
Ferdy dan Azam pergi ke kantor polisi, karena mendapat telpon bahwa pelaku percobaan pembunuhan berencana pada Vanya sudah ditemukan.
Alan ditugaskan untuk berjaga di rumah sakit bersama pengawal lainya. Matanya tertuju pada wanita cantik yang sedang melangkah anggun di lorong rumah sakit.
"Permisi selamat pagi, saya ingin menjenguk kak Anya." Sapa Resha sopan.
Alan tersenyum. "Kita belum kenalan siapa namamu." Tanyanya to the point sambil mengulurkan tangannya.
Resha tersenyum manis menyambut tangan Alan. "Resha." Jawabnya malu.
"Silahkan, nona muda sudah menunggu di dalam." Alan membuka pintu. Resha mengangguk dan masuk kedalam. "Apa aku tersenyum?" Gumam Alan terkejut dengan dirinya sendiri.
Di ruangan itu hanya ada Abimanyu dan Vanya. "Kak bagaimana kondisinya hari ini ?" Sapa Resha mendekat ke ranjang Vanya.
"Echa, kamu disini ? Kakak sudah lumayan membaik." Jawab Vanya tersenyum.
"Iya Kak, Echa datang menjenguk kakak dan membawa baju ganti untuk Kak Abi." Jawab Resha sambil duduk.
"Bi..."
"Iya kamu perlu apa, hm?" Abimanyu segera berdiri dari sofa. Dirinya sedang fokus memeriksa e-mail masuk di tabletnya.
"Kamu kenapa gak pulang ? Apa gak kekantor ?" Tanya Vanya mulai merubah gaya bahasa nya.
Abimanyu tersenyum mendengar kata Vanya sudah menggunakan kata. Kamu dan aku. "Aku bekerja dari sini aja, nanti Romi mengantar berkas - berkas yang perlu kutanda tangani."
"Oh, ya udah kamu mandi sana, Echa membawa baju ganti untukmu." Balas Vanya.
Dengan senang hati Abimanyu melaksanakan perintah yang mulia Ratu. Resha tersenyum bahagia melihat kehangatan Abimanyu dan Vanya.
Dokter dan perawat datang memeriksa kondisi Vanya.
"Bagaimana dokter keadaannya?" Tanya Abimanyu mengejutkan baru keluar dari kamar mandi .
"Nona Vanya sudah lumayan membaik 1 atau 2 hari lagi bisa pulang jika luka - luka di kulitnya sudah mulai kering." Jawab dokter tersenyum manis memandang Vanya.
"Apa ada obat atau semacamnya yang bisa memperbaiki kulitnya yang lecet ?" Tanya Abimanyu. Resha terkekeh mendengar pertanyaan kakaknya.
"Ada Tuan kami akan menyiapkannya." Jawab dokter
"Baiklah terimakasih, saya gak mau kulit mulus calon istri saya lecet." kata Abimanyu percaya diri.
Dokter tersenyum.
"Saya pastikan kulit calon istri anda akan mulus seperti sediakala."
Abimanyu tersenyum puas, sudah mengklaim Vanya sebagai calon istrinya dihadapan dokter muda itu agar dokter itu tidak curi - curi pandang pada Vanya begitu pikirnya.
Vanya hanya menunduk malu
Abi, kenapa jadi Aneh ? yang sakit kan aku. Kenapa efeknya ke dia?
"Baiklah, saya permisi Nona Vanya buburnya cepat dimakan mumpung masih hangat." Ucap dokter.
Cih sok perhatian dia, hanya aku yang boleh memperhatikan Anya
Abimanyu menatap dokter itu sebal.
"Terimakasih dokter." Vanya tersenyum manis. Dokter mengangguk dan meninggalkan ruangan itu bersama suster.
"Gak usah senyum sama dia!" ucap Abimanyu memasang wajah kesalnya.
"Kenapa?"
"Abang gak rela berbagi." Abimanyu mengerucutkan bibirnya manja.
Resha dan Vanya tertawa. "Kakak sejak kapan bisa ngomong gitu?" Ucapnya sambil mengusap sudut matanya yang berair
"Semenjak kenal dengan calon kakak ipar mu." Jawab Abimanyu memandang lekat wajah Vanya.
Lagi - lagi hati Vanya berbunga mendengar kata - kata manis Abimanyu. Wajahnya menunduk karena malu.
"Kakak makan ya biar Echa suapi." Resha meraih mangkok bubur.
"Sini kakak aja, hitung - hitung belajar jadi calon suami yang baik." Abimanyu duduk di tepi ranjang. Resha mengalah demi kakaknya yang sedang dimabuk cinta.
"Abi kemari." Ucap Vanya
"Kamu ingin memelukku."
__ADS_1
Vanya menyentuh kening Abimanyu.
"Gak panas normal aja, panas juga pantat ayam."
Resha terbahak, wajah Abimanyu memerah bukan karena marah tapi merasakan sentuhan yang tak biasa dirasakannya, kulit lembut punggung tangan Vanya menempel di kulit wajahnya.
"Makan dulu." Ucap Abimanyu membuang kegugupannya. Resha memperhatikan wajah Abimanyu dan Vanya tersirat bahagia di wajah keduanya.
Alan yang memperhatikan wanita dari luar sana menyunggingkan senyumannya lagi
"Seksi." Ucapnya tanpa sadar
"Kak, Echa keluar dulu membelikan makanan untuk kakak." Ucap Resha .
"Iya hati - hati sayang." Jawab Vanya
Abimanyu tidak menjawab. Dirinya masih fokus berperan menjadi calon suami yang baik menyuapi Vanya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Alan ketika melihat Resha keluar dari ruangan
"Membeli makanan untuk kak Abi." Jawab Resha tersenyum
"Jadi kamu adiknya tuan ceroboh itu." Tanya Alan
"Iya, maaf kakak gak menjaga kak Anya dengan baik." Resha menunduk
"Lupakan, biar aku yang menjagamu tak akan kubiarkan kamu terluka sedikit pun. Ayo aku antar !" Ucap Alan.
Resha tersenyum mengangguk.
Alan tiba tiba malu dengan ucapannya sendiri.
Dari mana aku dapat kata - kata mengerikan itu
...----------------...
Azam dan Ferdy kembali dari kantor polisi sebelum ke rumah sakit mereka mampir ke Mansion menjemput Shishi dan putrinya Naima Wiguna. Rian juga belum kembali ke rumah sakit semenjak pulang.
Resha dan Alan kembali membawa bungkus makanan.
"Terimakasih." Ucap Resha
"Kak ini makanannya kakak makanlah, Echa pamit pulang sebentar lagi ke kampus." Ucap Resha
"Iya, kamu hati - hati"
"Kak Anya cepat sembuh, besok Echa kesini lagi" Ucap Resha dan Vanya mengangguk.
Abimanyu membuka bungkus makanannya. Aroma makanan itu sangat menggugah selera, Abimanyu makan dengan lahap. Rasa masakan itu cocok di lidahnya dan juga dirinya memang lapar.
Vanya tersenyum melihat Abimanyu makan dengan cepat. "Makanannya di kunyah Abi."
Abimanyu tersenyum. "Sudah selesai ! Anya kamu istirahat dulu, aku ada pekerjaan sebentar jika butuh sesuatu panggil aku." Abimanyu membantu Vanya berbaring dan mengecup keningnya
Vanya terkejut tapi tidak ambil pusing karena dia sudah mengantuk.
Abimanyu terkekeh
"Ini bibir main nyosor aja sama anak orang." Gumamnya pelan
...----------------...
Satu jam kemudian Vanya merasa kering tenggorokannya.
" Bi ... Aku haus." Panggil Vanya.
Abimanyu segera meletakan tabletnya dan berdiri membantu Vanya duduk dan mengambil gelas air putih "Minumlah."
"Kamu masih sibuk ?"
"Tidak juga, mau apa biar aku ambilkan. Atau... ke kamar mandi janji deh aku gak ngintip tapi liat sedikit aja." Goda Abimanyu.
Wajah Vanya memerah. "Baru tahu aku kamu mesum begini." Ucapnya sinis pada Abimanyu.
"Maaf sengaja." Abimanyu terkekeh
"Aku mau ke kamar mandi ,awas ngintip." Ancam Vanya
"Iya." Abimanyu langsung menggendong Vanya ke dalam kamar mandi dan menunggunya didepan pintu.
__ADS_1
Setelah selesai Vanya membuka pintu dari dalam dan Abimanyu berniat menggendongnya kembali.
"Jangan, biar aku jalan aja."
Abimanyu hanya membantu memapahnya. "Anya aku ingin bicara serius sama kamu."
"Silahkan."
"Anya aku minta maaf secara resmi sama kamu, karena sudah membencimu tanpa alasan. Tapi rasa benci itu berubah saat kamu mulai menjauhiku, aku merindukan candaan dan panggilan mu untukku. Saking benci nya aku, sampai menggunakan Manda agar kamu menjauhiku. Jika ada wanita lain di dekatku,
mungkin kamu akan berhenti menggangguku seperti itu pikirku, kamu pasti tidak akan mengganggu orang yang punya kekasih. Hubunganku dengan Manda sebenarnya tidak ada. Hanya Manda mengharap lebih sampai sekarang. Vanya aku mencintaimu sejak 5 tahun lalu, setelah kejujuran ini aku terima jika kamu membenciku." Ucap Abimanyu panjang lebar kepalanya menunduk tak berani memandang wajah Vanya.
Vanya menarik nafas sebelum menjawab, hal itu semakin membuat jantung Abimanyu berdebar.
"Aku sudah memaafkan mu sebelum aku meninggalkan kota ini, aku sudah tahu hubunganmu dengan Manda." Ucapnya tersenyum.
Abimanyu terkejut. "Benarkah ? Dari mana kamu tahu ?"
"Kamu lupa siapa aku."
Abimanyu menggeleng dan tersenyum. "Aku tahu dan aku siap jika kamu membenciku, tapi jangan memintaku untuk menjauhi mu. Aku gak sanggup... rasa cintaku terlalu dalam sama kamu." Ucapnya memohon.
"Aku kecewa dengan sikapmu Abi, tapi sayang rasa cintaku sangat besar padamu semenjak 5 tahun lalu." Vanya tersenyum
Wajah Abimanyu sumringah, dalam dadanya membuncah kebahagiaan. Dia meraih kedua tangan wanita cantik di hadapannya ini. "VANYA PUTRI, maafkan laki - laki bodoh yang ada dihadapan mu ini, karena kebodohannya yang membencimu tanpa alasan. Hampir saja melepaskan gadis berhati malaikat sepertimu. Maukah ? kamu menjadi kekasihku dan menjadi ibu dari anak- anak ku kelak." Ucap Abimanyu
Vanya mengangguk. "Aku mau menjadi kekasih, Menjadi ibu dari anak - anak lelaki tampan bak dewa Yunani ku."
"Terimakasih, setelah keluar dari sini aku akan persiapkan pernyataan cintaku yang sempurna." Abimanyu mencium punggung tangan wanita yang baru resmi jadi kekasihnya itu. Vanya mengangguk tersenyum "Dari mana kamu tahu semuanya ?" Tanya Abimanyu
"Azam yang menceritakannya beberapa hari yang lalu"
Abimanyu berdiri memeluk vanya. "Cepat sembuh, aku gak mau para dokter laki- laki disini melirik mu dan mencuri senyummu, rasanya ingin ku colok matanya melihatmu terus."
"Kenapa? Mereka hanya mengobati aku, kalau buta bagaimana menyembuhkan aku?"
"Tapi 'kan? Bisa dokter wanita yang merawat mu." Abimanyu mulai menampakan cemburunya.
"Jadi, jika dokter wanita yang menikmati ketampanan mu dibiarkan saja !" Ucap Vanya.
"Buka begitu, sayang."
"Coba saja kalau mau, biar ku colok juga matanya. Kalau dokternya tampan lumayan buat Vitamin mata biar sehat gak cepat rabun." Ucap Vanya.
"Apa ?! Gak boleh, hanya aku yang boleh jadi vitamin matamu." Ujar Abimanyu mulai kesal.
Vanya terkekeh melihat wajah manyun Abimanyu.
...----------------...
"Lo gak apa - apa ?" Tanya Azam pada Rian didepan pintu ruangan Vanya.
Semenjak tadi mereka sudah mendengarkan obrolan kedua manusia yang sedang berbunga - bunga itu. Mereka datang bersamaan dan bertemu ditempat parkiran.
"Gak apa - apa, gue sudah mempersiapkan hati dengan semua ini, karena gue yakin cinta mereka saling bersambut." Ucap Rian memaksakan senyum
Azam sangat tahu jika Rian sejak lama sudah mencintai Vanya, tapi sayang cinta Vanya berlabuh pada Abimanyu.
"Rian maaf, Vanya sudah memilih Abi." Ujar Ferdy menepuk pundak Rian .
"Gak apa - apa Kak, bukannya mencintai itu tak harus memiliki, aku bahagia untuk mereka berdua." Jawab Rian.
"Lo dewasa Rian, gue yakin kebahagiaan yang sebenarnya sudah menunggu Lo hanya waktunya aja yang tidak kita tahu." Balas Shishi menguatkan Rian.
Melihat Kamu Bahagia dan tersenyum, serta berada di dekatmu sebagai teman saja sudah membuatku bersyukur dengan enggak memaksakan cinta yang pada akhirnya membuatmu membenciku, aku tidak siap jika itu terjadi
"Ayo masuk." Ajak Ferdy membuka pintu dan mengejutkan anak manusia didalam sana.
"Huh, ungkapan cinta gak romantis." Gerutu Azam
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira
__ADS_1