Terpaksa Menikahi Selingkuhanku

Terpaksa Menikahi Selingkuhanku
Saling Merindu


__ADS_3

Pagi ini Vania harus berangkat kuliah seorang diri. Karena mulai hari ini, Alex menjalani masa magang di RS Lentera. Meskipun tidak terlalu bersemangat, Vania mencoba untuk terbiasa berangkat seorang diri. Sampai di tempat parkir, ketiga sahabatnya sudah menunggu Vania di bangku bawah pohon.


"Selamat pagi, Nyonya Alex," goda Riana sambil senyum-senyum.


Vania hanya mengulas senyuman ramah, lalu duduk di samping Vina. Ekspresi wajah wanita terlihat tidak bersemangat dari biasanya. Membuat ketiga sahabatnya itu penasaran, apa yang membuat Vania menjadi kesal.


"Kenapa dengan ekspresi wajahnya?" sindir Tiara sambil melirik Vania.


"Paling juga tak mendapatkan jatah dari suaminya," ledek Vina sambil tersenyum menggoda sahabatnya itu.


Bukannya tersenyum, Vania menjadi semakin kesal. "Awas ya kalian! Rasakan saja sendiri, jika kalian juga sudah punya suami," jawabnya acuh.


"Maaf! Kami tak bermaksud seperti itu. Tumben berangkat sendiri, dimana Kak Alex?" tanya Riana sambil menatap tajam wajah cantik sahabatnya.


"Mulai hari ini, Mas Alex magang di RS Lentera. Jadi aku akan berangkat sendirian terus," jawab Vania tak bersemangat.


Akhirnya ketiga sahabatnya itu mengerti alasan Vania menjadi tidak bersemangat. Sepertinya pasangan suami istri itu tak rela jika harus berjauhan. Bagaikan perangko yang ingin selalu menempel. Begitulah Vania dan Alex yang selalu ingin bersama.


Selesai mengikuti mata kuliahnya, Vania langsung berniat untuk segera pulang. Namun baru setengah jalan, mobil yang dinaikinya tiba-tiba mengalami mati mesin. Vania langsung menghubungi suaminya, namun tak mendapatkan jawaban. Lalu dia mencoba menghubungi bengkel langganannya, kebetulan sekali hanya satu mekanik yang berjaga di bengkel itu. Setelah lelah karena sinar matahari yang terlalu panas, Vania duduk di pinggir jalan tak jauh dari mobilnya.


Tak berapa lama, sebuah mobil berhenti di depan mobilnya. Seorang lelaki muda keluar dan menghampiri Vania.

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


Vania memandang ke arah suara itu berasal. Lalu menatap sekilas wajah yang terlihat familiar baginya. "Apakah kita saling mengenal?" tanyanya konyol dan tanpa ekspresi.


Lelaki itu sedikit tersenyum mendengar pertanyaan Vania. Lalu dia ikut duduk di samping wanita itu. "Kita memang belum saling mengenal, tapi aku pernah melihatmu mengobrol dengan adikku," jawabnya sopan.


Vania terlihat bingung dan mencoba mengingat kejadian yang mungkin dilewatkannya. "Adik?" tanyanya dalam hati. Wanita itu menjadi begitu penasaran, dengan siapa dia mengobrol belakangan ini.


"Adikku itu adalah Dion, bukankah kamu mengenalnya?" tanya lelaki itu sambil terus memandangi wajah cantik Vania.


Vania menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua sempat mengobrol sebentar. Kemudian lelaki itu pun membantu Vania memeriksa mesin mobilnya. Ternyata mobil Vania mengalami over heat, yang menyebabkan mesin mobilnya tiba-tiba mati. Kemudian lelaki itu meminta Vania untuk menunggu agar mesin lebih dingin.


"Tunggulah sebentar! Setelah air sudah terisi mesin mobil pasti bisa menyala. Tetapi kamu harus langsung membawanya ke bengkel, aku hanya memberikan pertolongan darurat saja," jelas lelaki itu.


Lelaki itu tersenyum senang, melihat Vania sudah bisa tersenyum. "Panggil aku, Dennis. Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi," ucapnya sebelum masuk ke mobil dan meninggalkan Vania.


Vania hanya bisa memandangi mobil Dennis yang semakin menghilang. Kemudian wanita itu langsung mengendarai mobilnya langsung ke bengkel. Sebelum ada kerusakan yang lebih besar, Vania akan melakukan servis total pada mobilnya. Karena ada beberapa antrian, Vania terpaksa meninggalkan mobilnya di bengkel. Dia pun pulang ke rumah dengan memesan taksi online.


Sampai di rumahnya, hari mulai gelap dan terlihat mobil suaminya tidak terlihat di garasi. Dia pun langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan keluar lagi untuk makan malam.


"Bik! Apa Mas Alex tadi sudah pulang?" tanyanya pada ART di rumahnya.

__ADS_1


" Seharian saya belum bertemu dengan Tuan Muda, Nyonya," jawabnya.


Vania menikmati makan malamnya sendirian. Ada rasa sedih dan perasaan yang tak biasa singgah di dalam hatinya. Selesai menghabiskan makanannya, Vania kembali ke kamarnya. Dibaringkan tubuh lelahnya, wanita itu tiduran sambil memandang langit-langit kamarnya. Rasa rindu yang menggebu mulai merasuki pikirannya. Baru sehari tak berjumpa dengan suaminya, rasanya sudah cukup membuatnya tersiksa. "Aku merindukanmu, Mas," gumamnya sebelum akhirnya Vania tertidur pulas dalam kerinduannya.


Setelah hampir tengah malam, Alex baru sampai di rumahnya. Hari pertamanya magang, dia berjaga di IGD. Begitu banyak pasien yang datang, membuat Alex sangat sibuk dan terlambat untuk pulang. Sejujurnya lelaki itu sangat tersiksa, karena seharian tak melihat istrinya. Selesai membersihkan diri, Alex langsung tertidur memeluk istrinya. Rasanya sangat nyaman, ketika berada di dekat wanita yang sangat dicintainya itu.


Esok harinya sebelum Vania bangun, Alex sudah mendapatkan panggilan dari RS. Ada kecelakaan beruntun yang membuat IGD kekurangan tenaga medis. Alex dimohon untuk segera berada di IGD secepat mungkin. Tak sempat melihat istrinya terbangun, lelaki itu mengecup kening istrinya dan langsung berangkat. Walaupun rasanya sangat berat, tetapi itu semua adalah panggilan jiwanya yang ingin menjadi seorang dokter.


Begitu membuka matanya, Vania tak mendapati suaminya di kamar. Dia pun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya. Terlihat dua ART sudah menyiapkan menu sarapannya. "Bik. Apa semalam Mas Alex pulang?" tanyanya sambil meminum jus buah di dalam kulkas.


"Tuan Muda pulang tengah malam, tetapi pagi-pagi tadi mendapatkan telepon dari RS," jawabnya.


"Bik Imah sama Nina bisa temani saya sarapan?" tanyanya penuh harap.


"Nina sedang ke pasar, Nyonya. Saya sudah biasa makan di dapur," jawab wanita paruh baya itu.


Akhirnya dengan sedikit paksaan, Bik Imah setuju untuk menemani Nyonya rumahnya sarapan. Mereka berdua duduk di meja makan saling berhadapan. Vania merasa sedikit terhibur dengan Bik Imah yang menemaninya. "Lain kali jika Mas Alex tidak menemaniku makan, Bik Imah dan Nina harus menemani saya makan," ujar Vania dengan lembut.


Bik Imah mengangguk sambil tersenyum menatap majikannya itu. Dia tak menyangka Vania yang menjadi majikannya itu begitu baik. Tak pernah merendahkan statusnya sebagai seorang ART. Sebagai seorang majikan, Vania sangat menghargai orang-orang yang bekerja di rumahnya. Bahkan ketika mereka semua meminta libur, Vania tak pernah menolaknya. Bagi Vania, mereka semua sudah seperti keluarganya sendiri. Ketika Renata tak pernah ada di rumah, hanya mereka yang selalu menemaninya selama bertahun-tahun ini.


Selesai dengan sarapannya, Vania duduk di halaman depan sambil berjemur. Dia mulai membayangkan yang tidak-tidak. Baru sehari magang, dia dan suaminya sama sekali tak bertatap muka. Vania tak bisa membayangkan bila harus bertahun-tahun seperti itu. Kecemasan mulai lagi menguasai hatinya. Namun Vania tetap harus bertahan.

__ADS_1


Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰


__ADS_2