
Ketika mentari mulai menyinari bumi, sepagi itulah Renata memasuki rumahnya. Keadaan rumah sangatlah sepi, hanya beberapa pelayan yang membersihkan rumah. Renata menghampiri salah seorang pelayan di rumah itu. "Jam berapa biasanya pasangan muda itu bangun?" tanya Renata pada pelayan di rumahnya.
"Biasanya setiap pagi Non Vania jogging keliling kampung," jawab pelayan itu.
Merasa sedikit tak sabar menunggu anaknya bangun, Renata langsung menaiki tangga menuju kamar mereka. Melihat pintu kamar yang sedikit terbuka, Renata pun mendorongnya agar terbuka lebar. Renata hanya menggelengkan kepalanya melihat pemandangan di depannya. Anak dan menantunya itu saling berpelukan tanpa pakaian hanya tertutupi oleh selimut tebal. Dengan bodohnya mereka tidak mengunci ataupun menutup pintu dengan rapat.
"Dasar pasangan muda jaman sekarang!" gerutu Renata sambil berjalan keluar dari kamar itu.
Renata menuruni tangga rumahnya dan beralih menuju rumah Davina yang ada di seberang rumahnya. Baru sampai depan gerbang, Davina yang sedang duduk di teras berlari menghampirinya. 2 wanita yang menjadi besan itu saling memeluk melepaskan kerinduan.
"Kamu sering berada di Jogja, tapi tak pernah mendatangi kami semua," keluh Davina pada sahabatnya.
"Kamu tahu sendiri, pekerjaanku terlalu banyak. Aku tak tahu bagaimana aku bisa membagi waktuku," jawab Renata.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah besar itu. Davina mengajak sahabatnya itu duduk di ruang tengah, sambil menikmati beberapa kudapan yang sudah disiapkannya.
"Davina! Bukankah lebih baik kita mengadakan pesta pernikahan anak kita?" tanya Renata.
"Aku sangat setuju. Bagaimana dengan mereka berdua?" balas Davina.
"Aku tak mau Vania hamil sebelum kita mengumumkan pernikahan ini," jelas Renata.
Davina sedikit ragu kalau Vania akan hamil. Selama ini Alex terkesan sedikit dingin pada istrinya itu.
"Mana mungkin Vania hamil? Mereka berdua selalu menjaga jarak," protes Davina.
"Masuklah ke kamarnya sekarang. Mereka berdua sedang berpelukan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh mereka," jelas Renata.
"Benarkah! Aku akan segera mendapatkan cucu dong," ucap Davina sangat senang.
Davina tak percaya, akhirnya Vania mau menyerahkan tubuhnya pada Alex. Mereka berdua akhirnya sepakat, pesta pernikahan akan digelar sebulan lagi. Entah Vania dan Alex akan setuju atau tidak. Yang penting pernikahan mereka harus segera diumumkan.
"Bukankah Kakak ipar mu memiliki hotel bintang 5 di Jogja?" tanya Renata.
"Maksudmu Kak Melissa, istri Kak David?" tanya Davina.
__ADS_1
"Setahuku The Java Hotel Jogja memiliki konsep pernikahan yang sangat megah. Bahkan paling mewah di kelasnya. Hanya saja beberapa teman bisnisku mengatakan, sangat sulit reservasi di hotel itu. Antriannya sangat panjang dan tak bisa mendadak," jelas Renata.
Akhirnya Davina menghubungi Melissa secara langsung. Melissa pun bersedia membantunya mengatur reservasi The Java Hotel Jogja. Renata terlihat sangat senang dengan kabar itu.
"Cepat kamu hubungi Alex. Suruh mereka berdua datang ke rumah ini sekarang," ucap Renata.
Tak lama kemudian pasangan pengantin baru itu datang juga. Vania yang melihat Mamanya disana juga, langsung berlari dan memeluknya. "Vania sangat merindukan Mama," ucapnya.
"Kalian berdua duduklah," seru Renata.
"Sebulan lagi, kami akan mengadakan pesta pernikahan kalian berdua," jelas Davina.
"Tapi Ma! Vania merasa belum siap," balas Vania dengan risau.
Renata memandang anak dan menantunya dengan tatapan mata yang dingin. "Apa kalian ingin semua orang berpikir, kalau kamu hamil diluar nikah?" tanyanya.
"Vania juga tidak hamil," jawab wanita itu dengan kesal.
"Alex! Apa kamu memakai alat kontrasepsi saat berhubungan dengan istrimu?" tanya Renata.
Renata tersenyum sinis, dia tak mengerti dengan pola pikir anaknya itu. Bagaimana seorang perempuan melakukan hubungan suami istri tanpa pengaman, bisa yakin kalau tidak akan hamil?
"Sudahlah, Mama juga setuju dengan pesta pernikahan kalian," tambah Davina.
Alex dan Vania saling menatap satu sama lain. Mereka berdua merasa belum siap hubungan pernikahan mereka harus diketahui semua orang.
"Kalian berdua persiapkan saja diri kalian. Biar Mama dan Mama Davina yang mengurus semua. Oh ya satu lagi! Kalau mau melakukan hubungan suami istri, pintu kamar jangan lupa ditutup," ujar Renata.
"Maksud Mama? Jadi Mama melihat kami berdua sedang...." Vania langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Alex menjadi salah tingkah karena merasa sangat malu. Vania langsung menyembunyikan wajahnya dibalik badan suaminya. Tak bisa membayangkan, bagaimana malunya menjadi Alex dan Vania. Davina dan Renata hanya tersenyum melihat tingkah laku 2 manusia yang menundukkan wajahnya itu.
Setelah selesai dengan pembicaraan mereka, pasangan suami istri itu kembali ke rumahnya. Mereka berdua akan bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Sayang, aku sangat malu dengan Mama Renata. Mau ditaruh dimana mukaku?" ucap Alex sambil cemberut di kursi ruang tamu.
__ADS_1
Vania memeluk suaminya, "Tak perlu malu, Mama juga pernah muda," ucapnya.
Vania menyentuh lembut wajah Alex yang terlihat menggemaskan saat cemberut. Kemudian perempuan itu mencium bibir suaminya dengan lembut. Tak mau kalah, Alex membalas ciuman Vania dengan lebih menggairahkan. Begitu menikmati ciuman panas mereka, pasangan itu tak menyadari Renata sudah berdiri didepan pintu.
"Pasangan yang menggairahkan!" seru Renata sambil menatap ulah anak dan menantunya.
Begitu kagetnya, Alex refleks mendorong Vania menjauhinya. Vania justru memelototi suaminya karena sikapnya itu.
"Maafkan Alex Ma," ucap Alex sambil menundukkan kepalanya.
"Tak perlu minta maaf. Mama mengerti kalian adalah pasangan pengantin baru. Tapi jangan pernah lakukan hal seperti itu di tempat umum. Mama tak mau kalian berdua dicap pasangan mesum," jelasnya.
Vania pun mengangguk lalu memeluk Renata. Alex pun menjadi lebih lega, karena Mama Mertuanya tidak marah melihat kelakuannya pada anaknya. Setelah berpamitan, Alex dan Vania berangkat ke kampusnya. Sampai di depan gedung kampus, Vania turun dan menghampiri ketiga sahabatnya yang duduk mengobrol di bawah pohon.
"Hai gadis cantik sudah datang!" seru Vina begitu melihat kedatangan Vania.
Vania hanya tersenyum dan langsung duduk di samping Tiara.
"Sepertinya hubunganmu dengan Kak Alex semakin mesra saja," ledek Vina.
"Aku ingin memberitahukan 1 rahasia besar pada kalian," ucap Vania lirih.
"Cepatlah katakan kami semua sangat penasaran." Mereka semua merapatkan duduknya.
Vania yang sudah berada di antara mereka kemudian berkata, "Aku sudah menikah dengan Kak Alex."
"Apa!!" Ketiga sahabatnya berteriak tak percaya dengan yang didengarnya.
Vina mendadak wajahnya muram dan kesal. "Kamu anggap kita sahabat, tapi pernikahanmu saja kamu rahasiakan dari kita semua," protes Vina dengan kecewa.
Vania langsung memeluk sahabatnya itu. "Maaf, semua terlalu mendadak. Tapi bulan depan saat pesta pernikahan, aku ingin kalian menjadi Bridesmaids mendampingi aku," jelas Vania sumringah.
"Benarkah? Pasti kami semua akan sangat senang mendampingimu di pernikahanmu," balas Riana.
Mereka semua mendadak tersenyum senang dengan rencana pesta pernikahan Vania. Paling tidak menjadi Bridesmaids sedikit mengobati kekecewaan mereka terhadap Vania.
__ADS_1
Jangan Lupa ❤️ Like Vote dan Komentarnya 😊 Happy Reading 🥰🥰