
Abimanyu masih tidur dengan nyaman di kasurnya seperti belum ada tanda tanda untuk bangun.
Dret....Dret....Dret....
Ponselnya bergetar di atas nakas . Dengan mata yang masih terpejam dia meraba-raba tempat ponsel.
"Halo."
"Ada pertemuan."
"Iya gue ingat. Setelah makan siang ketemuan di cafe tempat biasa. Jangan bawa Manda malas gue ketemu dia." Abimanyu berusaha untuk duduk dan bersandar di dinding kasur.
"Siap"
...----------------...
Abimanyu bergegas mandi dan bersiap, sambil terburu buru dia memakai dasinya. " Selamat pagi, Ma. Pa !" Sapa Abimanyu dengan senyum yang tak biasa.
"Selamat pagi sayang." Jawab mama Vania.
"Kak, kenapa hari ini berantakan sekali ? Biasanya rapi." Ucap Resha
"Tadi kakak buru - buru." Balas Abimanyu sambil memakan sarapannya.
"Makanya, Nak. Cepat cari istri biar ada yang mengurusmu." Ujar mama Vania.
"Iya, Ma. Sekarang lagi berjuang mengejar calon istri." Jawab Abimanyu meminum air putihnya.
"Apa perlu Papa carikan jodohmu?" Seru Papa Herlambang
"Gak perlu, Pah. Wanita yang dikejar kak Abi adalah wanita hebat." Ujar Resha cepat. Dia tidak mau jika Kakaknya terlibat dalam perjodohan.
"Baiklah siapa pun dia, mama dan papa akan mendukungmu. Sini mama bantu merapikan dasimu." Mama Vania berdiri mendekat pada putranya.
Usai sarapan Abimanyu dan Resha berangkat kekantor dan ke kampus.
...----------------...
Di mansion Vanya bersiap untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Setelah sarapan dia berangkat ke pemakaman dan dikawal oleh Bodyguard yang tangguh dan cerdas. Mereka adalah orang pilihan kakek semasa hidup.
"Kita mampir ke toko bunga didekat pemakaman."
"Baik Nona Muda." Jawab bodyguard yang merangkap menjadi sopir tersebut.
Di perjalanan tidak kata yang terucap dari bibir mereka. Vanya fokus mengamati pemandangan di luar. Sementara bodyguard merangkap sopir itu fokus mengemudi.
"Silahkan turun, Nona." Ucap Alan nama si bodyguard tampan.
"Terimakasih."
Alan menunggu di depan mobil sementara Vanya melangkah menuju beberapa gundukan tanah di sana.
" Ma ! Pa. Anya datang. Apa kabar di sana ? Maaf Anya baru kesini mama dan papa bahagia ya di sana." Ucap Vanya tak lupa dia juga menabur bunga segar itu dimakan ayah Shishi dan kedua adik kembar Azam serta ayahnya.
...----------------...
Usai mengunjungi makam kedua orang tuanya. Vanya langsung meminta Alan melaju ke arah rumah sakit milik Azam.
"Kita sampai, Nona."
"Ayo kita turun kamu juga ikut." Titah Vanya
"Baik Nona, saya akan ikut kemana pun nona melangkah terkecuali ke kamar mandi." Canda Alan. Aneh juga pikirnya nona mudanya ini sudah jelas dimana Vanya di sana ada dia.
"Kamu bisa saja Alan. Berjalan di sampingku jangan di belakang ! Kamu bukan tukang copet, 'kan ?" Vanya membalas candaan Alan.
"Baiklah." Alan tersenyum.
Para perawat yang bertugas ada yang memuji dan ada juga yang mencibir. Setelah melihat Vanya memasuki gedung rumah sakit. Banyak yang menatap iri dan juga senang. Ada juga yang mencibir terang-terangan. Karena ia melangkah bersama seorang laki-laki yang tak kalah tampan nya dari Azam.
"Sok cantik!"
"Liat masih bersama dokter Azam saja sudah berani jalan bareng cowok lain l."
"Ceweknya Dokter azam cantik banget ya."
"Dia kira cerita hidupnya seindah cerita di novelnya."
Begitulah bisik - bisik tetangga para perawat di sana yang masih terdengar oleh Vanya dan Alan.
__ADS_1
Disebuah ruangan para petinggi di rumah sakit sudah berkumpul termasuk Azam dan mama Sintia.
"Selamat siang semuanya maaf saya terlambat." Ucap Vanya
"Masuk sayang kita juga baru berkumpul." Balas mama Sintia
Alan menunggu di kursi luar dengan setia, keselamatan nona mudanya adalah hal utama yang harus dilakukannya.
Satu jam kemudian Vanya keluar bersama yang lain. Alan langsung berdiri menyambut Nona Mudanya.
"Siapa dia Van, Lo selingkuh dari gue." Ucap Azam sengaja karena beberapa dokter melirik kearah mereka termasuk dokter Vera. Dan mereka tersenyum sinis memandang Vanya
Vanya yang genius langsung mengerti keadaan walau dia tidak tahu tujuan Azam sebenarnya. "Gue gak selingkuh." Vanya bergelayut manja ditangan Azam
"Kenalkan Tuan ! Nyonya. Saya Alan pengawal pribadi dan sopir untuk Nona Muda. Saya dikirim oleh Tuan Muda untuk menjaga Nona jika dokter Azam tidak bersama Nona." Ucap Alan sopan
"Begitu, saya kira kamu selingkuhan wanita saya." Azam menahan tawanya. Para dokter wanita termasuk dokter Vera meninggalkan tempat itu.
"Siapa dia sampai pakai pengawal pribadi segala."
"Paling cuma alibinya."
"Kasian Dokter Azam percaya gitu aja."
Cibiran-cibiran untuk Vanya masih saja terdengar. Namun Vanya memilih diam dan juga mengikuti permainan Azam.
"Apa kalian bermain drama ?" Tanya Mama Sintia
"Iya Ma bermain drama tanpa skenario." Jawab Vanya terkekeh.
"Kita kemana lagi, Nona." Tanya Alan
"Alan hari ini aku ada janji temu bersama produser film. Aku ke sana bersama Azam kamu kembali ke Mansion. Istirahatlah ! Semenjak datang kamu belum istirahat."
"Baiklah Nona. Tapi boleh saya pinjam kalung, Nona ? Saya akan memasang alat pelacak dimata kalung Nona jika terjadi sesuatu saya bisa mencari Nona, saya juga akan memasang di jam tangan Dokter Azam. Keselamatan kalian adalah tanggung jawab saya." Ucap Alan
Hanya butuh 30 menit semua alat pelacak terpasang di kalung, jam dan mobil.
"Terimakasih Alan." Ucap Azam.
Alan tersenyum sambil mengangguk. Azam dan Vanya meninggalkan rumah sakit di susul juga oleh Mama Sintia yang akan pulang ke rumah.
Vanya dan Azam dalam perjalanan menuju cafe tempat janji temu. Di perjalanan Vanya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Gue belum cerita ya ?"
"Lupain." Kesal Vanya
Azam terkekeh. "Dulu saat gue masih baru jadi dokter mereka mandang gue sebelah mata. Apa lagi dokter Vera itu yang juga nyusul kerja disini selalu mau tahu urusan gue. Sampai- sampai mereka ngatain gue ngintil sama mama karena manfaatin mama. Setelah mama umumkan gue putranya, pewaris tunggalnya baru mereka baik - baik sama gue. Malas deket orang kaya gitu." Azam mengakhiri ceritanya.
Vanya tertawa "Kaya cewek aja lo dendam segala."
...----------------...
Di cafe dua lelaki sudah menunggu di salah satu meja. Mereka mengobrol sambil saling mengejek.
"Selamat siang Maaf saya terlambat."
Dua lelaki itu mengangkat kepalanya perlahan setelah fokus pada ponsel. Suara yang mereka rindukan di hati masing-masing. Tiba-tiba datang menyapa. Apa ini nyata ?
"Vanya / Anya !" Ucap Abimanyu dan Rian bersamaan. Mereka refleks berdiri dari kursi masing-masing.
"Rian." Vanya lalu berhamburan memeluk laki-laki itu dengan penuh rindu.
"Gue kangen sama Lo." Tanpa sadar Rian memberikan ciuman di pucuk kepala wanita cantik ini.
"Gue juga kangen sama Lo." Vanya tersenyum. Ia kembali membenamkan wajahnya di dada Rian.
"Ehm !" Abimanyu memberitahu keberadaannya .
Rasanya tidak senang melihat Rian dan Vanya sedekat itu. Terlebih sahabatnya itu mengecup pucuk kepala Vanya.
" Ha-hai Abi." Sapa Vanya melambaikan tangannya
"Anya." Abimanyu tersenyum manis. Kekesalannya segera meluap begitu saja tergantikan dengan rasa senang karena Vanya membalas sapaannya.
"Lo udah bisa tersenyum, Bi?" Tanya Rian karena selama ini jarang melihat senyum sahabatnya itu
"Apaan sih Lo." Abimanyu memasang wajah kesal
__ADS_1
"Apa kabar Lo, kapan balik kesini ?" Tanya Rian sambil mempersilahkan Vanya duduk.
"Baru beberapa hari yang lalu." Jawab Vanya sambil mencari keberadaan Azam.
"Gue disini." Seru Azam yang baru datang dari belakang
"Lo dari mana ?" Tanya Vanya heran. Bukankah mereka datang secara bersamaan.
"Itu si Alan nyusul ada yang ketinggalan katanya." Jawab Azam melirik ke pintu masuk.
"Oh , apa?"
"Ini." Azam mengangkat tas Vanya.
Vanya melihat kearah Alan dan mengucapkan terimakasih pada bodyguardnya, setelah memastikan Nonanya aman Alan meninggalkan tempat itu.
"Siapa dia ?" Tanya Abimanyu menyelidik
"Dia kekasih Vanya." Sahut Azam menjawab terlebih dulu.
"Oh." Balas Abimanyu ada rasa kecewa di hatinya. Apakah kesempatan itu benar-benar tidak ada?
Lama gak liat wajah kesal si Abi Azam tertawa usil.
Rian berpikir sejenak
Masa itu cowoknya, kenapa saat kesini Vanya sama Azam ? Bukan sama dia.
"Apa Lo produser film yang ngundang gue kesini ?"
"Iya, sebelumnya gue gak tahu kalau itu novel Lo. Setelah sekretaris gue yang ngasih tahu baru gue bikin janjinya.Van ! Benar itu tadi cowok lo ?" Jelas Rian campur rasa penasaran.
"Bukan, dia bodyguard pribadi gue."
"Tampan sekali ! Lo yakin dia cuma bodyguard ?" Rian sengaja memanasi Abimanyu
Vanya mengangguk dan berkata.
"Iya, dia tinggal bareng gue, kok."
"APA !?" Pekik Abimanyu tanpa sadar. "Ma-maksud gue kenapa gak tinggal terpisah gitu." Ujarnya salah tingkah
"Lupain aja, Rian kenapa gue harus hadir ketempat shooting itu ?" Vanya kembali pada tujuannya datang ke kafe itu.
"Biar bisa konsultasi sama Lo pembuat novel nya." Jawab Rian melirik Abimanyu sembari tersenyum tipis.
Apa !? Jadi Rian ingin Anya datang ketempat shooting itu ? Biar dia bisa nempel sama cewek pujaan gue, enak saja
Abimanyu tak terima. Ia masih menyimak pembicaraan Rian dan Vanya
"Oke !" Vanya menyetujui permintaan Rian.
"Gue juga ikut, tidak ada penolakan." seru Abimanyu serius
"Kenapa Lo ikut ? Lo presdir, 'kan ? Jadi gak ada sangkut paut sama urusan gue." Rian tak terima karena Abimanyu ingin bergabung.
"Lo lupa saham gue banyak tempat Lo." Abimanyu tersenyum penuh kemenangan. Rian berdecak kesal dan Azam tersenyum mendengar perdebatan mereka
"Udah sore. Yuk pulang, Zam ! Lo nginap tempat gue lagi?" Vanya meraih tasnya.
"Nginap !?"
"Gak, Van. Mama ada di rumah." Azam menghabiskan jusnya di gelas.
"Iya."
"Tidur bareng?" Abimanyu masih belum puas karena tidak ada jawaban dari Vanya mau pun Azam.
"Ya enggaklah dodol ! Lo kira gue cowok apaan ?" Azam menyentil kening Abimanyu
Rian terkekeh. "Makanya mikir tuh positif."
"Ya udah kita balik ya." Ucap Vanya dan Azam
...----------------...
Maaf kan jika penulisan nya ada typo ya...
Yuk ! Yang mau berteman dengan author follow
__ADS_1
IG. iyien_02
FB. Iyien Rira