
Matahari sudah menyapa manja di sebelah Timur. Namun, mata Abimanyu seakan berat untuk terbuka. Masih dengan nafas teratur laki-laki itu berpetualang di alam mimpi. Suara ketukan di Pintu kamar samar-samar sampai semakin jelas di pendengaran laki - laki terpahat tampan itu.
"Siapa yang gedor - gedor pintu sih." Sungut Abimanyu sambil membuka mata perlahan .
"Abi ... Bangun Nak sudah pagi, tumben kamu terlambat bangun hari ini." Ucap Mama Vania dibalik pintu.
"Sebentar lagi Ma... Aku turun." Balas Abimanyu dengan suara seraknya.
"Cepatlah Adik kamu bisa terlambat nanti." Balas Mama Vania meninggalkan depan kamar putranya.
Abimanyu melihat jam bertengger cantik di atas nakas . "Sudah siang ! Keduluan Rian nanti jemput Anya." Laki-laki itu bergegas pergi ke kamar mandi. Tidak sampai 15 menit Abimanyu sudah turun dari kamarnya dengan menggunakan pakaian kasualnya.
"Selamat pagi, Ma ! Pa. Adikku yang manis." Ucap Abimanyu sumringah. Entah mimpi apa dia tadi malam sampai pagi harinya terlihat ceria.
"Selamat pagi."
"Kakak gak kekantor ?"
"Enggak, Kakak hari ini ingin mampir ke lokasi shooting sama Kak Rian. Hari ini mulai penggarapan film yang diangkat dari novel calon kakak ipar mu." Jelas Abimanyu keceplosan
"Kakak ipar ?" Mama Vania mengulang kata - kata putranya.
"Belum, Ma. Masih pendekatan." Abimanyu malu karena keceplosan
"Jadi, novel Kak Anya akan diangkat menjadi Film ? Kapan - kapan Echa ikut ya, Kak ! Main ke sana." Bisik Resha antusias
"Hm , ayo berangkat kakak antar ke kampus." Ucap Abimanyu
...----------------...
Di tempat lain Rian sudah bersiap untuk menjemput Vanya. Mungkin mereka belum tahu jika Vanya tidak akan berangkat tanpa bodyguard tampannya. Rian melaju mobilnya dengan santai, sambil menikmati alunan lagu romantis di pagi hari membuat suasana hatinya menjadi berbunga - bunga.
Mobil Rian berhenti di gerbang rumah Vanya. Setelah melewati beberapa pemeriksaan barulah mobilnya disuruh masuk oleh penjaga.
Rian mengetuk pintu rumah tak kunjung terbuka, sampai jarinya agak memerah. Padahal para bodyguard bisa saja membuka pintu itu. Karena memang aturannya mereka yang menemui tamu sebelum mempersilahkan tamu masuk ke dalam. Tapi karena mereka sudah mengenali Rian, ada sedikit niat jahil di hati mereka dan membiarkan laki-laki itu mengetuk pintu yang kokoh itu.
"Vanya punya pintu tebal sekali, mau copot ini jari gak ada yang bukain." Gumam Rian sambil melirik segala arah. Setelah dengan teliti Rian baru menyadari ada bel manis yang menempel . "Ya ampun mata ! Lo malu - maluin gue pakai gak liat segala. Di sini ada bel segede ember. Syukur gak ada yang liat gue malu. Baru hari pertama jemput calon pacar udah salah - salah aja." Rian bicara sendiri. Beberapa kali bel dipencet keluarlah maid membukakan pintu .
"Anda mencari siapa, Tuan ?"
"Nona Vanya ada?" Rian agak cemas karena kedatangannya tanpa janji pada si empu nama.
"Ada, silahkan masuk tunggu di ruang tengah. Saya akan panggilkan Nona muda" Ujar maid sopan .
Rian mengangguk, matanya mengelilingi tiap sudut ruangan Mansion Vanya. Maklum, ini kali keduanya berkunjung ke sana yang pertama saat zaman SMA. Tiap sudut tertentu pasti ada Bodyguard yang duduk di tempatnya sambil mengawasi layar di depannya.
Ferdy sengaja menempatkan orang -orang khusus untuk menjaga Adiknya, karena dari zaman Kakek buyut sampai zaman dirinya sebagai pebisnis. Banyak musuh dalam selimut yang mengincar nyawa mereka, maka dari itu adiknya tidak terlalu di kenal dari keluarga Wiguna demi ke selamatannya.
__ADS_1
"Sudah lama." Sapa Vanya yang baru turun dari tangga
"Baru saja, gue kesini mau jemput Lo biar sama - sama berangkat ke lokasi." Ujar Rian tersenyum.
"Oke, tapi Alan ikut ya gue gak bisa pergi tanpa dia." Ucap Vanya.
"I-iya." Jawab Rian terbata maksud hati ingin berduaan malah bertiga.
Alan menyiapkan keperluan Nona mudanya, usai siap semua. Mereka segera pergi ke lokasi tapi belum sempat masuk mobil. Mobil mewah milik Abimanyu juga baru terparkir di samping mobil Rian.
"Lo ngapain kesini?" Tanya Rian dengan nada tak senang
"Jemput Anya lah."
"Gak bisa ! Vanya ikut gue."
"Gak boleh ! Anya ikut gue." Abimanyu tak mau kalah
Selagi Rian dan Abimanyu memperebutkan Vanya ikut siapa ? Alan sudah siap dengan mobilnya.
"Silahkan masuk Nona, kita jalan - jalan kemana hari ini." Alan membuka pintu mobil sengaja mengalihkan perhatian dua orang yang sedang adu mulut di sampingnya.
"Kamu cerdas Alan, sepertinya jalan - jalan ke tempat wisata kota ini bagus juga." Vanya tersenyum dan masuk ke mobil.
Rian dan Abimanyu berhenti bertengkar setelah melihat Vanya duduk manis di mobilnya sendiri.
Alan juga membuka pintu sebelah sopir dan duduk di sana, belum sempat terkunci. Pintu mobil dibuka Abimanyu dengan cepat. Dia mengambil posisi sebelah Vanya.
"Ogah ! Gue duluan masuk, di depan aja bareng Alan, gak ada penolakan !" Ucap Abimanyu tegas
Rian dengan kesal duduk di kursi depan bersama si bodyguard tampan. Abimanyu berteriak penuh kemenangan dalam hatinya.
"Lo berdua mau jemput gue, tapi kenapa pada numpang mobil gue." Ucap Vanya memecah keheningan setelah mobil sudah melaju.
Rian dan Abimanyu hanya tersenyum tanpa menjawab. Didalam tas ponsel Vanya bergetar
" Halo." Jawab Vanya.
"Gue nginap tempat Lo."
"Jangan bilang Lo di usir mama Sintia." Ujar Vanya
"Mama, ke rumah nenek."
"Lo pulang saja duluan ke mansion, gue pergi sama Alan. Selesai dari sana kita langsung pulang, kok." Balas Vanya
"Oke."
__ADS_1
Telpon mati. Keheningan merajai suasana di dalam mobil. Dalam beberapa saat, sampai suara Alan terdengar.
"Nona, keperluan Anda sudah saya siapkan di dalam koper di belakang kursi." Ujar Alan sambil mengemudi
"Hm, terimakasih Alan." Balas Vanya tersenyum.
Sok perhatian sekali ! Kenapa Anya terlihat pendiam sekarang ? Beda sama 5 tahun lalu, jujur gue kangen sama lo yang dulu Anya, suka godain gue, jahil sama gue
Abimanyu melirik sendu pada wanita di sampingnya.
Lo pasti bingungkan ? Bi ! Vanya berubah semua itu berasal dari Lo , sama gue dia tetap sama seperti 5 tahun lalu, tapi ketika ada Lo dia selalu diam dan menjaga sikap. Itu dikarenakan Lo gak suka sama Vanya yang aneh menurut Lo, kata -kata Lo masih membekas di hatinya, dia gak mau Lo semakin membencinya karena dia pernah mencintai Lo. Bedanya cinta Lo datang setelah dia pergi jauh dan cinta dia terkikis saat Lo masih di dekatnya.
Rian melirik Abimanyu dari kaca depan.
Wah-wah ada cinta dari ketiga orang ini, ada cinta yang bertepuk sebelah tangan dan ada juga cinta tak sampai lalu ada pula baru jatuh cinta.
Alan mentertawakan tiga penumpangnya.
Setelah menempuh waktu hampir empat puluh menit sampailah mereka ketempat lokasi. Vanya turun dari mobil dengan sangat hati - hati karena jalan bebatuan.
"Bagus sekali gue suka tempatnya sejuk." Ucap Vanya tersenyum.
"Cantik." Kata itu keluar dengan manja dari mulut Abimanyu
"Iya pemandangan nya cantik." Vanya tak mengerti maksud Abimanyu .
"Maksud gue, Lo." Gumam Abimanyu pelan namun masih terdengar oleh Alan yang membuka pintu belakang mobil.
Alan terkekeh, sambil menarik koper mengambil sepatu Vanya. Karena Nona mudanya tadi memakai sandal bertumit tinggi. Abimanyu yang tahu Alan menertawakannya menjadi malu dan kesal.
Di Sana Aktris dan Aktor serta krunya sudah menunggu. Mereka mulai berkenalan dengan Vanya satu persatu. Mereka senang dengan kedatangan si penulis Novel, tak lupa selalu menyempatkan foto bersama.
Alan mengambil posisi duduk di samping Vanya dan memberikan sepatu milik Nona mudanya.
"Terimakasih Alan." Vanya tersenyum
Aduh Anya jangan senyum sama si Alan itu nanti kesenangan dia ! lihat sikapnya kaya calon pacar aja Abimanyu menatap kesal pada Alan.
Pekerjaan hari ini cukup lancar kehadiran Vanya sangat membantu proses jalannya Shooting, karena para pemain selalu tukar pendapat dengannya mengenai karakter tokoh diperankan.
Selama itu juga kesibukan mereka dibumbui persaingan antara Abimanyu dan Rian yang saling berlomba memberikan perhatian pada Vanya tapi selalu dimenangi oleh Alan yang tak ikut bersaing.
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
__ADS_1
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira