Tetap Kamu

Tetap Kamu
Penyelamatan Vanya


__ADS_3

Alan hampir mendekat ke lokasi mobil yang dikejarnya, dari arah belakang para pengawal sudah terlihat. Ia berhenti dijalan sempit karena mobil tidak dapat masuk.


Alan menunggu pengawal yang lainnya bergabung. "Kita masuk ke jalan ini. Sepertinya ini jalan penghubung ke Desa, alat pelacak tidak berfungsi di sini. Dengar dan lihat pakai mata serta telinga kalian ! Cari Nona muda sampai dapat tangkap orang - orang bertopeng itu." Titahnya tegas.


Para pengawal mengangguk dan terbagi menjadi dua kelompok.


Alan dan kelompok satu menyusuri jembatan dan kelompok dua menyusuri pinggiran hutan.


...----------------...


Di atas jembatan tiga penjahat itu tertawa puas melihat tubuh Vanya yang sudah dililit rantai dan kepalanya ditutup kain siap di ceburkan. Selain itu ujung kaki dan setengah badannya digantung batu. Mereka mengangkat tubuh Vanya dan menjatuhkannya.


"NONA !"


Byur...


Alan bercebur menyusul Vanya yang di jatuhkan ke sungai. Ia tidak memperdulikan sakit di tubuhnya yang menghantam bebatuan.


Para penjahat itu terkejut, para pengawal dengan sigap melumpuhkan mereka bertiga.


"Telpon keamanan." Titah kepala pengawal pada anggotanya yang sudah bergabung.


Vanya yang setengah sadar merasakan tubuhnya basah dan terseret ke dalam air.


Dia panik, seberapa pun usahanya tetap tak mampu memutuskan rantai yang membelenggu tubuhnya.


Ia merasakan tubuhnya lemah dan lelah, serta nafas yang sudah menipis. Dalam pikirannya jika memang waktu nya kembali, maka dia akan siap jika caranya seperti itu menalak dunia dari dirinya. Rekaman wajah Abimanyu yang mulai kembali mengusik pikirannya kini jelas di ingatannya.


Terimakasih sudah hadir di hidupku dulu dan yang sekarang. Ijinkan aku serakah untuk mencintaimu


Perlahan matanya tertutup sempurna, tubuhnya sudah menyentuh dasar sungai.


Alan kalah cepat dengan Vanya, tubuhnya yang ringan itu seakan lama berenang kedalam sungai. Alan menemukan Vanya yang tergeletak di dasar sungai dengan pelipis yang berdarah karena kain penutup kepalanya sudah terlepas. Dia berusaha melepaskan rantai ditubuh Vanya tapi tak bisa, Alan menjadi gusar pasokan oksigennya mulai berkurang. Pengawal yang berjaga di atas mulai gelisah karena Alan tak kunjung muncul kepermukaan.


Sementara pihak keamanan yang sudah datang meringkuk tiga penjahat itu dan membawa mereka ke kantor. Sebagiannya lagi tinggal di tempat dan menghubungi penyelam. Para warga berdatangan membantu mereka, kepala pengawal menyusul Alan kedalam sungai.


Alan dan kepala pengawal berusaha memutuskan tali batu yang mengikat tubuh Vanya dengan pisau lipat yang dibawa pengawal menyelam. Setelah terlepas Alan dan kepala pengawal berusaha mendorong tubuh Vanya ke permukaan


Para penyelam yang sedikit terlambat bercebur. Untuk menarik tubuh Vanya yang sudah separuh keatas, Alan dan Pengawal juga di bantu untuk naik ke permukaan.


Teriak histeris warga menyambut tubuh ketiga orang itu menggema di sepanjang aliran sungai. Seorang petugas mendekat pada mereka, melihat Vanya yang sudah pucat pasi dengan luka gores yang cukup banyak.


Alan yang kehabisan tenaganya hanya memandang lemah pada Nona mudanya. Begitupun pada para pengawal terduduk lesu, bagaimana tidak mereka sangat Iba Nona mudanya yang baik hati terlilit rantai di sekujur tubuhnya.


"Masih hidup, cepat beri pertolongan pertama." Ucap petugas saat melihat Ambulans datang.


Azam turun dari mobilnya matanya terbelalak melihat Vanya seperti mayat. Kabar yang ia terima dari salah satu pengawal Vanya. Membuatnya gegas ke lokasi.


"VANYA ! Bangun ! Ya Tuhan kenapa bisa begini." Pekik Azam terisak. Laki-laki itu gemetar dan juga ketakutan luar biasa.


Azam membantu para medis menolong Vanya, penduduk dan para keamanan berusaha melepaskan rantai begitu kuat di tubuhnya.


Abimanyu dan Rian juga sampai di tempat itu, tubuh mereka gemetar dan bertambah panik melihat orang banyak di sana. Kabar yang ia terima dari Azam membuat mereka gelisah dan terkejut luar biasa. Abimanyu terjatuh ketika melihat wanita pujaan hatinya tak berdaya. Dia berusaha menarik rantai itu sampai tangannya berdarah.


"Hentikan, Abi ! Cari cara lain." Rian menghentikan aksi Abimanyu yang membabi buta melepaskan pengait rantai dengan tangan kosong.


Abimanyu meminta kapak besar pada warga. Dengan sekuat tenaganya ia mengayunkan kapak tersebut.

__ADS_1


Tap....


Rantai itu terputus. Abimanyu senang, Ia melemparkan kapak ke segala arah. Lalu duduk lemas di sisi tubuh Vanya. Rian dengan cepat melepaskan rantai itu dan menggendong Vanya masuk kedalam Ambulans.


Usai membantu yang lain, Azam juga masuk kedalam ambulans. Abimanyu membantu Alan dan yang lainnya setelah memiliki tenaga lagi. Mereka meninggalkan tempat itu dan menuju ke rumah sakit terdekat. Vanya segera mendapatkan pertolongan begitu juga Alan dan yang lainnya. Petugas datang dan bicara pada Alan. Usai mendapatkan keterangan, polisi melanjutkan penyelidikan.


Abimanyu dan Rian masih setia menunggu di sana dengan berbagai perasaan di hati mereka. Terlihat dari sudut mata Abimanyu mengeluarkan cairan bening di pipinya.


Ini kah firasat ku tadi ?


Azam menghampiri Abimanyu dan Rian. "Sini tangan Lo." Ucapnya menarik tangan Abimanyu.


"Luka ini gak sesakit yang di rasakan Anya. Siapa yang dengan keji ingin mencelakakan dia ?" Ucap Abimanyu dengan nafas berat menahan amarah. Dadanya sesak mengingat bagaimana perasaan Vanya saat terikat dan ditarik batu berat ke dasar sungai. Pasti menakutkan.


"Semuanya sudah ditangani petugas." Azam menepuk pundak Abimanyu.


"Gue balik dulu, selalu kabarin kondisi Vanya." Ujar Rian. Dia sengaja pulang terlebih dulu agar menyiapkan keperluan untuk ikut menjaga Vanya.


Abimanyu dan Azam mengangguk.


...----------------...


Hari semakin malam, Abimanyu dan Azam belum juga beranjak dari depan ruang IGD


"Lo pulang aja dulu, Bi. Istirahat biar gue jagain Vanya." Ujar Azam


"Gak, Zam. Gue tetap di sini aja nunggu Anya bangun."


"Kalau gitu gue titip Vanya dulu, gue mau lihat Alan sebentar terus pulang ngabarin mama dan langsung ambil baju ganti." Ucap Azam


"Iya, Zam."


...----------------...


Vanya juga sudah melewati masa kritisnya, beberapa jam lagi dia akan di pindahkan keruang inap.


Abimanyu meminta Resha mengantarkan pakaian gantinya. Mendengar kabar Vanya, Resha menangis sedih, dia dapat membayangkan bagaimana perasaan kakaknya saat ini.


"Kak Azam."


"Resha ! Kamu disini?" Balas Azam


"Iya, Kak ! Menjenguk Kak Anya, sekalian bawa baju ganti buat Kak Abi." Ujar Resha.


"Kalian masuk duluan, gue beli makanan dulu buat Abi." Seru Rian yang baru tiba di sana.


Azam, mama Sintia dan Resha masuk ke dalam rumah sakit. Di sana dokter dan perawat sedang memindahkan Vanya keruang inap.


"Kak Abi !" Panggil Resha berlari memeluk Kakaknya. Tangis gadis itu pecah yang semenjak tadi ditahannya.


Pertahanan Abimanyu pun runtuh. Dia juga ikut terisak, bayangan tubuh Vanya tenggelam dililit rantai begitu mengerikan baginya. Cukup lama kedua kakak beradik itu menangis sambil berpelukan.


"Vanya sudah melewati masa kritisnya, hanya menunggunya bangun dan pemulihan." Ucap Azam walau dalam hatinya sangat sedih tapi ia harus terlihat kuat demi ibunya dan Vanya.


Vanya sudah masuk kedalam ruangan inap. Luka - luka ditubuhnya masih terlihat basah, wajah pucat pasi itu belum juga terbangun.


"Vanya ... " Mama Sintia menangis mendekat pada ranjang Vanya. Azam mengusap pundak ibunya agar sedikit tenang. "Siapa yang melakukan ini pada mu, Nak? kamu pasti kesakitan." Ucap Mama Sintia masih terisak.

__ADS_1


"Ma. Duduklah, kita tunggu kabar dari petugas dan kedatangan Kak Ferdy. Siapa pun dia, gak akan aku Maafkan." Ucap Azam menggebu.


Rian datang membawa makanan untuk Abimanyu. Perlahan dia membuka pintu kamar Vanya. Matanya tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang.


"Vanya..." Ucap Rian sendu sambil mendekat pada ranjang putih itu. Matanya terlihat berkaca- kaca. Kemudian laki-laki itu tersadar dengan bungkusan di tangannya. "Bi, ini makanan buat Lo."


Abimanyu hanya mengangguk matanya tak lepas dari gadis manis di atas ranjang. Jari-jarinya setia menggenggam tangan dingin Vanya.


"Nak, mandilah ! Baru makan." Ujar mama Sintia lembut. Abimanyu mengangguk dan bergegas masuk ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.


"Sama emak gue aja, Lo nurut." Cibir Azam


Saat mereka diam dalam keheningan, terdengar pintu ruangan terbuka. Nampak sosok Alan berdiri dengan gagahnya. "Selamat malam semuanya." Sapan ya sopan.


"Selamat malam."


Mata Alan tertuju pada sosok cantik duduk di sofa sebelah Rian. Yang di pandang pun jadi menunduk malu.


Alan segera mengalihkan pandangannya. "Bagaimana kabar Nona?" Tanya nya sambil melangkah masuk. Tatapannya begitu sedih melihat sosok yang ia jaga selama ini masih betah menutup mata.


"Lumayan membaik, masa kritisnya sudah lewat. Bagaimana ada kabar terbaru dari Petugas?" Azam bertanya perkembangan kasus yang menimpa Vanya.


"Orang - orang kami sudah melacak nomor ponsel yang menghubungi para penjahat itu. Terakhir posisi ponsel itu berada di rumah sakit anda ! Sampai saat ini nomor itu tidak aktif lagi."


DUAR


Dada Azam bergemuruh, ragam macam pertanyaan mulai menggerayangi otak tampan nya. Setelah mendengar perkataan Alan.


"Apa ada yang memusuhi, Anya ?" Tanya Abimanyu tiba - tiba menambah keterkejutan semua orang yang saat masih saling berfikir


Azam mulai berfikir keras. "Gak Ada setahu gue."


"Lo yakin ! Zam." Rian menatap tajam wajah Azam yang berpikir keras.


"Saya mencurigai banyak orang di sana. Tapi nanti tunggu ada titik terangnya, saya akan memberitahu kalian. Saya permisi dulu menjemput tuan muda." Alan meninggalkan ruangan.


"Kak makanlah dulu." Ujar Resha


Abimanyu menggeleng lemah. Selera makannya menghilang. Perutnya masih terasa kenyang. Ia tak bisa merasakan apa-apa.


"Bi, isilah perut Lo dulu." Bujuk Rian


Abimanyu terpaksa membuka bungkus makanan, perlahan tapi pasti dia mulai mengunyah makanannya walau terasa seperti ampas. Manik matanya masih setia memantau wajah wanita yang dicintainya itu. Hari semakin larut. Mata Vanya masih belum juga terbuka.


"Anya, bangunlah aku kangen sama kamu. Kangen berbagi gelas, berbagi makanan, sama kamu Anya. Kamu tahu? Malam ini aku bermaksud menemui mu untuk meminta maaf secara resmi sama kamu." Ucap Abimanyu panjang lebar.


...----------------...


Usai melalukan penerbangan berjam-jam lamanya. Ferdy yang sudah sampai langsung menerobos masuk dan memeluk tubuh adiknya begitu erat, dia tak peduli jika tubuh itu kesakitan karena rasa takut kehilangannya lebih besar.


"Anya ayo bangun, ini kakak sudah datang. Kakak datang untuk menghukum orang yang membuatmu begini. Bangun sayang, betah banget kamu tidur, keponakanmu yang cantik menunggumu di Mansion. Sahabat kesayangan kamu juga datang kesini, besok mereka menjenguk mu." Ferdy menitikkan air mata sambil mencium kening Vanya.


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow

__ADS_1


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira


__ADS_2