Tetap Kamu

Tetap Kamu
Air mata haru


__ADS_3

Lima hari sudah berlalu, Azam kembali bersekolah seperti biasa dengan buru - buru dia berlari di lorong sekolah. Dia tidak perduli lagi dengan orang yang mengeluh karena tersenggol saat berlarian. Sampai dikelas Azam langsung mencari sosok yang dirindukannya


Bugh...


Azam memeluk Vanya dengan Erat, semua mata melihat pada mereka begitu juga Shishi yang sudah tidak mampu menahan air mata harunya. Dia sangat tahu bagaimana gelisah nya Azam di ranjang rumah sakit karena rasa kecewanya saat Vanya diusir oleh mamanya.


"Van, maafkan Nyokap gue. Maaf gue gak bisa bela Lo saat itu. Maaf karena mama menghina Lo. Pasti sakit hati banget, 'kan?" Ucap Azam sambil melepaskan pelukannya memandang Vanya dengan mata berkaca berkaca.


"Zam, gue oke. Gak masalah jangan dipikirkan lagi, gimana Lo sudah sembuh total ?" Tanya Vanya.


"Iya, Gue sudah sembuh, Lo yakin gak apa - apa?" Azam khawatir


"Gue baik- baik aja." Vanya tersenyum


"Maaf, gue juga gak bisa bela Lo." Cicit Shishi menitikkan air matanya.


"Gak perlu orang lain mengenal gue secara dalam. Cukup kalian aja tahu bagaimana gue ? Itu sudah buat gue bahagia." Vanya juga menitikkan air matanya, dia terharu dengan kasih sayang kedua sahabatnya.


"Baiklah ! Sekarang jangan ada lagi air mata kesedihan ini, cukup air mata bahagia aja. Gue sayang sama Lo berdua." Azam membawa kedua sahabatnya ini dalam pelukannya.


Semua siswa di kelas ikut merasakan kasih sayang ketiga orang itu, hingga mereka juga ikut menitikkan air mata. Jadilah mereka merangkul satu sama lain termasuk Rian yang memeluk Abimanyu dengan erat hingga membuatnya kesal.


Siswa - siswi sedang istirahat di kantin. Seperti biasa Azam, Shishi dan Vanya menghabiskan makanan mereka sambil bercanda dibawa pohon.


"Boleh bergabung ?" Tanya seseorang yang tak lain adalah Rian.


"Boleh ! Kalau Lo gak jijik makan bareng gue." Sahut Vanya menyeruput es di gelasnya hingga tandas. Sampai mengeluarkan suara kodok dari dalam gelas. Azam menuangkan kembali Es kedalam gelas Vanya.


"Ya enggaklah, Van. Kita sama manusia ngapain jijik ? Gue senang bisa temanan sama Lo semua." Balas Rian yang mulai memakan makanannya.


Abimanyu hanya memasang tampang cuek duduk di salah satu bangku sambil memainkan ponselnya, sesekali dia tersenyum melihat layar ponselnya.


"Hai cogan nomor dua, itu teman Lo produk dalam Negeri apa luar Negeri ?" Tanya Vanya sambil melirik kearah Abimanyu.


"Produk dalam Negeri kayanya, emang kenapa ?" Tanya Rian juga


"Tampan banget, kalau dia jadi ayah anak - anak gue. Gimana wajah keturunan gue nanti ya?" Vanya seolah berfikir

__ADS_1


Abimanyu mendengarkan ocehan Vanya jadi kesal. "Ayo ! Rian, malas gue disini dengar ocehan receh gak berkelas !" Ucapnya kesal.


"Receh gini ngangenin loh." jawab Vanya.


Azam dan Shishi geleng - geleng kepala melihat sahabat mereka yang satu ini


Rian tersenyum.


Nih cewek ada - ada aja


Abimanyu kembali lagi menatap ponselnya dan tersenyum. Melupakan kekesalannya tadi.


"Jelmaan Dewa Yunani ! Cogan nomor satu ! Calon ayah anak - anak gue. Jangan senyum gitu dong." Ujar Vanya dengan banyak panggilan untuk Abimanyu.


"Kenapa ?! " Bentak Abimanyu kembali kesal.


"Senyum Lo manis kaya gula, gue gak rela kalau berbagi dengan semut." Vanya tersenyum.


"Dasar sinting !" Umpat Abimanyu tambah kesal.


"Bisa gombal juga Lo." ucap Rian masih tertawa.


Manda tiba - tiba datang dan mendorong Vanya. Beruntung, Rian sangat sigap menahan tubuh Vanya.


"Jangan kasar dong jadi cewek !!" Bentak Shishi kesal. Ia tak terima karena Vanya dikasari.


"Kasih tahu teman Lo, jangan godain cowok gue." Manda menarik tangan Abimanyu dan Rian menjauh dari tempat itu.


Vanya tersenyum. "Terimakasih cogan nomor dua, sudah bantuin gue."


Rian hanya mengacungkan jempolnya


"Lo gak apa - apa, ada yang sakit?"


"Gue baik - baik aja, ayo kita ke kelas." ajak Vanya menarik tangan Azam dan Shishi


...----------------...

__ADS_1


Seluruh siswa melanjutkan pelajarannya kembali. Vanya begitu fokus dengan pelajarannya hingga terdengar ketukan di pintu.


"Vanya ikut keruangan saya sebentar." Ucap wakil Kepala Sekolah


Vanya mengangguk dan keluar mengikuti wakil Kepala Sekolah itu. Setengah jam kemudian Vanya masuk dengan wajah lesu.


"Ada apa ?" Tanya Azam


"Gue pergi sebentar, Lo baik - baik di sini jangan berantem ya sama Shishi, belajar yang benar." Vanya tersenyum sambil berkemas


"Lo mau kemana, Van ?" Tanya Shishi dan Azam tak mengerti.


"Gue ada urusan sebentar, gak lama kok."


"Berapa lama ?" Tanya Shishi sedih.


"Cuma satu Minggu."


"Hati - hati ! Kami pasti kangen sama Lo." Ujar Shishi dan Azam.


Mereka berpelukkan sangat lama sebagai perpisahan.


"Gue berangkat." Ujar Vanya tanpa menoleh lagi kebelakang menyembunyikan rasa sedihnya.


"Van, hati - hati dijalan." Ucap Rian


Vanya mengangguk dan meninggalkan kelas tidak ada yang tahu kemana Vanya.


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira

__ADS_1


__ADS_2