Tetap Kamu

Tetap Kamu
Kembali Bersekolah


__ADS_3

Empat hari kemudian....


Vanya mengayuh sepeda sambil bersenandung kecil tanpa terasa sudah sampai di gerbang sekolah. Vanya turun dari sepeda dan menuntunnya ke parkiran khusus sepeda. Sebelum sampai tempat itu. Dia berpapasan dengan Manda, Abimanyu dan Rian .


"Eh, si miskin udah balik ke sekolah nih. Kemana aja Lo seminggu ini?" Ujar Manda sambil melipatkan tangan di dadanya.


"Mau tahu aja ? Apa mau tahu banget?"


"Aish ! Tinggal jawab aja apa susahnya." Gerutu Manda dengan kesal.


"Hai, Van. Selamat pagi !" Sapa Rian sambil menampilkan senyum di bibirnya.


"Pagi Rian !" Balas Vanya sambil mendorong sepedanya menuju parkiran


"Tunggu ! Lo panggil apa tadi, Rian?" Laki-laki itu merasa aneh tak biasanya Vanya memanggil namanya secara langsung.


Vanya berhenti melangkah dan berbalik. "Memang nama Lo Rian, 'kan ? Apa sekarang ganti nama jadi Joko?" Gadis itu tersenyum tipis.


"Enggak, ya udah taruh aja sepeda Lo keburu bel masuk nanti." Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Vanya melangkah menuju parkiran dan masuk ke kelasnya. Rian masih menatap punggung Vanya yang hampir menghilang di kejauhan


Aneh kenapa dengan dia ? Biasanya selalu gangguin gue, tapi tadi sikapnya biasa aja jangankan menggangu melihat ke gue aja enggak.


Abimanyu menatap heran pada punggung Vanya. Ada sedikit rasa tidak senang di hatinya.


"Ayo masuk." ajak Manda pada dua lelaki di dekatnya ini.


...----------------...


Di kelas, Vanya sedang melepas rindu pada dua sahabatnya.


"Gue kangen sama Lo berdua." Ucap Vanya sedikit manja


"Kita juga kangen sama Lo, gimana Lo sehatkan ?" Tanya Shishi dan Azam


"Gue sehat kok." Vanya melepaskan rangkulan tangannya dari pundak Shishi dan Azam.


"Vanya !" Panggil Shishi dengan wajah serius. Saking seriusnya sampai menjadi pusat perhatian di kelas termasuk, Abimanyu dan Rian yang baru duduk.


"Iya, Shi. Ada apa? " Jawab Vanya santai sepertinya dia tahu arah pembicaraan Shishi


"Kenapa Lo gak ngasih tahu kita jika ada tempat seindah itu ?" Shishi menatap tajam pada Vanya.

__ADS_1


"Itu tempat rahasia jangan diekspos disini, tempat itu adalah tempat pertemuan gue sama pacar khayalan gue selama ini."


"Serius, Van !" Azam ikut bicara. Ia tidak percaya begitu saja kata-kata sahabatnya itu.


"Oke, itu tempat gue melepas penat. Sedih, sesak dan bahagia gue. Itu sudah disiapkan oleh seseorang yang sangat berharga dalam hidup gue. karena dia tahu, gue tinggal sendiri di sini. Kalian juga bisa, kok. mampir ke sana tapi ingat, hanya kalian ! Karena itu sudah dilengkapi sensor jadi orang sembarangan gak bisa masuk." Jelas Vanya


"Jadi, gue sama Shishi orang istimewa dong !" ucap Azam sumringah


"Buktinya kalian bisa masuk kemarin." Vanya tersenyum ingat dengan wajah bingung kedua sahabatnya waktu itu.


"Terimakasih, Van." Shishi dan Azam kembali memeluk Vanya.


Vanya merasa bahagia memiliki sahabat seperti Azam dan Shishi. Mereka rela ikut dihina demi membela nya tampak matanya berkaca - kaca melihat kedua sahabatnya.


"Lo kenapa?" Shishi heran melihat mata Vanya agak memerah.


"Shi ! Zam. Seandainya jika suatu hari nanti. Gue pergi jauh dan dalam waktu yang lama. Entah kapan kembali, apa kalian siap jauh dari gue ?"


"Ma—maksud Lo apa?" Shishi terbata karena keseriusan Vanya


"Jawab aja." Vanya tersenyum namun dalam bola matanya memancarkan keseriusan.


"Enggak." Jawab Azam dan Shishi bersamaan. Vanya terbahak melihat ekspresi kedua temannya.


"Gila Lo ngerjain kita !" Shishi mencubit Vanya


Disisi lain Rian begitu lega ternyata Vanya hanya bercanda, tapi tidak dengan Abimanyu. Dia merasa kesal karena sejak tadi Vanya tidak menyapanya seperti biasa. Bu Vivin masuk ke dalam kelas memberikan pelajaran seperti biasa hingga bel istirahat berbunyi.


"Kantin yuk !"


"Ayo gue juga lapar." Vanya cepat menyahut.


Azam, Vanya dan Shishi berangkat menuju kantin. Di sana mereka memilih lesehan di bawah pohon karena tidak ingin berdesakkan dengan siswa yang lain.


"Pulang sekolah mampir tempat Lo aja ya." Ujar Shishi.


"Boleh, gue juga mau ngasih makan ikan-ikan gue."


"Itu siapa sih yang nanam bunga sebanyak itu ?" tanya Azam


"Gue sama seorang laki - laki yang sangat gue sayangi melebih apapun. Taman itu dibuat untuk mengingat kedua almarhum orang tua gue, karena mama suka bunga dan papa janji ingin membuatkan taman bunga. Tapi, Tuhan berkehendak lain mereka dipanggil sebelum taman bunga itu dibuat." Ujar Vanya sedih


"Ya sudahlah mereka sudah bahagia di sana ... Papa dan adik kembar gue juga jadi korban kapal itu." Seru Azam

__ADS_1


"Maka dari itu kita selalu bersama dalam suka dan duka." Sambung Shishi


Saat saling bercerita tiba - tiba Rian datang menghampiri mereka. "Boleh bergabung ?" Tanyanya.


"Boleh." Azam bergeser di samping Vanya.


"Di sana Lo gak diterima?" Tanya Shishi


"Enggak gitu, cuma kurang seru aja di sana." Jawab Rian sambil melirik Vanya yang sedang makan.


Azam menyendok sayur dari piring Vanya dan Shishi begitu sebaliknya mereka saling bertukar rasa, Rian menjadi iri melihat mereka bertiga.


"Gue juga boleh nyicip gak?" Tanya Rian hati-hati.


"Boleh kalau Lo mau." jawab Vanya


Dengan senang hati Rian menyendok makanan dari piring Vanya, Azam dan Shishi. Mereka makan sambil bercerita.


"Maaf tadi gue dengar Lo ngomong punya seseorang yang sangat berharga buat Lo, kalau boleh tahu cowok apa cewek?" Tanya Rian menatap serius wajah Vanya


"Cowok ! Kayanya bel masuk nih, yuk balik ke kelas !" Ucap Vanya sambil berdiri karena sudah terdengar suara bel.


"Ayo."


Sebenarnya mereka juga penasaran. Tapi, tidak berniat menanyakannya, karena suatu saat nanti Vanya akan bercerita dengan sendirinya. Rian hanya berdiam diri sampai tangan Abimanyu menyentuh pundaknya .


"Lo mikirin apa ?" Tanya Abimanyu


"Gak mikir apa - apa, ayo kembali ke kelas." Ujar Rian


Di kelas mereka belajar dengan tenang begitu juga Vanya yang serius melihat guru menjelaskan.


Kenapa gue ngerasa ada yang kurang ya ? Tuh, cewek aneh hari ini gak gangguin gue, biasanya saat kaya gini dia ngoceh terus sampai gue pusing dengarnya.


Abimanyu menatap punggung Vanya yang serius.


Hari ini dia sedikit terganggu dengan pemikiran dirinya sendiri, dia merasa sepi padahal disekolah banyak orang .


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow

__ADS_1


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira


__ADS_2