
Lima tahun kemudian.
"Resha bangun ....!" Teriak mama Vania sambil menggedor pintu kamar putrinya
" Iya. Tunggu 15 menit lagi echa turun." Balas Resha yang menyebut dirinya Echa
"Baiklah , kakakmu sudah menunggu di bawah." Ucap mama Vania lalu meninggalkan depan kamar putrinya.
Di ruang makan seorang laki - laki dengan tatapan tajam dan berwajah dingin sedang menikmati sarapannya
"Selamat pagi, Ma. Pa ! Kak Abi." Sapa Resha menarik kursinya untuk duduk
"Selamat pagi, sayang."
"Lima menit lagi, kakak tunggu di mobil !" Kata Abimanyu sambil mencium kedua pipi mama Vania dan mencium punggung tangan papa Herlambang.
" Iya - iya." Resha kesal baru menyuap sarapannya.
Abimanyu lima tahun lalu sangat berubah menjadi sosok yang dewasa. Dingin dan pendiam serta tegas. Sekarang, dia sudah menjadi presdir perusahaan keluarganya.
Perusahaan mereka berkembang pesat di tangannya. Dia juga di kenal sebagai pengusaha sukses berhati dingin.
Sudah banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasihnya. Tapi tidak pernah ada yang berhasil. Karena sebelum mereka berjuang hati para wanita itu telah dipatahkannya terlebih dulu. Hanya Manda yang tak kenal lelah mendekati Abimanyu walau sudah di tolak ratusan kali dia tidak peduli.
"Apa kabar kamu sekarang Anya ? Aku kangen sama kamu cepatlah kembali." Gumam Abimanyu mengusap layar ponselnya.
Hanya foto itu yang menemani Abimanyu selama lima tahun ini. Foto yang di ambil nya saat Vanya duduk makan lesehan di bawah pohon ketika SMA.
"Hayo ! Kakak mikirin apa ?" Resha mengejutkan Abimanyu dan mendudukkan tubuhnya di mobil.
"Pak berangkat." Titah Abimanyu pada sopirnya tanpa menghiraukan pertanyaan adiknya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kampus Resha. Sampai di gerbang Resha turun dari mobil.
"Belajar yang benar !" Ucap Abimanyu dengan wajah datarnya.
"Iya, kakak juga hati-hati !" Resha mencium pipi kakaknya.
" Hmm, jalan Pak."
"Baik Tuan." jawab pak sopir yang sering di sebutnya pak Anang
Mobil melaju dengan kecepatan rata rata menuju kantor.
...----------------...
Dret.... Dret.... Dret....
Benda pipih itu bergetar di atas meja seorang calon dokter spesialis anak yang bertuliskan Azam Satria. Laki-laki itu benar-benar berjuang keras untuk menyelesaikan pendidikan sebagai dokter dalam kurun waktu 4,5 tahun. Entah berapa tahun lagi Azam bisa dilantik sebagai dokter anak.
"Halo" Jawab Azam tersenyum
"Gue pulang."
"Siap Tuan putri, gue akan jemput Lo." Balas Azam senang. Segera ia melepas baju kebesarannya dan menyambar kunci mobil serta tas kerjanya .
"Anda mau kemana Dokter Azam ?" Tanya Dokter wanita yang namanya Vera adik tingkat Azam.
"Saya ingin menjemput seseorang di bandara setelah itu saya akan kembali." Balas Azam langsung meninggalkan depan ruangannya.
__ADS_1
Dokter cantik yang bernama Vera itu menatap sendu pada punggung Azam yang sudah menjauh .
...----------------...
Di bandara, wanita cantik tinggi dan seksi sedang menunggu jemputannya.Tangan lentiknya berselancar cantik di atas ponselnya.
"Banyak perubahan di kota ini." Ucap wanita itu tanpa membuka kaca mata hitamnya.
" Anda menunggu jemputan ?" Tanya seseorang yang duduk di sampingnya
"Ah iya." Balasnya bicara tanpa melihat lawan orang di sampingnya.
Yang datang hari ini adalah Vanya Putri Wiguna. Dia pulang ketanah air setelah lima tahun berlalu. Saat Ferdy melamar Shishi pun dia tidak ikut. Tapi Shihi dan Azam serta Mamanya di boyong ke Jerman saat pernikahan Ferdy dan Shishi tiga tahun lalu.
"Anda tidak mengenali saya nona muda ?" Tanya laki laki itu.
Vanya menoleh ke orang itu. "Nico."
"Ya ini gue, secepat itu Lo lupain gue, Van." Ujar Nico terkekeh
"Maaf, gue bener gak ngenalin Lo tadi." Ucap Vanya canggung.
"Gak apa, kapan-kapan kita bisa mengobrol lagi jemputan gue udah datang." Nico meninggalkan Vanya yang masih merasa tak enak hati. Walau bagaimana pun dia pernah menolak laki - laki itu semasa SMA.
"Sorry lama, kena macet gue. Mana Shishi sama kak Ferdy." Tanya Azam.
"Di Jerman, gue sendiri aja. Ada kerjaan di sini maka nya gue pulang."
"Wajah Lo kenapa begitu?" Tanya Azam karena suara Vanya tak seceria wajahnya saat ditelpon.
"Gak kenapa- kenapa, cuma ketemu serpihan masa lalu."
"Van, ada pasien baru masuk , Lo gak apa-apa ikut gue ke rumah sakit dulu ? Kalau ngantar Lo ke mansion takutnya pasien itu darurat. Maklum gue masih tahap pendidikan." Azam tersenyum
"Enggak, kok. Di ruangan Lo ada kamar, 'kan? Gue mau tidur dulu di sana."
"Ada lah ! Mama udah desain khusus ruangan buat putra kesayangannya ini." Jawab Azam sombong
"Iya gue juga kangen sama mama, besok gue ke rumah Lo ya."
"Iya, udah tidur aja dulu, nanti sampai rumah sakit gue bangunin." Ucap Azam
Vanya mengatur posisinya untuk bersandar. Perlahan matanya mulai terpejam. Beberapa menit kemudian mobil Azam berhenti di depan rumah sakit.
"Van, ayo bangun udah sampai nih." Azam menepuk lengan Vanya.
"Udah sampai ya ? Ayo tunjukkin ruangan Lo gue masih ngantuk." Ucap Vanya dengan setengah kesadarannya.
Azam menggandeng Vanya untuk melangkah. Mata para pegawai membulat melihat Dokter idola mereka menggandeng wanita cantik. Setahu mereka Azam tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Tapi hari ini dia datang membawa wanita cantik dan seksi.
"Sana ruangan gue." Tunjuk Azam
Vanya mengangguk paham, ia melangkah menuju ruangan Azam. Setelah sampai. Vanya bingung sebelah mana ruangannya, dia juga tidak membaca tulisan di atasnya. Karena separuh nyawanya belum terkumpul. Vanya hampir saja masuk ke dalam ruangan dokter Vera jika tidak cepat Azam menariknya.
" Ya ampun Markonah ! Lo tidur sambil jalan lagi ! Bilang kek dari tadi kalau setengah sadar." Gumam Azam menarik tangan Vanya
Dokter Vera keluar dari ruangannya karena mendengar suara Azam. Matanya terbelalak melihat Azam menggandeng Vanya menuju kamar pribadinya
"Lo tidur di sini ya , gue periksa pasien yang baru masuk tadi." Azam menyelimuti vanya
__ADS_1
Vanya hanya mengangguk dan tidur kembali. Dokter Vera penasaran siapa wanita yang di bawa Azam keruang pribadinya.
Dokter Vera mengendap masuk dan membuka perlahan pintu kamar itu, di sana dia hanya melihat punggungnya saja karena Vanya tidur membelakangi pintu. "Sangat spesial sekali wanita ini, gue aja gak pernah masuk kamar ini. Mungkin, dia wanitanya Dokter Azam." Gumam Dokter Vera meninggalkan ruangan Azam dengan lesu.
...----------------...
Hampir satu jam. Azam kembali ke ruangannya, dia masuk ke kamar pribadinya tapi Vanya tidak ada di kasur. Namun terdengar gemercik air di kamar mandi.
"Ternyata Lo beneran di kamar mandi, gue kirain Lo di gondol kucing tiba - tiba hilang." Azam tertawa melihat wajah bantal Vanya.
Lo kira gue ikan, tadi gue dengar samar- samar waktu tidur ada orang masuk deh ke kamar ini." Ujar Vanya menyisir rambutnya. Kini mereka ada di sofa ruang tengah khusus menerima pasien.
"Sini gue bantuin biar cepat ! Selama ini gak ada yang berani masuk ke kamar pribadi gue, perasaan lo aja kali." Ujar Azam sambil membantu menyisir rambut Vanya.
" Iih jangan bikin gue parno dong, Zam !" Vanya mulai takut.
"Gak apa-apa ada gue, sebelum pulang kita makan dulu ya jam kerja gue juga udah habis." Ujar Azam masih menyisir rambut Vanya.
Tiba tiba Dokter Vera masuk dirinya kaget melihat Azam menyisir rambut vanya begitu lembut dan hangat.
"Ada yang bisa saya bantu dokter Vera." Tanya Azam kembali pada sifat datarnya.
"Ah, maaf mengganggu kalian, tadi saya bermaksud untuk mengajak dokter Azam makan bersama." Ucap Dokter Vera sambil senyum di paksakan.
"Sepertinya lain kali saja." Jawab Azam acuh.
"Baiklah" Jawab Dokter Vera sekilas melihat Vanya yang fokus pada ponselnya.
"Selesai. Tebal amat, potong ajalah biar gak ribet. Siapa yang bantuin Lo menyisir tiap hari ?"
"Enak aja Lo! Sepanjang dan setebal ini udah menghabiskan ratusan karung beras buat rambut gue, ada maid yang bantuin menyisir tiap hari. Maka nya di sekolah gue gelung terus biar rapi." Jawab Vanya dengan wajah protes.
...----------------...
Azam dan Vanya memutuskan untuk makan di kafe depan rumah sakit. Sebelum mengantar gadis itu pulang ke Mansion nya.
"Inikan ? Penulis novel yang terkenal itu. Vanya putri ! " Ucap pegawai melihat wajah Vanya
"Iya, mbak benar." Balas Vanya tersenyum ramah
"Mbak Vanya boleh minta tanda tangannya sama foto bareng ya " Tanya pelayan itu antusias
"Boleh ,"
Pegawai wanita itu masuk mengambil novel dan ponselnya. Setelah mendapatkan foto dan tanda tangan Vanya dia kembali melayani pesanan Azam .
"Dalam rangka apa nih Lo pulang " Tanya Azam
"Sebenarnya gue ada kerjaan, pertama ada sesi foto bareng dan tanda tangan dengan penggemar Novel gue acara nya di gedung Q. Yang kedua ada produser film mau angkat Novel gue yang baru terbit jadi film dan mereka minta gue ikut langsung menghadiri selama proses shooting itu berlangsung biar dapat gitu penjiwaan pemain sama tokoh novel nya " Jelas Vanya.
"Begitu ya, sekarang kita makan dulu nanti keburu ngambek nih makanan."
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
__ADS_1
FB. Iyien Rira