
Dua bulan sudah pernikahan Vanya dan Abimanyu, masih dengan kesabaran yang besar. Vanya selalu mendampingi dan merawat suaminya dalam masa penyembuhan, Vanya juga memutuskan istirahat membuat Novel untuk fokus pada Abimanyu dan kantornya.
Seperti biasa mereka selalu bekerja dari rumah, dalam sebuah ruangan yang besar dan terdapat dua meja kerja Vanya dan Abimanyu. Romi yang sudah sehat dan bugar kembali ke kantor mulai bekerja.
" Sayang ... Ayo makan siang dulu." Ucap Vanya membereskan meja kerjanya .
"Iya tunggu sebentar." Abimanyu merapikan meja nya.
Setelah selesai Vanya menarik kursi roda dan membawa Abimanyu kemeja makan. Ia selalu melayani sendiri keperluan Abimanyu.
"Sayang ayo makan." Vanya memberikan piringnya pada Abimanyu.
"Berdua ya." Balas Abimanyu manja.
"Kapan besarnya kamu ,Nak !" Ucap Rian mengejutkan dua insan di sana.
"Rian, ayo makan siang bersama." Ajak Vanya senang.
" Yakin Lo ngajak gue, gak marah tuh pangeran muka udah ditekuk begitu." Ucap Rian yang mendaratkan tubuhnya di kursi.
"Ambil sendiri ya."
Rian menerima piring dari Vanya dengan senang.
" Sayang jangan senyum sama dia bahaya." Ujar Abimanyu
"Kenapa ?" Balas Vanya polos sambil menyuapi makanan ke mulut suaminya.
"Nanti dia jatuh cinta sama kamu." Ucap Abimanyu setelah menelan makanannya.
"Gak usah takut, gue memang udah jatuh cinta sama bini Lo." Ucap Riyan santai.
"Apa Lo bilang ?" Abimanyu. Menepuk-nepuk dadanya .
Vanya memberikan segelas air pada Abimanyu. "Jangan ditanggapin, Rian cuma bercanda."
Rian terkekeh senang membuat Abimanyu tersedak. Usai makan mereka berkumpul diruang keluarga sambil cuap - cuap manja. Abimanyu merasa lelah meminta berbaring dipangkuan Vanya.
"Ada apa Lo siang begini datang ?" Tanya Abimanyu sambil menikmati usapan lembut Vanya pada rambutnya yang mulai tumbuh seperti semula.
"Film yang diangkat dari Novel Vanya sudah selesai digarap , nanti kalau sudah tayang rencana bakalan di adakan nonton bareng sama kru dan pemainnya. Nah, gue ngajak Lo semua" Ujar Rian menjelaskan tujuan yang sebenarnya .
"Ogah gue mending nonton berdua sama Anya di kamar." Balas Abimanyu memejamkan matanya.
"Kalau Lo gak mau, ya udah Vanya aja. Kehadirannya pasti ditunggu penggemarnya." Balas Rian tidak mau kalah
"Ehh gak bisa, istri gue gak boleh dekat - dekat orang lain." Ucap Abimanyu cepat .
"Masukin aja sekalian bini Lo ke dalam botol biar jadi Jin." Ujar Rian kesal.
Vanya hanya tertawa mendengar perdebatan kedua lelaki ini.
"Gue mau kok, kita atur jadwalnya. Yang penting Lo kabarin kita" Sahut Vanya
Rian mengangguk senang. "Oke gue balik dulu, makasih makan siangnya besok gue mampir lagi ya" Ucapnya melenggang pergi.
Abimanyu mendengus kesal tiba - tiba dia teringat ucapan Rian dimeja makan .
Apa benar Rian jatuh cinta sama Anya?
"Sayang ayo, aku antar ke kamar ! Sore kita terapi lagi." Suara Vanya membuyarkan lamunan suaminya.
Abimanyu mengangguk dan mengangkat kepalanya dari pangkuan Vanya. Mereka memasuki kamar untuk istirahat siang.
...----------------...
__ADS_1
Alan bertopang dagu menatap dokumen di atas meja kerja nya. Lelaki tampan dan datar ini tidak fokus bekerja, Entah apa yang mengganggu pikiran nya, beberapa kali dia menghela nafas menetralkan dirinya. Hingga ketukan di pintu memecahkan kesunyiannya.
"Masuk."
"Waktunya meeting, Pak." Balas Sekretaris nya
"Ya tunggu di sana dan siapkan segala dokumennya." Balas Alan.
Hampir satu jam Alan dan yang lainnya mengakhiri rapatnya. Ia gegas menelpon seseorang untuk memastikan lokasi dan tempat yang dipesannya sudah siap.
...----------------...
Rumah sakit, di sinilah Abimanyu melanjutkan terapi berjalannya , sudah sedikit ada kemajuan. Dia semakin semangat menjalaninya walau kadang dongkol dengan sang Dokter yang mencuri pandang pada istri cantiknya.
"Kak. Vanya ! Gimana ada perkembangan ?" Tanya Shella menghampiri.
"Lumayan, Shell. Dimana Azam ?" Tanya Vanya sambil memasang sepatu Abimanyu.
"Di ruang operasi, Kak. Sebentar lagi keluar. Kak bunga - bunga yang ditanam di rumah sakit ini bibitnya dari taman bunga ya?" Ujar Shella
"Iya, Shell. Kalau mau nanam lagi ambil aja di kebun sama Azam."
"Rencananya mau minta buat ditanam di rumah." Balas Shella.
Vanya mengangguk lalu berpamitan pada Shella. Mobil Abimanyu dan Vanya melaju menuju ke rumah keluarga Herlambang. Sampai di sana mereka disambut senang oleh mama Vania.
"Apa kabar, Ma ? Maaf baru kesini."
"Baik sayang, ayo masuk mama sudah menyiapkan camilan." Ucap mama Vania
Abimanyu dan Vanya masuk keruang keluarga, mereka membicarakan perkembangan laki-laki itu.
"Sayang, aku mau mandi." Ucap Abimanyu merasa lengket.
"Iya sebentar aku siapkan." Vanya masuk ke kamar Abimanyu.
Mama Vania sedang meminta asisten rumah mereka untuk memasak cukup banyak karena Abimanyu dan Vanya makan malam di sana.
...----------------...
Hari menjelang sore terdengar suara mobil berhenti di halaman rumah. Tak lama keluar pria paruh baya dari dalam mobil. Suara langkah tegas itu semakin nyaring saat masuk ke dalam rumah.
" Papa sudah pulang" sambut Vanya didepan pintu bersama Abimanyu.
" Iya, kalian disini ? Bagaimana perkembangan kaki mu, nak?" Tanya papa Herlambang duduk di sofa sambil menerima air putih dari mama Vania.
"Lumayan, Pa. Sudah sedikit berasa." Ujar Abimanyu
"Semangatlah jangan putus asa sudah ada bidadari cantik yang mendampingi mu." Goda papa Herlambang.
Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil lagi berhenti di depan rumah. Mama Vania meminta bibi menemuinya. Tak lama masuk laki - laki tinggi besar ke dalam rumah.
"Selamat sore semua nya !"
"Alan."
"Selamat sore Nak ayo kemari." Ucap papa Herlambang. Alan mengangguk dan duduk di sofa tunggal.
"Alan ada apa kamu kesini ? apa kamu mencari ku?" Tanya Vanya.
"Tidak Nona saya ingin menemui Om Herlambang dan Tante Vania." Balas Alan kaku dan juga malu
"Ada apa ?" Tanya Abimanyu menaruh curiga
"Saya ingin membicarakan tentang saya dan Resha, saya kesini ingin melamar Resha menjadi istri saya, sejak lama saya sudah menyukainya." Ucap Alan lega seakan habis melepaskan beban yang sangat berat diterima atau tidak itu urusan nanti.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak beri tahu aku Alan ? Jika tahu seperti ini aku akan menyiapkan lamaran untukmu" Ujar Vanya.
"Maaf Nona saya hanya ingin memastikan sendiri." Alan tersenyum.
"Jangan tersenyum pada istriku!" Ucap Abimanyu.
" Abi !" Vanya memasang wajah serius.
"Maaf sayang." Cicit Abimanyu pelan.
Semuanya terdiam Alan menanti jawaban dengan berdebar-debar.
"Nak Alan jika memang kamu mencintai putri kami, tidak salahnya kami menerima mu tapi... Apa Resha juga menyukai mu ?" Tanya Papa Herlambang .
"Entahlah saat ini saya perlukan restu Om dan Tante, malam inilah perjuangan cinta saya, masalah kuliah Resha tinggal menunggu wisuda dan ke depannya akan saya bicarakan lagi pada Resha ." Ujar Alan .
Papa Herlambang mengangguk, jujur dalam dirinya tidak ada keraguan pada diri Alan namun yang diragukannya adalah putrinya sendiri.
"Baiklah, Nak. Kami menerima lamaran mu dan Resha itu jadi urusan mu." Ucap Papa Herlambang tersenyum.
Alan mengangguk lalu menelpon seseorang sebentar. Tak lama masuklah beberapa anak manusia yang tak disangka - sangka.
Dengan senyum manisnya. Rian, Azam dan Shella serta beberapa pengawal di rumah Vanya membawa seserahan. Semua orang diruang tengah terkejut termasuk Vanya tak tahu rencana Alan.
"Ada apa ini ?" Tanya Abimanyu.
"Melamar istri Lo, buat jadi istri gue." Jawab Rian santai.
"Gila Lo, ini bini gue udah ada segelnya hak milik Abimanyu Permana !" Jawab Abimanyu menggebu. Yang lain nya tertawa melihat wajah kesalnya
"Om, Tante. Ini seserahan untuk Resha doakan keberhasilan saya dan malam ini saya mengundang kalian semua ke taman dekat kantor tuan Abimanyu." Ujar Alan.
Papa Herlambang setuju mungkin sudah ada rencana yang disusun oleh Alan demi putrinya. Papa Herlambang dan Mama Vania ikut bergabung dengan anak muda berjiwa gila itu .
"Kayanya gak usah pulang nih, Zam. Makan malam disini aja nanti baru berangkat bareng boleh ya, Tante? " Ujar Rian mengatur rencana.
"Setuju."
"Boleh, tante masak banyak kok" seru Mama Vania .
...----------------...
Waktu yang ditentukan Alan sudah tiba, semua orang sudah bersiap menggunakan mobil masing - masing . Sampai di sana Alan menunggu wanita pujaan hatinya. Hampir 30 menit munculah sosok yang ditunggu - tunggu . Alan menyeka keringatnya berkali - kali dan menyiapkan hatinya sekeras mungkin untuk menerima segala jawaban.
" Hai kak Alan !" Sapa Resha
Sambil memperhatikan sekelilingnya. Taman itu sudah disulap sedemikian rupa
"Ayo duduk."
"Ada apa, Kak ? Meminta ku datang dan menyuruhku menggunakan Gaun ini. Tapi, Tunggu ! Gaun kita warnanya senada." Ucap Resha senang .
Alan tersenyum, jeli juga mata gadis mungil ini pikirnya "Resha makanlah dulu, nanti ada yang ingin aku sampaikan." Ucap nya menarik kursi untuk Resha.
Resha mengangguk lalu menyentuh sendok dan garpu lalu memakan makanan yang sudah dipesan terlebih dulu, walau sedikit dingin namun makanannya habis tanpa sisa.
"Kakak ingin bicara apa?" Tanya Resha menyeka tissue ke mulutnya.
Alan membenarkan duduknya kemudian berkata. "Resha... Begini. Mungkin, caraku sedikit konyol dan aku juga bukanlah laki - laki romantis seperti yang lainnya. Tapi jujur dalam hatiku memiliki ketertarikan padamu sejak kita pertama bertemu. Ketertarikan itu semakin kuat dan menjadi cinta, dalam hidupku memiliki komitmen, aku ingin langsung menikah. Resha, aku menyukai mu dan mencintai mu. Menyayangimu tulus apa adanya dan malam ini, ditempat ini. Ditempat kamu sering menghabiskan waktu bermain dimasa kecil mu, aku ingin meminta mu tidak hanya menjadi kekasih tapi juga menjadi istri. Maukah? kamu menikah dengan ku."
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
__ADS_1
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira