Tetap Kamu

Tetap Kamu
Bertemu Camer


__ADS_3

Di sudut kamar gelap seorang wanita terduduk lesu menangis, banyak tenaga yang dikuras untuk meluapkan emosinya. Terlihat dari kamar yang berantakan karena pecahan kaca hias berhamburan dimana - mana.


Sakit, itulah yang saat ini dirasakannya. Namun dia tidak merasa malu memaksakan cintanya pada orang lain. Dengan wajah kusut dan rambut berantakan, ia meratapi kehidupannya meringkuk di sisi tempat tidur.


"Kenapa harus dia Abi ? Kenapa harus Vanya? Gak adakah sedikit aja cinta Lo buat gue? Perasaan ini mungkin lebih lama dari cinta Vanya sama Lo. Tapi sedikit pun Lo gak mengerti... Gue cinta sama Lo Abi... !" Ucap Manda disela - sela tangisnya.


Hampir satu jam ia melepaskan emosinya di kamar yang gelap itu, karena lelah Manda memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, dan tidur.


...----------------...


Malam semakin larut, hawa dingin mulai menusuk pori - pori kulit tiap orang yang berada di luar rumah. Tapi tidak dirasakan oleh laki - laki yang sedang berdiri tegak di atas perbukitan tempat orang melepas penat.


Sorot matanya masih setia memandangi gemerlap lampu rumah penduduk yang mirip hamparan bintang. Dengan sebatang rokok menemaninya untuk mengusir nyamuk- nyamuk nakal yang akan menikmati darah merahnya melalui kulit putihnya.


"Vanya. Kenapa rasa ini begitu besar padamu ? Dengan tidak tahu malunya hati ini masih menginginkanmu. Semakin hari kadar cintaku bertambah walau berada jauh darimu. Bolehkah aku serakah? Untuk mendapatimu ! Hatiku bertentangan dengan pikiranku. Biarkan aku berjuang mendapatkan mu, hanya aku yang boleh hidup bersamamu. Tunggu Vanya ! Aku akan menjemputmu bila waktunya tiba !" Ucap laki - laki itu mengakhiri pembicaraannya sendiri.


Malam hari dilewati dengan rasa bahagia oleh Vanya dan Abimanyu di peraduannya masing masing, bahkan mereka tidak akan pernah tahu bahaya apa yang mengancam kebahagiaan mereka nantinya.


...----------------...


Rumah Herlambang...


Abimanyu masih berpetualang ke alam mimpi, guling yang selalu setia menemaninya masih manja tidur di dekapan dada bidangnya.


"Kak ! Ayo bangun Echa terlambat nanti." Resha menggedor pintu kamar Abimanyu. Masih hening belum ada jawaban dari dalam. Resha membuka pintu kamar tidak terkunci itu perlahan. "Kak ! Ayo bangun, kakak terlambat ke kantor nanti, aku juga !" Ucapnya mengguncang tubuh kakaknya.


"Anya ini weekend, suamimu ini masih mengantuk." Gumam Abimanyu sambil mengeratkan pelukannya pada guling di depannya.


"Aku Echa. Kak ! Bukan kak Anya." Ujar Resha kesal. Bisa - bisanya Abimanyu bermimpi di hari yang sudah pagi


Tapi tidak didengar Abimanyu karena ia semakin nyenyak. Resha menjadi kesal dan kembali ke meja makan.


"Mana kakakmu?" Tanya Mama Vania


"Gak mau bangun, Ma. Malahan dia mengira Echa kak Anya, katanya suamimu ini masih mengantuk." Cibir Resha menirukan kalimat Abimanyu.


Mama Vania dan Papa Herlambang terkekeh "Biar papa yang mengantarmu ke kampus, papah juga siap ke kantor." Ucap papa Herlambang.


"Iya, Pa."


"Sayang, kamu punya nomor telpon Anya?" Tanya Mama Vania.


"Punya, Ma. Buat apa?"


"Mama ingin mengundangnya makan malam tapi jangan beritahu kakakmu." Ujar Mama Vania


"Iya Ma Echa setuju." Balas Resha cepat, dia pikir pasti ada Alan juga nanti.


...----------------...


Di Mansion


Nona muda Vanya bersiap untuk bekerja. Usai sarapan dia dan Alan pergi ke kantor. Vanya mengeluarkan Ponsel dan menelpon seseorang


"Halo."


"Kamu belum bangun ini sudah jam 7 pagi ?" Ucap Vanya


"Ini baru bangun, sayang."


"Ya sudah mandi dulu sana jangan lewatkan sarapan pagi mu." Ujar Vanya


"Perintah akan dilaksanakan Nona Muda."


Vanya terkekeh. "I love you." Ucapnya mematikan telpon. Dia sengaja mematikan telpon sebelum Abimanyu membalas ucapannya.


Mobil Vanya berhenti di depan kantor seluruh karyawan nya mengangguk hormat. Gadis itu membalas dengan senyum manisnya. Vanya sudah tidak lagi ikut ke lokasi, kecuali terjadi kendala. Baru mereka turun langsung ke lapangan.


Sementara di kediaman Herlambang. Abimanyu bergegas mandi dan bersiap, ia langsung menuju kemeja makan, di sana tidak seorang pun yang ada.


"Ma... Mama... Sarapanku mana?" Teriak Abimanyu


Mama Vania turun dari kamarnya.


"Kami sudah sarapan ! kamu nya saja yang gak mau bangun."


"Mama, Anya bilang aku jangan melewatkan sarapanku." Rengek Abimanyu.


"Ya, sudah mama siapkan bekal aja. Kamu sudah sangat terlambat makan di mobil nanti." Ujar Mama Vania. Seperti anak kecil saja pikirnya putra tampannya itu.


"Iya, Ma."


"Seperti apa calon menantuku itu sampai kamu penurut begitu." Gerutu mama Vania.


"Mama sudah mengenalnya. Mungkin, Mama lupa yang mana orangnya, dia pernah kesini waktu aku SMA saat kerja kelompok." Jelas Abimanyu.

__ADS_1


"Benarkah ? Apa namanya Vanya yang suka gangguin kamu itu." Ujar mama Vania Antusias


"Iya Ma. Aku sengaja manggil dia Anya biar beda sama yang lain."


Mama Vania memberikan kotak makannya pada Abimanyu. Sepeninggal laki-laki itu, mama Vania mulai berkutat menyiapkan jamuan untuk mengundang calon mantunya.


Abimanyu sarapan didalam mobil, tanpa terasa dia sudah berada di depan kantor. Abimanyu turun dari mobil dengan wajah garang dan dinginnya.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi Romi." Jawab Abimanyu memberikan kotak makannya pada asistennya itu.


Eh, sejak kapan si bos bawa bekal kaya anak TK


Romi menatap nanar kotak makan yang kosong di tangannya.


"Hari ini aku terlambat bangun jadi sarapan di mobil. Aku tidak mau kekasihku bersedih karena aku melewati sarapan pagi ku." Ujar Abimanyu seakan tahu isi dalam hati Romi.


Romi tersenyum. "Anda seperti cenayang tuan tahu isi hati saya, kekasih anda benar - benar perhatian."


"Tentu, buatkan aku teh tadi aku belum sempat minum teh." Titah Abimanyu sambil masuk ke dalam ruangannya dan disusul asistennya.


Romi mengangguk segera membuatkan teh untuk atasannya itu. Di dalam ruangan Abimanyu ada pantri khusus untuk dirinya sendiri.


...----------------...


Azam kembali bekerja seperti biasa di rumah sakit, kejadian menimpa Vanya membuatnya ekstra hati - hati. Semoga tidak terulang lagi kemudian hari. Azam berjalan sambil tenggelam dalam lamunannya.


"Aaww." Jerit seorang wanita yang terhempas di lantai.


"Maaf saya tidak sengaja, saya sedang tidak fokus tadi" Ujar Azam ingin meraih tangan itu untuk menolongnya.


"Tidak perlu, kemudian hari jalan dengan mata terbuka bukan dengan tidur sambil berjalan" Ujar wanita itu berdiri. Menepis tangan Azam yang terulur ingin membantunya berdiri.


"Shella !"


"Kak Azam !"


"Maafkan aku Kak, tadi sudah memarahi kakak." Shella menunduk malu


"E-enggak apa -apa Shell, maaf tadi aku menabrak mu." Ujar Azam gugup


"Iya Kak, aku kesini untuk mencari direktur rumah sakit ini, aku pindah tugas disini." Ujar Shella


Azam dan Shella masuk keruangan. Di atas meja terpampang jelas nama Azam sebagai direktur rumah sakit itu, tertangkap mata Shella.


"Ja-jadi, kakak direktur rumah sakit ini ? Maaf ketidak-sopanan ku tadi." Ujar Shella terbata


"Iya, tidak masalah. Aku yang menabrak mu duluan, kamu dari hari esok bisa masuk bekerja dan sekarang. Kamu bereskan ruangan mu dulu di seberang ruanganku." Ujar Azam tersenyum.


Shella tersenyum malu dengan rona wajah memerah, setiap bertemu Azam dia pasti terhipnotis pada pria pemilik senyum manis itu.


"Terimakasih, Kak. Aku permisi ingin melihat ruangan ku." Ujar Shella


"Iya, makan siang kutunggu kamu di kantin."


"Iya, Kak?" Balas Shella berlalu meninggalkan ruangan Azam.


...----------------...


Sore hari Vanya dapat pesan dari Resha untuk makan malam bersama, Gadis itu menyetujui undangan tanpa bertanya pada Abimanyu atas permintaan adiknya.


Ponsel Vanya bergetar di atas meja.


"Halo." Jawabnya sambil melangkah ke sisi Jendela.


"Sayang, pulang bersama ya. Aku kangen sama kamu, kita langsung makan malam."


"Maaf, Bi. Aku ada janji makan malam bersama seseorang, hari ini aku pulang bersama Alan" Balas Vanya.


"Gak boleh, nanti kamu hilang diambil orang."


"Sekali ini aja, cuma sebentar kok setelah makan malam langsung pulang, Alan juga ikut." Ujar Vanya.


"Gak boleh sayang, atau aku ikut aja, kamu makan malam sama siapa laki-laki atau perempuan."


"Perempuan Abi, kamu gak usah khawatir. Aku sama Alan." Jelas Vanya


"Terserah aja ."


"Marah nih ceritanya." Ujar Vanya menatap telpon yang terputus.


Alan tertawa masih anak - anak pikirnya si Abimanyu. Vanya dan Alan pulang dari kantor. "Lan, hari ini kita diundang keluarga Herlambang makan malam, bingkisan apa yang perlu kita bawa ?"


"Sepertinya tidak perlu membawa apa - apa. Mungkin, mereka hanya ingin kenal dekat sama Nona Muda."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu." Vanya bersandar di kursinya. Terlihat wajah lelahnya karena seharian bekerja .


...----------------...


Sampai di Mansion, Vanya dan Alan memasuki kamar masing - masing, usai membersihkan diri mereka menuju ke meja makan lalu meminum susu yang disiapkan Maid.


"Wow Alan, kamu tampan sekali setelah memakai pakaian berwarna. Kamu tahu indra penglihatan ku bosan melihat mu mengunakan pakaian serba hitam, weekend nanti kita belanja untukmu."


"Terimakasih Nona sepertinya pakaian yang ada sudah cukup." Balas Alan merona malu.


"Tidak ada penolakan, Alan ! Aku sudah mengganggap mu sebagai adikku jadi menurut saja."


"Baik Nona." Alan tersenyum.


Vanya dan Alan pergi ke rumah Herlambang. Ia sengaja tidak menghubungi Abimanyu. Biarkan saja pikirnya laki-laki itu dengan acara merajuknya seperti anak kecil.


"Selamat malam semuanya."


"Selamat malam sayang." Balas Mama Vania


"Calon menantu kita ternyata cantik, Pa. Pantas saja putra kita menggila." Mama Vania begitu antusias.


"Mama benar, selamat datang Nak Anya." Ujar papa Herlambang.


"Terimakasih. Om, Tante. Sudah mengundang kami."


Vanya dan Alan disambut baik oleh keluarga Herlambang . Di Sana hanya ada Papa Herlambang dan Mama Vania serta Resha.


"Dimana Abi, Tante ?" Vanya bertanya karena tidak melihat keberadaan kekasihnya itu.


"Di kamarnya. Dia uring-uringan sejak pulang kantor, mukanya ditekuk saja." Jawab Mama Vania terkekeh


"Biarkan saja, Kak. Ayo Ma ! Kita makan." Ucap Resha menutupi kegugupannya setelah melihat Alan begitu tampan.


"Benar, Nak. Ayo kita makan, biarkan anak manja itu kelaparan." Seru Papa Herlambang


"Om kejam benar sama anak sendiri." Kekeh Vanya.


Mereka semua menuju meja tempat makan malam. Tak lupa Mama Vania meminta salah satu asisten rumahnya untuk memanggil Abimanyu.


Asisten rumah itu naik ke lantai atas untuk memanggil Abimanyu. Ia mengetuk pintu dengan sopan


"Tuan, dipanggil Tuan besar makan malam."


Abimanyu membuka pintu kamarnya dan turun dari sana dengan wajah ditekuk. Laki-laki itu menuruni undakan tangga dengan malas. Di tangga terakhir mata Abimanyu menangkap sosok yang duduk di kursi sebelah mama Vania. Berulang kali dia mengucek matanya kalau salah melihat.


"Sayang... Kenapa membohongiku."


"Siapa yang membohongimu aku memang ada janji makan malam bersama seseorang." Jawab Vanya.


"Sayang aku lapar."


"Kenapa kamu manja begini, Bi." Seru Papa Herlambang


"Biarkan saja, Pa. Ma ! Bantu aku pengurus lamaran, aku ingin menikahi Anya dalam waktu dekat." Ucap Abimanyu. Vanya terkejut begitu juga dengan yang lainnya.


"Kamu buru - buru sayang." Ucap Mama Vania


"Enggak, Ma. Aku sudah pikirkan ini semua."


"Nanti lagi kita bahas makan saja terlebih dulu." Sahut papa Herlambang.


Semua mengangguk setuju, mama Vania mengambilkan makanan untuk papa Herlambang. Melihat hal itu Abimanyu merasa iri.


"Sayang ambilkan."


"Kamu kenapa manja sekali, ambil sendiri." Seru Mama Vania.


"Gak apa - apa tante biar Anya ambilkan." Vanya menyendok nasi dan lauk ke dalam piring Abimanyu.


Wajah Abimanyu bahagia sudah terbayang bagaimana nanti jika Vanya memang menjadi istrinya.


Alan dan Resha jarang bicara hanya saling curi - curi pandang. Perasaan malu dan canggung menghinggapi kedua nya


Dimana percaya diri Alan waktu di rumah sakit ?


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira

__ADS_1


__ADS_2