
Abimanyu dengan tergesa - gesa membuka pintu mobil, baru sempat mengambil kotak P3K, Abimanyu mendengar Vanya berteriak. Ia berlari mendapati Vanya duduk dengan memeluk kedua lututnya. Vanya menangis sesegukkan.
"Anya... Kamu kenapa ?"
Abimanyu menyentuh kaki Vanya yang masih mengeluarkan darah.
Vanya menariknya dengan kuat. "Lepaskan ! Jangan sakiti kakakku !" Ucapnya disela tangisnya.
"Anya... Ini aku Abi, tenang liat aku." Ucap Abimanyu perlahan mendekati Vanya lagi .
"Darah... Kakak berdarah !" Vanya terus mengulang kata - kata itu hingga lelah.
Abimanyu langsung memeluk Vanya dengan erat. Dia membenamkan wajah Vanya di dada nya. Abimanyu mengusap lembut punggung Vanya dengan sayang.
"Gak usah takut, ada aku disini." Ucap Abi mencium pucuk kepala Vanya.
Nafas Vanya mulai teratur, Abimanyu melonggarkan pelukannya. Dia menatap lekat wajah wanita di pelukannya itu.
"Apa yang terjadi ?Sampai kamu se-takut ini melihat darah." Ucap Abimanyu
Karena Vanya tertidur Abimanyu menggendongnya ke mobil, dia menyandarkan Vanya dengan perlahan di kursi mobil. Sebelumnya, ia sudah mengatur posisi kursi agak miring ke belakang. Abimanyu meraih kotak P3K dan membersihkan luka di kaki Vanya. Abimanyu tak langsung menghidupkan mobil, dia sengaja menunggu Vanya bangun terlebih dulu.
Setelah cukup lama tidur
Vanya mengerjabkan matanya perlahan. "Kaki gue." Vanya menyentuh kakinya yang sudah terbungkus perban.
"Tenang aku sudah membersihkan lukamu, sekarang kita cari makan." Ujar Abimanyu. Dia mendekatkan tubuhnya ke kursi Vanya.
"Ma—mau apa Lo ?"
Abimanyu tak menjawab, tangannya menyentuh kursi dan mengembalikan ke posisi semula serta memasangkan sabuk pengaman ditubuh Vanya.
Posisi sedekat ini membuat Vanya merona bagaimana tidak nafas Abimanyu begitu hangat meniup kulitnya.
"Kita jalan."
Vanya mengangguk dengan senyum canggung.
Kamu menggemaskan sayang. Abimanyu tersenyum.
"Terimakasih sudah membersihkan luka di kaki gue." Ucap Vanya
"Iya, maafkan aku gak bisa jaga kamu dengan benar."
"Ini salah gue jika tadi nurut sama omongan Lo, gak mungkin gue ke-injak kayu runcing itu." Ujar Vanya menundukkan wajahnya.
"Mau berjanji ?" Tanya Abimanyu sambil melirik Vanya.
" Apa ?"
"Jika bersamaku, kamu harus janji menurut padaku." Ujar Abimanyu
"Iya."
"Bagus, calon istri idaman !" Ujar Abimanyu
Wajah Vanya kembali bersemu merah kini detak jantungnya seakan mendukung keadaan itu. Mobil mereka berhenti di sebuah restoran sederhana. Abimanyu sudah tahu apa yang di sukai dan apa yang tidak di sukai Vanya.
"Kita sampai, biar ku bantu." Abimanyu bergegas membuka sabuk pengamannya.
Abimanyu memapah Vanya yang berjalan pincang. Posisinya seperti dalam pelukan Abimanyu. Hal ini membuat mereka menjadi pusat perhatian para pelayan restoran.
"Wah romantis sekali."
"Yang cowoknya tampan ya."
"Ceweknya manis banget."
"Mau dong dipeluk."
Bisik bisik mereka masih terdengar oleh Vanya dan Abimanyu.
__ADS_1
"Bi, gue bisa sendiri, kok !" Vanya khawatir takut Abimanyu tidak nyaman dengan posisi ini.
"Gak apa - apa Anya, sebentar lagi sampai di meja." Abimanyu menghiraukan ocehan para pelayan.
Abimanyu memanggil salah satu pelayan, dengan seksinya pelayan itu menghampiri mereka. Sengaja ia bersuara manja pada Abimanyu.
"Silahkan Pak mau pesan apa ?" Tanyanya.
Abi bertanya pada Vanya.
"Kamu makan apa ?" Tanyanya
"Samakan dengan Lo aja." Balas Vanya .
Abimanyu memesan makanan kesukaan Vanya pada pelayan tadi.
"Lo tahu makanan kesukaan gue ?" Tanya Vanya tak percaya
"Tahu dong, masa iya makanan kesukaan calon istri gak tahu." Goda Abimanyu tersenyum
Wajah Vanya merona malu, dalam hatinya begitu berbunga - bunga. Mendengar kata calon istri.
"Mana ponselmu?" Tanya Abimanyu
"Buat apa ?" Vanya sambil mengeluarkan ponselnya
"Apa sandinya ?" Tanya Abimanyu lagi
"Sini." Vanya enggan memberitahu
"Udah kasih tahu apa ?" Abimanyu tak mau mengalah .
"Itu privasi gue, sini !" Vanya ingin meraih ponselnya.
"Enggak, aku harus tahu nanti kalau kamu kenapa- kenapa aku bisa telpon Alan." Ujar Abimanyu masih menggenggam ponsel Vanya.
"Aish, ini orang maksa banget sih." Gerutu Vanya hingga membuat Abimanyu terkekeh.
"Ta—tanggal lahir Lo." Vanya terbata dan pelan sambil menundukkan wajahnya.
"Ulangi." Abimanyu tak percaya walau dalam hati sangat senang.
"Tanggal lahir Lo, puas !" Vanya mulai kesal
"Sejak kapan Lo ngefans sama gue ?" Goda Abimanyu. Dalam hatinya bertanya kenapa sandi ponsel itu tanggal lahirnya ? Apa ada yang dia lewatkan ?
Vanya tidak menjawab. Wajahnya sudah merah karena malu. Abimanyu memasukkan nomornya sendiri ke ponsel Vanya dan menelpon nya. Usai memberi nama nya di ponsel Vanya. Abimanyu mengembalikan nya.
"Ayo makan." Ucap Abimanyu nampak raut wajah nya berbinar bahagia . Vanya mengangguk dan mulai memakan makanannya.
Pertanda apa ini, sampai Anya menjadikan tanggal lahir gue sandi ponselnya.
Abimanyu sambil curi - curi pandang pada Vanya.
Vanya menyelesaikan makannya, saat ia minum Abimanyu menghentikannya.
"Jangan di habiskan !" Titah Abimanyu.
"Kenapa ? Inikan minuman gue" Ujar Vanya heran
Abimanyu mengambil gelas ditangan Vanya dan meminum sampai habis.
"Manis."
"Minuman gue." Rengek Vanya
"Nih punya aku masih penuh belum diminum." Ucap Abimanyu.
Vanya langsung minum dari gelas Abimanyu.
"Jangan dihabiskan." Ucap Abimanyu. Lagi - lagi Vanya dibuat bingung sama sikap Abimanyu.
__ADS_1
"Iih jorok, ngapain Lo minum di sedotan bekas bibir gue ?" Ujar Vanya
"Biar aja, bekas bibir kamu manis." Ucap Abimanyu tersenyum nakal.
Vanya menunduk malu, waras apa enggak pikir nya si Abimanyu. "Yuk pulang, istirahat sebelum kakimu bengkak dan nyeri." Ucap Abimanyu.
Usai membayar makanan Abimanyu langsung menggendong Vanya menuju mobil, lagi - lagi mereka menjadi pusat perhatian. Vanya menundukkan kepala nya di dada bidang Abi.
Parfum ini, masih tetap sama seperti 5 tahun lalu.
Wangi yang sama, wangi yang selalu Vanya rindukan setiap hari dimasa SMA. Vanya diletakkan Abimanyu dengan perlahan, tak lupa Abimanyu memasangkan sabuk pengamannya perhatian Abimanyu membuat Vanya sedikit mengingat kilas balik 5 tahun lalu. Mobil mereka meninggalkan restoran dan pulang ke Mansion Vanya.
Andai Abimanyu bersikap seperti ini saat itu , mungkin Vanya tidak akan menjauhinya. Apa kabar Manda? Apa mereka masih pacaran ? Itulah yang terbesit di kepala Vanya saat ini.
Abimanyu melirik Vanya dari sudut matanya.
Apa dia senang ya aku ajak jalan - jalan? tapi sikapnya biasa aja, hanya wajahnya kadang bersemu merah. Anya hari ini aku tunggu sejak lama bisa jalan berdua sama kamu walau hanya ke pantai tapi aku bahagia banget.
Apa boleh aku berharap lebih dari ini ? apa aku terlalu jahat jika rasa ini tumbuh kembali ? Jauh dalam lubuk hatiku. Aku menginginkan nya, tapi bagaimana dia kalau masih bersama Manda ? ah aku egois bahagia di atas penderitaan wanita lain
Vanya sedih.
"Maaf jika jalan - jalan hari ini kurang menyenangkan." Abimanyu memecahkan keheningan.
"Gak apa - apa, terimakasih sudah ngajak gue ke pantai."
Mobil Abimanyu memasuki halaman Mansion, Alan sudah berdiri menyambut nona mudanya.
Abimanyu membuka pintu mobil dan memapahnya keluar.
"Selamat datang, Nona Muda." Sapa Alan. "Anda terluka ?" Tanyanys melihat ke kaki Vanya yang terperban.
"Iya, terinjak kayun runcing di pantai." Jawab Vanya.
Tanpa bicara lagi Alan langsung menggendong Nona Mudanya yang masih di pegang oleh Abimanyu. "Maaf Tuan Abi, saya akan membawa masuk Nona muda." Ucap Alan datar dan dingin.
"Maafkan saya Alan, saya tidak bisa menjaganya dengan baik. Saya berjanji hal ini tidak terulang lagi." Abimanyu merasa cemas karena Vanya mulai merintih kesakitan.
Abimanyu menyusul Alan masuk keruang keluarga. Para maid menyiapkan air hangat dan minuman untuk Vanya dan Abimanyu.
"Alan ini kecelakaan kecil saja, gak usah panik, hubungi Azam suruh kesini ?" Titah Vanya.
Alan mengeluarkan ponsel nya.
"Anda dimana ?" Tanya Alan
"Di rumah."
"Kemari sekarang juga, kaki nona muda terluka." Ucap Alan mematikan ponselnya.
Vanya bersandar di dinding Sofa.
"Abi, gue baik - baik aja hanya nyeri sedikit. Lo gak usah cemas" Ia menenangkan Abimanyu yang terlihat gelisah
"Gak Anya, kamu terluka saat bersamaku dan aku akan memastikan kakimu baik - baik saja setelah Azam sampai disini." Balas Abimanyu.
"Nona sebaiknya anda, bersih - bersih dulu biarkan maid membantu anda mari saya antar." Ucap Alan ingin menggendong Vanya.
"Tunggu Alan, biar aku saja mengantarnya. Di mana kamarnya?" Ujar Abimanyu.
"Biar Alan saja Bi, Lo istirahat aja dulu." Balas Vanya
Iya sengaja menolak Abimanyu takut jika kedekatan mereka menjadi masalah dalam hubungannya dengan Manda, karena Vanya tahu jika Manda masih mengejar Abimanyu , setahu Vanya Abimanyu selalu bersikap baik pada Manda semenjak dahulu.
"Baiklah." Ucap Abimanyu lesu ada rasa kecewa di hatinya.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
__ADS_1
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira