
Malam Hari....
Vanya mulai memasang kaca mata dan duduk manis di depan laptopnya. Tangan nya dengan lincah menari di atas keyboard menyentuh huruf- huruf di sana.
Ini novel kedua buat Vanya. Novel pertama ditulis saat dirinya duduk di kelas 10. Hasilnya sangat menakjubkan begitu terbit novel itu laris manis di pasaran, hal ini membuat Vanya semakin bersemangat menjalankan hobinya itu.
Mimpinya adalah jadi penulis novel terkenal. Vanya tetap menggunakan namanya sebagai nama penanya. Namun, sampai saat ini belum ada yang tahu wajahnya. Para pembaca sangat antusias menceritakan karyanya bila berkumpul ditempat-tempat tertentu.
"Semoga novel kedua juga dapat respon positif." Gumam Vanya menutup layar laptopnya
...----------------...
Pagi hari di sekolah...
Siswa siswi dikumpulkan di tengah lapangan, sebelum ujian semester 1 mereka akan mengadakan diklat untuk siswa yang baru masuk ekskul 1 minggu lagi.
Para senior diwajibkan untuk ikut, karena merekalah nanti yang akan mendampingi siswa siswi yang baru masuk itu. Begitulah kira-kira pengumuman kepala sekolah.
"Bakalan repot nih." Ucap Azam walau pun dia sudah tahu sebenarnya
"Iya, Zam. Nanti sepulang sekolah kita adakan rapat OSIS." Ujar Vanya selaku wakil ketua OSIS.
"Gue setuju nanti di sampaikan ke anggota yang lain."
"Yah, sendiri dong gue." Ujar Shishi lesu
"Cuma satu hari satu malam doang, gak usah sedih." Papar Azam
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam kelas untuk menerima pelajaran seperti biasa.
"Satu bulan lagi kita akan ujian semester 1 . Apa kalian mau diadakan belajar kelompok lagi tapi tetap seperti kemarin ketua kelompoknya ?" Tanya Bu Vivin.
" Mau, Bu."
"Saya kurang setuju, Bu. Saya takut kejadian pada Azam terulang lagi." Tolak Vanya.
"Van, berhenti nyalahin diri Lo sendiri, itu kecelakaan !" Tegas Azam
"Tapi itu terjadi karena Lo nganterin gue jadi pulang malam." Vanya tak mau kalah
"Sudah, kalian jangan ribut ! Azam dan Vanya tidak ada yang salah saat ini." Sela ibu Vivin menengahi.
Vanya dan Azam menjadi diam. Mereka saling senyum rencana berhasil begitu pikir mereka.
Kok, mereka senyum-senyum begitu ? mencurigakan !
Rian melayangkan tatapan penuh selidik.
"Keputusannya bagaimana ini, Bu"? Tanya Abimanyu buka suara.
"Sepertinya belajar sendiri saja di rumah. Belajar kelompoknya dibatalkan saja. Mengingat kejadian yang menimpa Azam waktu itu. Lebih aman belajar sendiri di rumah." Jawab Bu Vivi. Wajah Rian dan Abimanyu menjadi lesu
"Gagal deh pedekate nya." Gumam Rian
"Ngomong apaan Lo ?" Bisik Azam di sebelah Rian
__ADS_1
"Gak ngomong apa-apa, cicak kali yang ngomong" Balas Rian
"Masa iya cicak tahun 2020 udah bisa ngomong." Gumam Azam menggaruk tengkuknya yang tidak gatal .
...----------------...
Jam terus berlalu hingga bel istirahat berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar gedung sekolahan. Shishi pulang terlebih dulu ke rumah Vanya sementara Azam dan Vanya berkumpul di ruang OSIS untuk membahas masalah perkemahan dan surat ijin untuk ikut berkemah.
"Selesai kemah kita sudah mulai belajar bersama ya."
"Oke, Lo hati - hati !" Balas Azam masuk ke dalam mobilnya menyusul di belakang Vanya.
note : di dalam cerita ini usia mereka rata rata udah 17 tahun kelas 11 ya udah pegang SIM .
Vanya pulang ke rumah dengan sedikit lelah setelah mengayuh sepeda. Vanya masuk ke dalam rumah dan menuang air dingin di dalam kelas.
Shishi yang terlebih dulu di rumah Vanya mengisi waktu sambil memasak untuk mereka bertiga, sesuai janji pulang sekolah mereka akan bersantai di taman bunga milik Vanya.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira
__ADS_1