Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Antara Bahagia Dan Takut


__ADS_3

Keluar dari ruangan Dokter Evi, Vania harus melakukan rangkaian tes kesehatan lainnya. Untuk memastikan kesehatan ibu dan bayinya. Alex dengan sabar mendampingi istri yang dicintainya itu. Bahkan lelaki itu sampai bolos dari magangnya. Semuanya dilakukan hanya untuk istri tercintanya.


Saat Alex dan Vania sedang duduk menunggu hasil laboratorium, Davina tidak sengaja melihat mereka berdua. Dia pun menghampiri anak dan menantunya itu. "Sayang. Apa kamu sedang sakit, wajahmu sangat pucat?" tanya Davina dengan tiba-tiba.


Vania yang sedikit terkejut, langsung berdiri dan mengulas sebuah senyuman. "Vania baik-baik saja, Ma." Vania kemudian memandang suaminya yang masih duduk di sampingnya.


Alex yang mengerti maksud dari tatapan istrinya, langsung berdiri dan mendekati Davina. "Vania sudah hamil, Ma," bisik Alex di telinga Davina.


Davina langsung mendorong Alex, dan memeluk menantunya. "Selamat, Sayang. Mama sangat bahagia mendengarnya. Kita harus merayakannya!" seru Davina dengan wajah berbinar.


Vania juga merasa senang melihat mama mertuanya sangat bahagia. Kabar kehamilannya menghadirkan kebahagiaan bagi kedua keluarga. "Tak perlu dirayakan, Ma. Yang penting bayinya sehat itu sudah lebih dari cukup," jawabnya dengan sangat lembut.


Davina sangat bangga memiliki Vania sebagai menantunya. Karena perempuan itu tidak pernah menuntut apapun dari Alex. Walaupun Vania terlahir dari keluarga yang cukup kaya, dia tak pernah menghamburkan uangnya. Vania selalu hidup dengan sederhana. Davina tersenyum memandangi wajah Vania untuk berulangkali. "Sayang. Mama akan memberitahu Mama Renata," ucap Davina sebelum beranjak meninggalkan mereka berdua.


"Sayang. Kamu memang sumber kebahagiaan bagi keluargaku. Lihatlah! Mama sangat bahagia mendengar kabar kehamilanmu," ujar Alex sambil mengusap rambut Vania.


Setelah hasilnya keluar, Alex dan Vania kembali menemui Dokter Evi. Mereka berdua mendengar penjelasan Dokter Evi dengan sangat serius, lebih serius dari mengikuti mata kuliah di kampus. Akhirnya selesai juga proses pemeriksaan perdana pada kehamilan Vania. Alex pun mengajak Vania pulang ke rumahnya.


Baru sampai di rumah, Alex langsung meminta Bik Imah memindahkan barang-barang mereka ke kamar utama di lantai bawah. Lelaki itu tak ingin istrinya kelelahan karena harus naik turun tangga. Vania terus menggelengkan kepalanya, melihat Alex yang mulai posesif.


"Mas. Tak perlu memindahkan kamar. Vania ini hamil bukan sedang sakit," protes Vania sambil duduk santai di ruang tengah.


Alex langsung menyusul Vania ke sofa, lalu mengusap perut istrinya yang masih rata. "Biar yang masih disini tidak kelelahan naik turun," ucapnya lirih.

__ADS_1


Vania langsung menunjukkan ekspresi malu, hingga wajahnya memerah. Dia tak menyangka, Alex menjadi semakin perhatian. Walaupun sebenarnya, Vania masih sedikit takut dengan kehamilannya. Dia berpikir dirinya masih terlalu muda untuk memiliki seorang bayi, namun itu tak akan mengurangi kebahagiaannya. Vania akan selalu menantikan kehadiran bayi yang masih tumbuh di dalam perutnya itu.


Setelah Bik Imah dan Lina selesai membereskan kamar utama, Vania langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Aku lelah sekali," gumamnya. Wanita itu mencari suaminya yang tak kunjung datang ke kamar. "Mas!" panggil Vania dengan suara yang sedikit keras. Namun Alex tak kunjung datang, Vania pun mengambil beberapa buku untuk dibaca. Ketika sedang asyik membaca, tiba-tiba suaminya datang.


"Sayang. Minumlah! Ini susu khusus untuk ibu hamil," ucap Alex sambil memberikan segelas susu yang siap minum.


Vania langsung meraih gelas itu, dan meminumnya sampai habis. "Mas Alex yang membeli susu ini?" tanyanya.


Alex tersenyum, lalu mengambil gelas kosong di tangan Vania, kemudian menaruhnya di atas meja. "Tadi aku keluar sebentar ke minimarket dekat rumah," jawabnya sambil duduk di samping istrinya.


"Kenapa Mas Alex tidak mengajakku?" tanya Vania dengan cemberut.


Alex mengecup keningnya, lalu menggenggam tangan istrinya. "Aku tak ingin kamu kelelahan, Sayang," jawabnya. Lelaki itu terus memandangi istrinya, sambil sesekali mencium tangannya dengan lembut. "Aku makin cinta sama kamu, Sayang," bisiknya di telinga Vania.


Vania sangat menyukai aroma tubuh Alex yang menenangkan. Wanita itu kemudian memeluk suaminya dengan erat. Dia semakin tenggelam dalam perasaan tenang yang membuatnya semakin nyaman. Hingga tanpa disadarinya, Vania sampai tertidur di pelukan hangat tubuh Alex.


Selama istrinya terbuai dalam mimpi, Alex memindahkan semua barang-barang Vania, ke tempat yang langsung bisa dijangkau oleh istrinya. Alex tak ingin Vania membahayakan dirinya dan bayinya. Setelah itu, dia memesan beberapa buku tentang kehamilan di toko buku online. Lelaki itu tak ingin istrinya bosan saat dia bertugas di Rumah Sakit.


Tak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Alex keluar untuk melihat, siapa yang baru saja datang? Terlihat Renata datang bersama Mario, sahabatnya. Alex langsung menyambut kedatangan mereka dan mempersilahkan masuk.


"Selamat datang, Mama Renata, Om Mario. Vania baru saja tidur, mungkin dia sedikit lelah hari ini," sapa Alex dengan senyuman ramah.


"Tak perlu dibangunkan, Alex. Mama di sini cuma sebentar saja." Renata pun langsung duduk di sofa ruang tamu. Sedangkan Mario duduk di samping Renata.

__ADS_1


"Apa Mama Davina sudah memberitahukan kabar gembira itu?" tanya Alex dengan sorot mata kebahagiaan.


Renata pun berjalan menghampiri Alex, lalu duduk di sampingnya. "Aku tak menyangka, Vania bisa hamil secepat itu. Tetapi Mama sangat senang mendengar berita itu. Selamat ya, Alex. Kamu akan segera menjadi seorang ayah," ujarnya sambil menepuk pundak menantunya.


Mario ikut senang mendengar berita itu. "Selamat, Alex. Om berharap, kamu bisa menjaga Vania dan bayinya," ucap Mario dengan senyuman tulus.


"Terimakasih, Om, Mama Renata. Alex berjanji akan selalu menjaga Vania dan bayinya," jawab Alex dengan yakin.


Renata pun meninggalkan beberapa bingkisan, sebelum dia dan Mario meninggalkan rumah itu. Di dalam mobilnya, Renata sedikit murung dan tak bersemangat. Mario dapat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh wanita itu.


"Apa kamu tidak senang mendengar kehamilan Vania?" tanya Mario sambil mengemudikan mobilnya.


Renata seolah menarik nafas yang cukup dalam, lalu memaksakan tersenyum pada sahabatnya itu. "Aku sangat senang," jawabnya terdengar tidak yakin.


Mario melirik Renata sebentar, lalu kembali memandang ke depan. "Kamu pikir, kamu bisa membodohi aku?" sindirnya tanpa ekspresi.


"Aku selalu gagal jika ingin membohongimu," balas Renata kesal.


Wanita itu kemudian terdiam cukup lama, lalu Renata pun akhirnya mau menceritakan kegundahannya. "Jujur, aku sedikit terkejut dengan kehamilan Vania. Bukankah anak itu terlalu muda? Bahkan, umurnya belum genap dua puluh tahun. Ada ketakutan yang menghantui hatiku, dan aku sangat takut," jelasnya dengan suara yang sedikit bergetar.


Kemudian Mario menepikan mobilnya di jalanan yang sedikit sepi. Lelaki itu kemudian mencoba memahami ketakutan Renata. Mario menatap lembut pada Renata, lalu menggenggam tangannya. "Jangan memikirkan apa yang belum terjadi, ketakutan itu hanya akan memberikan kecemasan di dalam hatimu. Percayalah! Semua akan baik-baik saja," hibur Mario dengan senyuman yang tulus.


Renata akhirnya mampu melepaskan kecemasannya, dia lalu tersenyum lepas. "Terimakasih, Mario. Hanya kamu yang selalu menemaniku, di masa-masa tersulit dalam hidupku," ucap wanita itu dengan suara yang mengharukan.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2