Tetap Kamu

Tetap Kamu
Kesabaran Vanya


__ADS_3

Vanya merasakan sesuatu berkedut di tangannya, wajahnya berbinar dan sumringah. Vanya menekan tombol darurat di kepala ranjang Abimanyu.


"Ada apa, Van ?" Tanya Rian bingung ditempatnya berdiri.


"Tangan Abi berkedut."


Mama Vania dan Resha juga ikut mendekat di sisi ranjang, mereka meneliti seluruh tubuh Abimanyu dari kepala sampai ujung kakinya.


"Gila ! benar - benar gue gak nyangka dalam keadaan koma pun, dia masih bisa cemburu !" Rian terkekeh senang.


Tak lama Dokter dan beberapa perawat masuk, suster meminta dengan sopan untuk mereka semua keluar. Setelah 15 menit keluarga Abimanyu dipersilahkan masuk kembali.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dok?" Tanya mama Vania.


"Sudah ada tanda - tanda akan bangun, Bu ! Pak Abi merespon dalam tidurnya, terus ajak dia bicara agar cepat bangun. Semuanya baik - baik saja, saya permisi." Ucap Dokter.


Semuanya tersenyum senang mendengar kabar baik ini.


" Terimakasih Rian, kamu sudah memancingnya untuk bangun" Ucap Mama Vania.


"Sama - sama Tante. Aku akan buat dia bangun secepat nya." Rian tersenyum. Ia berpamitan pulang karena sudah malam. Dia juga berpamitan pada Abimanyu. "Gue pulang dulu ya, Bi ! Kalau besok Lo gak bangun, gue bawa penghulu ke sini buat nikahin gue sama Vanya" Sambungnya lagi.


Tangan Abimanyu kembali berkedut.


Rian dan Vanya tersenyum senang. Begitu juga dengan mama Vania dan Resha. Setelah kepulangan Rian papa Herlambang datang dengan wajah lelahnya.


Matanya menatap sedih pada putranya. "Bagaimana keadaan Abi hari ini, Ma?" Tanya papa Herlambang sambil menerima air putih dari mama Vania.


"Abi sudah menunjukkan tanda untuk bangun, Pah ! Ternyata dia sangat mencintai Anya, dalam tidak sadar pun, dia masih cemburu sama Rian karena ingin menikahi Anya jika dia tidak bangun, tangannya berkedut beberapa kali" Cerita mama Vania sambil terkekeh .


Papa Herlambang menatap dalam wajah istrinya, senyum manis yang selalu menghiasi hari - harinya yang sempat hilang itu kini kembali lagi malam ini .


...----------------...


Abimanyu menatap sedih dari kejauhan pernikahan sahabatnya sendiri bersama kekasihnya, tanpa terasa air matanya jatuh begitu saja menggiring kepedihan hatinya. Diusapnya berkali - kali tapi air mata itu tetap semakin banyak tertumpah , sesak rasanya di dada hingga tak mampu mengeluarkan kata - kata atau sumpah serapah seperti biasanya. Hanya isak tangis yang tak bersuara mewakili perasaan terlukanya saat ini. Mama Vania dan Resha, berulang kali menguatkannya untuk tidak terlalu tenggelam dalam kesedihannya, andai kecelakaan itu tidak menimpanya. Mungkin, dia lah yang bersanding saat ini bersama wanita pujaan hatinya. Dengan sesegukkan dia berusaha menghentikan tangisnya.


Vanya terjaga dari tidurnya karena merasakan jarinya digenggam erat oleh seseorang. Matanya melebar saat melihat laki - laki di depannya ini perlahan membuka matanya. Dengan nafas memburu dan sudut mata yang berair, mata Abimanyu terbuka sempurna. Vanya membangunkan semua orang di pagi buta itu tak lupa dia memencet tombol darurat.


Papa Herlambang dan Mama Vania mengucap Syukur untuk putranya yang sudah membuka matanya kembali. Dokter datang lalu masuk dan segera memeriksa Abimanyu, selang beberapa menit dokter selesai mengecek kondisinya.


"Selamat, Pak ! Bu. Pak Abi sudah sadar sepenuhnya. Biarkan beliau istirahat dulu, nanti pagi kita periksa secara menyeluruh. Saya permisi dulu, untuk saat ini semua baik - baik saja. Mungkin, beliau akan merasakan lelah karena tertidur cukup lama." Jelas Dokter .


Mereka semua memeluk Abimanyu dengan tangis harunya, secara bergantian.


" Terimakasih sudah bangun untukku, sayang."


Abimanyu tersenyum ternyata pernikahan yang membuatnya meringkuk menangis disudut dinding hanyalah mimpi belaka. "Haus sayang." Ucapnya lemah


Vanya mengambil air dan memberikan Abimanyu minum melalui sedotan, dia selalu menyiapkan segalanya secara detail mengingat Abimanyu bisa terbangun kapan saja.


"Istirahatlah sayang, jangan dipaksa untuk ngomong dulu." Ujar Vanya lembut dan mencium kening Abimanyu.

__ADS_1


Abimanyu menatap lekat wajah Vanya, dia bersyukur masih diberikan kesempatan hidup kedua kalinya setelah kecelakaan hebat itu.


Ditatapnya penuh rindu wajah manis itu tanpa berkedip. Dia menikmati ciptaan Tuhan yang begitu indah dihadapannya .


"Gak bakalan habis, kok ! Wajah kak Anya. Gak usah sampai segitunya" ucap Resha sehingga membuat Vanya tersentak ternyata Abimanyu menatapnya sejak tadi .


Vanya mengirim pesan pada Azam , Ferdy dan Rian. Tanpa terasa hari sudah pagi kini Abimanyu sudah mulai merasa pulih .


"Sayang aku lapar " Ucap Abimanyu manja


"Iya, aku siapkan. Makan bubur dulu ya." Ujar Vanya lembut .


Mama Vania tersenyum melihat perhatian Vanya. Papa Herlambang sengaja cuti untuk mengetahui hasil cek keseluruhan putranya hari ini.


Vanya menyuapi Abimanyu dengan perlahan setelah memastikan buburnya dingin, tanpa terasa buburnya habis walau sebenarnya Abimanyu tidak menyukai bubur .


Usai makan Abimanyu ingin ke kamar mandi. Perlahan dia menggeser kakinya tapi tidak bergerak. Dengan susah payah dia mulai menggerakkan kakinya lagi tapi belum juga berpindah dari tempatnya.


" Ke—kenapa kakiku ? kenapa gak bisa bergerak?!" Ucap nya panik.


Vanya dan yang lain ikut cemas karena Abimanyu tidak bisa menggerakkan kakinya .


Dokter masuk saat semua orang panik karena kaki Abimanyu tidak merasakan apa - apa. Dokter meminta Abimanyu menggerakkan kakinya kembali tapi tetap sama tak berpindah sedikit pun. Dokter mengetuk tulang keringnya dan menusukkan jarum ke telapak kaki nya tapi Abimanyu masih belum merasakan apa - apa.


Abimanyu menggeleng lemah


" Tidak mungkin saya lumpuh, 'kan? dokter." Tanyanya dengan suara bergetar.


Dada Abimanyu berdegup kencang. Ia mulai berteriak dan menghamburkan apa saja yang ada didekatnya serta menjambak rambutnya sendiri, sampai dokter meringis saat teringat ada bekas jahitan di kepalannya. Vanya segera memeluk tubuh kekasihnya itu agar tidak menyakiti dirinya sendiri.


" Tidak mungkin ! Saya tidak mau lumpuh !" Ucap Abimanyu berkaca - kaca menatap kedua kakinya dengan nafas yang memburu.


" Sabar sayang " mama Vania ikut terisak dan memeluk putranya


"Aku gak mau lumpuh, Ma." Tangis Abimanyu pecah di pelukan sang ibu. "Aku gak berguna, Ma ! Aku gak bisa apa - apa !!" ucapnya frustasi.


Vanya mengusap air matanya yang sudah mulai tumpah, cobaan apa lagi yang dihadapinya kali ini ?


" Apa dia bisa sembuh atau berjalan lagi ?" Tanya Vanya mengalihkan perhatian semua orang pada dokter


Dengan penuh harapan mereka menunggu jawaban baik dari Dokter itu


" Bisa Nona Muda, melalui terapi yang rutin masih ada peluang untuk Pak Abi bisa berjalan kembali." Ucap Dokter tersenyum sangat manis !


" Kenapa kamu tidak bilang dari tadi" Ucap Azam kesal masuk bersama Rian yang sudah mendengar dari depan pintu.


"Maafkan saya dokter Azam, pembicaraan saya terpotong karena sudah disusul amukan dari Pak Abi " Kekeh Dokter.


" Ya sudah atur secepatnya jadwal terapinya, apa selain kelumpuhan ada masalah lainnya lagi ?"


"Tidak ada semuanya sudah membaik, itulah tujuan saya kemari untuk membaca hasil tes keseluruhannya." Jawab Dokter

__ADS_1


" Terimakasih jangan lupa atur secepatnya, saya tidak mau rumah sakit saya hancur karena amukannya." Azam melirik Abimanyu yang sudah mulai tenang.


Rian dan Azam duduk di sofa, mata Abimanyu menatap Rian begitu tajam. Tiba - tiba dia teringat mimpinya saat Rian menikahi Vanya.


"Kenapa Lo ? Ah, Selamat sudah bangkit kembali " Ucap Rian terkekeh


" Lo mau nikahin Anya gue, 'kan ?" tanya Abimanyu dengan wajah garangnya


" Maunya begitu, jika Lo gak bangun ! Sayang cewek secantik Vanya di anggurin, iya gak, Van ?"


Vanya tersenyum sambil membereskan kekacauan di sana bersama Azam dan Resha


"Sayang jangan senyum sama dia " Ucap Abi kesal


"Jadi, Lo dengar gue ngomong mau nikahin Vanya "


" Bukan cuma dengar tapi mimpi juga !" Ujar Abimanyu tambah kesal.


Rian dan yang lainnya tertawa. "Lo mau ke kamar mandi, 'kan? ayo gue anta" Abimanyu mengangguk. "Tenang aja gue gak liat size Lo, kok ! soal nya Size gue lebih besar dari pada Lo" sambung Rian kembali.


Plak...


Lengan Rian pedas dipukul Abimanyu


" Ngotorin kuping Ade gue aja Lo." Ujar Abimanyu lagi - lagi dibuat kesal


"Tenang, dia gak dengar kok." Ujar Rian sambil membantu Abimanyu duduk di kursi roda.


Abimanyu dan Rian pergi ke kamar mandi, Vanya mengganti seprai dengan yang baru. Azam juga duduk kembali ke sofa setelah membantu Vanya.


"Van, gimana kalau Lo Nikah sama Abi aja terlebih dulu. Biar Lo gak ada batasan bantuin Abi." Ujar Azam entah dapat pemikiran dari mana dia bisa mengeluarkan kata - kata itu.


"Papa dan Mama setuju jika Anya dan keluarganya setuju, pesta bisa kita adakan setelah Abi sembuh." Sambung Papa Herlambang yang baru masuk bersama mama Vania.


Abimanyu tersenyum senang saat mendengar pembicaraan Azam dan papa nya walau dalam hatinya bertanya. Apakah Vanya menerima nya dalam keadaan seperti itu ? Bagaimana jika dirinya akan lumpuh selamanya ? Apa Vanya tetap mau menjadi pendampingnya ? Pertanyaan itu sebenarnya sejak tadi sudah ada dibenaknya.


Tapi dia enggan menanyakannya, sejak mengetahuinya lumpuh Vanya jadi pendiam tidak banyak bicara. Abimanyu memandang lekat wajah Vanya setelah selesai dari kamar mandi .


"Bagaimana, Nak. Apa kamu mau ?"


Semua orang menunggu jawaban Vanya dengan berdebar - debar, terlebih lagi Abimanyu. Kepercayaan dirinya mulai menghilang, perasaan nya mulai campur aduk. Terlihat kegelisahan dari raut wajahnya.


"Tunggu sebentar Anya permisi keluar dulu " Ucap Vanya tanpa menjawab pertanyaan Mama Vania.


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow


IG. iyien_02

__ADS_1


FB. Iyien Rira


__ADS_2