
Tiga hari kemudian...
Abimanyu masih betah dalam tidur nya, bulu - bulu halus yang mulanya hanya seperti semaian bibit kini mulai memanjang. Luka - luka di beberapa tempat di tubuhnya sudah mulai membaik. Perban di kepalanya juga sudah dilepas. Rambut yang semula indah itu kini dipangkas pendek saat menjahit kulit kepalanya yang robek.
Semenjak dipindahkan ke rumah sakit milik Azam. Abimanyu dan Romi selalu dikunjungi karyawan di kantornya, walau mereka mengenal Abimanyu dengan sikap dingin dan wajah sangarnya. Tapi tidak membuat mereka tak bersimpatik pada Bos nya ini.
Wajah garang itu kini lemah tak berdaya, tatapan dingin khas dirinya seperti bersembunyi dibalik kelopak matanya yang tertutup. Suara baritone yang sering membentak jika ada kesalahan karyawannya seakan malu di tenggorokannya.
"Kami rindu suara baritone mu Pak Abi !"
"Cepat bangun, kami ingin bapak memarahi kami !"
"Apa perlu kami mengacau dulu, agar Bapak cepat bangun."
Seperti itulah kalimat mereka menyemangati tubuh dan jiwa yang sedang sakit itu. Karyawan Abimanyu berdatangan silih berganti menjenguknya dan Romi. Begitu juga dengan teman - temannya bergantian untuk menjaganya.
Vanya menyerahkan urusan kantor sementara pada Alan, sesaat pun dia tidak pernah meninggalkan Abimanyu kecuali ke kamar mandi, bahkan salah satu maid nya ikut bersamanya ke rumah sakit.
Mama Vania pamit pulang sebentar, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Vanya sangat tidak keberatan, dia bersyukur mama Vania juga memperhatikan kesehatannya. Ferdy datang dari Jerman untuk menjenguk Abimanyu, bahkan dia merekomendasi dokter dari Jerman untuk bekerja sama menangani Abimanyu secara langsung.
Papa Herlambang senang melihat perhatian kakak beradik itu pada putranya, bahkan dia tidak pernah menolak apapun yang diberikan keluarga Wiguna walau pun keluarganya sama kayanya meski tak sebesar kekayaan keluarga Wiguna.
Vanya memperhatikan lekat wajah Abimanyu. Dalam hatinya sangat merindukan wajah manja lelaki itu. Rengekan, cemburu dan cerewet semua yang ada padanya, sifat jeleknya pun sangat Vanya rindukan.
"Sayang wajahmu jelek hari ini, rerumputan liar ini tumbuh subur di wajahmu. Sepertinya aku harus membasminya, biar kamu kembali seperti Abi ku yang bersih dan tampan, Dewa Yunani ku ... bangunlah aku merindukan mu." Ucap Vanya membelai tiap sisi wajah Abimanyu.
Vanya mengeluarkan beberapa peralatan untuk mencukur bulu halus di wajah Abimanyu. Dengan sabar dan lembut dia mulai mengerakkan alat pencukur itu di kulit kekasihnya.
"Ngapain Lo ?" Tanya Azam yang mengejutkan Vanya .
"Lo ngagetin gue aja, lagi membasmi rumput liar di wajah Abi " Balas Vanya tanpa menoleh. Ia masih dengan konsentrasinya meneliti kalau masih ada yang tersisa.
"Ada - ada aja Lo, nih gue bawa makanan buat Lo. Sebentar lagi Nico sama Shella kesini mau jenguk Abi " Ucap Azam sembari membuka makanan untuk Vanya.
"Taruh aja disitu dulu, gue lagi potong kuku jarinya Abi" Balas Vanya sambil menyentuh buku jari tangan Abimanyu dengan sayang .
Azam menggelengkan kepala dan tersenyum. "Gak nyangka, Lo beneran cinta sama Abi" Ucapnya menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Lo gak akan pernah tahu besarnya cinta gue sama dia, tolak ukur dalam perasaan gue sama dia Hanya Tuhan dan gue yang tahu." Jawab Vanya sambil memotong kuku jari yang memanjang itu.
Hatinya teriris kembali saat melihat jari tengah yang kehilangan kukunya itu, peristiwa pahit yang masih menghangat itu terputar kembali di ingatannya. Usai memotong kuku jari Vanya beralih pada kedua kaki Abimanyu .
__ADS_1
"Ayo Van makan dulu ! Nanti nasinya keburu dingin." Ucap Azam
Vanya mengangguk dan menutup kaki Abimanyu kembali. Gadis itu memakan makanannya dengan cepat tidak sampai 10 menit makanannya tandas tanpa sisa.
"Lo bener menelan makanannya, 'kan ?" Tanya Azam curiga sambil mengecek tempat sampah. Karena Vanya pernah membuang makanannya karena dipaksa makan oleh Azam.
"Beneran, Zam ! Gue telan."
Azam membereskan meja sementara Vanya langsung melanjutkan memotong kuku kaki Abimanyu.
Saat kesunyian merajai. Pintu ruangan Abimanyu terbuka. Di ambang pintu ada Nico dan Shella berdiri.
"Maaf, Van ! Gue baru kesini. Lagi sibuknya di kantor. Bagaimana perkembangan Abi ?" Tanya Nico sambil melangkah menghampiri ranjang Abimanyu.
"Gak apa - apa, Nic. Abi seperti inilah. Masih betah dalam tidurnya"
Azam dan Shella duduk di sofa dengan mesranya, sekarang Azam sudah tertular Virus bucinnya Abimanyu. Seperti anak kecil dia kadang bersikap manja pada Shella, sehingga kekasihnya itu merona karena malu .
Nico memberikan keranjang buah pada Vanya "Ini buat Lo, sambil nunggu Abi bangun. Lo makan buahnya, selalu jaga kesehatan." Ucapnya penuh perhatian.
"Makasih, Nic. Gue pasti makan buahnya," Balas Vanya sambil membuka kain penutup kaki Abi.
"Bi, cepat bangun. Maaf waktu itu gue ajak Vanya bareng sama gue, jangan cemburu lagi." Nico terkekeh masih jelas di ingatannya. Suara kesal Abimanyu saat Vanya menggodanya sebelum terjadi nya kecelakaan.
"Sebenarnya, apa yang terjadi kecelakaan itu ?"
"Romi bilang ban mobil mereka tiba - tiba kempes saat mobil melaju di tanjakan. Setelah diselidiki ban mobil sengaja ditembak karena ada pelurunya yang tertinggal di ban luarnya. Dan kejadian itu terjadi saat mobil mereka di salip, karena waktu itu juga mobil Abi kempes. Mereka menggunakan senjata bagus dan gak menimbulkan suara. Mereka juga gak ingin merampok tapi semata - semata ingin mencelakakan Abi dan Romi." Jelas Vanya sambil diakhiri memotong kuku kaki Abimanyu.
"Begitu rupanya, tingkatkan penjagaan. Siapa tahu pelakunya masih mengincar Abi dan Romi. Karena orang itu pasti tahu kalau mereka masih hidup." Saran Nico
"Itu pasti, Nic !"
Karena hari sudah sore Nico dan Shella berpamitan pulang. Shella sudah habis jam kerja, Nico mampir menjemputnya dan langsung menjenguk Abimanyu. Setelah kepulangan Nico dan Shella, mama Vania dan Resha juga tiba di rumah sakit
"Kak Anya, Pak Andri ingin menjenguk kak Abi" Ucap Resha mempersilahkan Dosen tampan itu masuk.
" Terimakasih, Pak. Sudah datang menjenguk Abi "
"Iya, Vanya. Semoga Pak Abi cepat bangun. Maaf saya baru tahu kabarnya." Balas Andri sambil mendekati ranjang Abimanyu.
Mama Vania mengusap lembut rambut putranya lalu beralih pada pipinya yang sudah mulus itu. "Kamu yang membersihkan wajah Abi ?"
__ADS_1
"Iya tante, sekalian juga potong kukunya sebentar lagi Anya bersihkan tubuhnya karena sudah sore."
" Terimakasih, Nak. Abi sangat senang jika sudah sadar nanti kamu selalu merawatnya." Ucap Mama Vania berkaca - kaca.
Andri memperhatikan tangan Vanya yang cekatan menyeka tubuh Abimanyu dengan Handuk kecil dan air hangat. Begitu tulus cinta Vanya pada Abimanyu .
Mama Vania dan Resha juga bahagia wanita pilihan putranya memang luar biasa. Hampir jarang sekali mama Vania ikut merawat Abimanyu, karena selalu diambil alih oleh Vanya.
"Kakak sudah makan tadi siang ?" Tanya Resha
" Sudah, Azam yang membawanya" Vanya menyelesaikan pekerjaannya.
Andri melihat wajah Vanya dengan tatapan sulit diartikan. "Vanya, Resha, Ibu Vania saya pamit pulang dulu. Besok - besok saya jenguk lagi semoga pak Abi cepat sadar"
"Terimakasih, Pak."
Andri masih menatap lekat wajah Vanya, sementara si empu wajah tidak mengalihkan pandangannya pada lelaki yang masih tidur nyenyak dihadapannya, Andri keluar diantar Resha .
"Bagaimana Tante perkembangan kasusnya ?" Tanya Vanya duduk di sofa.
"Belum sayang, sampai saat ini sulit memburu pelakunya"
Vanya mengangguk sambil merebahkan tubuh nya diujung sofa, tak lama Azam juga masuk bersama Rian.
"Van, gue ke bandara dulu sama Alan mengantar kak Ferdy. Dia gak sempat ke sini ada pertemuan penting di Jerman "
"Iya salam buat kak Ferdy, "
Rian menyandarkan tubuhnya di sofa, sambil membuka kotak kue yang dibelinya. "Van ! Echa, tante. Ayo makan kuenya." Rian mempersilahkan.
Mereka semua duduk di sofa memakan kue bawaan Rian, selesai dari kantor, ia langsung ke rumah sakit. Dia tahu jika di sana Vanya tidak akan menyentuh makanan jika tidak dipaksa.
"Bi, Lo gak niat bangun, nih ? Gak capek tidur terus. Jangan nangis ya nanti saat Lo bangun Vanya sudah jadi istri gue." Celoteh Rian .
Vanya yang menggenggam tangan Abimanyu begitu terkejut.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
__ADS_1
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira