
Di depan Apartemen seorang wanita menggeret kopernya melangkah menuju lift. Ia terkesan buru-buru hingga tak memperhatikan tampilannya yang kacau.
"Permisi." Petugas menghentikan langkah wanita itu.
"Ya, ada yang bisa saya bantu."
"Anda dokter Vera silahkan ikut kami ke kantor. Anda tertuduh melakukan perencanaan pembunuhan terhadap Nona Vanya Putri Wiguna. Anda bisa jelaskan ke kantor." Petugas menyodorkan surat penangkapan
"Enggak ! Saya gak ngerti maksud kalian. Saya gak terlibat apapun." Ujar Dokter Vera menolak.
"Bukti kuat menunjuk anda dan kaki tangan anda sudah ditangan kami, silahkan ikut dengan suka rela. Atau dengan paksaan !" Ucap petugas wanita.
"ENGGAK ! Kalian salah orang." Ucap Dokter Vera yang meronta melawan karena di tarik paksa oleh dua petugas wanita.
...----------------...
Di rumah sakit...
Shishi menangis haru melepas rindu pada sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Gue kangen sama Lo, cepet sembuh biar bisa curhat bareng."
"Gue juga kangen sama Lo, gue pasti sembuh kok, hai keponakan tante apa kabar ?" Ujar Vanya.
"Baik, Tante Nai kangen bobo ama- ama." Jawab Naima dengan lidah yang masih cadel.
"Sama sayang , tante kangen bobo cantik sama, Nai." Jawab Vanya gemas.
Ponsel Ferdy bergetar disaku celananya. Ayah satu anak itu sibuk mengejek Abimanyu. Tidak mau ketinggalan Azam dan Rian juga ikut mengejek.
" Halo." Ferdy meminta semua orang dengan bahasa isyarat telunjuk nya di tempelkan di bibirnya.
"Dalang kecelakaan sudah ditemukan."
"Baiklah saya segera ke sana." Ferdy melemparkan tatapannya ke arah Vanya.
"Siapa Kak."
"Anya, dalang kecelakaan kamu sudah tertangkap. Kakak sama Azam akan ke sana " Ujar Ferdy
"Papah ikut ."
"Sayang, sama mama dulu ya, papa kerja sebentar." Ferdy mencium pipi gembul putrinya. Naima mengangguk dan membalas ciuman sang papa.
"Sayang aku titip Anya dulu, jangan kemana - mana di luar masih ada pengawal berjaga. Abi, Rian titip mereka."
"Iya, Kak. Hati - hati." Balas Abimanyu dan Rian bersamaan.
Ferdy dan Azam pergi ke rumah sakit diantar oleh Alan.
...----------------...
Vera masih tidak mengaku perbuatannya, dengan berbagai macam alibinya. Setelah satu jam di ruangan itu akhirnya dia tertunduk pasrah.
Petugas menunjukkan barang bukti dan pesan singkat di ponsel milik kaki tangannya dan nomor di sana terdaftar atas namanya. Akhirnya dia mengakui perbuatannya. Empat puluh menit kemudian Azam dan Ferdy tiba di kantor.
__ADS_1
"Selamat siang, Pak." Sapa Ferdy dan Azam ramah
"Selamat siang Pak Ferdy, Dokter Azam. Silahkan duduk, kami sudah menangkap pelakunya mari saya antar."
Sampai di sel dalam kantor mata Azam terbelalak. Wanita yang sangat tidak asing di matanya, wanita yang setiap hari bertemu dengannya. Wanita yang selalu mencari perhatiannya.
Amarah Azam memuncak terlihat dari sorot matanya yang tajam serta manik bola matanya yang memerah .
KAMU !"
PLAK ... PLAK...
Pipi dokter Vera di tampar Azam dua kali.
"Biar saya cabut sumpah yang pernah saya ucapkan untuk tidak menampar wanita." Ucap Azam emosi.
"Kamu menamparku hanya karena wanita itu, Zam ! Kamu bahkan gak melirik aku sama sekali jika bersamanya. Padahal, kamu tahu aku suka sama kamu." Vera menangis mengusap pipinya yang perih
Ferdy masih menahan emosinya untuk tidak ikut memukul wanita di hadapannya ini.
"CIH ! Hina sekali diri anda, merendahkan derajat jadi wanita terhormat dan terpelajar hanya karena ambisi. Suka ? Anda bilang ! Itu hanya obsesi untuk menumpang hidup pada saya. Setelah anda menghina saya karena tidak mengetahui identitas saya yang sebenarnya. Dengan tidak tahu malunya mengatakan suka !" Ucap Azam menggebu.
"KAMU KETERLALUAN ! APA BAIKNYA DIA ? HANYA PENULIS YANG TAK PUNYA PEKERJAAN LAIN, DIALAH YANG MENUMPANG HIDUP SAMA KAMU !" Teriak Vera tak kalah tinggi
"Dia adik saya, Vanya putri wiguna." Ucap Azam penuh penekanan.
Vera terkejut wajahnya terlihat pucat dan gemetar, matanya beralih menatap Ferdy yang sedari tadi hanya diam.
"Vera ! Nama yang bagus untuk wanita cantik dan berpendidikan seperti anda, tapi sayang semua sudah hancur ditangan anda sendiri! dimana keahlian anda yang selalu ingin tahu sampai tidak menyelidiki lawan anda agar tidak salah sasaran, hampir saja saya kehilangan adik semata wayang saya karena perbuatan Anda. Jadi, silahkan nikmati kehancuran keluarga dan anda sendiri." Ucap Ferdy dingin.
"Alan urus pencabutan lisensi prakteknya dan hancurkan perusahaan ayahnya yang hampir gulung tikar itu." Titah Ferdy berdiri meninggalkan tempat itu.
"Baik Tuan."
"Jangan lakukan itu, aku mohon Azam tolong hentikan dia. Aku mohon Azam, aku bersalah ! aku minta maaf." Vera berjongkok di hadapan Azam .
"Terlambat, benahi dirimu disini !" Azam berdiri menyusul Ferdy.
Vera menangis sejadi - jadinya menyesali perbuatan yang keji dilakukannya. Dengan teganya, ia ingin menghabisi nyawa seseorang padahal dia sendiri berprofesi sebagai menolong orang .
...----------------...
Azam dan Ferdy kembali ke rumah sakit . Di perjalanan mereka diam tanpa kata. Sampai di rumah sakit Azam langsung masuk ke dalam ruangan Vanya dan memeluknya dengan erat.
Abimanyu kelabakan melihat Azam memeluk gadisnya. Dia ingin berdiri memisahkan mereka tapi tangan Ferdy menghentikannya.
"Maaf, maaf.... Karena gue Lo celaka, gue gak bisa bayangin kalau hal lebih buruk menimpa Lo, gue nyesel gak bisa jaga Lo dengan baik, maafin gue." Azam melepaskan pelukannya.
"Ada apa sebenarnya ? ceritakan !" Vanya melihat Ferdy dan Azam bergantian.
"Anya dalang semua ini ada Vera."
"Dia rupanya, Lo sih Vera ditolak segala." Ucap Vanya kesal
"Cinta mana bisa dipaksa, Van." Balas Azam yang sudah duduk di sofa bersama Abimanyu.
__ADS_1
Ferdy menggendong putri kecilnya yang tertidur. "Sayang besok Anya sudah keluar dari rumah sakit, aku minta sama dokter pribadi kita untuk merawat Anya di rumah." Ucap Ferdy pada Shishi.
"Iya, kalau begitu kita pulang dulu kasian Naima kelamaan disini."
"Kakak pulang dulu ya." Ferdy mengecup kening Vanya.
"Lalu bagaimana dokter itu?" Tanya Abimanyu.
"Dia akan dipenjara dan kak Ferdy juga sudah meminta Alan untuk mengakuisisi perusahaan ayahnya yang hampir bangkrut itu." Jawab Azam menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Biarkan saja itu harga yang pantas untuknya." Ujar Vanya.
Sepertinya aku harus mengawasi pergerakan Manda, biar enggak melukai Vanya seperti dilakukan dokter itu.
"Rian kemana?" Tanya Azam
"Pulang ada sedikit kendala di lokasi shooting. Sayang, besok sepertinya aku gak bisa ikut ngantar kamu pulang, ada rapat penting bersama klien besok pagi." Balas Abimanyu.
"Iya gak apa - apa, Bi. Masih ada Azam sama kak Ferdy." Balas Vanya.
"Istirahatlah." Abimanyu mengecup kening Vanya. Ada rasa kecewa dihatinya karena Vanya masih memanggilnya dengan Nama tapi Abimanyu masih memaklumi mungkin Vanya belum terbiasa pikirnya.
...----------------...
Di Kantor polisi...
Ayah Vera marah besar datang tergesa - gesa masuk ke dalam kantor polisi dengan raut wajah yang tak bisa ditebak, setelah berbincang - bincang pada polisi jaga. Ayah Vera mengunjungi putrinya.
BRAK...
"Memalukan Vera !"
Vera hanya menunduk dan menangis takut menatap wajah marah ayah nya.
"Ayah memintamu untuk mendapatkan dokter muda itu agar bisa membantu keuangan kita dari rumah sakit besar miliknya, bukan menyuruhmu membunuh orang !!" Ucap Ayah Vera emosi
"Tuan jaga emosi anda, gak baik untuk kesehatan anda" Ucap pengacara yang duduk di sampingnya.
"Semua sudah hancur, perusahaan kita sudah diambil oleh keluarga Wiguna." ucap Ayah Vera kecewa
"Maafkan Vera.Yah ! Vera salah." Vera menangis sesenggukan
Ayah Vera memandang lekat putrinya.
"Maaf Ayah gak bisa membantumu saat ini, bertanggung jawablah pada perbuatan mu. Maaf kan Ayah melibatkan mu dengan kondisi perusahaan kita." Ayah Vera berdiri meninggalkan Vera yang menangis sedih
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira
__ADS_1