Tetap Kamu

Tetap Kamu
Perubahan Vanya


__ADS_3

Perkemahan sudah selesai seluruh siswa baru ikut ekskul telah lulus diklat, mereka sudah mengantongi piagam penghargaan kelulusan diklat.


Di kelas, Abimanyu menjadi uring-uringan. Entah kenapa dia merasa Vanya berbeda akhir-akhir ini, dia sedikit merindukan ocehan Vanya. Panggilan Vanya untuknya, sifat usil si gadis somplak.


Vanya merasa senang sekarang, waktunya untuk belajar bersama Azam dan Shishi untuk mempersiapkan untuk ujian semester satu.


"Kalian siap jika dimulai sore ini belajarnya."


"Siap dong, kita pengen ketularan pintar juga kaya Lo." Balas Shishi dan Azam.


"Sepulang sekolah aja atau malam hari." Ujar Vanya lagi.


"Pulang sekolah aja, Van. Sambil masak - masak kita ! Gue heran, kulkas Lo gak pernah kosong dan lengkap lagi."


"Ya, belanjalah Shi." Balas Vanya cuek


"Iya juga ya, Van. Mana mungkin kulkas produksi sendiri bahan makanan." Shishi nampak berfikir.


Azam dan Vanya terkekeh kadang telmi juga si Shishi pikir mereka.


...----------------...


Bel istirahat berbunyi


Azam, Shishi dan Vanya berjalan menuju kantin, di sepanjang jalan mereka mendengar para siswi membicarakan pengusaha muda yang sangat tampan dan terkenal.


"Jiwa halu gue meronta nih."


" Gila, benar - benar tampan nih orang."


"Mau dong jadi ceweknya."


Begitulah gumaman para cewek ini sambil menatap layar ponselnya. Vanya semakin penasaran siapa yang mereka bicarakan sambil melihat ponsel. Setelah sampai Azam memesan makanan untuk mereka bertiga.


"Lo tahu gak, Shi. Siapa yang mereka bicarakan ?" Tanya Vanya.


"Sebentar gue buka HP dulu."


Tak lama Azam datang membawa gelas minuman, mata Shishi melebar dengan senyum merekah.


"Van, Lo tahu, 'kan ? Pengusaha tampan masih muda yang terkenal itu ! Dia akan ke kota X besok" Ujar Shishi antusias.


"Namanya siapa?" Tanya Vanya sambil menyeruput es di gelasnya


"Ferdy Wiguna."


Uhuk... uhuk...


Vanya tersedak air esnya. Bahkan ia menepuk dadanya berulang-ulang kali. Sembari mencerna perkataan Shishi.


"Lo kenapa, Van ?" Tanya Shishi dan Azam bersamaan.


"Gak kenapa-kenapa, gue kaget aja kalian nyebutin nama orang tampan !"

__ADS_1


"Makanya beli HP dong ! Jadi, gak ketinggalan informasi. Eh ! Gue lupa si miskin mana ada duit buat beli HP." Manda cekikikan di ujung meja, Rian dan Abimanyu hanya memilih diam.


"Eh Markonah, gue memang gak mampu beli HP. Maka nya beliin dong HP buat gue. Katanya orang tajir uang 1-2 juta mah gak ada apa-apanya di kalangan Lo. Atau... Lo emang gak punya duit juga ya. Jadi, menang ngebual aja selama ini." Jawab Vanya memandang Manda sinis.


"Brengsek ! Lo remehin gue !" Bentak Manda.


Tapi hanya dibalas senyuman oleh Vanya, Manda menjadi geram dia meraih gelas dan menyiram kepala Vanya.


"MANDA !"


"Ngapain kalian berteriak ke gue ?!" Bentak Manda lagi. Gelombang nafasnya naik turun tak beraturan karena kesal.


"Lo keterlaluan ya ! Gak pernah di ajarin orang tua etika hidup ya?!" Ucap Shishi emosi.


"Eh Lo ! Jangan bawa- bawa orang tua gue !" Teriak Manda ingin mendorong tubuh Shishi.


"Jaga perilaku Lo ! Sebelum gue patah tuh tangan." Ujar Azam dingin sambil membantu Vanya mengeringkan rambutnya menggunakan tissue.


"Van, maafin Manda, dia terbawa emosi." Rian mendekat pada Vanya


"Kenapa Lo minta maaf, Rian ?! " Ujar Manda kesal.


"Lo sudah keterlaluan, Manda !" Abimanyu mencengkram tangan Manda dengan kuat.


"Gue gak apa-apa, ayo ke kelas ! Abimanyu didik cewek Lo supaya lebih bermoral."


Vanya bicara tanpa melihat ke Abimanyu dan meninggalkan kantin bersama Azam dan Shishi.


Di kelas, Vanya merasa lengket karena di siram pakai air es jeruk. Ia melepaskan gulungan rambutnya. Bisa saja Vanya membalas perbuatan Manda. Tapi, ia malas ujung-ujungnya akan di bawa ke ruang BK.


"Apa Lo pulang aja ya, Van?"


"Iya, Van. Gue antar ya." Ujar Azam


"Gak usahlah. Pakai tissue basah aja dulu. Sebentar lagi juga pulang. Zam, Shi. Gue mau Lo berdua janji sama gue."


"Janji apa ?"


"Lo berdua gak pernah tinggalin gue, terlepas siapa gue dan tetap kita jadi sahabat ." Ujar Vanya


"Kita janji akan bersahabat selamanya." Jawab Azam dan Shishi tersenyum.


Sambil menunggu bel masuk, Shishi dan Azam membantu Vanya membersihkan rambut panjangnya dengan tissue basah.


"Rambut Lo panjang amat si, Van ! Pegel tangan gue." Keluh Azam sambil menyisir rambut panjang Vanya.


"Iya, Zam. Rambut digelung tiap hari bisa panjang kaya gini." Seru Shishi sambil menggosok helaian rambut Vanya.


"Serasa perawatan gue." Balas Vanya sambil menutup matanya


"Eh, jangan molor Lo."


"Lo kira gue pegawai salon." Gerutu Azam

__ADS_1


Vanya sangat menikmati rambutnya ditarik- tarik Azam dan Shishi, sampai akhirnya dia benar-benar tertidur.


Abimanyu dan Rian masuk ke dalam kelas. Mata mereka tak berkedip menatap wajah Vanya yang tertidur dengan rambut terurai, pemandangan langka begitu pikir mereka. Karena selama mereka bersekolah di sini tidak pernah sekalipun Vanya melepaskan gelungan rambutnya.


"Gue bantuin ya." Rian berbisik pada Azam


"Iya pelan-pelan." Azam memberikan tissue basah pada Rian.


Rian mengambil tissue basah dan mengusap pelan pada helaian rambut Vanya "Lembut." Ucapnya tersenyum merasakan rambut Vanya yang disentuhnya.


Abimanyu memandang tak senang pada Rian, entah dorongan dari mana dia juga mengambil tissue basah dan ikut meraih helaian rambut Vanya ada terselip rasa senang di hatinya.


Wangi


Abimanyu tersenyum tipis.


Selesai membersihkan rambut Vanya. Shishi kembali menggelung rambut panjang itu.


"Sudah selesai."


Vanya membuka perlahan matanya.


"Cepat banget."


"Iyalah cepat ! Pegawainya aja empat orang." Azam keceplosan.


"Hah, siapa nyentuh rambut gue ?" Tanya Vanya dengan wajah serius


Azam menelan Salivanya, begitu juga Abimanyu dan Rian yang ikut tegang.


"Abi dan Rian, gu —gue yang mengijinkan mereka berdua." Azam terbata. Dia baru ingat kalau Vanya tidak suka disentuh orang lain selain dia dan Shishi.


"Gue maafin kali ini, terimakasih Abimanyu, Rian. Lo berdua mau bantuin Azam dan Shishi , tapi jangan lupa periksa tangan Lo berdua ke Dokter takut alergi pegang rambut gue." Ucap Vanya tersenyum.


"Gue senang, kok ! Bantuin Lo, tangan gue juga gak bakalan alergi." Rian tersenyum sementara Abimanyu hanya diam membisu.


"Mimpi apaan Lo nyenyak begitu."


"Mimpi kekasih khayalan gue." Jawab Vanya cuek.


Azam dan Rian hanya tersenyum mendengarnya. Sementara Abimanyu ada rasa kesal di hatinya saat Vanya menyebut kekasih khayalannya.


Abimanyu merasakan perubahan Vanya padanya, tidak lagi dia mendengar ocehan receh gadis ini. tak hanya itu Vanya juga memanggil namanya dengan lengkap.


...----------------...


Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...


Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow


IG. iyien_02


FB. Iyien Rira

__ADS_1


__ADS_2