
Mario keluar di ruangan Renata untuk menelpon seseorang. Setelah beberapa menit kemudian, dia kembali masuk. Mario melihat, Renata semakin dipenuhi kemarahan. Alex berusaha untuk menenangkan ibu mertuanya itu. Sepertinya usaha yang dilakukan Alex sia-sia. Renata memukul meja di depannya dengan sangat keras. Wajahnya merah padam, menahan segala kemarahan yang semakin membara di hatinya. "Perempuan tidak tahu diri, berani-beraninya kamu berusaha menyakiti anakku!" ucap Renata dengan tatapan penuh amarah.
Alex yang mendengar ungkapan kekesalan Renata pun menjadi bingung. "Apa yang dimaksud dengan 'perempuan itu'?" tanyanya dalam hati. Alex semakin memikirkan hal itu. "Jika itu benar-benar Sabrina, wanita itu harus mendapatkan hukuman yang pantas," gumamnya.
Kemudian ponsel Mario kembali berdering, dia pun mengangkatnya. Wajah Mario berubah sedikit terkejut dengan kemarahan yang terlihat dari sorot matanya. Dia pun mengakhiri panggilan itu dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Mobil merah itu ternyata milik Sabrina," ucapnya jangan suara yang sedih.
"Apa! Bener-bener wanita itu yang ingin mencelakai Vania? Aku harus memberinya pelajaran!" seru Renata sangat kesal. Dia menghubungi seseorang dengan telepon kantornya. Entah apa yang sedang mereka bicarakan? Sepertinya itu adalah suatu hal yang sangat penting. Beberapa kali, Renata berteriak meluapkan kekesalannya. Dia bener-bener tak menduga, Sabrina akan melakukan hal sekejam itu.
Masih diselimuti oleh kemarahannya, Renata meninggalkan kantornya. Dia tak mempedulikan Alex dan Mario yang masih berada di ruangannya. Wanita itu menjalankan mobilnya mengemudikannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Mario dan Alex berusaha mengejarnya, namun mereka berdua kehilangan jejak Renata. Mario menghentikan mobilnya di tepi jalan raya. Dia pun turun dan duduk di kursi di trotoar jalan, Alex pun mengikuti Mario dan ikut duduk bersamanya.
"Apakah Mama Renata akan baik-baik saja, Om?" tanya Alex dengan cemas.
Mario berusaha untuk bersikap setenang mungkin. Beberapa kali lelaki itu menghela nafasnya, untuk mengurangi kegelisahan dalam dirinya. "Renata memang seperti itu. Dia akan berubah menjadi sangat posesif, jika itu menyangkut Vania. Bahkan sebelum kalian menikah, Renata menyewa seorang bodyguard untuk mengawasi Vania. Namun Vania tak pernah menyadari hal itu. Setelah kalian menikah, Renata sudah mempercayakan Vania kepadamu. Jadi dia sudah tidak membayar seseorang untuk mengawasi Vania lagi," jelas Mario dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Alex sangat terkejut mendengar penjelasan dari Mario. Dia tak pernah menduga jika mama mertuanya diam-diam telah melindungi Vania. Padahal dari luar, Renata seolah tak pernah memperhatikan anaknya. Ternyata wanita itu memiliki cara sendiri untuk melindungi Vania. Alex sangat bangga memiliki Renata sebagai mama mertuanya.
Saat kegelisahan Mario sudah mulai berkembang, Alex mengantarkan lelaki itu pulang ke rumahnya. Alex mampir di rumah Mario sambil menunggu jam pulang Vania. Banyak hal yang diceritakan Mario mengenai Renata. Mulai dari bisnisnya hingga kasih sayangnya kepada Vania. "Lihatlah besok pagi! Aku jamin karir Sabrina pasti hancur," tegas Mario tanpa ragu.
Alex terlalu bingung untuk menunjukkan ekspresinya, setelah mendengar ucapan Mario. Walaupun Alex sudah tak mencintai Sabrina, bukan berarti dia membencinya. Perkataan Mario telah berhasil mengacaukan pikirannya. Namun dia tak ingin menunjukkan kegelisahannya pada sahabat Renata itu. Ketika menjelang tengah hari, Alex pamit untuk menjemput Vania. Sang empunya rumah mengantarkan kepergian Alex sampai gerbang rumahnya.
Beberapa saat kemudian sampailah Alex di gedung depan kampus. Terlihat beberapa mahasiswa sudah mulai berhamburan keluar. Alex sengaja menunggu Vania di dalam mobil, karena bangku yang biasanya menjadi tempat menunggu untuknya, sudah diduduki oleh orang lain. Tak berapa lama, Vania berjalan dengan seorang lelaki seumuran dengannya. Wajahnya terasa familiar bagi Alex. "Aku merasa pernah melihatnya," gumamnya sambil memandang istrinya sedang berjalan sambil mengobrol dengan lelaki itu.
Begitu melihat mobil suaminya sudah terparkir di depan gedung, Vania langsung berjalan menuju ke sana. Dia langsung masuk dan duduk di samping Alex. "Kenapa tidak turun, Mas?" tanyanya dengan perasaan.
Vania menatap tajam mata suaminya, dia merasakan ada sesuatu yang sedang disimpan oleh Alex. "Mas. Apakah ada hal yang merisaukan hatimu?" tanyanya lembut. Vania pun memasang seat belt dan menutup kaca mobilnya.
"Aku akan bercerita ketika sampai di rumah," jawabnya tak bersemangat. Alex merasakan bingung, bagaimana dia akan menjelaskan siapa yang sudah berusaha mencelakainya? Alex terlalu takut, jika Vania tak bisa menerima hal itu. Karena kehamilan Vania membuatnya harus ekstra hati-hati dalam berucap ataupun bertindak. Kemudian Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jalanan siang itu lumayan macet, mereka berdua harus berlama-lama berada di jalan.
__ADS_1
"Kenapa harus macet juga sih?" gerutu Vania dengan nada sangat kesal. Wanita itu menurunkan kaca mobilnya sebentar, lalu menutupnya lagi. Vania terlihat sangat gelisah dan tidak sabar. Seolah dia sangat tak nyaman berada di dalam mobil. Kemudian dia mengambil sebotol air mineral di dalam tasnya, lalu meminumnya sampai habis. "Terasa sangat menyegarkan," desahnya sambil mengusap mulutnya dengan tissue.
"Sayang. Kamu tidak apa-apa? Kamu terlihat tidak nyaman," tanya Alex sambil menerjang kemacetan di depannya. Sesekali Alex melihat wajah Vania, lalu kembali fokus ke depan.
Vania tersenyum memandang suaminya. "Aku baik-baik saja, Mas," jawabnya. Wanita itu lalu mengambil ponselnya di dalam tasnya dan membuka akun gossip di ponselnya. Di sana tertulis, Sabrina baru saja mendapatkan kontrak kerjasama dengan brand yang cukup ternama. Bahkan nilai kontraknya sampai ratusan juta. Vania merasa tidak tertarik dengan hal itu, dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, pasangan itu sampai juga di rumahnya. Vania langsung masuk ke kamarnya dan mengganti baju. Setelah itu, dia menyiapkan hidangan untuk makan siang bersama suaminya. Tak lama kemudian, Alex menyusul istrinya dan menunggunya di meja makan. Wanita itu mengambilkan beberapa makanan untuk Alex, kemudian barulah dia duduk di samping suaminya. Setelah menghabiskan makanannya, Vania dan Alex duduk di pinggir kolam renang. Mereka bersantai sambil menikmati jus buah segar yang sudah disiapkan oleh Bik Imah.
"Sayang!" panggil Alex sambil menggenggam tangan Vania.
Vania langsung memandang suaminya dengan penuh cinta. "Kenapa, Mas?" tanyanya balik. Vania dapat merasakan keraguan yang tersirat dari tatapan suaminya.
"Orang yang berusaha menabrak mu kemarin adalah Sabrina," ucap Alex dengan lirih dan sedikit ragu.
__ADS_1
"Apa!" Vania berteriak tak percaya dengan semua yang sudah didengarnya. Dia tak menyangka, Sabrina mampu melakukan hal segila itu. Wajah Vania menjadi sedikit pucat, penuh kecemasan. Dia hanya berharap agar tak ada hal buruk yang akan menimpa keluarganya.
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰