Tetap Kamu

Tetap Kamu
Firasat Abimanyu


__ADS_3

Satu minggu kemudian....


Telapak kaki Vanya yang terluka sudah mulai membaik. Walau kecil tapi luka itu cukup dalam, hingga membutuhkan beberapa hari agar sembuh total.


Selama itu pula Abimanyu selalu berkunjung ke Mansion Vanya, semakin hari kedekatan mereka semakin terlihat. Hampir tiap malam Abimanyu selalu menelpon dan mengirim pesan untuk Vanya.


Tingkah Abimanyu mirip anak ABG baru jatuh cinta, padahal diliat dari umur dia sudah memasuki usia untuk menjadi bapak.


Hari ini Rian mengunjungi kantor Abimanyu, hampir satu minggu dua orang itu tidak bertemu karena kesibukan masing masing. "Rian menurut Lo, gimana perasaan Anya sama gue ya ?" Tanya Abimanyu menutup laptopnya.


"Kenapa Lo tanya gue?" Ujar Rian dengan nada tak senang.


"Entahlah, gue ngerasa Anya belum jatuh cinta sama gue. Kemarin gue ajak jalan - jalan terus gue telpon juga chat. Dia biasa aja, apa menurut Lo dia suka sama orang lain ya?" Ujar Abimanyu lesu.


"Gak tau sih, Bi. Setahu gue Vanya gak pernah dekat sama orang lain udah banyak cowok yang ditolak nya." Balas Rian


"Kemarin waktu gue pinjam ponselnya, sandinya tanggal lahir gue, maksudnya apa coba?" Ucap Abimanyu.


Riyan tertunduk menatap lantai, ada perasaan sakit dihatinya.


Ternyata Lo masih cinta sama Abi, Van. Sampai sekarang Lo masih jadikan tanggal lahir Abi sebagai sandi ponsel Lo.


"Lo kenapa ?" Tanya Abimanyu heran dengan sikap Rian


"Lo mau dengar cerita 5 tahun lalu ?" Tanya Rian di balas oleh sahabatnya itu. "Sebenarnya, Vanya suka sama Lo saat masih SMA, awalnya dia iseng gangguin kita berdua gak tahunya dia malah suka beneran sama Lo, dia nyuruh Azam nyari informasi tentang Lo lewat gue. Karena Lo terang-terangan nunjukin rasa benci Lo ke dia. Akhirnya Vanya memutuskan untuk mengubur perasaannya dalam - dalam. Kalau Lo memang sayang sama dia, kejar dia sampai dapat, jika cintanya sudah hilang sama Lo buat dia mencintai Lo lagi" Ujar Rian mengakhiri ceritanya dan memberi saran untuk Abimanyu.


"Benar gitu ? Jadi Anya dari dulu suka sama gue. Aaiisss !! Hal terbodoh yang pernah gue lakukan adalah membencinya tanpa alasan, gue terpengaruh dengan gaya pergaulan Manda yang sok kaya" Ujar Abimanyu mengusap wajahnya.


"Ya sudah gue balik nih, sore mau main kerumahnya Vanya ikut gak?" Tanya Rian


"Enggak dulu deh, kerjaan gue banyak, di sana paling sudah ada Echa nemenin dia." Jawab Abimanyu.


Rian meninggalkan kantor Abimanyu dengan hati sangat sedih, tapi jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia ikut bahagia jika Abimanyu dan Vanya bisa bersatu.


...----------------...


Vanya tengah bersiap ikut Azam ke rumah sakit untuk meninjau pembangunan rumah sakit milik laki-laki itu, hari ini juga jadwal dia mendongeng untuk pasien anak.


"Mobil sudah siap, Nona."


"Baiklah, ayo berangkat." Balas Vanya.


Alan dan Vanya berangkat ke rumah sakit, seperti biasa sampai di sana mereka berdua jadi pusat perhatian para perawat wanita dan juga dokter muda yang cantik - cantik.


"Aish ! Menyebalkan !" Gerutu Vanya


"Apa perlu saya minta ijin untuk membuat jalan khusus untuk, Nona."


"Gak perlu Alan." Balas Vanya tersenyum


Azam sudah menunggu didalam ruangannya.


"Bagaimana perkembangannya." Tanya Vanya


"Sudah 75 %"


"Bagus."


Vanya, Azam dan Alan menyelesaikan pekerjaan mereka di rumah sakit.


"Permisi dokter Azam, boleh bicara berdua." Ujar dokter Vera


"Maaf saya sedang sibuk." Balas Azam tanpa melihat lawan bicaranya.


"Azam bicaralah siapa tahu penting." Ujar Vanya.


Azam mendengus kesal. "Ayo diluar." Ucapnya datar.


Setelah di luar ruangan. "Ingin bicara apa?" Tanya Azam dingin.


"Saya hanya ingin mengajak anda makan siang hari ini, apa boleh ?" Tanya dokter Vera


"Maaf saya masih ada pekerjaan yang lain dan dokter Vera saya tegaskan sekali lagi saya sudah menjadi milik orang lain, jadi jangan mencari kesempatan untuk berdua dengan saya. Bukannya anda dulu tidak suka karena latar belakang saya gak jelas dan anda mengira saya orang miskin, saya mendengarkan semua percakapan anda dengan teman anda itu." Ucap Azam panjang lebar.Dia sudah kesal sekali sama dokter Vera yang seperti penjilat baginya .

__ADS_1


Dokter Vera mengepalkan tangan nya, rasa marah bercampur malu bersatu dalam hatinya. Bagaimana Azam sangat tahu maksudnya lain dari rasa cintanya pada Azam.


"Semuanya gara gara wanita itu." Ucap Dokter Vera.


...----------------...


Ditempat lain model cantik sedang memarahi resepsionis karena tidak memperbolehkan dirinya masuk kedalam kantor Herlambang group.


"Nona Manda anda tidak diijinkan lagi oleh tuan Abimanyu masuk ke dalam."


"Romi ! Jaga ucapan Lo, tunggu sampai gue menjadi istri Abimanyu akan gue depak Lo dari sini." Ucap Manda sinis.


Romi hanya mengangkat bahunya tanda acuh. Manda menjadi kesal.


Abimanyu mendapat laporan jika Manda masih menunggu dibawah.


"Aku harus tegaskan sama Manda."


Abimanyu turun bersama Romi untuk menemui Manda. Sampai di ruang tunggu laki-laki ini langsung masuk.


"Manda ... Ngapain lagi Lo datang ke kantor gue." Ujar Abi dengan kesal.


"Abi, Lo 'kan cowok gue." Ucap Manda manja.


"Mimpi Lo ! Dari dulu sampai sekarang, Lo itu cuma gue anggap temen, lagian dulu sengaja gue bilang suka sama Lo karena gue pengen Vanya gak gangguin gue." Ujar Abimanyu keceplosan.


Manda tertawa. "Gimana seandainya jika Vanya tahu, Lo sebegitu bencinya sama dia dulu, sampai Lo manfaatin gue buat jauhi dia, supaya gak gangguin Lo lagi. Gue dengar nona muda Wiguna itu sudah kembali, ah iya siapa yang gak kenal dengan penulis Vanya Putri." Ucap Manda dengan nada mengancam.


"Lo, jangan macam - macam sama dia, awas sampai Lo nyentuh dia ! Lo berhadapan langsung sama gue." Ujar Abimanyu emosi.


"Ternyata rasa cinta Lo semakin besar sama dia, tapi gimana kalau dia sudah punya kekasih ? Gue siap kok nerima Lo." Goda Manda


"Romi usir dia dari sini." Titah Abimanyu meninggalkan Manda dan Romi.


Abimanyu masuk ke mobil nya,


Dalam hatinya merasa gelisah. Bagaimana jika Vanya tahu dan masih menganggap dia membencinya ? Abimanyu tergesa - gesa masuk ke kantor Rian. Tanpa permisi pada sekretaris, laki-laki itu menerobos masuk kedalam ruangan Rian.


"Siapa yang masuk tanpa mengetuk sih." Ucap Rian mendongakkan kepalanya kearah pintu.


"Ngapain Lo kemari ? Masih kangen sama gue kita 'kan baru ketemu tadi." Goda Rian


"Gila Lo ! Ada masalah serius nih." Ujar Abimanyu gelisah.


"Masalah apa ?" Tanya Rian seraya mengayun langkah untuk duduk bersama sahabatnya itu.


Abimanyu menceritakan pertemuannya dengan Manda .


"Menurut gue Lo harus nemuin Vanya, terus Lo kasih tahu ke dia jika selama ini Lo sama Manda gak ada hubungan apa - apa, setahu gue dia anggap Lo memang beneran pacaran sama Manda." Ujar Rian


"Tapi gue takut kalau Anya benci sama gue."


"Coba aja dulu siapa tahu dia gak marah kalau pun, marah berarti dia bukan jodoh Lo tapi bakal jadi calon pengantin gue." Ujar Rian.


Plakk...


Buku kecil mendarat di kepala Rian.


"Aaww KDRT Lo." Ujar Rian mengusap kepalanya yang agak sakit.


"Anya itu calon pengantin gue, enak aja Lo ! Gue akan dapatkan kembali cinta Anya." Ucap Abimanyu kesal


Rian terkekeh. "Lo belum makan siang, 'kan ? Yuk makan didepan kantor."


"Yuk." Abimanyu berdiri dari duduknya, tiba - tiba ia merasakan dadanya berdebar- debar.


"Lo kenapa ?" Tanya Rian karena Abimanyu tak bergeming dari tempatnya.


"Gak tahu nih, dada gue tiba - tiba berdebar." Abimanyu menyentuh dadanya.


"Jangan bilang Lo jatuh cinta sama gue." Goda Rian


"Gue normal kali, perasaan gue jadi gak enak, sebentar gue telpon ke rumah."

__ADS_1


Rian mengangguk dan duduk kembali ke sofa. Usai menelpon Abimanyu kembali duduk lagi.


"Gimana ?"


"Di rumah aman." Jawab Abimanyu masih gelisah.


"Gini aja kita makan, siapa tahu Lo lapar jadi gak konsentrasi atau Lo bisa juga kurang ion tubuh." Ucap Rian bercanda untuk menenangkan.


"Ayo, siapa tahu Lo bener kali ini." Ucap Abimanyu berusaha mengesampingkan perasaan gelisahnya.


Rian dan Abimanyu masuk kedalam restoran didepan kantor Rian.


...----------------...


Di rumah sakit


Azam, Alan dan Vanya makan siang di kantin rumah sakit.


"Kalian langsung pulang atau jalan dulu ?" Tanya Azam menyudahi makannya.


"Mau ke kebun bunga, Zam. Rencana nya ingin gue petik dan kasih ke bangsal anak biar tambah semangat untuk sembuh. Kalau misalkan ada yang alergi bisa di tanam di tempat yang agak jauh dari ruangan." Ujar Vanya.


"Ide bagus, nanti gue minta petugas kebersihan buat nyiapin Vas bunganya." Balas Azam.


"Kalau Lo mau bunganya bisa ditanam disini untuk mempercantik pemandangan, biar seger dan hidup suasananya, Lo tahukan gue parnoan." Ucap Vanya menyeruput minumannya.


"Boleh, Van. Gue siapin dulu tempatnya." Ucap Azam


"Alan sudah selesai." Tanya Vanya


"Sudah, Nona."


"Ayo berangkat, Zam kita balik dulu ya salam buat mama Sintia." Pamit Vanya


Azam mengangguk. "Hati - hati Lo berdua."


Vanya dan Alan masuk ke mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Beberapa kali Vanya menguap, itu tak luput dari pandangan Alan.


"Nona jika anda mengantuk tidurlah, bila sudah sampai nanti saya bangunkan." Ujar Alan melirik kaca didepannya.


"Gak apa - apa, Lan. Fokuslah aku belum terlalu mengantuk, singgah di toko penjual makanan ikan nanti." Balas Vanya menguntak- atik ponselnya.


"Baik, Nona."


Dari jauh toko penjual makanan ikan sudah terlihat. Alan mengurangi kecepatan dan bersiap untuk menepi.


"Kita sampai, Nona."


"Alan boleh kamu saja yang membelinya."


"Baiklah." Alan keluar dari mobil untuk membeli makanan ikan.


"Tolong .... Alan !" Teriak Vanya dari mobil miliknya.


Alan berbalik kebelakang, dia melihat Vanya ditarik paksa keluar dari mobil oleh sekelompok orang bertopeng yang berjumlah enam orang.


"NONA." Alan berlari ke mobil.


Tiga orang bertopeng itu menghalangi Alan dan tiga lainnya masih menarik paksa Vanya, wajahnya dibekap dengan sapu tangan dan dalam hitungan detik Vanya tidak sadarkan diri.


Terjadilah baku hantam di sana bukan Alan nama nya jika tidak mampu melumpuhkan tiga orang itu dengan ilmu bela dirinya.


Alan bergegas masuk kedalam mobil dan mengejar Mobil hitam yang membawa Vanya, tak lupa dia juga mengaktifkan perangkat dalam mobil yang berhubungan langsung dengan alat pelacak di kalung Vanya.


Alan juga meminta bantuan pada pengawal di Mansion untuk menyusulnya. Beberapa kali ponsel Vanya bergetar di kursi belakang.


Alan tidak menggubris telpon itu, ia masih fokus mengemudi dan sambil melihat layar kecil didepannya. Tampak mobil yang membawa Vanya menuju kearah pinggiran kota. Alan mulai berfikir di sana hanya ada sungai besar dan jembatan penghubung ke Desa. Banyak macam pertanyaan di kepala Alan .


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow

__ADS_1


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira


__ADS_2