikirkan," protesnya.
Alex mencoba menghindari cubitan lembut dari istrinya itu. Lalu dia beralih memeluknya. "Aku akan berusaha sangat keras agar kamu cepat hamil. Aku tak mau orang berpikir, aku tak bisa menghamili mu," ucapnya sambil tersenyum menatap wajah Vania yang mulai kesal.
"Dasar otak mesum!" gerutu Vania sambil berjalan meninggalkan Alex.
Sampai di rumahnya, Vania langsung membaringkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Dia sudah terlalu lelah untuk menaiki tangga menuju kamarnya. Alex yang melihat istrinya semakin khawatir akan keadaannya. Dia pun segera menyusul Vania ke ruang tengah.
"Sayang, tidurlah di kamar! Jangan di sofa, badanmu bisa sakit semua," ajak Alex.
Vania masih memejamkan matanya, walaupun dia tidak tidur. "Rasanya aku sudah tak sanggup menaiki tangga itu, Mas." Vania tetap tak membuka matanya.
"Apa kamu ingin digendong ke kamar?" tanya Alex.
Namun Vania tak menjawab pertanyaan suaminya. Tanpa meminta ijin dari istrinya, Alex langsung membawa Vania masuk ke dalam kamarnya. Ternyata wanita itu benar-benar sudah tertidur pulas. Alex terus memandangi wajah Vania yang semakin cantik. Dia merasa akhir-akhir ini Vania berubah menjadi lebih cantik. Bahkan saat tertidur pun, Alex semakin jatuh cinta pada istrinya itu.
__ADS_1
Sebelum jam makan malam Vania sudah terbangun. Dia meminta Bik Imah memasak seafood kesukaannya. Saat tiba jam makan malam, Vania terlihat bersemangat untuk segera ke meja makan. "Mas! Buruan turun! Vania sudah lapar," teriaknya pada Alex yang masih di kamar.
Tak berapa lama Alex turun, dan langsung duduk di samping istrinya. Bik Imah mulai menyajikan berbagai masakan seafood kesukaan Vania. Mata Vania berbinar melihat hidangan yang sangat menggiurkan baginya. Setelah semua makanan tersaji di meja, Vania mengambilkan makanan untuk Alex. Dia ingin belajar menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Setelah itu Vania duduk di kursinya, lalu mengambil beberapa makanan di piringnya. Begitu akan membuka mulutnya, Vania sudah sangat mual dan langsung berlari ke kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Mencium aroma seafood benar-benar memabukkannya. Alex juga ikut terkejut dengan reaksi Vania, dia langsung menyusulnya.
"Sayang, ayo kita ke dokter saja. Aku tak mau terjadi apa-apa denganmu," ucap Alex dengan wajah sangat cemas.
Vania mencuci mukanya lalu memeluk suaminya. " Aku hanya masuk angin, karena terlalu lama di luar," jawabnya lirih.
Alex membantu Vania berjalan kembali ke meja makan. Namun selera makan Vania sudah menghilang. Rasanya dia sudah tak merasa lapar lagi. "Mas, tolong buatkan aku jus buah" pintanya pada Alex.
Alex langsung ke dapur membuat jus strawberry kesukaan istrinya. Bik Imah yang juga di dapur, tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Biar saya saja yang membuat jus itu, Tuan." Bik Imah berjalan dan berdiri di samping Alex.
"Biar saya saja, Bik. Sepertinya Vania kurang sehat, dia sedang tidak berselera makan. Vania hanya ingin meminum jus ini saja," jawab Alex dengan sopan.
"Bukankah Non Vania paling suka dengan masakan seafood?" tanya Bik Imah penasaran.
"Biasanya seperti itu, tapi tadi dia malah merasa mual begitu mau memakannya. Mungkinkah seafood itu sudah tidak segar?" tanyanya sambil terus membuat jus.
Bik Imah hanya senyum-senyum tanpa menanggapi ucapan majikannya. Mungkin saja wanita tua itu memiliki pemikiran lain tentang Vania.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰